Mbak

BAB I ANAK MAGANG

Aku sungguh tidak menyangka aku akan sakit perut di tengah perjalanan. Di bawah kipas angin, berdiri dengan kondisi penuh namun tidak begitu sesak di dalam gerbong kereta menuju Stasiun Tebet. Saat ini masih di Stasiun UI. Bayangkan, berapa stasiun lagi untuk tiba, berapa lama lagi aku harus menahan. Semakin anginnya menuju ke arahku, semakin sakit perutku.

Hidungku mulai basah, lututku mulai lemas. Cara berdiriku sudah tidak karu-karuan. Wajahku sudah jelek banget, pastinya. Untungnya tertutup masker. Aku memberikan sugesti kepada diriku kalau perutku tidak sakit, namun sugesti itu tidak berhasil. Semakin berganti stasiun semakin sakit.

Apakah aku turun saja di stasiun selanjutnya untuk buang air terlebih dahulu? Oh, tentu saja tidak. Bisa-bisa setelah itu aku tidak kebagian tempat. Sudah menjadi rahasia umum kalau commuter line tujuan Jakarta akan sangat padat pada saat jam pemberangkatan kerja. Ya, aku adalah salah satu ankers sejati sejak tiga tahun lalu.

Seorang anak kereta sejati yang bekerja di sebuah konsultan yang gedungnya terletak di jantung ibu kota. Konsultan asing yang tidak terlalu besar namun berada di gedung yang sama dengan Bank Asing ternama dan salah satu BUMN terbesar di Indonesia.

Jam menunjukkan pukul 07:00 ketika aku tiba di Stasiun Tebet. Kalau aku mampir dulu ke toilet, sudah dipastikan jalanan menuju gedung sudah macet. Ya, usai turun dari stasiun, aku harus nyambung lagi menaiki transjakarta. Daripada telat, aku memutuskan untuk menahannya sedikit lebih lama lagi.

Beruntungnya, aku dapat tempat duduk dan beruntungnya lagi, rasa sakitnya mereda perlahan. Ah, penderitaanku sudah berakhir.

Jalanan belum macet tentunya kalau masih pagi begini. Tidak lebih dari 15 menit aku sudah tiba di area gedung kantor. Dari kejauhan, aku melihat dua orang laki-laki dengan tubuh begitu tinggi, menggunakan ransel, ya tinggi. Tinggi yang sepertinya akan sangat langka dimiliki orang Indonesia pada umumnya. Bule dari Bank Asing? Tentunya bukan, jelas kulitnya kulit Nusantara. Aku mempercepat langkahku, penasaran dengan lingkar tali name tag yang tersampir di leher mereka.

Belum sempat melihat informasi yang tersedia di tali name tag karena tubuh mereka yang sangat tinggi itu—bayangkan saja tinggiku 166cm, bila disejajarkan kurang lebih aku hanyalah se-ketiak mereka. Itu pun masih agak ke bawahan. Aku menjinjit, oh BUMN. Beh ckck.. Decakku dalam hati.

Hidungku mencium aroma yang sangat menenangkan. Seperti terapi yang menjinakkan jiwa-jiwa bringas yang kesepian. Oke, lebay. Aku memperlambat langkahku satu oktaf, hmm bagaimana itu? Posisiku sekarang sudah satu langkah di belakang mereka. “Bob!” salah satu dari mereka menoleh dan berhenti.

Harusnya kau memberikan papan peringatan seperti truk gandeng, “jaga jarak” kenapa ini tidak? Aku yang berada di jarak yang terlalu dekat akhirnya menabrak laki-laki bernama Bob ini. “Maaf, Bu.” Wait, what?! Ibu?!

Aku tidak terima, benar-benar tidak terima dipanggil Ibu. Mataku mendelik memelototi si Bob yang menyebalkan ini. “Bob, jangan dipanggil Ibu.” Ujar temannya yang sama-sama tinggi. Ia tidak berkacamata dan aku baru sadar kalau si Bob ini berkacamata. Rambutnya agak jabrik, sementara temannya itu berambut ikal. Dua-duanya berpakaian tidak serapih pegawai BUMN pada umumnya.

Si Bob ini malah memperhatikanku. Aku benar-benar merasa dilecehkan. “Oh iya.” Ujarnya.

“Maaf ya, Kak. Teman saya minusnya nambah kayaknya.”

“Ada apa ini? Kok kalian jadi ngobrol?” Tanya teman Bob yang lainnya—yang tadi memanggil Bob—yang membuat semua ini terjadi. Ia berkacamata juga, sama seperti Bob. Ia tinggi. Namun ia tidak setinggi Bob dan teman yang satunya. “Anak magang juga?” tanyanya menunjuk diriku.

Entah aku harus merasa terhina lagi atau senang. Memangnya aku terlihat seperti anak kuliah? Padahal aku sudah berdandan sedewasa mungkin, tapi tidak apa-apa tandanya aku masih terlihat muda. Ah, pantas saja pakaian mereka tidak serapih pegawai BUMN pada umumnya, mereka anak magang. Wait! What?! Berarti mereka masih kuliah? “Oh, buk—”

“Aku Juna, Teknik Kimia UGM.” Ujar laki-laki yang satunya lagi—tinggi berambut ikal.

“Kalo aku Mesa.” Laki-laki satunya, yang memanggil Bob memperkenalkan diri. “Teknik Kimia UGM juga. Kami bertiga dari kampus yang sama.” Tambahnya dengan ramah.

Aku tidak jadi memperkenalkan diri karena mereka sudah terlanjur menganggapku anak magang juga. Kalau mereka tahu aku adalah karyawan di salah satu konsultan, mereka akan memanggilku Ibu lagi. “Kalo begitu, aku duluan yaa.”

“Eit, bareng aja.” Mesa mengamit ujung ranselku. Aku pun tertahan. Gawat. Batinku.

Aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku terlanjur diam sejak tadi. Aku mengikuti mereka. Mesa yang paling ramah dari Bob dan Juna. Bob terlihat seperti playboy yang sok cool sementara Juna memang dingin tapi masih memiliki basa basi. Wah, Mesa memang sesuatu. Andai Juna lebih tua dariku, aku bisa menyerahkan hatiku padanya.

“Kamu belum memperkenalkan diri lho, dari kampus mana? Jakarta, ya?”

Selain ramah, Mesa banyak sekali bicara. “Iya, Jakarta.” Jawabku singkat.

“Nama?” ia mencecarku.

“Ara.” Jawabku pelan.

Tiba-tiba terdengar seperti orang menyemburkan air dari mulut namun yang keluar hanyalah angin. Kami bertiga—aku, Juna, dan Mesa menoleh ke sumber suara. Bob, ia tertawa terbahak-bahak setelah suara semburan itu keluar. “Kenapa, Bob?” Tanya Mesa.

“Sorry, nama lo lucu juga.”

Kami bertiga hanya terdiam karena tidak menemukan kelucuan dari namaku. Pintu lift terbuka, kami masuk ke dalamnya. Bob masih tertawa geli. “Marah. Becanda aja, lo.”

“Ara!!” sejak tadi laki-laki itu memang yang paling menyebalkan. Aku berteriak sedikit menjinjit. “Ara ara ara ara. Bukan Marah!!!

Bob berhenti tertawa sampai pintu lift berdenting di lantai 7. “Oh, sorry.” Timpalnya singkat dan kembali dingin.

“Stop!” ujarku ketika mereka bertiga mulai melangkah mantap meninggalkanku. Mereka mengira aku akan mengikuti dari belakang karena mereka masih menganggapku anak magang di kantor yang sama dengan mereka. Mereka berhenti. “Umur kalian berapa?”

“Aku dan Juna 20 sementara Bob 19. Ada apa menanyai umur, Ra?”

“Umurku 24 tahun! Dan aku bukan anak magang. Jadi, kamu!” aku memelototi Bob. “Kamu dari tadi nyebelin banget, ya! Kamu gak boleh manggil aku Ibu, dan gak boleh sok dingin ya!”

Bob memutar matanya ke atas. Whoa, anak ini benar-benar sesuatu. “Kamu itu terlalu sensitif, MBAK!”

Bersambung

Tags: