Aininya Ayah

Gelas itu mengepul, harum jeruk merebak seperti terapi teronggok acuh di atas meja bundar sudut ruangan. Kaki kanannya menopang kaki kirinya. Siku kirinya bertumpu pada tangan kursi sementara tangan kanannya membalik lembaran buku yang sudah menguning.

Aku mengintip dari balik pintu, jari mungilku memegang gagang pintu berharap tidak menimbulkan suara. Laki-laki itu, suka sekali membaca. Duh cinta pertamaku, pantas saja Ibu begitu jatuh cinta padanya

Ayah melepas kaca matanya, menaruhnya di samping gelas jeruk hangat yang kepulannya tidak seramai tadi. Ia mengucak matanya, terlihat lebih kecil ketika kacamata tidak lagi bertengger di hidung mancungnya.

“Kajima!! Kajima!!”

Itu pasti suara drama korea dari laptop Ibu. Ibuku itu sangat lembut, pantas saja Ayah jatuh cinta padanya. Namun, tontonan Ibu bukanlah panutan. “Aini..”

Aku terkejut. Ayah memanggil. Benar kata Ibu, wajah Ayah judes tapi manis. Bisakah aku memiliki kekasih hidup seperti Ayah? “Ayah, maaf Aini ganggu.”

“Sini..”

Ayah sangat menyayangiku, tapi aku begitu menghormatinya. Dengan takut-takut aku menghampiri Ayah yang hanya pakai kaos oblong dan sarung. Tubuhku begitu kecil bila dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar. Kata Ibu, dulu Ayah kurus ceking. Tapi setelah kenal Ibu, Ayah jadi seperti itu. Aku pernah melihat foto Ayah semasa Ayah kerja dulu. Kulitnya hitam hampir menyaingi seragam kerjanya yang berwarna hitam, dahinya lebar, senyumnya tidak mau kalah lebar, benar-benar seperti lelaki Jawa. “Oppa!! Oppa!!”

Ibu sangat tidak keren, suara drama itu mengganggu keintimanku dengan Ayah saja. Aku duduk di pangkuan Ayah. Buku yang dibacanya adalah buku tentang Jendral Soedirman. “Kupilih Jalan Gerilya.”

“Iya. Aini mau baca?” suara Ayah medok sekali. Mungkin ini yang membuat Ibu begitu jatuh cinta pada Ayah. Ah, aku ini tahu apa. Anak kecil berusia 5 tahun.

“Nanti Aini baca ya, setelah Ayah selesai baca.”

“Iya.”

“Ayah, aku mau tanya deh.”

“Tanya apa nak?”

“Ayah kok bisa suka sama Ibu? Siapa duluan yang suka Yah?”

Ayah tertawa. Suara tawanya mengagetkan. Ia memegang dahiku sedikit menekannya. Aku meringis kecil. “Yang suka duluan?” Ayah tampak berpikir. “Kayaknya Ayah. Jadi, dulu Ibumu itu anak baru di kantor Ayah. Ibumu itu pendiam, ga sadar Ayah merhatiin Ibumu. Sampai senior Ayah nyuruh Ayah buat deketin Ibumu. Tapi ga mungkin kan, masa anak baru langsung dideketin.”

“Terus yah?”

“Eh ternyata Ibumu suka tuh sama Ayah. Jadi terkesan Ibumu duluan yang suka. Ayah sama Ibu mencoba saling kenal satu sama lain, abis itu saling ngungkapin perasaan. Hmm gimana ya, Ayah bilang kalo Ayah sayang sama Ibu. Ibu juga bilang kalo Ibu sayang sama Ayah.”

Ayah tampak sedang bernostalgia. Bibirnya tersungging cerah. Ia membenarkan rambutnya yang turun-turun ke dahi lebarnya. “Tapi nak, Ayah sama Ibu sempat pisah. Ayah rasa, udah ga ada jalan lagi buat Ayah dan Ibu bersama.” raut wajah Ayah berubah seketika. Terlihat begitu terpukul. Aku melingkarkan tanganku ke tubuh Ayah. Menyandarkan kepalaku ke dada Ayah. Rambutku yang seperti Ayah dibelai lembut oleh Ayah. “Tapi akhirnya Ayah sama Ibu bersama lagi. Terus ada kamu.”

“Ayah seneng ada aku?”

Ayah mengecup dahiku sekilas. “Banget dong Aini.. Keinginan Ayah, anak pertama Ayah itu perempuan. Eh kamu dateng..”

“Horee. Aku senang jadi anak pertama Ayah..”

“Uri adeul… Jongmal mianhaeo.”

Kami mendengar percakapan drama korea kesukaan Ibu. Ruangan hening sesaat, gelak tawa Ayah menggelegar setelahnya. “Ibu kamu gemesin. Tapi lebih gemesini Aininya Ayah.” Ayah kembali mengecup keningku, lalu dicubit pipiku yang tembam ini.