Mas, ingat?

Kata-kata yang pastinya sudah sering didengar seperti “Bila kamu berani memutuskan sesuatu, maka kamu harus siap menanggung resikonya.” atau “Jatuh cinta pilihan akhirnya hanya ada dua, bahagia atau patah hati.” Lalu apa korelasinya? “Bila kamu berani memutuskan untuk jatuh cinta, kamu harus siap untuk bahagia atau patah hati.

Cinta juga tidak bisa diukur dengan waktu. Seperti kisah seorang gadis Betawi yang jatuh cinta pada pria Jawa. Mereka bertemu di Jakarta, namun memulai percakapan pertama mereka di Pekanbaru dengan kalimat sapaan si pria Jawa itu, “Hai.”

Cukup banyak hari mereka lewati bersama, tapi tidak memunculkan perasaan apapun untuk keduanya hingga hari-hari mereka di Pekanbaru pun usai.

Gadis betawi kembali ke Jakarta lebih awal disusul oleh pria Jawa beberapa hari kemudian. Gadis Betawi itu pikir mereka sudah berteman, karena hari-hari mereka di Pekanbaru cukup sering dilewati bersama. Namun ketika ia memberikan senyum terbaiknya, si pria Jawa malah melengos.

Cinta itu aneh memang. Wajah ketus dan judes si pria Jawa malah menarik hatinya. Biasanya orang jatuh cinta bila disenyumi, namun si gadis Betawi malah jatuh cinta karena diplengosi. Ia belum sadar kalau ia jatuh cinta, tapi semenjak hari itu ia kepikiran dengan wajah judes pria Jawa yang ia sapa dengan sebutan “Mas” itu.

Hari-hari berlalu, si gadis Betawi itu meyakinkan diri tentang apa yang sedang terjadi dengan hatinya sampai suatu sore, si Mas menghampirinya. Mengajaknya mengobrol. Coba Mas ingat-ingat, apakah Mas ingat pernah menghampiri gadis Betawi yang mukanya ke-jawa-jawa-an itu?

Sore itu, si Mas sangat manis bagi gadis Betawi itu. Manis wajah Mas, dilihat-lihat senyum Mas lebar juga. Coba Mas ingat-ingat lagi, apakah ada perbedaan terpancar dari sorot mata gadis betawi itu saat itu dan saat kalian di Pekanbaru? Kalau Mas peka, matanya berbinar Mas. Rasanya ingin cepat-cepat menyudahi percakapan, bukan karena tidak suka tapi karena tidak sanggup berlama-lama mengontrol detak jantung yang berpacu dan ngomong yang bisa belepotan karena grogi.

Sejak itu pula, setiap hari adalah motivasi. Semua menjadi berwarna sejak gadis Betawi itu sadar ia sedang jatuh cinta. Jatuh cinta itu sangat menyenangkan hingga ia harus kembali pergi ke luar Jakarta. Jarak memisahkan hati yang sedang betah-betahnya di Jakarta. Hidup memang kejam, hidup memang keras.

Hari-hari di Kisaran—kota yang disinggahinya itu, ingin cepat-cepat dilalui. Hatinya tenggelam rindu pada Mas Jawa yang ada di Jakarta. Mas ingat tidak ketika akhirnya, saking tidak tahan dengan rindu gadis Betawi itu mengirimkan pesan di instant message ‘office comunicator’ lalu Mas mengirimi pesan di whatsapp? Malam yang hanya gelap itu menjadi sangat berwarna. Bola mata seakan hendak melompat, Mas mengirimi pesan. Momen yang sangat langka.

Semakin hari semakin melelahkan karena harus menanggung rindu sendiri. Ingin selalu mengirimi pesan tapi ia selalu menahannya. Ia ingat Mas bukan siapa-siapanya, buat apa mengirimi pesan terlalu sering? Tapi tiba-tiba, gadis itu bermimpi Mas akan pergi meninggalkannya. Ia bermimpi tidak akan melihat Mas lagi. Risau pun datang, ingin berpikir ah hanya mimpi tapi hatinya seakan mengganjal. Mas ingat kan? Kenapa ia sering bertanya, “Mas nanti ada di Jakarta kan?” lalu Mas menenangkan, dengan menjawab kalau Mas tidak akan kemana-mana.

Ini kisah cinta yang sangat menyedihkan…

Jatuh cinta pada jarak.

Kembali ke Jakarta, itu adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Tak sabar menanti hari indah itu datang. Setibanya di Jakarta, melihat ujung rambut Mas yang lurus dan sedikit basah itu membuat jantung gadis Betawi itu seperti bocor—butuh ditambal dengan kamu Mas.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya Mas menyambut cintanya ya Mas? Ia bukan? Atau hanya perasaan sepihak? Perlakuan-perlakuan manis Mas. Ia tahu Mas memang suka gombal ke cewek lain. Tapi satu yang pasti, Mas ga pernah gombalin gadis betawi itu di depan teman-teman kan?

Tahu ga Mas, kalimat sederhana yang paling disukai? Ketika teman kalian berkata seperti ini. “Dulu pas di Pekanbaru gua bilang sama dia aja. Lo malah bilang ga Bang, ga usah.” Lalu membantah dengan tegas. “Kapan gua bilang begituuuuuu?” Ingat ga Mas? Ingat?

Mas tahu tidak? Ia sangat menyukai punggung Mas. Ketika malam itu, jalanan masih basah karena habis hujan. Kalian berdua berada di atas motor. Sambil sebentar-sebentar melihat punggung Mas, sebentar-sebentar melihat sekeliling jalan gadis itu bilang, “Aku suka deh suasana kayak gini Mas.” Lalu Mas bilang. “Kalau siang macet disini.” Mas tahu tidak? Bukan itu yang dimaksud. Gadis itu suka hal-hal yang romantis dan puitis, malam itu jalanan basah berdua dengan orang yang dicintai adalah suasana yang paling disukainya.

Walau Mas bukan yang pertama buatnya. Tapi malam yang selalu menjadi fantasinya pertama dirasakan bersama kamu Mas. Ia selalu berfantasi: Menghabisi malam bersama pria yang dicintai, jalanan masih basah habis diguyur hujan, wara wiri di atas motor, tanpa tujuan, sampai matahari kembali terbit.

Bukan nonton di bioskop yang menjadi hobinya, tapi sepertinya itu menjadi satu-satunya alasan untuk menghabiskan waktu bersama kamu Mas. Tapi, untung selera kalian hampir sama ya.

Selama ini, ia mencari-cari pria yang suka membaca, suka menulis, ketus, dingin, tapi bisa manis dan hangat juga. Kamu paket lengkap. Si pria Jawa tinggi, hitam manis, senyumnya lebar, rambutnya minta disayang-sayang, bahunya minta disandari. Aku akan berhenti menulis sampai sini, takut si gadis Betawi membacanya dan ia mulai berfantasi lagi.

Oh ya, gadis Betawi itu pernah bilang ia paling suka ketika kamu memakaikan rain cover ke tasnya. Dan ia paling rindu ketika kalian masih satu kantor, ia menanti-nanti kedatanganmu, dan ia menanti-nanti waktu pulang karena kamu dengan manisnya mengantarnya sampai ujung jalan. Dan yang paling ia nanti-nanti adalah kalimat. “Aku resign, aku akan cari kerja. Aku sudah dapet kerja disini.” Bukan tahu dari orang lain. Ia masih menganggapmu ada di hatinya. Setiap hari memandang meja kosongmu, biasanya kamu dengan headset menyantel di telingamu sambil menghadap laptop. Atau bahkan nangkring di kubikel sambil berkata. “mau pulang?” “mau makan siang?”

Terima kasih, Mas.. Kata si gadis betawi itu.