Diguyur Hujan

Lembang diguyur hujan. Jalanan basah, air tergenang dimana-mana. Aku memeluk ranselku sembari bengong melihat jalan. Saat ini begitu dingin sedingin pria di sampingku. Pria dingin yang terkadang sikapnya begitu menghangatkan, mengalahkan hangatnya bandrek yang baru diseruputnya.

“Udah ga terlalu deres, mau lanjut aja?” tanyanya. Suara beratnya lagi-lagi menohok hatiku.

“Yauda yuk!”

Ia tampak berpikir. Duh, manis sekali. Judes-judes manis. “Kamu pakek rain cover aku ya? Nanti tas kamu basah.”

“Boleh.”

Aku hendak melepas ranselku dari rangkulan. Tapi keduluan. Ia memakaikan rain cover ke ranselku. Melihat pemandangan seperti itu—tubuh tinggi dan tegapnya, dengan perut sedikit buncit, ingin kupeluk saat itu juga. Tapi tempat umum.

Aku mesam mesem mendapat perlakuan manis seperti itu. Sifatnya yang dingin jomplang dengan perlakuannya yang begitu hangat. Itulah yang membuatku kepincut dengan pria ini.

“Yuk.” Ujarnya.

Aku pun membuntutinya. Motor matic sudah siap untuk kami tunggangi. Gerimis-gerimis kecil masih mengguyur. Dingin pun menggerayangi tubuh kami. Motor mulai melaju, aku yang tidak pendek-pendek banget membuat daguku tepat sekali di pundaknya.

Bukan modus, tapi terkadang daguku nemplok di pundaknya sembari kami mengobrol.

“Aku suka banget suasana seperti ini deh Mas.” Ujarku membuka percakapan. Jalanan aspal yang basah serta kanan kiri hutan pinus membuat suasana menjadi sangat romantis. Duduk berboncengan motor bersama pria yang didamba menjadi surga dunia tersendiri untukku.

“Tapi kalau weekend macet.”

Ia memang tidak ada romantis-romantisnya. Tidak mengerti maksudku. Ingin kutempeleng kepalanya. “Untung hari ini bukan weekend ya Mas.”

Motor terus melaju. Kami terlalu menikmati perjalanan hingga lupa mengobrol. Sedikit-sedikit kucubit jaketnya supaya tidak jomplang ke belakang. Ingin kupeluk erat, tapi aku tidak berani. Aku ini pemalu, malu-malu mau sebenarnya. Tapi aku ini gadis penuh pertimbangan. Aku takut dibilang agresif.

Tidak terasa kami sudah sampai saja di Ciater. Kami mampir di Ciater Highland Resort, kebetulan sudah reda hujannya. Kami duduk-duduk di rerumputan hijau yang agak-agak basah.

Kaki kami selonjoran, pandangku kosong ke depan. Begini saja aku sudah sangat menikmati. Asalkan ia ada di sampingku.

Ia mengusap-usap kepalaku. “Bengong aja kamu.” Katanya.

“Aku lagi mikirin kamu Mas.”

“Kok mikirin aku? Aku kan lagi di samping kamu.”

Aku menghela napas. “Dimanapun kapanpun sama siapapun, aku kepikirannya kamu Mas.”

Ia terkekeh kecil. Ia kembali mengusap-usap kepalaku lalu menarik tubuhku ke dekapannya. Ia mengelus-elus lenganku. “Pertahanin ya prestasi itu.”

Aku memelintir perutnya yang agak buncit. “Pede kamu Mas.”

Subang diguyur hujan. Ternyata aku sedang ngayal.