Cirebon Kuningan – Perjalanan Dadakan Bersama Sahabat Termanis

Sebenarnya aku pernah memposting tulisan ini, tapi entah bagaimana ceritanya postingan ini terhapus. Tapi, sangat disayangkan bila perjalanan ini tidak diabadikan di dalam tulisan..

Keseringan lembur membuat pikiran menjadi tidak bahagia, menurutku. Bagaimana tidak? Dari pagi ketemu pagi bermesraan dengan laptop dan file-file excel yang penuh dengan angka-angka.

Saat itu aku berada di Karawang. Tidur di kamar yang sudah disewa oleh Perusahaan yang kuaudit selama satu bulan lebih. Hal itu sangat menjemukan, membuat aku menjadi galau tidak karuan. Sejenak berpikir. “Aku kurang tidur hingga kantong mata berwarna hitam untuk apa?” tentu saja uangnya aku tabung dan untuk keperluan hidup di masa kini dan di masa depan. Saat ini aku menjadi auditor external, merupakan pekerjaan impian untuk mahasiswa jurusan akunting yang idealis. Namun sebelumnya aku adalah auditor internal di sebuah perusahaan pembiayaan di Indonesia. Terbayang kan, dimana saja cabangnya? Di seluruh Indonesia. Hanya saja, aku adalah “spesialis” area Sumatera Bagian Utara.

Hal itu membuatku menjadi mengenal cukup banyak tempat di Indonesia bagian barat itu. Selain tempat-tempat yang pernah kukunjungi saat fieldwork, ada banyak tempat yang diceritakan oleh teman-teman auditor internal yang lain. Hal itu secara tidak sadar membuat jiwa petualangku hidup. Usai resign dari kantor lama, aku merasa begitu hampa hanya sekedar Jakarta, Depok, Karawang, Cikarang, Bekasi saja. Dimana mobil, gedung-gedung menjulang tinggi, dan pabrik-pabrik serta jalan tol yang menjadi asupan mata sehari-hariku. “Aku harus jalan-jalan. Biar ga gila.” Pikirku. Namun waktu yang kumiliki pun hanya akhir pekan dan tanggal merah saja. Aku tidak mungkin ambil cuti di peak season seperti ini. Aku pun harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku.

Aku hubungi sahabatku Tere melalui pesan whatsapp. Gadis berdarah Batak – Manado itu adalah sahabat yang paling aku sayang. Kami bersahabat sejak awal kuliah. Walau kami selalu berbeda argumen, dan sering kali dongkol satu sama lain bahkan sempat bertengkar semasa kuliah, persahabatan kami masih sangat kokoh hingga sekarang.

Dan sepakatlah kami saat itu untuk pergi ke Cirebon pada awal Maret. Karena sibuknya kami, kami pun tidak sempat untuk membuat rundown untuk perjalanan di Cirebon nanti. Hingga hari H pun kami tidak tahu harus kemana. Hanya sempat memesan tiket kereta dan menghubungi Rental Motor.

Stasiun Gambir

Rumah kami dekat dengan jalur perkerata apian. Walau tidak dekat-dekat banget juga sih. Aku bergegas ke Stastiun Pondok Cina sementara Tere ke Stasiun Depok Baru, memang kami sudah berjodoh walau beda stasiun pemberangkatan namun akhirnya kami bertemu di gerbong yang sama. Perjalanan kami dari stasiun pemberangkatan sampai Stasiun Gambir pun tidak jauh dari masalah pekerjaan. Dari manajemen perusahaan hingga rencana-rencana ke depan mengenai karir. Obrolan kami terasa begitu singkat hingga tibalah kami di Stasiun Juanda. Kami memilih bajaj untuk mengantar kami ke Stasiun Gambir. Kami membayar jasa antar Bapak Bajaj sebesar Rp 20.000,-

IMG20170304075734
Naik Bajaj

Setibanya di Stasiun Gambir, kami langsung cetak tiket dan sarapan terlebih dahulu di McD sembari menunggu waktu keberangkatan. 15 menit sebelum waktu keberangkatan, kami masuk ke lobi departure. Tidak disangka, aku bertemu dengan Anji pelantun lagu Dia. Aku bukan penggemar Anji, tapi secara spontan aku berteriak setengah berbisik, “Anji!” Anji menoleh dan dia yang sedang menggendong anak perempuannya tersenyum padaku.

Kami naik ke atas dan mencari-cari kereta Tegal Bahari. Setelah mendapatkan kereta yang akan mengantarkan kami ke Cirebon, kami pun langsung masuk dan mencari tempat duduk kami. Dan tibalah bokong kami mendarat di kursi ekonomi yang nyaman. Beda bila berangkat dari Stasiun Senen, sepertinya kereta ekonomi pemberangkatan dari Stasiun Gambir memang mevvah mevvah semua. Entahlah, aku belum mengamati semuanya. Beberapa kali naik kereta dari Stasiun Gambir selalu tidak mengecewakan.

IMG20170304085007
Di dalam kereta Tegal Bahari

Kami mulai browsing tempat yang akan kami kunjungi, tapi kami kurang yakin dengan apa yang disuguhkan google sehingga kami pun menghentikan pencarian kami di google dan memilih menikmati perjalanan. Karena kurang tidur, dikarenakan lembur semalam sebelum pemberangkatan membuat kami tertidur hingga terhuyung-huyung di kereta. Butuh waktu kurang lebih 3 jam hingga kami tiba di Stasiun Cirebon.

Stasiun Cirebon

Udara panas dan kering menyambut wajah kami. Terasa sekali perubahan suhu ruangan kereta yang berAC dengan suhu luar di Kota Cirebon. Aku menghubungi Mas Putra kurir rental motor menginfokan bahwa kami sudah tiba di Stasiun Cirebon. Tidak perlu menunggu, kami pun bertemu dengan Mas Putra. Setelah memberikan jaminan berupa KTP, NPWP, dan id card kantor serta membayar uang sewa motor sebesar Rp 100.000 untuk 2 hari, kami pun sudah mendapat fasilitas motor matic lengkap dengan helm dan jas hujan sebagai kendaraan kami mengeksplor Kota Cirebon.

IMG20170304122207
Tiba di Stasiun Cirebon

Sebelum memulai mengeksplor kota Cirebon, kami mengisi bensin terlebih dahulu. Aplikasi Waze memang sangat membantu kami. Kami pun mengisi bensin di pom bensin terdekat berdasarkan informasi dari Waze. Hanya mengisi sebesar Rp 18.000 tangki bensin sudah full. Lapar pun menghampiri perut kami. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00, masih cukup banyak waktu untuk mengeksplor Kota Cirebon hari ini. Kami keliling tanpa tahu arah sembari mata jelalatan mencari rumah makan dan kami berhenti di Rumah Makan Mekar Sari. Bukan karena sudah tahu kualitas masakan yang dijual, melainkan seberapa ramai rumah makan tersebut karena kami berasumsi semakin ramai rumah makan, maka sudah pasti rasanya pun tidak mengecewakan. Menghabiskan uang sebesar Rp 45.000 untuk dua porsi, kami pun kenyang dan melanjutkan perjalanan ke Keraton Kasepuhan.

Keraton Kasepuhan

Lagi-lagi berkat Aplikasi Waze kami tiba di Keraton Kasepuhan dengan selamat dan tepat tanpa harus nyasar. Nuansa Kesultanan Islam sangat kental dirasa ketika melihat pendopo-pendopo dan gapura berwarna merah tanah dari luar. Butuh mengeluarkan uang sebesar Rp 20.000 per orang untuk bisa masuk ke wilayah Keraton. Ada kejadian lucu ketika hendak masuk ke dalam Keraton. Kota Cirebon yang panas ini membuatku menjadi dehidrasi dan tidak fokus. Palang masuk ke Keraton percis seperti palang masuk tap in di Bandara Kuala Namu – Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Dengan menscan barcode di boarding pass maka palang masuk bisa kita lewati. Aku berulang kali menscan tiket ke tanda panah berwarna hijau yang terus meyala. Seorang Ibu memperhatikanku, seperti bingung dengan apa yang kulakukan. “Mba, itu langsung masuk aja.” Setelah sadar, ternyata palangnya tidak ada. Tere pun puas menertawakanku.

IMG20170304133719

Pertama kami lihat ketika masuk ke area keraton adalah Siti Inggil lalu Tajung Agung yang dimana dari hasil menguping penjelasan tour guide yang berpakaian adat artinya adalah musolah. Kemudian kami masuk ke Museum Kereta dimana di dalamnya terdapat Singa Barong karena saat itu kami hanya berdua, kami tidak bisa berlama-lama disana karena atmosfer ruangan menjadi sangat horor. Kami saja yang parno sebenarnya. Lalu kami berfoto di depan Kutagara Wadasan namun kami tidak diizinkan masuk ke dalamnya karena sedang ada acara. Padahal alunan musik gamelan sangat mencuri perhatian. Sayang tidak boleh masuk. Panasnya Keraton membuat kami menjadi semakin lemas, kami ke area belakang dan beristirahat sejenak lalu ke Museum Benda Kuno dan mengambil foto di area belakang Kutagara Wadasan.

IMG20170304133803
Foto dulu sebelum lanjut lebih dalam

IMG20170304133828

Puas mengintip Keraton Kasepuhan, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Cirebon. Namun, sebelum tiba di Pelabuhan Cirebon, kami mampir sejenak ke ATM untuk membayar tagihan hotel yang akan kami inapi. Kami menggunakan Airy Room, hotel murah yang fasilitasnya menjanjikan menurutku. Dengan merogoh kocek Rp 262.000, kami sudah bisa tidur di hotel. Sialnya, saat keluar dari ATM kami melihat ibu-ibu yang terganggu kejiwaannya sedang membilas diri pakai air kolam sepertinya ia habis buang air. Kami pun mual dibuatnya.

IMG20170304144410

IMG20170304134432

Pelabuhan Cirebon

Tidak ada niatan untuk ke Pelabuhan Cirebon sebenarnya melainkan ke Taman Ade Irma Suryani. Hanya saja, Waze yang menuntun kami ke Taman Ade Suryani malah membuat kami penasaran dengan tulisan Pelabuhan Cirebon yang besar-besar. Kami pun masuk ke area pelabuhan dan bertemu dengan 3 orang Mas-mas berseragam yang sedang duduk santai. Suhu pun sudah bisa diajak bersahabat karena sudah sore hari, jadi tidak seterik siang tadi.

“Mas, pelabuhannya bisa kan ya dimasukin untuk umum?” tanyaku kepada Mas-mas yang memegang tiket. Aku penasaran menanyakan hal itu karena yang keluar masuk pelabuhan adalah truk angkut besar-besar.

“Boleh Mba, asal jangan sampe malem. Serem.” Jawabnya bercanda.

“Mas, disana ada pantainya?” tanyaku lagi.

“Ada Mba.”

“Pantainya langsung pantai atau laut Mas? Eh, maksudnya pantainya itu ada pasirnya atau langsung palung? Mas, mas paham ga sama pertanyaan saya? Saya ga ngerti lho.”

Mas-mas yang memegang tiket terlihat bingung. Ia menggeleng. Aku teringat akan Pelabuhan Kuala Langsa yang ada di Aceh Timur karena tidak ada pantai melainkan langsung palung sehingga air di pinggir pun warnanya biru tua karena dalamnya.

“Ya udah Mas, berapa harga tiketnya?”

Kurang lebih percakapan roaming kami seperti itu dan kami pun masuk ke area pelabuhan. Kapal-kapal kayu berjejer sesak di pinggir dermaga. Angin laut sore sepoi-sepoi menampar wajah kami lembut. Dan tibalah kami di Pantai Kajawanan. Kami sangat sedih melihatnya, sampah berserakan dimana-mana. Namun Cottage dengan seaview yang berada di kawasan Taman Ade Irma Suryani menyembuhkan sedikit rasa kecewa kami. Dengan kekuatan handphone biasa, gambar yang kami ambil pun menjadi terlihat cukup menakjubkan.

Puas berfoto dan kecewa dengan kondisi pantai dan air laut yang kotor, kami bergegas menuju hotel namun tidak lupa kami bermain-main sebentar di sekitar dermaga kapal dan berfoto disana. Bukan cewek namanya kalau tidak ambil foto dan pengambilannya harus instagramable.

Nasi Jamblang Ibu Nur

Nasi Jamblang menjadi tujuan kuliner kami. Setelah berhasil sampai di hotel yang berada di sekitar Alun-alun Kejaksan, kami mandi dan berganti pakaian. Tidak lupa solat ashar bermodalkan kompas dan ternyata salah kiblat. Tere tidak solat karena ia Protestan. Namun begitu, Tere yang paling sering mengingatkanku untuk solat (padahal belum adzan). Setelah cantik dan wangi, kami pun meluncur ke Jalan Kartini. Setiap kota yang aku sambangi nampaknya selalu ada Jalan Kartini. Bahkan di Depok pun ada Jalan Kartini.

IMG20170304171827
Tampak Depan Nasi Jamblang Ibu Nur, di seberangnya Empal Gentong Ibu Nur
IMG20170304171938
Prasmanan, diambil sendiri yaa

Tidak sulit kami menemukan lokasi Nasi Jamblang Ibu Nur walau agak masuk ke gang. Namun masih di sekitaran Jalan Kartini. Setibanya disana, kami menjadi lapar mata. Nasi Jamblang Ibu Nur tampaknya begitu banyak peminatnya karena hanya sisa satu meja panjang. Penataan meja dan bangku pun sangat unik. Biasanya, meja lebih tinggi dari bangku namun tinggi meja dengan bangku disini sama sehingga siapapun yang makan disana harus sedikit membungkuk.

IMG20170304171917
Meja dan Bangkunya sama tingginya!

Harganya pun termasuk murah. Aku dengan lauk hati rendang, sate usus, dan tahu kecap pedas serta minum hanya merogoh kocek sebesar Rp 21.500,-. Kami makan sangat lahap, karena untuk rasa jangan ditanya. Sangat kaya akan rempah-rempah. Salah strategi memang, seharusnya jangan terlalu banyak lauk dulu lebih tepatnya jangan pilih lauk yang berkolesterol tinggi. Namun, nasi dan lauk sudah tergiling di lambung membuat kami pusing dan memutuskan untuk kembali ke hotel.

Setelah solat magrib (sebelumnya bertanya pada Bapak Penjaga Parkir dimana arah kiblat) namun pada praktiknya tetap salah kiblat lagi karena posisi gedung yang membingungkan, kami rebahan di kamar sambil menonton acara music di TV. Masih mengenakan mukena, setelah bernyanyi-nyanyi di dalam kamar, ternyata aku ketiduran.

Aku membuka mata, sudah subuh. Sepertinya semalam aku pingsan. Tere masih tertidur pulas aku pun ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian solat subuh. Untuk kali ini tidak salah kiblat karena di langit-langit ternyata ada panah untuk menunjukkan arah kiblat. Aku sedih. Usai solat subuh, aku langsung mandi dan menyetel lagu—asal dan terputarlah lagu Haruskah Ku Mati – Ada Band. Usai mandi, Tere sudah terbangung sambil menonton Upin Ipin.

“Kar, sumpah gua kebangun gara-gara lu nyanyi lagu Haruskah Ku Mati. Sedih gua dengernya.”

“Lho, kedengeran emang? Gua pikir kedap suara.”

“Gua gebuk lu.” Protes Tere.

Gedung Perundingan Linggarjati

Usai sarapan yang disediakan hotel, kami pun check out walau jadwal check out seharusnya pukul 12.00 WIB. Setelah menggali informasi dengan resepsionis hotel, kami pun memutuskan untuk ke Kuningan. Lagi-lagi berkat Waze, dengan Waze kami tiba di Kuningan menuju Gedung Perundingan Linggarjati. Sepanjang perjalanan ke Kuningan, kami dimanjakan oleh pemandangan Gunung Ciremai dan sawah-sawah hijau.

IMG20170305075338
Perjalanan ke Gedung Perundingan
IMG20170305080510
Ini di Desa Linggarjati

Tiket masuk Gedung Perundingan Linggarjati hanya Rp 2.000,- disana masih sangat jelas ruang perundingan Linggarjati seperti deretan kursi yang ditempati delegasi dari Indonesia maupun Belanda. Beberapa foto-foto yang tergantung mengambarkan berjalannya perundingan dimana kebanyakan foto Sutan Syahrir, Bung Karno, Bung Hatta, dan para Delegasi Belanda. Di sudut ruangan dekat aula perundingan, terdapat diorama Perundingan Linggarjati saat itu. Kamar-kamar para delegasi pun ada disana, namun aku tidak berani berlama-lama karena perasaan paranoid yang menghantui.

Waduk Dharma

Puas belajar sejarah di Gedung Perundingan Linggarjati, kami lanjut ke Waduk Dharma. Kami harus berjalan ke arah Kota dan membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Waduk Dharma karena sudah mendekati Majalengka. Tiba di Waduk Dharma, mengingatkanku akan Danau Toba di Parapat, Sumatera Utara. Hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 13.000,- per orang, kami bisa menikmati jernih dan birunya air yang tampak sangat menyegarkan. Langitnya begitu bersih membiru, pemuda dan bapak-bapak memancing disana. Sambil beristirahat, kami menikmati tahu gejrot sampai jam sudah menunjukkan pukul 12:00, kami pun kembali ke Cirebon supaya tidak ketinggalan kereta.

IMG20170305094717
Perjalanan ke Waduk Dharma
IMG20170305100708
di Waduk Dharma

Perjalanan dua hari yang sangat dadakan itu berhasil membuat hati kami menjadi senang. Esoknya harus kembali ke realita kehidupan, yaitu kerasanya persaingan di Jakarta. Dari saingan masuk commuterline, transjakarta, dulu-duluan kendaraan, juga menghadapi macet yang lamanya bisa menyaingi waktu perjalanan Jakarta – Cirebon.

IMG20170305134925
Stasiun Cirebon ketika hendak pulang

 

Comments 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *