Krisis Seperempat Abad yang Bertamu ke Anak Muda Usia 20an

quarter-life-crisis-Hero

Sumber: google

Pernahkah kalian mendengar pertanyaan-pertanyaan berulang yang menjemukan? Seperti:

“Kapan nikah? Udah pacaran lama~ Aku saja sebentar lagi menjadi Ibu..”

“Kapan punya pacar? Betah banget menjomblo.”

“Udah lama kerja, masih gitu-gitu aja.”

Atau bahkan sebuah sindiran yang memekakkan telinga seperti:

“Wah udah enak nih sekarang, kamu. Pasti udah bisa beli rumah.”

“Kapan resmi, calonmu sudah sukes tuh. Jangan kelamaan! Nanti dia bosan!”

Yang lebih lagi, pernahkah kalian bertanya pada diri kalian sendiri pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati dan pikiran geger seperti:

“Kapan ya, aku bisa sesukses teman-temanku?”

“Aku sudah bekerja sekeras mungkin, namun masih begini saja.”

“Aku sudah mencoba peruntungan yang lebih dari saat ini, namun masih saja gagal.”

“Apakah aku bisa sukes dan membanggakan orang tua?”

Pertanyaan tersebut kerap kali muncul sehingga membuat kamu galau, khawatir, dan takut dalam menghadapi hidup, yang bahkan ke depannya pun kamu belum tahu. Fase ketakutan, kekhawatiran akan hidup tersebut biasanya muncul di saat kamu berusia 20 – 30 tahunan. Memang tidak semua orang mengalami itu, namun tidak sedikit pula yang mengalaminya. Fase tersebut disebut Quarter Life Crisis.

Lalu, apa yang ada di benak kalian ketika mendengar Quarter Life Crisis? Apabila diterjemahkan dari segi bahasa, quarter life merujuk pada seperempat abad hidup. Bila ditambahkan dengan Crisis menjadi krisis pada seperempat abad kehidupan. Dapat kita artikan bahwa Quarter Life Crisis adalah sebuah masa krisis kehidupan pada anak muda berusia seperempat abad, yaitu usia 20an – 30an. Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami fase krisis seperempat abad kehidupan.

Pekerjaan

download

sumber: google

Pekerjaan bisa menjadi faktor yang menyebabkan munculnya quarter life crisis. Bagaimana bisa? Sebagai contoh di Indonesia, rata-rata lulus kuliah pada umur 20 – 23 tahun. Pada saat itu, para lulusan berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan. Ada yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan walau sudah lamar sana sini, ada yang mendapatkan pekerjaan namun gaji tidak sesuai dengan harapan, ada yang mendapatkan pekerjaan namun tidak sesuai dengan idealisme, bahkan ada yang harus menuruti keinginan orang tua dalam hal memilih pekerjaan walau ia tidak menyukainya.

Selain itu, bagi yang sudah mendapatkan pekerjaan pun bisa mengalami fase krisis seperempat abad. Seperti halnya ia sangat menyukai pekerjaannya, namun di sana di tempatnya bekerja ia tidak memiliki kemajuan dari segi financial. Ingin mendapat pekerjaan baru pun tidak kunjung dapat. Ada yang tidak menyukai pekerjaannya, namun secara pendapatan sudah sangat memuaskan sehingga untuk melepaskan pekerjaan itu butuh pertimbangan yang sangat matang bahkan sulit. Ada pula yang secara pendapatan sesuai keinginan, dan pekerjaannya pun ia sangat suka namun lingkungannya hanya memberinya pengaruh negatif seperti rekan kerja yang menyebalkan atau tidak dapat diajak bekerja sama.

Teman

menstruasi-Jika-Pacar-Males-Pergi-Bareng-Teman-Kita

sumber: google

Semakin bertambahnya umurmu, kamu pasti semakin sadar mana yang benar-benar teman dan mana yang hanya temporer, mana yang ada di saat membutuhkanmu mana yang hilang disaat sudah tidak membutuhkanmu. Bahkan yang lebih buruk, teman yang benar-benar kamu sudah anggap seperti saudara sendiri malah menjauh tanpa alasan yang kamu tahu. Tidak ada kehilangan yang menyenangkan, semua kehilangan pasti membuat kita merasa sedih, apalagi teman yang kamu harapkan malah meninggalkanmu. Maka kamu pun merasa begitu sendiri walau benar-benar tidak sendiri.

Pernikahan

Cara-Mempersiapkan-Biaya-Pernikahan-dengan-Berinvestasi

sumber: google

Umurmu sudah 25? Umurmu sudah 30? Di Indonesia ini, panggilan-panggilan yang kurang menyenangkan bisa saja terucap bagi wanita bahkan pria yang sampai usia idealnya belum juga menikah. Di saat berkumpul dimana teman-temanmu sudah menggandeng suami bahkan menggendong anak namun kamu masih saja sendiri kemudian dengan entengnya teman-temanmu bertanya, “Kapan nyusul?” Hellow, punya pacar aja enggak! Belum lagi kalau kumpul keluarga, dari paman, bibi, bahkan saudara jauh yang tidak kenal-kenal banget pun suka bertanya, “Kapan nih nikah?” bahkan tidak jarang orang tua yang sehari-hari tinggal bersama di rumah menanyai hal itu. Keinginan untuk menikah justru tidak begitu membuat frustasi, melainkan lontaran-lontaran pertanyaan akan “kapan” yang membuat kamu tertekan.

Tidak hanya itu, bagi kamu yang sudah memiliki kekasih pun masih belum aman juga dari pertanyaan tentang pernikahan. Usiamu sudah siap untuk menikah, namun pasanganmu belum siap entah dari segi keuangan, mental, atau faktor lainnya. Pertanyaan-pertanyaan dari teman, keluarga, bahkan tetangga pastilah sama, “Kapan?” membuat kamu bingung harus menjawab apa. Saking stressnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama itu, membuat kamu terbesit sebuah pikiran, “Apa dia serius sama aku? Kenapa aku tidak kunjung dinikahi?” yah… sedih.

Keluarga

2016-06-02-00-52-52-keluargasuami02

sumber: google

Kita semua pasti ingin membahagiakan keluarga kita, terutama orang tua. Mereka yang sudah tanpa sayang-sayang mengeluarkan uang untuk menyekolahkan kita setinggi mungkin, kursus sana sini, sertifikasi sana sini, namun kita masih begini saja. Walau keluarga bisa saja menjadi alasan terbesar kita lelah, namun keluarga pula yang ingin kita bahagiakan pertama. Semuanya yang terasa lamban, baik dari segi pekerjaan maupun pernikahan, namun kita ingin buru-buru memberikan kebahagiaan untuk mereka secara tidak langsung membuat kita sangat frustasi.

Ketakutan akan masa depan

jadikan-cemas-sebagai-indra-keenam-201552-1

sumber: google

Dari empat poin di atas, dampaknya bisa sangat besar loh.. pertanyaan-pertanyaan yang tadinya muncul dari mulut orang lain justru kini malah muncul dari dalam pikiran kita sendiri.

“Kapan aku bisa mendapatkan pekerjaan?”

“Apakah aku harus resign, atau bertahan?”

“Kapan ya, aku bertemu jodohku?”

“Kapan ya, dia mau nikah denganku?”

“Apakah dia serius denganku?”

“Apakah aku bisa menikah di usia 25 tahun?”

“Aku ingin menikah dengannya, namun ia masih menunda-nunda sementara aku tidak mau dengan yang lain..”

“Apakah aku bisa membahagiakan keluargaku?”

“Apakah aku bisa menjadi orang sukes di masa depan?”

Dan semua pertanyaan kapan dan apakah yang timbul dari pikiran kita sendiri mebuat kita menjadi jauh lebih tertekan ketimbang pertanyaan kapan yang keluar dari mulut orang lain.