Mimpi Sedihku

Aku terkantuk-kantuk dibuatnya. Bus ini tidak begitu nyaman, kakiku yang cukup panjang harus tertekuk cukup lama supaya bisa memberikan ruang untuk penumpang yang berdiri. Aku melemparkan pandangan keluar, cahaya merah menyala dari mobil-mobil yang terparkir di jalan entah sampai kapan. 

Macet Ibu Kota menjadi santapan malamku setiap hari usai pulang kerja. Beginilah menjadi manusia kota, harus dapat menikmati waktu yang habis di jalan. Inilah hiburan kami, penantian yang cukup menyenangkan di tengah rasa lelah dan kantuk.

Angin dari pendingin udara sayup-sayup membelai kelopak mata seakan meninak bobokan mereka. Berat, mata ini terasa begitu berat. Aku pun tertidur hingga kepalaku tidak beraturan ke kanan dan ke kiri  bahkan ke depan dan ke belakang. Pulas sekali, tidur seperti ini saja nikmat.

Aku terbangun ketika kepalaku terbentur besi sandaran kursi. Bus sudah tidak penuh, hanya ada aku, seseorang di hadapanku, Bapak Pramudi dan Kondekturnya namun macet masih belum tamat. Tampaknya masih banyak episode yang harus dilewati. Aku menguap, kesadaranku belum sepenuhnya terisi. Seseorang di hadapanku memandangiku, tepat di hadapanku. Tampaknya tidak asing.

Dibalut jaket sport berwarna putih dengan garis navy blue menjadi motifnya. Jaket itu pernah menghangati tubuhku, jaket yang kebesaran di tubuhku. Jaket yang ketumpahan tinta pulpen yang bocor, sehingga membuatku panik bukan main. Hingga aku mengembalikannya dan sampai sekarang, tampaknya sang empunya tidak tahu akan hal itu. Memang tidak terlihat bila tidak diperhatikan dengan jeli. Coba lihat di bagian tangannya yang berwarna navy dan dekat resleting.

Aku memberanikan diri untuk semakin menaikkan pandanganku dan berhenti di bahunya, bahu yang sangat pas dengan tinggi tubuhku sehingga aku bisa dengan leluasa bersandar. Bahu yang sangat nyaman untuk sekedar termenung. Bahu yang begitu aku gemari. Lehernya, lehernya yang jenjang begitu kukenali. Leher yang menopang wajah bundarnya yang begitu aku senangi.

Teringat di kala aku membelai wajahnya dengan penuh kasih, matanya terpejam meresapi kasihku. Teringat di kala aku menarik wajahnya dan ia hanya terdiam lalu sedikit meringis. Dahinya, dahinya yang lebar. Pernah kupukul-pukul pelan ketika kami bercanda. Dahi yang akrab dengan telapak tanganku.

Rambutnya, bila aku memiliki anak perempuan aku ingin rambut anakku seperti Bapaknya. Kenangan itu terputar kembali begitu cepat. Bulu kudukku merinding, hidungku terasa basah menggantikan air yang ingin keluar dari mata namun tertahan.

Mataku beradu dengan matanya yang sayu-sayu judes. Jantungku seakan ingin meledak karena ritmenya menjadi secepat unta berlari. Ia tersenyum. Senyum yang sangat akrab di hatiku. “Kamu apa kabar?”

Suaranya terdengar. Aku tidak dapat lagi menahan air yang sedari tadi mengetuk-ngetuk kelopak mata, dengan beringas mereka keluar tiada henti. Suara yang sangat aku rindukan setiap pagi, siang, sore, malam, bahkan saat tidurku. Aku mengamit tisu dari tasku, mengelap air mata yang membuat malu saja. “Kabarku baik, sebelum kehilangan kamu.”

Ia tersenyum, percis seperti saat ia pamit untuk meninggalkanku yang sedang begitu sayang dengannya. “Kamu harus baik-baik saja walau tanpa aku.”

“Iya, aku memang baik-baik aja, hanya ada dua bagian yang sampai saat ini belum baik sehingga berpengaruh pada yang lain.”

Ia terdiam. “Otak dan hatiku, masih sakit.”

Hening, sampai sang Kondektur berkata halte terakhir telah tiba. Aku terbangun dari mimpi sedihku.

Kolong Kasablanka, 13 April 2017