Aku adalah Aku

Tiada kalimat puitis yang pantas untuk menggambarkan pantai di depanku. Airnya begitu tenang, tiada desir ombak menggulung yang menjilat-jilat telapak kakiku yang telanjang ini. Hanya suara kelotok-kelotok kecil yang berasal dari tabrakan air dengan kapal nelayan yang diparkir di dekat bebatuan pantai.

“dan ombak pun malu untuk menimbulkan suara di hadapan kamu yang begitu tenang memikat.”

Suara itu muncul tiba-tiba. Suara yang terasa asing namun begitu kurindukan. Laki-laki itu, tidak tampan. Sangat tidak menarik. “angin pun enggan lewat agar tidak kehilangan hening.”  Ia mendekatiku, duduk di sampingku. “dirimu.” bubuhnya.

Langit malam tidak terlihat kelam, pernik-pernik cahaya berkelip di angkasa. Bukan bintang, tapi lampu pesawat yang lewat. Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku yang kuluruskan ke belakang, seperti sedang bersandar. Ia mengikuti. Kulihat dari ekor mataku, ia tengah memandangiku.

Laki-laki sederhana, dan romantis. Ah, aku lemah. Aku menoleh setelah bertahan pada keteguhan hatiku untuk tidak melihat siapapun menikmati kesendirian. Ia tersenyum, menimbulkan guratan di pinggir matanya. Aku membalasnya dengan senyum tipis kemudian menunjuk sembarang ke tengah laut. Ia mengikuti arah jariku. “Ada apa?”

“Ada air yang tadinya biru, namun ketika malam datang menjadi hitam.”

“Kalau begitu izinkan purnama datang untuk menyinari.”

“Tapi purnama seperti senja, indahnya hanya sesaat kemudian sirna. Kemudian hilang, tenggelam oleh malam.”

“Kalau begitu izinkan fajar datang untuk menggantikannya.”

“Tapi fajar pun akan hilang digantikan sore.”

Ia terdiam. Mendenguslah napasnya cukup keras, bahkan tampaknya bisa mendorong air ke tengah-tengah. “Aku.” tambahnya.

“Kamu?”

“Aku akan menjadi aku. Aku adalah aku.”

“Fajar akan digantikan sore. Senja akan tenggelam oleh malam. Purnama tidak selalu datang. Tapi aku, akan selalu ada.”