Dari Ketinggalan Pesawat Hingga Sampai ke Air Terjun Teroh-Teroh

IMG_20160724_115820

Seperti dinas-dinas sebelumnya, aku selalu kedapatan flight pertama yaitu 06:15 WIB karena mengejar waktu untuk opening meeting terlebih dahulu. Seperti dinas-dinas sebelumnya juga, malam sebelumnya aku pesan taksi jam 03:00 WIB menuju Bandara Soekarno Hatta. Saat itu sudah pukul 03:00 WIB, aku sudah rapih dengan koper yang berisikan pakaian untuk 3 minggu di kota orang. Namun, tidak ada telepon masuk dari supir taksi yang sudah aku booking tadi malam. Aku berusaha tenang dan menelepon pihak taksi hingga lima belas menit kemudian akhirnya aku ditelepon oleh sang supir.

Tiba di Bandara pukul 05:30 WIB. Aku kaget! Orang-orang sudah berjejer panjang untuk proses pengamanan. Aku mengirimkan pesan kepada salah satu teman satu timku memberi kabar bahwa aku sudah tiba di bandara namun belum boarding karena masih mengantre. Aku permisi ke orang di depanku, namun mereka pun juga terburu-buru. Jam terus berputar, dan aku sudah berhasil dipastikan “aman”. Aku mencari counter untuk boarding. Lagi-lagi antre, dan aku bilang permisi lagi kepada orang di depanku. “Maaf, pesawat saya sebentar lagi take off.” Namun ketika tiba di barisan depan, sang petugas berkata maaf dan mengatakan kalau aku sudah tidak bisa boarding. Aku pun panas dingin, seketika membayangkan beli tiket pesawat sendiri untuk dinas. Oh, gak worth it banget dong. Pikirku. Mending buat jalan-jalan.

Aku pun dieskalasi ke petugas lainnya, berharap koperku bisa dibawa ke kabin pesawat. Karena sudah tidak fokus, aku menitipkan koperku ke sembarang orang yang sedang mengantre untuk boarding. “Pak, saya titip koper saya sebentar.” Ujarku kepada orang tak berwajah dan buru-buru menghampiri petugas. “Pak, koper saya isinya cuma baju aja, kok.” Ujarku. Namun tetap tiada ampun, aku disarankan untuk pesan pemberangkatan paling dekat. Seketika membayangkan pundi-pundi rupiah yang harus aku keluarkan dari ATM, aku pun jadi linglung. Lupa dimana tadi menitipkan koper.

Orang-orang di bandara terlihat berbayang dan rasanya mau pingsan. Berlebihan, sih. Tapi itulah yang aku rasakan saat itu. Aku mencari keberadaan koperku, ia teronggok seorang diri tanpa ada seorangpun yang menjaganya. Orang yang tadi aku mintai tolong, entah ada dimana. Aku tidak menyalahkannya. Aku menarik koperku dan berjalan ke luar. Aku menghubungi dua orang: Erika dan Mas Yoga. Mereka berdua adalah orang yang benar-benar paling bisa aku andalkan saat itu. Erika aku mintai tolong untuk memesankan tiket pesawat, sementara Mas Yoga aku minta untuk isikan pulsa. Memang ada-ada saja, saat itu aku tidak punya pulsa regular.

Satu juta lebih pun keluar dari ATMku. Saat itu tiket ke Kualanamu memang sedang mahal-mahalnya. Padahal maskapai yang aku pilih pun bukan maskapai terbaik. Hehe. Ya sudah deh, memang harus bersodakoh sepertinya. Aku take off pukul 13:00, tapi dari jam 07:00, aku sudah check in dan boarding, dan duduk manis di ruang tunggu menahan lapar karena takut ketinggalan lagi. Padahal jarak waktu sangat panjang. Semacam trauma J

Sebuah Kebetulan

Ketika berada di ruang tunggu, seorang Bapak datang dan duduk di sebelahku. Awalnya ia tidak bicara apa-apa, tapi tampaknya karena bosan Bapak itu pun mengajakku bicara. “Ke mana, Mba?”

“Ke Kualanamu, Pak. Bapak juga?”

“Oh, saya ke Palembang.” Jawabnya. “Pulang kampung, Mba?”

“Ah engga, Pak. Saya dinas.” Dan entah bagaimana bisa, aku pun jadi curhat dengan Bapak itu kalau aku baru saja ketinggalan pesawat, aku mengeluarkan uang untuk membeli tiket pesawat dan tidak diganti perusahaan karena merupakan kelalaianku, membuat si Bapak bertanya tempatku bekerja. “Oh saya pernah bertemu Auditor juga Mba dari perusahaan itu, pas saya mau ke Pekanbaru.”

Mendengar kata Pekanbaru, aku menjadi sangat excited. “Bulan apa, Pak?”

“Sekitar bulan Maret.”

Si Bapak memberitahukan ciri-cirinya, yang satu bertubuh tambun sementara yang satu lagi bertubuh tinggi memakai kaca mata. Dengan segera aku mengoprek-oprek foto-foto yang ada di galeri handphoneku. Aku membuka fotoku bersama team leaderku – Mbak Diza, Bang Jabbar, dan Mas Yoga. “Nah iya nih, saya ingat yang paling ingat yang pakai kaca mata. Karena orangnya pendiem banget. Kalo yang ini (menunjuk foto Bang Jabbar) ngomong terus.”

Kami pun jadi mengobrol ngalor ngidul dan tidak terasa pesawat si Bapak akan segara take off. Setelah si Bapak izin duluan, aku pun kembali menunggu seorang diri sembari menghubungi kawanku yang sudah di Sumatera, mencari tahu akomodasi untuk tiba di tempat tujuan.

Asam Lambung dan Air Mineral 15.000

Aku sudah bersatu dengan kursi pesawat, aku kencangkan sabuk pengaman dan terus berbesar hati untuk ikhlas. Sebelahku ada dua orang anak laki-laki tanggung yang berpakaian setengah preman, setengah supporter bola, setengah anak mama, serba nanggung. Suara mereak cempreng dan mengganggu, aku langsung memasang lagu menggunakan headset sambil mengendap-endap karena takut dikira memainkan handphone. Namun tetap saja masih belum tenang karena suara mereka cempreng sekali.

Badan pesawat sudah berpisah dari udara, sebuah perasaan yang sulit digambarkan ketika pesawat sudah di udara. Seperti mual dan ngambang, berdebar-debar namun mengasyikkan. Badan pesawat perlahan miring seiring bertambahnya ketinggian hingga ia pun stabil. Tabrakan sayap dengan awan terasa sangat kasar, membuatku menjadi mengantuk. Aku memejamkan mata, sebentar karena tidak bisa benar-benar pulas walaupun rasanya sangat mengantuk. Tiba-tiba perutku terasa seperti dilipat. Lidahku terasa asam dan kepalaku pusing. Asam lambung naik! Aku harus buang gas! Aku berkonsentrasi supaya bisa mentransfer gas yang ada di perutku ke dalam kursi pesawat namun sangat sulit, entah kenapa.

Aku butuh minum! Namun sedih, air minumku sudah habis. Kebetulan ada yang menawarkan air mineral dan pop mie, tanpa berpikir panjang aku pun beli air mineral. Aku diberikan air mineral berukuran 250ml. “Gak ada yang lebih besar, Mbak?” tanyaku. “Gak ada, Mbak.” Jawabnya dengan santun. “Berapa harganya?”

“15.000.” aku pun terbelalak. Mahal sekali sebotol air mineral ukuran 250ml setelah berada di udara. Namun aku sangat membutuhkannya, aku pun mengeluarkan uang sebesar 15.000 dan segera diminum dengan harapan bisa meringankan rasa tidak nyaman karena asam lambungku yang naik ini. Sekitar 5 menit berlalu, aku pun bisa mentransfer gas yang ada di perutku ke dalam pori-pori kursi pesawat. “Alhamdulillah~” walau jorok yaa. Hahaha!

Bandara Internasional Kualamamu – Lubuk Pakam

Pesawat landing. Aku belum menghubungi kedua orang tuaku kalau aku sebenarnya ketinggalan pesawat. Karena khawatir, mereka akan menangis tersedu-sedu membayangkan anak perempuan mereka yang belum pernah berpergian seorang diri harus mengalami berpergian seorang diri, ke Sumatera pulak. Setelah mendapatkan koperku, aku mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang:

Mba Heni (team leader): Mba, aku udah di kno. Ketemu di Langsa, ya!

Erika (my savior): Erikaa!! Gw udah sampe di kualanamu. Mau irit batre, jadi gw non aktifin data.

Mas Yoga (my savior): Aku udah turun pesawat, Mas. Kamu udah otw Jakarta? (saat itu beliau sedang berada di kampung halaman)

Keluarga Bapak Achmad (grup keluarga): Yah, Bu, jangan panik ya. Aku ketinggalan pesawat. Tapi sekarang aku udah di Medan (padahal di Lubuk Pakam, tapi mereka pasti bingung). Data mau aku non aktifin, mau irit batre.

Karena sudah sering ke bandara ini, aku pun sudah tidak bingung harus kemana. Aku berjalan menuju konter untuk membeli tiket railink (kereta bandara) rute Bandara – Stasiun Medan. Aku masih punya waktu satu jam untuk berkeliling bandara, namun aku tidak mau kemana-mana karena takut ketinggalan kereta. Namun perutku keroncongan, aku membeli sepotong dada montok AW plus nasi dan colanya. Padahal aku tidak begitu suka dada, tapi karena saat itu sangat lapar aku pun memilih dada.

Ketika sedang makan, tiba-tiba seorang kakak dengan wajah sangat Timur, memakai baju merah menghampiriku. “Siang, Kak. Maaf mengganggu makannya.”

Aku jadi insecure dong. Takutnya mau dihipnotis. Haha! “Iya?” tanyaku dengan sebisa mungkin tidak menatap matanya dan terus mengingat Tuhan. Kalau diingat-ingat jadi lucu sih haha.

“Aku mau ke kota, naik yang mana ya?” tanyanya lagi.

“Oh, aku juga mau ke kota. Nanti ikut aku aja.”

“Oke, kakak. Terima kasih yaa..”

Setelah cukup yakin kalau si Kakak itu bukanlah orang yang mau menghipnotisku, kami pun jadi akrab dalam sekejap. Kereta sudah tiba, aku mengajak si Kakak untuk naik ke dalam. Seat kami jauh berbeda, namun sepengalamanku tidak begitu banyak yang naik kereta itu. Aku pun mengajaknya untuk duduk bersebelahan denganku.

C360_2016-07-18-15-45-20-837
Bersama Kak Mesayu

Setelah berkenalan, si Kakak yang manis itu bernama Mesayu – seorang ibu beranak satu dari Pulau Rote. Pekerjaannya adalah baby sitter yang terdaftar di salah satu Yayasan di Jakarta. Ia memberitahuku kalau majikannya yang sekarang rumahnya di Medan dan ia dikontrak selama satu tahun.. Mengobrol dengannya tidaklah membosankan, ia cerita kalau ia memiliki sepupu yang sangat pandai berenang. Katanya juga, dari kampung halamannya pulau benua Australia itu kelihatan. Ya, aku gak tahu apakah ia berlebihan atau tidak. Tapi, aku sangat excited mendengarnya ditambah dengan aksen timur yang tidak luntur.

Medan & Langsa

Kami tiba di Stasiun Medan. Dan di tempat ini lah kami harus berpisah, kami tidak lupa bertukar kontak agar tetap bisa berkomunikasi. Kak Mesayu sudah dijemput majikannya, sementara aku bingung mau kemana. Sesuai arahan dari security di sana, aku diberikan dua opsi:

  1. Ke terminal, naik bus jurusan Banda Aceh
  2. Naik taksi, kemudian naik travel turun di Kualasimpang, Langsa

Tentu saja aku memilih untuk naik travel. Aku hanya khawatir, kalau naik bus jurusan Banda Aceh nanti aku bablas ke Banda Aceh. Hahaha! Tanpa berpikir lama, aku langsung menaiki taksi yang sudah mengantre di luar stasiun. Aku kedapatan taksi dengan supir yang sudah sepuh namun masih gagah. “Pak, antar saya ke pool travel ya. Saya mau ke Langsa.” Pintaku.

“Oke, Mbak.”

Wah, dipanggil Mbak. Yah ketauan deh bukan orang Sumatera. Padahal udah pakai logat Medan kali bahh. Aku sedikit diajak city tour sama si Bapak. Kami melewati kampong keling. “Ini namanya Kampong Keling, Mbak. Kampong itu artinya perkampungan. Keling itu artinya hitam. Jadi, dulu disini banyak orang india yang hitam-hitam. Sampai sekarang pun anak-anaknya hitam. Gak luntur itu pekatnya.” Aku ngakak mendengarnya.

Tiba-tiba telepon berdering. Dari Ibu. Di telepon, Ibu menangis bak serial telenovela. “Esmeralda, mengapa engkau bisa ketinggalan pesawat? Lalu bagaimana kamu sekarang ini Esmeralda, duhai anakku Esmeralda, malang nian kau nak..” hehe gak gitu juga sih. Pokoknya si Ibu menangis (wkwkwkwk).

Di pool pertama, tidak ada travel yang hendak berangkat ke Langsa. Di pool kedua pun sama. Aku mulai khawatir. Namun di pool ketiga, ada travel yang berangkat ke Langsa. Allhamdulillah.. aku memberi ongkos sebesar Rp40.000 kepada si Bapak karena taksinya tidak memakai argo.

Drama pun dimulai..

Dengan petantang petenteng, aku menghampiri si abang travel. Sebelum lanjut, aku mau memberitahu dulu kalau ekspektasiku sebelumnya travelnya itu mobil sedan. Namun celingak-celinguk tidak ada mobil sedan satu pun. “Bang, berapa harga travel ke Langsa?”

“75.000 kak.” Jawabnya.

Aku mengeluarkan uang dari tas debt collector-ku. Haha tas selempang yang nempel di perut gitu maksudnya wkwkwk. Aku berikan selembar seratus ribu, dan menunggu kembalian. Namun si Abang itu pura-pura saja. Cemananya. “Bang?” tanyaku. Namun si Abang itu malah nyengir-nyengir jahat. Culas kali Abang itu. Lah ini tulisannya kenapa jadi logat Medan bahh.

Ya sudah lah, ini di kota orang. Aku hanya seorang diri disini. Jadi main aman saja, aku relakan saja kembaliannya itu. Penasaran, aku bertanya dengan si Abang. “Bang, mobilnya mana Bang?”

“Itu Kak.” Jawabnya sambil menunjuk mobil yang mirip dengan Kol Setan yang ada di Sukabumi. Mobil Colt itu lho. Omaygad, dari pengalamanku sebelumnya, mobil macam ini mobil yang tidak punya rem. Aku merasa terancam.

Sambil menunggu penuhnya travel, aku terus saja berzikir kepada Tuhan agar tidak dihipnotis. Bukannya negative thinking, ya jaga-jaga saja karena kan memang sedang di kota orang. Namun sedemikian waktu berlalu dan hari sudah mendekati maghrib, tidak ada satu pun penumpang lain yang datang. Aku menanyai hal ini kepada si Abang, namun jawabannya menyebalkan. Aku dioper ke bus menuju Banda Aceh. Podo wae, dong. Padahal di awal si Abang bilang bakalan ada penumpang lain, namun ujung-ujungnya naik bus. Tahu begini, sedari awal aku ke terminal.

Tidak sampai disitu, aku dimintai ongkos lagi sebesar Rp20.000. Jadi total yang aku keluarkan untuk ke Langsa sebesar RP120.000. Setelah bus datang, aku mencari tempat duduk kosong yang sebelahnya adalah wanita. Aku memilih duduk di samping kakak yang tampak lebih tua dariku, ia memakai kerudung dan wajahnya sangat cantik. Iseng, aku bertanya. “Kak, harga tiketnya berapa?”

“80.000..” jawabnya.

Wah, aku benar-benar kecele. Tapi, sudahlah tidak apa-apa. Yang penting aku sampai Langsa. Pikirku saat itu.

Satu hal yang paling berkesan dengan Bus Aceh itu; pertama seat-nya sangat nyaman. Bila ada lubang sekali pun, tampaknya tidak terasa. Dapat selimut, dan untuk bagian kaki bisa dipanjangkan sehingga seperti tidur di kasur. Kedua adalah ada sitkom bergek. Film pendek bernuansa komedi yang sama sekali aku tidak mengerti bahasanya tapi sumpedeh lucu bingits. Kalian cari aja di youtube, ada lhoo!

Dan setelah menempuh perjalan kurang lebih 5 jam, tibalah aku di Kuala Simpang. Tentu saja aku bisa tepat tiba di Kuala Simpang karena pramudi dan kondekturnya aku cerewetin terus. Aku sudah duduk tepat di samping pramudi (tidak duduk di seat) setengah jam sebelum tiba. Wah, akhirnya aku tiba dengan selamat tanpa cacat sedikit pun. Sebuah prestasi yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Sejak peristiwa itu, Kartini yang anak rumahan jadi suka membolang menelusuri tempat yang belum pernah dipijaknya. Aku mengabari orang tua, Erika, dan Mas Yoga.

Kantor Cabang

20160728_172526
Kuala Langsa, Langsa

Opening meeting jadi dilaksanakan esok harinya. Aku sangat senang melihat melihat orang-orang Aceh ini, logat bicara mereka pokoknya beda deh. Aku sulit untuk mendeskripsikannya. Namun, ada kejadian tidak mengenakkan hari itu juga. Ketika aku turun tangga, tidak ada angin tidak ada hujan aku terjatuh dari atas sampai bawah—jatuh duduk lho. Tidak sakit sih, tapi malu T_T karena saat itu orang-orang cabang sedang berkumpul. Aku diberitahu Odex—kawan kami di cabang, “dulunya, sebelum didiriin cabang disini tuh rawa-rawa Kar. Rawa-rawa buat tempat buang mayat orang-orang GAM. Nah, kejadian yang kamu alamin itu bisa jadi ya gara-gara itu.” Ujarnya. Yaa, wallahualam.. Keesokan harinya, aku tidak bisa bangun dengan mudah karena ‘bekas’ jatuhnya baru terasa.

Air Terjun Teroh-Teroh, Binjai

Ini adalah hari yang paling kami tunggu-tunggu. Aku bersama kawan satu timku—Mba Heni beserta tim dari Medan—Mba Diza dan Yuli memutuskan untuk jalan-jalan ke Air Terjun Teroh-Teroh atau orang biasa menyebutnya air terjun kaca karena terkenal dengan kejernihannya yang seperti kaca. Lokasinya ada di Langkat, Binjai. Tempat wisata ini direkomendasikan oleh Odex. Berangkatlah kami hari Minggu, kenapa tidak Sabtu? Karena Sabtu kami masuk looh kalau di cabang. Hehe.

Tepat pukul 08:00 WIB kami berangkat dari Langsa, kami disupiri oleh salah satu kawan kami juga di cabang, namun sayang aku lupa namanya L lalu kami berangkat dan janji ketemuan dengan Mba Diza dan Yuli di Cabang Binjai. Setelah bertemu, kami mulai ke daerah Langkat. Jalannya cukup rusak, banyak anak kecil yang berdiri di tengah memegangi kaleng untuk meminta sumbangan.

C360_2016-07-24-10-29-17-325
Perjalanan ke Air Terjun Teroh Teroh

Di tengah jalan, kami dijegat oleh dua orang pemuda yang menaiki motor. Mereka menawarkan jasa untuk memberitahu jalan pintas supaya cepat tiba. Benar saja, tidak lama kami tiba di kawasan wisata. Tidak ada apa-apa, hanya ada plang kawasan wisata dan gubuk yang dipenuhi oleh pelampung. Dan kami ditawari paket untuk berenam sebesar Rp 300.000. Saat itu, kami diminta untuk tidak memakai sandal karena kami akan body rafting. Kami pun menyimpan sepatu kami di mobil dan mulai berganti pakaian. Dari 300.000 itu, kami mendapatkan pelampung dan satu orang tur guide. Kami diguide oleh seorang Bapak yang dipanggil Bapak Tua. Ternyata perjalanan sangat jauh, becek, dan licin!! Kami menembus hutan yang sangat sepi namun ramai suara jangkrik dan burung. Wah, benar-benar serasa bersatu dengan alam.

IMG_20160724_120005
Perjalanan menuju Air Terjun
IMG_20160724_120425
Odex, Mba Heni & Mba Diza, Yuli, saya, Mas yang lupa namanya
IMG_20160724_121643
Perjalan naik turun
IMG_20160724_121819
macam host My Trip My Adventure
IMG_20160724_132602
Main Air

Di seperempat jalan, kami melihat Bapak Tua berjalan ke arah kuburan kecil seperti berdoa dan meminta izin kalau kami memasuki kawasan itu. Tiga perempat jalan, aku dan kawan-kawan serasa sudah tidak kuat karena kaki agak sakit terkena ranting-ranting dan duri ditambah jalanan yang licin dan naik turun. Tapi keindahan yang dijanjikan membuat kami menjadi kembali bersemangat dan… tibalah kami di Air Terjun Teroh-Teroh!!! Kami sangat bersyukur saat itu sedang sepi. Tanpa ba bi bu kami langsung nyebur saja karena takjub akan beningnya air. Kami tidak banyak mengabadikan momen karena handphone kami taro mobil. Kenapa gak bawa handphone? Karena kami mau body rafting. Setelah puas bermain di tempat pertama, Bapak Tua mengarahkan kami untuk terlentang di atas air dengan kaki yang menumpu pada pundak kawan satu sama lain. Aku yang paling ujung, didorong oleh Bapak Tua. Ketika ada air terjun kecil, kami pun berpencar.

IMG_20160724_122452
yang pakai baju merah Bapak Tua

Saat itu ada kejadian sedikit lucu. Aku pikir airnya cukup dalam, dengan percaya diri aku tarik napas dalam-dalam dan melompat. Ternyata sangat cetek!! Hanya selutut. Aku sudah stay cool saja, tapi ternyata ada Mba Diza yang melihat. Malu lah aku disana dibuatnya.

IMG_20160724_141429
difoto pakai handphone Odex

Body rafting adalah pengalaman pertamaku yang sangat tidak bisa terlupakan. Ketika itu aku seperti sedang bersantai di tengah hutan dengan beralas air. Langit siang itu pun tidak terasa panas karena tertutup pohon di sisi sungai. Sesekali air masuk ke dalam telinga membuatku terkejut. Sampai sekarang, aku masih ingat bagaimana rasanya. Tiba di satu titik, kami diharuskan untuk terjun. Awalnya aku takut karena aku tidak bisa berenang dan tingginya 3 meter serta kedalamannya dua meter. Berarti total 5 meter. Wah itu sih tinggi. Namun karena penasaran, rasa takut pun mengalahkan segalanya. Tahu tidak apa yang terjadi? Aku dibuat ketagihan!! Akhirnya aku mencobanya 2x. Tapi karena harus nanjak, aku memutuskan untuk kembali body rafting.

IMG_20160724_132958
titik terakhir

Keseruan tidak sampai di sana. Titik terakhir, kami tiba di air terjun yang lainnya. Disana, kami kembali bermain air tidak ada bosannya. Sampai hari sudah hampir sore dan Bapak Tua menyarankan kami naik ke atas. Perjalanan ke atas rasanya berdarah-darah, karena sudah sangat lelah dan kami digigiti pacet. Awalnya aku kira nyamuk atau terkena duri. Di seperempat jalan lagi sampai, ada seorang Bapak mengendarai motor. Aku dan Yuli yang sudah payah, tanpa kenal malu pun minta nebeng. Wkwkwkwk. Jadi kami Boti (bonceng tiga) Yuli di tengah. Setibanya di tempat kami beli tiket wisata, Yuli mendapati kakinya digigit pacet. Aku yang sok berani, mencoba untuk menenangkan Yuli. Namun ketika sadar ternyata aku pun digigiti Pacet, aku jadi penakut, lebih takut dari Yuli. Kami berdua teriak-teriak, seperti banci membuat warga sekitar me-notice kami. Setelah tahu kami digigiti pacet, mereka tertawa dan menolong mengambil pacet yang asik menyedot darah kami.

IMG_20160724_121007
Perjalanan pulang

Tidak lama, Mba Diza dan Mba Heni tiba bersama Odex, Mas yang saya lupa namanya, dan Bapak Tua. Kami mandi dan berganti pakaian yang bersih. Setelah itu, kami kembali ke kota dan mampir di Kampong Kuliner Binjai. Kami makan seperti “binatang” sakinga kelaparannya dan tidak lupa foto—namanya juga perempuan hmm. Setelah itu, kami pun kembali ke cabang masing-masing. Menikmati indahnya pekerjaan yang menumpuk beserta persiapan closing meeting yang mendebarkan.

IMG_20160724_174137
Kampong Kuliner Binjai

Terima kasih sudah membaca ^_^

Comments 92

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *