Dingin

Malam ini dingin. Selimut pun tak mampu menghangatkan. Pikiran ini teruslah melaju pada dirimu yang perlahan namun pasti mulai membenciku. Bagaimana bisa berawal cinta berujung benci? Kamu bisa. Aku tak mampu.

Ternyata rangkaian janji yang dulu terasa begitu abadi bisa fana juga. Kini aku masih percaya rangkaian itu selalu abadi, begitu asyik percayanya hingga tidak sadar perlahan kamu semakin menjauh, hingga pandangan pun tak mampu menggapainya.

Rasa sakit ini bertubi-tubi, rasa lelah ini memporak porandakan jiwa. Gila. Gila. Gila. Sudahkah aku gila? Atau masih waraskah? Sayang, aku masih bangga memiliki ketiadaanmu. Aku ini seperti anjing! Iya anjing!! Begitu setia.

Air mata pun selalu deras, tiada habisnya. Kapan kemarau datang hingga air mata ini surut?

Lelah raga karena urusan duniawi, lelah batin karenamu, mengikis semuanya, mengapa kebahagiaan sulit sekali kudapat meski kumengejarnya? Apa kebahagiaanku hanya terletak padamu? Janganlah kau kutuk aku begitu..

Teruntuk kamu, duhai senjaku yang telah padam. Aku akan mengubur harapan akan kembalinya dirimu menjadi fajarku. Biarlah kamu tetap menjadi malam, malam yang dingin.