Selamat Ulang Tahun, Mas

Gurat senyumku mungkin tidak bisa menutupi raut kegalauan yang enggan sirna dari wajahku saat ini. Bagaimana tidak, aku yang sedang dilanda jatuh cinta oleh seorang laki-laki mendengar kabar yang tidak mengenakan tentangnya.

Aku duduk termenung di depan meja kerjaku. Mengecek isi chat kami yang tidak berubah juga. Berharap ada kabar lain darinya, namun tetap geming.

Secarik kertas putih dengan tinta biru membentuk sebait puisi. Kutoleh ke samping, ah itu Wayan. Laki-laki berkulit gelap dengan wajah kocak seperti orang India. “Apa ini Way?”

“Puisi buat loe.”

Dahiku mengerenyit. Kubaca puisi itu dan mendalami maknanya.

Jalinan waktu tak jawab arti candamu

Mengisi sudah sempitnya celah di hati ini

Hilangmu pun tak jua sadarkanku

Dalam peluh rindu yang sudah tertanam ini

Hanya kabarmu yang kudamba kini

Dengan senyum lirih, ku tulis namamu dalam sepi

Antara ingin tertawa dan menangis membacanya. Kenapa harus Wayan yang menulis puisi ini, tapi tampaknya ia tahu betul apa yang sedang kurasakan. “Kok loe nulis puisi ini buat gue sih Way?”

“Gara-gara gue liat mata loe.”

“Kenapa emang dengan mata gue? Gue emang dari tadi pagi ngantuk Way.” Kataku beralasan.

“Kinanti, mata loe itu memancarkan gegalauan. Gue tau banget kok yang loe rasain. Sabar ya, gue pun yang temen deketnya ga tau apa-apa. Sebaiknya loe tebel-tebel kuping aja. Ga usah kemakan omongan orang kantor. Nanti juga Mas loe itu bakalan cerita sama loe.”

Aku hanya tersenyum. Ya, itulah kebiasaanku. Aku tidak ingin terlalu sering menjawab orang lain dengan perkataan.

Wayan pergi. Aku menarik laci meja kerjaku dan kuambil sebuah novel sastra yang sengaja kubawa hari ini untuk kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun. Ia satu di antara sedikit laki-laki yang masih menyukai hal-hal seperti ini.

Buku, novel, ulasan, tulisan, sebuah karya. Membosankan memang bila dibandingkan dengan laki-laki sekarang ini yang lebih condong ke keelitan pergaualan masa kini. Tapi itulah yang membuatku semakin jatuh cinta padanya. Ia berbeda dari yang lain.

Namun seperti puisi yang Wayan buatkan untukku, lagi-lagi rasa sepi mengusik rongga tubuhku. Aku seperti nelangsa. Rasa kantuk menyerang tubuhku secara bertubi-tubi, tulang-tulang di tubuhku seperti lepas dari daging enggan untuk menyangga.

Hari ini terasa sangat panjang, bagaimana caranya membunuh waktu agar sore hari cepat datang. Pekerjaanku pun tidak kunjung selesai, ah akan kubawa pulang laptop ke rumah biar kuselesaikan pekerjaan di rumah. Pikirku. Tidak lupa kumasukkan novel yang ingin kuberikan padanya ke dalam tas.

Lagu-lagu sendu pun menemaniku hingga sore hari tiba. Buru-buru kurapihkan meja kerjaku dan memasukkan laptop ke dalam tas dan buru-buru pulang.

Langkahku besar-besar menuju stasiun. Berharap kereta tidak sepenuh hari-hari sebelumnya. Dan betapa beruntungnya aku, kereta yang siap memboyongku benar-benar tidak sepadat biasanya, mungkin alam mendengar kesedihanku hari ini.

Seharian ini aku sering kali mengecek handphone, menunggu kabar darinya. Tapi nihil. Malam pun tiba dan aku yang sudah kelelahan akan berbagai macam pikiran tertidur. Gelisah kudapati. Ketika tidur pun aku merasa lelah. Aku tidak memimpikannya, hanya saja ketika tidur pun ia ada di pikiranku membuat tidurku menjadi tidak nyenyak.

Tengah malam aku terjaga, satu-satunya hal yang kulakukan tanpa perlu diaba-abai oleh otaku adalah mengecek handphone. Aku benar-benar gila. Tanpa sadar aku kembali tertidur dan pagi hari pun tiba.

Aku terbangun, mengecek handphone. Sama.

Aku pun tidur lagi, enggan beringsut dari kamar. Tidak peduli betapa lengketnya tubuhku ini yang sudah kegerahan karena akhir-akhir ini cuaca begitu panas. Hingga malam hari pun kembali datang lagi dan pagi hari datang. Aku lakukan hal yang sama. Pekerjaan pun tidak terpegang.

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari depan rumah. Ibuku mengetuk pintu kamarku. “Kinan, ada yang datang.”

“Siapa Bu?”

“Temen kamu. Ada dua pokoknya.”

Kupikir itu adalah Dina dan Biba. Tanpa cuci muka aku pun ke ruang tamuku dan rasanya aku ingin menangis terharu. “Mas?”

“Hai Kinan. Apa kabar?”

“Loe pake nanya kabar lagi, ya ga baik lah.” Sahut Wayan yang berdiri di sampingnya.

“Mas, kamu ga pergi kemana-mana kan?”

“Engga kok. Kan kemaren pas kamu tanya aku udah bilang kalo aku lagi ga enak badan.”

“Maklum, di kantor banyak angin panas bro.” Lagi-lagi Wayan menengahi kami.

Aku berlari ke dalam kamar. Energiku seperti kembali terisi daya. Kuambil novel hadiah ulang tahunnya. “Mas, selamat ulang tahun ya. Ini kado dari aku.”

Ia tampak begitu excited dengan pemberianku. “Waah, bagus nih hadiahnya. Makasih ya Kinanti.”

“Mas, kamu ga kemana-mana kan?”

Ia tersenyum. Senyum yang melumpuhkan akal warasku. “Engga kok, aku ga kemana-mana. Aku disini.”

“Mas, janji ya kalau pun kamu mau pergi kamu harus kasih tahu aku. Jangan tiba-tiba ngilang.”

“Kinan, aku kan ga mau kemana-mana. Tapi aku janji, kalaupun aku mau pergi aku bakalan bilang kamu.”

“Ciee.” Ledek Wayan. “Gue mau buat puisi lagi aah, judulnya uhuy.”

Kami tertawa dengan candaan Wayan yang lucu. Aku tersadar kalau sudah dua hari aku tidak mandi. “Mas, aku mau mandi dulu. Gerah banget. Kamu jangan kemana-mana. Oke?”

“Iya Kinanti….”