Bandung oh Bandung II

Minggu, 9 April 2017

9:47 PM

Jarak hanya sekedar lima huruf tak berarti bila kebersamaan berada di atasnya. Lelah pun begitu. Semua hanya sekedar kumpulan huruf tak berarti bila rasa pertemanan sudah begitu erat dirasa.

Malam ini pun aku merasa begitu lelah dan mengantuk, tapi hasrat untuk mengingat kejadian dua hari yang lalu mengalahkan rasa kantuk dan lelah yang mengeroyok tubuh ini.

Ini adalah kali keduaku mengunjungi dua orang teman dekatku, Wahyu dan Handi yang sejak bulan September 2016 berada di Bandung. Namun kali ini aku tidak sendiri, melainkan bersama salah seorang teman kami yang lain, Tiwi. Gadis berdarah Sunda yang sangat cantik, manis neng ayu. Sebenarnya tidak bisa dibilang lengkap karena seharusnya ada Erika, Nala, Wayan, Mas Yoga, Mas Dede, Edo, Meli, Yuli, dan Mas Ibnu. Karena lain hal dan kesibukan masing-masing, jadilah hanya aku dan Tiwi yang berkunjung ke Bandung.

Kami sudah merencanakan itu sejak beberapa minggu yang lalu, namun awal bulan April kami baru bisa memutuskan untuk memastikan jadi atau tidaknya. Dikarenakan kami berdua bisa, begitu pun tuan rumah Wahyu dan Handi kami pun langsung pesan tiket kereta.

Pesan tiket kereta saja penuh dengan kendala, dari tidak bisa pesan, sampai kesulitan untuk transfer dan ATM Tiwi yang hilang sehingga pada akhirnya Wahyu yang memesan tiket untuk kami. Kode booking tiket sudah di tangan, hanya tinggal menunggu hari H dan menentukan destinasi wisata yang akan dikunjungi.

Hari terus berganti namun rasanya berjalan begitu lambat, hingga pada suatu hari Partnerku dengan gagang telepon yang ada di telinga kirinya berkata demikian. “Tini, tanggal 7 kamu stock opname di Cibitung ya.” Seketika aku mau pingsan mendengarnya.

Tiket kereta sudah terbeli, jam 8 malam berangkat tapi aku harus stock opname  dulu di Cibitung? Seketika aku membayangkan bagaimana macetnya tol disana.

“Ah, iya Mba. Tapi aku harus ada di Gambir sebelum jam 8 malem.” Ucapku, agak tidak enak sebenarnya berkata demikian tapi itu harus dikatakan.

Aku sedikit tenang setelah tahu stock yang diopname berupa barang besar dan tidak ada barang yang berbentuk partial sehingga estimasi waktu opname tidak membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebelum sore hari tiba sudah bisa kembali ke Jakarta dan bergegas ke Stasiun Gambir. Namun lagi-lagi rencana haruslah kembali berubah. Setelah mendapat inventory card pada H-1, diketahui ada barang di Jakarta yang harus diopname.

H pemberangkatan

7 April 2017

Resiko menjadi auditor eksternal maupun internal, yaitu berhubungan dengan orang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Pagi itu aku menelpon Person in Charge dari Perusahaan yang akan aku audit, belum pernah bertatap muka namun sudah saling mengenal suara. Seperti orang yang akan blind date saja. Tapi aku belum pernah melakukan hal itu, bagaimana ya rasanya?

Dalam waktu sekejap aku membuat Rencana B.

Aku ke Tower yang berada di kawasan SCBD tempat Perusahaan yang akan aku audit berada untuk menjemput staf bagian inventory dan shipment yang akan mendampingiku melakukan opname tepat jam 8.30 WIB lalu ke Cibitung estimasi tiba jam 10.00 WIB kemudian opname sampai jam 12.00 WIB kembali sampai di Jakarta jam 13.30, kemudian opname kembali sampai pukul 15.00 WIB.

Namun semuanya kembali berantakan dikarenakan sistem ganjil-genap, dan hari itu adalah tanggal ganjil sementara mobil operasional kantorku berplat nomor genap. Dikarenakan hal itu, kami pun tidak bisa pick up klien di kawasan tersebut. Aku kembali membuat Rencana C, dan meminta klienku untuk bertemu di depan Hotel Amaris Tendean. Dan tepat pukul 09:30 pun aku sudah bertemu dengan klien yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Aku sudah hopeless dengan rencana awal, sehingga aku pun kembali mengecek aplikasi Access untuk melihat jam pemberangkatan hari ini, ternyata masih ada untuk pukul 23:00 WIB. Aku pun meminta tolong kepada Wahyu untuk memesan tiket apabila aku ketinggalan kereta. Namun semua kegelisahan itu tidak menjadi kenyataan. Jalan tol lancar jaya, stock yang diopname tidak terlalu banyak dan belum ada pergerakan sehingga proses opname pun sangat singkat. Aku kembali ke Jakarta tepat pukul 13:30 WIB dan bergegas dari kantor klien pukul 16:30 WIB dan tibalah di Stasiun Gambir pukul 17:00 WIB. Benar sekali, sangat mulus untuk hari ini. Setelah bertemu Tiwi, kami pun menunggu pemberangkatan kereta di musolah.

Kebetulan kami adalah penggemar drama Korea sehingga di kereta kami menonton Drama di laptopku. Tadinya aku merasa sangat sedih karena mau liburan saja harus bawa laptop dan dokumen audit, tapi ternyata ada gunanya juga. Namun rasa kantuk mengalahkan serunya menonton drama sehingga kami pun memilih tidur di sisa-sisa perjalanan kami menuju Bandung.

Aku terbangun ketika kami sudah berada di Stasiun Cimahi dan aku pun langsung menghubungi Handi untuk menjemput kami. Dan, tibalah kami di Bandung. Handi sudah berdiri di dekat gerbang keberangkatan dengan gayanya yang khas—leher geleng-geleng seperti orang India. Wah, rasanya rindu sekali dengan manusia yang super menyebalkan itu.

IMG20170407232350

23:00 di Stasiun Bandung

Hari ini temanya memang serba terburu-buru, kami pun buru-buru pesan jasa mobil online dan tibalah di kostan harian yang sudah kami sewa dari jauh-jauh hari, tepat di depan kamar kost Wahyu dan Handi. Aku mengabari Wahyu kalau kami sudah tiba di kostan dengan selamat sementara Wahyu masih di kereta perjalanan pulang dari Jogja sehabis Dinas Audit. Aku pun cepat-cepat tidur karena jam 4 subuh harus membangunkan Handi untuk membukakan pintu Wahyu.

8 April 2017

Alarm berbunyi sejak tadi, namun Wahyu belum mengabari kalau ia sudah sampai depan rumah kost. Aku pun sudah tidak bisa tidur lagi karena kepikiran Wahyu, aku memainkan telepon seluler pintarku dan Wahyu pun mengirim pesan. “Tince, gue udah di depan.”

Seketika aku pun langsung keluar kamar dan mengetuk pintu kamar kost handi. Butuh waktu untuk membangunkan Handi yang kebluk itu hingga aku mengeraskan ketukan pintu dan baru bangunlah Handi Octasaputra.

Wahyu Budi Satrio, laki-laki Kudus itu tiba juga di Bandung. Laki-laki penggemar lagu-lagu F4 Taiwan version yang selalu baik kepada kami kecuali kepada Handi karena Handi patut untuk dijahati. Hehe, I am just kidding. Wahyu baik ke semua orang. Wahyu belum tidur tapi mau menemani kami untuk berlibur.

Jam 7 kami sudah rapih dan kami pun bergegas ke Ciwidey menggunakan 2 motor. 1 motor adalah beat pop milik Uda Handi dan satu lagi adalah motor rental. Perjalanan kami ke Ciwidey dipenuhi oleh gelak tawa dan pemandangan yang memanjakan mata. Lepas dari Kota Bandung dan Cimahi, hamparan pemandangan bukit dan pegunungan mulai terpampang jelas. Beberapa percakapan tidak bermutu pun terlontar dari kami, lebih tepatnya dari aku dan Handi karena aku tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh Tiwi dan Wahyu namun mereka pun tampak begitu seru.

“Han, itu namanya bukit apa Han?” tanyaku melihat bukit menjulang tinggi di depan kami.

“Itu namanya Bukit Pitak Kar.” Jawabnya dengan nada datar khas Padang.

Seketika pun aku tertawa terbahak-bahak melihat bukit yang sudah digerus traktor sehingga terlihat seperti kepala orang pitak. “Gua ga kepikiran lu bakalan jawab itu Cuy.”

Semakin ke atas semakin sejuk, namun debu dari truk-truk yang lewat dan asap kenalpot yang tidak bersahabat membuat pernapasan menjadi agak terganggu. Celana hitam yang kupakai pun warnanya jadi agak kecoklatan. Namun semua itu termaafkan karena kami menemukan pemandangan yang sangat indah sehingga kami pun berhenti untuk berfoto.

IMG20170408070431

neng gareulis OTW

IMG20170408090526

di tengah perjalanan ke Kawah Putih

Kawah Putih

Destinasi pertama yang kami ingin kunjungi adalah Kawah Putih. Butuh waktu cukup panjang untuk tiba disini. Sebelumnya kami berharap tidak hujan karena view Kawah Putih akan kurang bagus apabila hujan turun. Begitulah kata orang-orang. Namun sedihnya, hujan pun turun walau tidak deras. “Pasti disana kabut semua nih.” Ujar Wahyu.

Kami cukup kecewa dengan keadaan itu namun tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap naik ke atas. Dengan membayar Rp 40.000,- kami sudah mendapat fasilitas parkir motor, kendaraan untuk ke atas,  masker, dan tiket masuk Kawah Putih.

Kendaraan yang membawa kami sangat seadanya, kami duduk di kursi paling belakang dan sempit-sempitan. Hal ini mengingatkanku pada saat di Pekanbaru ketika naik pick up berempat hanya saja dengan orang-orang yang berbeda. Handi pun pusing dan mual karena jalan menanjak dan berkelok ditambah bau kenalpot yang seakan ‘nembak’ karena tancap gas.

IMG20170408095808

Handi pusing atau galau?

Butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk tiba di atas dan bau belerang mulai tercium. Masker kami rekatkan ke hidung dan mulut kami. Para penjual jasa sewa payung ada dimana-mana karena gerimis rindu menghujam kawasan Kawah Putih. Pengunjung saat itu pun sangat banyak sehingga kami kesulitan untuk berfoto di depan tulisan KAWAH PUTIH. Kami pun memutuskan untuk menahan diri tidak berfoto di depan tulisan tersebut untuk saat ini dan memilih untuk segera berjumpa dengan kawah yang katanya berwarna tosca.

Ini adalah kali pertama aku dan Tiwi berkunjung ke Kawah Putih sementara kali kedua untuk Handi. (setel lagu kali kedua – Raisa untuk Handi). Begitu pula untuk Wahyu, entah kali ke berapa. Kami—aku dan Tiwi sangat excited dengan kali pertama kami ini. Kabut dimana-mana, tapi tidak mengurangi keindahan kawah. Suhu dingin pun terasa menembus jaket tebal kami. Apalagi bagi aku dan Tiwi yang terbiasa diselimuti kehangatan polusi Jakarta. Gerimis yang mengundang rindu itu pun mulai berhenti, namun Tiwi tetap mengeluarkan payung merahnya karena sangat kontras dengan warna di Kawah Putih sehingga terlihat begitu bagus untuk aksesoris foto.

Sembari menikmati pemandangan, kami sangat tidak lupa untuk mendokumentasikan kegiatan kami di Kawah Putih. Karena kami berempat, kami pun terpecah. Wahyu dan Tiwi sibuk saling bergantian mengambil foto sementara aku dan Handi sibuk saling bergantian mengambil foto diiringi pertengkaran tak berkesudahan. Kenapa? Karena ketika aku mengambil foto untuk Handi hasilnya selalu memuaskan sementara ketika Handi mengambil foto untukku, mayoritas hasilnya kurang memuaskan. Mungkin karena modelnya yang memang tidak bagus. (merendah diri)

Dengan segala skenario candid, kami pun berfoto tiada henti sampai gerimis mengundang rindu pun kembali turun. Puas bermain di Kawah Putih, kami pun memutuskan untuk turun dan berfoto di depan tulisan KAWAH PUTIH walau tidak sempurna hasilnya. Sebelum berganti destinasi, kami makan cuanki dulu.

IMG20170408102244

Difotoin Turis Malaysia

IMG20170408105223

Gelang Persahabatan

IMG20170408111146

Narsis everywhere

IMG20170408100652

Depan KAWAH PUTIH

Kami mencari musolah untuk solat Dzuhur dan beristirahat sejenak kemudian meneruskan perjalanan ke Situ Patenggang. Sebelum tiba di Situ Patenggang, kami berhenti sejenak di kebun teh Rancabali dan berfoto-foto disana. Duh, pemandangannya hijau sekali benar-benar menyegarkan mata. Namun kami berhasil menggigil dibuatnya.

IMG20170408091536

Diem-diem xelfie

Situ Patenggang

Tidak jauh dari kebun teh Rancabali, kami tiba di Situ Patenggang. Naik ke atas sedikit lagi, ada Kawah Rengganis. Konon katanya, Kawah Rengganis dan Situ Patenggang itu saling berkaitan. Konon, kedua nama di atas menceritakan sebuah kisah sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Ki santang adalah keponakan dari Prabu Siliwangi, seorang raja Padjajaran yang arif dan bijaksana. Sedangkan Dewi Rengganis adalah seorang garis desa yang hidup di sebuah pegunungan. Keduanya memiliki ikatan kasih yang sangat kuat namun terpisah oleh jarak dan waktu (konon mereka terpisah akibat peperangan yang sangat lama). Karena perasaan dan kasih sayang yang begitu besar antara keduanya, akhirnya mereka berupaya untuk saling mencari, hingga pada suatu hari dipertemukan di sebuah batu besar. Batu tersebut dinamakan batu Cinta. Setelah pertemuan itu, singkat cerita Rengganis meminta Ki Santang untuk dibuatkan sebuah danau dimana terdapat pulau kecil di tengahnya. Karena cinta Ki Santang yang begitu mendalam, akhirnya ia mengabulkan permintaan Dewi Rengganis. Sekarang daratan kecil ini bernama pulau Sasuka atau dalam bahasa Indonesia bernama Pulau Asmara. (source: http://www.situpatenggang.com/2013/11/sejarah-situ-patenggang.html)

IMG20170408130255

Depan Situ Patenggang

Kami tidak masuk ke dalam kawasan Situ Patenggang melainkan hanya sampai di depan loket tiket. Yang penting kami sudah tiba di Situ Patenggang. Hahaha. Setelah puas foto-foto, kami bergegas ke destinasi wisata berikutnya yaitu Rancaupas.

Rancaupas

Yang ingin melihat rusa di daerah Ciwidey bisa ke Rancaupas. Begitulah kami, disana kami melihat rusa. Lebih tepatnya gambar rusa di spanduk yang terpampang di dekat loket masuk Rancaupas. “Bedanya rusa di Bogor sama disini, kalo di Bogor ada totol-totolnya kalau disini engga Wi..” Begitu kata Wahyu kepada Tiwi.

Setelah puas melihat loket masuk dan hutan-hutan kanan dan kiri, kami pun kembali ke jalan besar. Aku menuntut penjelasan dari Handi sebagai masyarakat Indonesia yang mencari nafkah di Kota Kembang ini. “Han, lu jelasin dong ke gue apa gitu.”

“Nih, bedanya rusa di Bogor sama disini, kalau di Bogor ada totol-totolnya kalau disini engga Kar..”

“Itu lu denger dari Wahyu kan..”

Percakapan antara aku dan Handi memang tidak pernah berfaedah.

Bakso Istighfar

“Bakso penggugur dosa..” begitulah Tiwi berkata.

Setelah mandi dan menunaikan solat wajib, kami meluncur ke penjual bakso yang super besar. Bakso Istighfar namanya. Konon, siapapun yang melihatnya dan beragama muslim insyaAllah akan berkata “Astagfirullah..” awalnya aku tidak yakin aku akan beristighfar. Namun, setelah melihatnya secara langsung, kontan aku pun langsung berkata “Astagfirullah..” dari alam bawah sadarku.

Bakso berukuran seperti kepala orang dewasa itu sudah ada di hadapan kami. Kami bingung harus memulainya dari mana dan kami pun hanya kuat makan setengah. Setengahnya kami bungkus dan bawa pulang.

IMG20170408190507

Astagfirullah..

Karaoke

Sepertinya ini adalah menu wajib bila berkumpul dengan teman-teman. Karaoke tidak pernah terlewat. Walau suaraku pas-pasan, aku yang paling semangat untuk karaoke. Kami pun mampir ke Cihampelas Walk untuk Karaoke. Karena saat itu malam minggu, jadi kami harus menunggu daftar. Sembari menunggu, kami jalan-jalan dulu ke Teras Cihampelas.

Saat karaoke, aku terkagum oleh suara Tiwi yang begitu memukau, ternyata suara Tiwi mengalahkan suara diva. Iya, itu berlebihan sih. Tapi, Tiwi memiliki bakat terpendam.

List lagu yang kami nyanyikan:

  1. Isabella – ST 12
  2. Gemu Fa Mi Re
  3. Muhasabah Cinta – Edcoustic
  4. Good Bye – Air Supply
  5. Cari Pacar Lagi – ST 12
  6. Jangan Pernah Berubah – ST 12
  7. Sekali Lagi Saja – Mhyta
  8. Pelangi – HiVi
  9. Lebih Indah – Adera
  10. Cinta Terbaik – Cassandra
  11. Parcuma Beta Susah di Rantau – Lagu Ambon

Dan lagu-lagu galau lainnya untuk menemani Handi yang sedang bahagia-bahagianya. J

Tengah malam hampir tiba, aku dan Handi pulang duluan karena kami harus mengembalikan motor rental. Hari yang sangat panjang dan menyenangkan. Aku pun masih berpakaian lengkap—memakai jaket, kerudung, celana dengan laptop menyala tertidur. Kenapa laptop menyala? Karena Handi minta dicopyn drama korea. Namun akunya pelor—nempel molor dan di atas jam 11 malam sebenarnya jam-jam eror sehingga laptop aku angguri.

IMG20170408234028

Usai Karaoke

CFD di Bandung

Di Jl. Ir H Juanda, Dago setiap Minggu pagi diadakan Car Free Day dan kami pun CFDan. Aku sangat bersemangat lari, membakar kalori tapi bohong. Jalan sedikit saja membuat kakiku seperti gatal-gatal. Sungguh, sangat ketahuan sekali bahwa aku tidak pernah berolahraga. Usai olahraga, kami sarapan nasi uduk di dekat parkiran ITB kemudian kembali ke kostan sementara Wahyu dan Tiwi membeli oleh-oleh kue kering dan cetak tiket kereta untuk kami pulang.

3247

CFD… Awas! ada penampakan!

Kami pun berangkat ke Stasiun diantar Wahyu. Sedih rasanya harus berpisah dengan mereka berdua. Walau Handi menyebalkan, tapi menyenangkan karena selalu membuat tertawa. Kalau Wahyu ya jangan ditanya, tiada orang yang baiknya mengalahkan Wahyu. Siapa sih yang tidak senang berteman dengan Wahyu? 🙂

Petualangan kami belum berakhir

Estimasi tiba di Stasiun Gambir pukul 14:57 WIB namun jam 14:00 aku dan Tiwi sudah tiba di Stasiun Bekasi dan kami pun turun di Stasiun Bekasi supaya kami bisa langsung sambung commuter line. Namun ketika mau masuk Stasiun Jatinegara, kereta bermasalah. Kami menunggu hampir satu jam namun tidak kunjung jalan juga sehingga petugas kereta yang umum disebut PKD memberitahukan kami untuk turun dan sambung dengan moda transportasi lain.

Ini adalah kali pertama kami turun dari ruang masinis, ternyata kereta sangat tinggi. Kami pun naik angkot kemudian sambung metro mini sampai Stasiun Manggarai. Dengan keadaan lelah lunglai, kami bersabar hingga sampai rumah masing-masing..

IMG20170409154214

Seterong

Kemana trip kita selanjutnya gengs? 🙂

Ke Jogja kah? “Di setiap sudut Kota Jogja itu Romantis.” Bapak Anies Baswedan.