Kado di Dua Puluh Tiga

lantern-83659_640

www.google.co.id

Aku menelan getirnya dingin selepas kembalinya sang surya ke peraduan. Sendiri, di awal tahun. Canda datang mengawali esok hariku, namun aku lebih memilih sepi sebagai kawan. Aku menatap nanar ke langit, membayangkan Tuhan yang entah seperti apa rupanya. Mataku memicing, menatap sinis langit yang bisu.

“Bukan awal yang baik di tahun yang baru. Orang yang kucintai memilih untuk melepaskan cintanya. Tuhan, kenapa tidak adil begini? Haruskah awal tahunku sekelabu ini?” ucapku pada langit, namun langit hanya diam, bisu.

Kujalani hari ditemani sepi, walau banyak tangan mencoba untuk menjabat namun aku lebih memilih mengawani sepi. Karena hanya sepi sepertinya yang tahu betul penderitaanku. Bukan tentang masalah luka gores di lutut, namun hati yang teriris sembilu. Robek karena cinta. Aku terlelap dalam sepi, akrab dirasa.

Hari berjalan begitu lamban, selamban senja sore ini yang tidak kunjung padam. Beda dengan kisah cintaku yang padam secepat ini, namun di ujung sana aku terus melihat lentera yang bersinar walau tidak terang.

Aku memukul-mukul dadaku, sudah cukup lama aku lewati hari ini tapi aku masih saja memilih sepi untuk kukawani. Sesak, sedihnya masih terasa walau senyum sudah bisa dan biasa. Tawa sudah lebar dan kelihatan gigi. Namun hati ini rapuh tak sebaja tubuh hingga lentera itu semakin besar saja sinarnya seperti ingin menggantikan duka.

Dua puluh tiga tahun lalu, aku menangis keluar dari rahim kuat ibu. Dua puluh tiga tahun kemudian, di akhir-akhir penghujung dua puluh dua aku sering pula menangis, menangisi rindu yang tidak bisa kugenggam. Namun lentera itu semakin terang, semakin menyala seperti akan kebakaran. “Hai.” Sapa sepi tidak menyapa, sapa rindu yang menyapa.

Aku menyambut sapa dengan takut, takut akan salah paham kronis karena khayal yang datang akibat rindu. Suaranya masih sama, panggilannya masih sama walau canggung-canggung. Air mata kembali tumpah, mengingat hari-hari sepi yang kulalui dikawani sepi. Curahan cerita yang sudah lama tidak didengar mengeroyok telinganya, diiringi syahdunya tangisan tertahan. Air mata tulus akibat rindu.

“Sayang.” Sapanya. “Maaf.” Tambahnya. “Terima aku lagi.” Bubuhnya.

“Iya.” Jawabku, tidak peduli betapa ia menyakitkanku dengan sikap tergesanya dulu. “Iya.” Jawabku mantap tanpa ragu rasa sakit itu akan terulang lagi.

Usiaku genap dua puluh tiga, Tuhan memberikanku kado yang tidak pernah berani aku harapkan. Tapi Tuhan tetap memberikannya walau aku pernah meragukan-Nya.