Pekanbaru si Kota Minyak

Pekanbaru. Ibu kota provinsi Riau. Merupakan kota pertama segalanya buatku. Pertama kali aku naik pesawat, pertama kali aku keluar pulau Jawa, dan merasa sangat bahagia karena di sana, aku bertemu dengan cintaku. Sebenarnya ketemunya bukan di Pekanbaru, melainkan di Jakarta hanya saja kami menghabiskan banyak waktu di Pekanbaru. Baiklah, jangan terlalu banyak curhat.

Ada perasaaan sedikit takut ketika pesawat sebentar lagi take off. Seharusnya aku duduk di tengah, namun rekan kerjaku yang sudah sering naik pesawat malah lebih takut dariku. Aku yang tidak takut ketinggian atau suka hal-hal yang menantang adrenalin pun pasarah-pasrah penasaran duduk di dekat jendela.

Pesawat mulai bergerak perlahan, lajunya semakin cepat ketika landasan yang dipijaknya terlihat panjang ke depan. Para pramugari melakukan gerakan-gerakan yang sering aku tonton di film-film, dan ketika kecil suka aku praktikkan bila bermain dengan teman-temanku. Aku tidak memperhatikan mereka, seharusnya aku memperhatikan mereka karena ini sangat penting bagiku yang pertama kali naik pesawat bila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Namun, pemandangan di luar sana lebih menarik.

Roda pesawat terasa menggetarkan seluruh badan pesawat hingga menimbulkan hentakkan yang sedikit membuat mual ketika roda sudah tidak menyentuh aspal landasan. Tubuh pesawat yang tidak ringan ini pun sudah melayang di udara perlahan semakin tinggi menampakkan keseluruhan Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, dan perlahan menghilang digantikan putihnya awan. Tanpa disadari, ternyata para pramugari sudah selesai juga membuat gerakan-gerakan.

Saat ingin menambah ketinggian, badan pesawat miring ke kanan atau ke kiri, sangat terasa dan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh Ayahnya, aku merasa sangat senang dan excited. Tidak menyeramkan sama sekali, telingaku pun tidak sakit seperti banyak orang bilang hanya sedikit bindeng. Wajar saja karena tekanan yang ditimbulkan ketika pesawat naik ke udara.

Pemandangan di luar sana hanya putih saja, sepertinya sudah ketinggalan eloknya fajar. Walau monoton, namun aku tidak merasa bosan sama sekali. Bibirku tidak henti-hentinya tersungging. Sambil celingak-celinguk ke depan belakang memastikan tidak ada pramugari yang lalu-lalang, aku mengeluarkan telepon pintar yang sudah aku mode pesawat-kan kemudian mendokumentasikan awan-awan yang indah ini.

Puas mendokumentasikan awan-awan yang sebenarnya gitu-gitu aja, aku pun mati gaya. Lama-lama pipi kananku panas juga karena sinar matahari pun sudah semakin panas. Aku lirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, kurang lebih 40 menit lagi baru mendarat sesuai estimasi lamanya perjalanan. Rekan kerjaku masih tertidur pulas. Aku pun jadi ikutan menguap, tersugesti mengantuk melihatnya tidur begitu nyenyak.

Aku menutup wajah dengan jaket hitamku mencoba untuk tidur-tidur ayam. Aku berhasil memejamkan mata sebentar walau tidak sepenuhnya pulas karena aku bisa mendengar pengumuman bahwa pesawat sebentar lagi landing. Instruksi menegakkan kursi, membuka penutup jendela, dan mengencangkan sabuk pengaman terdengar berulang. Para pramugari pun memastikan instruksi yang diumumkan itu dilakukan oleh seluruh penumpang pesawat. Sampai saat ini, aku belum tahu hubungan antara safety landing dengan menegakkan kursi duduk dan membuka penutup jendela.

Seperti saat hendak menambah ketinggian, pesawat miring ke kanan ke kiri untuk mengurangi ketinggian. Pemandangan putih digantikan oleh lahan sawit dimana-mana. Mataku berbinar-binar seperti bertemu dengan kakak senior idola di SMA. Aku longok melihat ke daratan hingga leherku panjang. Antara take off maupun landing ternyata sama-sama menyenangkan. Ah sudah 4 bulan aku tidak naik pesawat, rindu sekali rasanya.

Tibalah kami di Bandara Internasional Sultan Syarif Khasim Pekanbaru. Tidak banyak bedanya dengan bandara di Jakarta, hanya saja lebih kecil dan banyak sekali orang Melayu yang aksen bicaranya sangat kental Melayu. Aku seperti sedang menonton Upin Ipin.

Rasa lapar menerpa kami, aku dan partner kerjaku pun memutuskan untuk makan dulu di bandara. Junk food? Jauh-jauh ke Pekanbaru kenapa harus makan junkfood akhirnya kami pun memutuskan untuk membeli Soto Padang. Soto Padang di Pekanbaru, ah betapa imajinasi kami begitu liar. Kuah santan dengan daging empuk, ditambah nasi hangat dibubuhi sambal hmm membuat perut kami semakin keroncongan. Namun, sebagai pelajaran hidup bila tidak ingin kecewa janganlah sekali-sekali berharap. Well, it was unexpected!!

Setidaknya perut kami tidak keroncongan, walau harga yang kami keluarkan dengan rasa yang kami dapat sangat tidak sesuai. Usai makan, kami yang membawa koper besar-besar berisikan pakaian untuk kami pakai kurang lebih satu bulan mencari taksi. Kebetulan taksi yang kami tumpangi tidak ada argonya. Jadi, kami pun mengira-ngira saja untuk membayar jasanya.

Tibalah kami di tempat tujuan, dan kami disambut oleh dua orang laki-laki. Satu laki-laki Melayu, satu laki-laki Batak—Bapak Ikhsan dan Bapak Andi Saragih. Keduanya sangat baik kepada kami walau wajah mereka terkesan galak-galak. Setelah berbicara ala kadarnya, kami pun diantar oleh mereka mencari kost untuk tempat tinggal kami selama di Pekanbaru.

Udara di Pekanbaru sungguh sangat panas, aku cepat sekali kegerahan dan berkeringat. Untung saja mobil Bapak Andi yang ngepink ini cukup kencang ACnya hingga rasa panas pun cukup teredam. “Panas banget ya Pak, Pekanbaru ini.” Keluhku. “Tapi enak Pak, ndak macet.” Sejauh mata memandang, jalanan beraspal terlihat sangat lowong tiada hambatan. Deretan gedung-gedung pemerintahan terlihat seperti Rumah Makan Padang.

“Iya Bu, Pekanbaru memang panas. Bawah minyak atas sawit Bu. Lihatlah kami, mana ada yang putih seperti Ibu.” Jawab Bapak Andi.

Kami tertawa mendengar jawaban Bapak Andi. Aku melongok ke kulit tanganku, tidak ada putih-putihnya. “Nanti malam udah ada acara apa Bu?” Tanya Pak Ikhsan.

Aku hanya diam, sepertinya bukan scopku untuk menjawab. “Hmm, belum ada sih Pak.” Jawab rekan kerjaku yang bernama Mba Diza.

“Kami ajak makan bakso enak disini ya? Suka bakso ga Bu?”

Terlalu banyak percakapan di mobil menuju tempat kost dan kami pun memutuskan untuk mengiyakan ajakan mereka dan bakso nya tidak mengecewakan.

Tiga hari di Pekanbaru, kami kedatangan satu tim lain dari Jakarta. Petualangan di Pekanbaru barulah dimulai setelah kami yang tadinya hanya berdua menjadi berempat.

Waroeng Wahid Pekanbaru

Rasanya kurang pol bila belum mengenalkan dua kawan lain yang baru datang itu. Mereka berdua bukan partner kerjaku karena kami tidak satu tim. Biar kusebut saja mereka kawan. Bang Jabbar laki-laki bertubuh tambun yang mudah sekali berkeringat dan Mas Yoga laki-laki bertubuh tinggi, memakai kaca mata, manis seperti laki-laki Jawa pada umumnya.

Malam pertama kami berempat di Pekanbaru. Bang Jabbar menghubungi Mba Diza untuk makan malam bersama, kami yang belum makan malam pun mengiyakan. Aku dan Mba Diza yang sudah tiga hari di Pekanbaru rasanya sudah bosan dengan Nasi Padang karena hanya itu yang paling mudah kami dapat sehingga malam ini pun aku dan Mba Diza menolak dengan tegas untuk makan Nasi Padang.

Aku dan Mba Diza yang sudah siap tidur, berpakaian ala kadarnya. Kami pakai training dan jaket karena kami pikir kami hanya berjalan kaki untuk mencari makan di dekat kost. Ada satu tempat yang menarik perhatian kami. Tepatnya di Jalan Durian, tidak jauh dari kost kami. Tempatnya seperti rumah, warna lampunya remang, dan ada suara musik menemani pengunjung yang datang.

Kami pun memilih untuk makan di tempat yang bernama Waroeng Wahid. Tampaknya ini adalah tempat kumpul anak muda di Pekanbaru. Sejauh mata memandang, semuanya anak muda dan berhasil membuat aku dan Mba Diza minder karena kami memakai baju tidur. “Kita benar-benar salah kostum.” Bisik Mba Diza. Untung saja Mas Yoga dan Bang Jabbar tidak pakai baju tidur juga.

20151010103301

tripriau.com

Kami duduk di halaman depan. Mataku jelalatan melihat sekeliling, benar-benar seperti rumah. Lebih tepatnya seperti rumah tradisional, mengingat rumah-rumah di Pekanbaru yang aku dapati hampir semuanya mewah dua lantai. Kursi yang menempel di bokongku ini seperti goyang-goyang, dan baru kusadari ternyata kursinya terbuat dari besi. Tidak lama, kami dihampiri oleh seorang pelayan kafe. Anaknya masih muda, dan terkesan gaul. Kami diberikan menu makanan, dan aku menakdirkan mie yang digodok dan es the untuk masuk ke dalam perutku. Malam ini aku tidak ingin keluar dari comfort zone. Lebih baik makan aman, daripada tidak cocok dengan lidah.

Mall Ciputra Pekanbaru

Weekend kedua di Pekanbaru, kali ini tidak hanya bersama Mba Diza saja. Melainkan bersama Mas Yoga dan Bang Jabbar. Kebetulan Mas Yoga dan Bang Jabbar dipinjami mobil pick up dan kami berempat pun naik pick up. Malu? Sama sekali tidak! Aku sangat excited masuk berjubal-jubalan ke dalam mobil pick up itu. Kenapa? Karena ini adalah pengalaman pertamaku naik pick up berempat pulak. Melihat ukuran tubuh kami yang tidak imut-imut. Bang Jabbar saja sudah memenuhi ukuran satu kursi penuh. Jadi aku, Mba Diza, dan Mas Yoga harus berbagi ukuran satu kursi untuk bertiga. Aku agak kasihan sebenarnya melihat Mas Yoga yang terhimpit tubuhku, tapi inilah yang dinamakan kebersamaan.

c360_2016-03-09-17-02-35-345

berempat naik pick up

Sepanjang perjalanan menuju Mall Ciputra dipenuhi dengan pertengkaran kecil Mas Yoga dan Bang Jabbar akan pakaian dalam Bang Jabbar yang tidak dilaundry sekalian dengan Mas Yoga. Ah, percakapan itu masih sangat akrab di telinga. Walau agak jengah mendengarnya, tapi berhasil menghiburku.

Tibalah kami di Mall Ciputra Pekanbaru. Sebelumnya, aku dan Mba Diza pernah kesini lebih dulu dan ini adalah kali kedua kami. Di Mall Ciputra kami sarapan yang dirapek dengan makan siang juga nonton London has Fallen.

Danau Khayangan Lembah Sari

Berkat Mas Google, kami pun menemukan tempat wisata ini. Danau buatan yang dekat dengan Kota Pekanbaru. Dari Mall Ciputra, kami membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Bermodalkan Waze milik Mba Diza, kami pun heading to Danau Khayangan Lembah Sari. Belum tiba di Danau Khayangan Lembah Sari yang konon katanya adalah danau buatan, kami dijegat oleh tiga orang bapak-bapak yang meminta uang masuk sebesar Rp 30.000 dan kami yang tidak tahu apa-apa akhirnya pun memberikan uang kepada bapak-bapak itu.

Tibalah kami di danau buatan, suara kodok terdengar dimana-mana, tapi tidak tahu dimana sumber tepatnya. Aku sibuk mendokumentasikan pemandangan danau sampai-sampai Mas Yoga tanpa diminta berinisiatif. “Sini gua fotoin..” ujarnya. Namun spotnya kurang bagus sehingga aku menolak tawaran Mas Yoga.

Mba Diza dan Bang Jabbar duduk-duduk di sisi danau sementara aku sibuk merekam situasi danau. Mas Yoga? Bersandar di tiang entah apa yang dilakukan, katanya sih sedang mengambil foto seseorang J padahal di tengah danau hanya ada air sejauh mata memandang.

Bosan hanya duduk-duduk saja, kami pun berjalan lebih jauh lagi. Kondisi danaunya kurang terawat, padahal cukup bagus untuk objek wisata. Andai sedikit dilirik dan terurus, aku yakin tidak hanya turis local, turis mancanegara pun akan menyambangi danau ini. Dari kejauhan, aku melihat perahu kayu. Sepertinya asyik mengelilingi danau menggunakan perahu itu. Aku pun mengajak kawan-kawanku itu untuk menaiki perahu dan beruntungnya mereka bertiga setuju.

Setelah tawar menawar dengan bapak pemilik perahu, kami pun naik ke perahu satu per satu. Agak oleng, maklum perahu ada di atas air. Kami mencari posisi yang pewe, entah kenapa aku ini kelihatannya saja kalem namun jati diri pecicilan selalu ingin memimpin aku duduk di paling depan. Bukan, bukan itu sih. Aku hanya ingin mendapat spot yang bagus untuk mendokumentasikan pemandangan.

20160309_175701

Naik perahu mesin kayu

Kami agak terkejut dan sedikit tidak percaya ketika yang ambil alih perahu bukan si bapak yang tadi melainkan anak laki-lakinya yang berumur sekitar 12 tahunan. Sewa perahu sudah kami bayar, satu-satunya pilihan kami adalah percaya dengan anak piyik itu. Ternyata anak piyik itu sudah terlatih. Kami pun diajak berputar mengelilingi danau. Puas bermain, kami pun pulang ke kost walau harus ada drama nyasar dulu.

20160309_180258

senja di Danau Khayangan

Mpek-mpek Tini

Bukan mpek-mpek punyaku lho ya… Ini adalah salah satu wisata kuliner yang terkenal di Pekanbaru. Kenapa begitu? Rasanya enak tenan! Tidak hanya mpek-mpek, tapi ada suguhan makanan lain, ada otak-otak, ada pindang patin dan lain-lain. Makan di mpek-mpek Tini serasa makan mpek-mpek di Palembang walau sebenarnya aku pun belum pernah makan mpek-mpek di Palembang. Hihi.

Sate Padang khas Pekanbaru

Memang dasar Bang Jabbar hobi sekali makan, tidak kenyang sepertinya dengan mpek-mpek Tini, ia pun mengajak kami untuk mencicipi Sate Padang khas Pekanbaru. Satu percakapan yang tidak bisa lupa hingga sekarang. “Nasi goreng ya satu.” Ujar Bang Jabbar kepada seorang pelayan. Sontak aku dan Mba Diza melongo dan memutar leher ke belakang untuk melihat menu yang terpampang di spanduk berukuran ½ meter x 2 meter. Memang dasar Bang Jabbar usil, ternyata dia asal sebut saja. Kami pun tertawa. Ternyata pelayannya pun bingung. Hahaha!!

Mas Yoga ingat gak ya?

Istana Siak Indrapura

Ini adalah klimaks dari petualangan kami di Pekanbaru. Istana Siak yang ada di Siak, Indrapura. Untuk tiba kesana membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Aku tidak ingin mereview Istana Siaknya sih, kalau mau silahkan intip ke (Lihat Sini) Mas Yoga sudah mengulasnya.

Seharusnya sih hari itu kami ke Bukittinggi, namun Bang Jabbar dan Mas Yoga kurang kooperatif. Aku dan Mba Diza sudah bangun sejak subuh, sudah dandan cantik. Aku hampiri kamar Mas Yoga dan Bang Jabbar. “Mas Yoga, jadi ga kita ke Bukittinggi?” aku melihatnya memunggungiku masih pakai sarung dan kaos oblong putih. “Iya Kar.” Jawabnya seadanya. Segitu-gitunya. Karena kesiangan, akhirnya kami pun memutar haluan ke Istana Siak.

Perjalanan menuju Istana Siak bukanlah hal yang mudah karena google maps yang dileading Mas Yoga ngaco sengaco-ngaconya. Ia membawa kami menelusuri perkebunan sawit dimana jalannya membuat perut mual. Untung saja kami sudah dipinjamkan Xenia, bukan pick up. Tidak terbayang kalau naik pick up dengan gaya menyetir Bang Jabbar seperti di film Fast Furious.

Untuk sampai di Siak, kami harus menyeberangi jembatan yang sangat indah yaitu jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Warnanya sangat mencolok, hijau dan kuning. Kata Bang Jabbar. “Indonesia punya jembatan sekeren ini!” kami berempat tidak henti-hentinya terkesima dengan keindahan jembatan yang kami seberangi ini.

Tibalah kami di Istana Siak setelah menelusuri jalanan beraspal dengan fatamorgana dimana-mana karena saking panasnya. Istananya tidak begitu besar, namun ‘Riau’ banget. Benda peninggalan sejarah yang pertama yang kulihat di Istana Siak adalah Kapal Kato, konon kapal tersebut adalah kapal peninggalan Raja-Raja Siak abad 17. Waw, sudah lama sekali bukan?

Kami harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 15.000 per orangnya untuk masuk ke dalam istana. Sandal pun harus di lepas. Disana kami sibuk masing-masing, entah kemana Mas Yoga dan Bang Jabbar, aku dan Mba Diza melihat benda-benda peninggalan sejarah dan mengambil beberapa gambar di istana juga narsis.

screenshot_2017-02-28-15-55-51-02

Kapal Kato

img-20160313-wa0019

narsis bersama

img-20160313-wa0015

Depan Istana Siak

20160313_181428

senja sepulang dari Siak

Sepertinya Istana Siak adalah tempat terakhir di Pekanbaru kami bersenang-senang bersama. Bukittinggi hanyalah impian semata karena aku dan Mba Diza harus pulang ke Jakarta duluan. Plus, kami sempat kebanjiran juga di Pekanbaru.