Laki-laki Memfoto Merpati, Pembaca Buku

This story I dedicated to my good friend. She likes to imagine, so I write down her imagination as a story.

animals-214789_960_720

source: google

Dua burung merpati putih itu mematuk-matukkan paruhnya ke jalanan setapak taman tengah kota. Tidak jauh dari mereka, seorang laki-laki berkacamata, memakai celana kedombrong dan kaos belel diselubungi flannel lusuh menungging-nungging mengerek objek yang terfokus pad layar datar telepon pintarnya. Dua gambar berhasil diabadikan, perpaduan warna putih dan abu-abu—bulu merpati juga jalan.

Jauh beberapa meter dari sana, seorang gadis bertubuh kecil sibuk menyibakkan rambut lurus sebahunya yang terhembus angin taman yang nakal. Sesekali ia menghela napas sembari matanya tidak lepas dari sosok laki-laki yang sedari tadi sibuk memoto burung.

Puas dengan hasil jepretannya, laki-laki itu berjalan ke arah pinggir. Duduk di bangku taman berbau besi berwarna hitam. Matanya masih melotot ke layar telepon pintarnya. Sebentar ia mendongak seperti sedang berpikir, kemudian kedua ibu jarinya menari lincah di atasnya. Manusia jaman sekarang, punya gambar bagus pasti diunggah ke media sosial. Sebuah senyum puas tersungging, kemudian bahunya terlempar ke sandaran bangku.

Kaki kanannya bertumpu pada kaki kirinya yang memijak bumi. Sedikit memiringkan tubuhnya ke arah kiri, tangan kanannya merogoh saku dan keluarlah buku kecil berwarna hijau.

Tubuh kecil itu tergerak tanpa sadar. Kakinya sudah melangkah namun kemudian terhenti ketika kesadaran menghampirinya. Jantungnya berdebar-debar seperti sedang dilamar, padahal seorang yang membuatnya begitu hanya duduk nyaman sembari membaca serius. Gadis itu kembali mengurungkan langkah tanpa niat itu dan kembali merekatkan bokongnya di atas bangku taman.

Ia mengeluarkan kabel meringkel yang biasa disebut headset lalu menaruhnya di lubang telinganya yang tidak besar. Sesekali ia harus menekan kuat-kuat agar tidak jatuh. Lagu Close to You – Carpenters dipilihnya.

Suatu hari di Taman Bungolia

by: M.H

Bayang melintas menepuk kosongnya hati

Lalu terpecahkan oleh suara terbangnya merpati

Hanya merpatikah?

Nyatanya buku-buku itu yang memanggil naluri penuh arti

Lalu hanya tumpukan buku itu kah?

Tidak.

Ada kacamata yang dapat kupandangi

Seperti ada kupu-kupu yang terbang mengitari

Aku pun hanyut dan lelap bagaikan dalam mimpi

Jarinya menari lincah di kertas kusam buku bekas pakai yang tidak habis sampai halaman belakang. Pemanasan global harus irit menggunakan kertas. Pikirnya.  Tangannya terhenti, ia menyobek bagian kertas yang baru saja ia kotori dengan pensil 2B merek terkenal.

Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas, ingin sekali menghampiri laki-laki tidak istimewa yang mampu mencuri perhatiannya namun ia hanya gadis pemalu yang bingung untuk berkata apa bila sudah dihadapkan dengannya. Angin sore semakin nakal menyibak rambut lurusnya sampai menutupi wajah cantiknya.

Ia jadi memiliki kesibukan baru, mengatur rambutnya yang berantakan gara-gara angina. Tidak sedikit helaian rambutnya masuk ke dalam mulut hingga ia tersedak-sedak. “Aduh, anginnya.” Gerutunya hampir berteriak. Namun suaranya yang kecil membuat tidak seorang pun mendengar keluhannya.

“Tampaknya ini punya kamu, garis kertasnya mirip dengan kertas di buku yang kamu pegang.” Celana kedombrong itu kini tepat di depan matanya.

Gadis itu hanya terperangah sembari matanya melihat ke arah kertas berisi puisinya, juga celana kedombrong yang hampir menyibak jalan. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mengambil kertas miliknya. “Baiknya pakai ini.” Tambah laki-laki itu, memberikan kuncir rambut berwarna merah maroon. “Cocok dengan warna baju kamu, merah maroon. Untung tukang jepitannya jual.”

Tidak ada kontak mata sore itu.

Laki-laki itu pun kembali ke tempat asalnya sembari menikmati gadis yang sedari tadi diam-diam ia perhatikan. Gadis itu masih tertunduk, namun ia sudah mengikat rambutnya sehingga leher kecil dan jenjangnya terpampang bebas. “Manis.” Gumamnya.