Senja di Danau Khayangan

IMG_20160315_224724[1]

Senja di Danau Khayangan, Pekanbaru

Aku masih tidak percaya anak piyik itu bisa menjalankan kapal kecil yang kami berdua tumpangi. Aku yakin laki-laki di sampingku yang sedang asyik mengambil gambar pemandangan pun tidak bisa menjalankan kapal kecil ini.

Aku sibuk merekam pemandangan di danau ini untuk video dokumenterku. Anginnya hangat, padahal sudah sore. Kota yang terkenal akan minyak dan sawit ini gara-garanya.

Laki-laki tinggi berkacamata itu sangat diam. Tapi bila bicara dan tertawa, mampu membuatku ingin menceburkan diri ke danau. Suaranya membuat candu untuk kudengar. Senyumnya manis dilihat.

Benar saja, aku sampai khilaf memandanginya. Tuhan menciptakan laki-laki Jawa yang sangat betah kulihat.

Perpaduan antara suara mesin kapal dan tabrakan kapal dengan air danau terdengar mesra. Semesra pandanganku pada laki-laki yang ingin kupanggil ‘Mas’ dengan mesra.

Burung-burung berbondong-bondong terbang di atas kami. Suara kepakannya seperti menyoraki aku yang lancang memandanginya diam-diam.

Matahari perlahan pergi meninggalkan siang untuk kembali ke peraduannya. Mengganti siang menjadi senja. Senja menjadi malam.

“Hai.”

Ia menyapaku. Aku melamun.

“Hai Mas.”

“Menurut kamu, senja itu sama?”

“Senja-senja di kemarin hari selalu sama. Tapi senja hari ini berbeda Mas.”

Ia tersenyum. Teruslah tersenyum Mas, pertahankan. Aku menyukainya. Senyummu yang lebar, menyombongkan gigi putihmu yang berjajar rapih.

“Kenapa berbeda?”

“Karena hari ini aku menghabiskan senja bersamamu Mas.”

Ia tertawa. Ah tawa yang membuat candu. Tawa yang menohok dadaku. Aku ingin hidup dalam lamunan ini, tidak ingin kembali. “Aku jatuh cinta dengan Pekanbaru.” Ucapnya. Tubuhnya berputar ke arahku.

“Kenapa begitu Mas?”

“Ah, masak kamu ga tahu.”

“Aku benar ga tahu Mas, yang aku tahu aku jatuh cinta denganmu Mas.”

Pernyataan ini benar-benar berani dan lancang. Tidak tahu aturan, begitu lepas. Tidak apa-apa, tidak ada yang melarangku untuk berfantasi. Ia tidak berkata apa-apa lagi, ia kembali memutar badannya dan tersenyum-senyum.

Aku kembali dari lamunanku. Bertepatan dengan tibanya kami di daratan. Si Mas membantuku keluar dari kapal kayu. “Aku juga loh, jatuh cinta sama kamu. Engga kamu aja yang jatuh cinta.” Ia berbisik, lalu berjalan lebih dulu. Membuatku mematung.