Napak Tilas di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Awalnya pun aku tidak tahu akan keberadaan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Suatu ketika, seorang kawan baik bercerita kalau ia belum lama napak tilas di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih bersama kawannya—sekitar satu tahun lebih lalu. Sejak itu pula, aku mulai penasaran akan Rumah Bersejarah tersebut.

Sebelum membahas lebih jauh tentang Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Siapa sih, Inggit Garnasih? Bagi penyuka sejarah Bangsa Indonesia atau yang mengagumi Bapak Bangsa kita—Ir Soekarno, bahkan bagi yang pernah menonton film Soekarno yang tayang beberapa tahun lalu, pastinya nama Inggit Garnasih sudah tidak asing lagi. Inggit Garnasih adalah istri ke dua Ir. Soekarno setelah Ibu Siti Oetari.

Tidak banyak yang mengenal Ibu Inggit, terbukti dari ketika aku menyebarkan postingan tentang Inggit Garnasih di story whatsapp, cukup banyak yang berkomentar. Rata-rata berkomentar, “Wah, baru tahu kalau sebelum dengan Ibu Fatma, Bung Karno sudah memiliki istri.” Memang dalam pelajaran sejarah dalam pembahasan tentang kemerdekaan Indonesia atau yang sering keluar di ujian sekoah, yang sering kali disebut adalah Ibu Fatmawati yang menjahit sang saka merah putih. Bahkan, ada yang terkaget-kaget setelah aku memberi tahu kalau sebelum dengan Ibu Inggit, Soekarno menikah dengan Ibu Oetari (anak HOS Tjokroaminoto—guru Ir. Soekarno itu sendiri).

Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa mengetahui keberadaan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih kalau sosok Ibu Inggitnya saja banyak yang belum tahu? Entah siapa yang harus disalahkan, apakah minat rakyat Indonesia yang kurang untuk mencari tahu tentang sejarah, atau pemerintah yang kurang memberikan edukasi mengenai sejarah. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, bukan?

Daripada mencari-cari siapa yang salah, lebih baik kita mulai dari sekarang mengulik sejarah bangsa kita sendiri melalui hal yang sederhana—Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, saksi bisu yang mewarnai perjalanan perjuangan Ir. Soekarno beserta kawan-kawannya yang begitu panjang dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Terletak di Jalan Ciateul No. 8, Astana Anyar, Bandung, sejak bulan November 1997 berganti nama menjadi Jln. Ibu Inggit Garnasih No. 8, Bandung—rumah bercat putih dan berpagar hitam itu berada. Di depannya terdapat pohon yang rimbun sehingga menambah kesejukan.

Saat itu aku datang seorang diri. Sempat ragu untuk masuk ke dalam pekarangan rumah karena pintu depannya tertutup. Namun langkahku bergerak dengan sendirinya ke halaman belakang. Di tembok rumah halaman belakang, terdapat riwayat perjalanan hidup Ibu Inggit Garnasih yang ditempel di sebuah papan yang melekat pada tembok. Tepat di belakang rumah, ada tiga orang laki-laki yang sedang bercengkerama. Mereka agak kaget dengan kedatanganku, seperti, “Wah, ada pengunjung.”

bagan perjalanan hidup Ibu Inggit – dokumentasi pribadi

Ruang Depan

Ruang Depan – dokumentasi pribadi

Dengan ramah, salah satu dari mereka mengantarku ke dalam rumah. Aku sempat bertanya berapa harga tiket masuknya namun sangat mengejutkan, ternyata gratis. Aku memulai napak tilas dari ruang depan. Ruangan itu kosong, tidak ada kursi atau meja. Hanya ruang kosong dengan foto Soekarno saat usia 22 tahun dan Ibu Inggit saat usia 35 tahun dan 70 tahun dipajang di tembok.

Soekarno – dokumentasi pribadi

Ruang Baca

Ruang Baca – dokumentasi pribadi

Tampak dalam Ruang Baca – dokumentasi pribadi

Masuk ke ruang baca, tidak berbeda dengan ruang depan—hanya sebuah ruangan kosong dengan beberapa foto yang dilengkapi informasi dipajang di tembok. Dulu, ruangan ini adalah tempat Soekarno menyelesaikan tugas-tugasnya selama masih menjadi mahasiswa teknik di ITB sampai Soekarno selesai dari kewajiban pendidikannya, tempat Soekarno berdiskusi mengenai kemerdekaan Indonesia dengan kawan-kawan seperjuangannya. Selain menjelaskan kegunaan ruangan, di ruangan tersebut terdapat informasi mengenai buku-buku yang terbit dari hasil pemikiran Bapak Bangsa kita.

Ruang Tengah

Beberapa foto di Ruang Tengah – dokumentasi pribadi

foto Ibu Inggit saat sudah tua – dokumentasi pribadi

Di ruang tengah ini, banyak sekali foto-foto Ibu Inggit ketika memasuki usia senja. Aku perhatikan wajah beliau yang sudah tidak muda, namun kecantikannya tidak memudar. Pantas saja, Bapak Bangsa kita jatuh cinta dengan beliau. Satu potret yang membuat hatiku terasa sangat berat, ketika melihat Ibu Fatmawati bersama kedua anaknya—Megawati dan Guntur mengunjungi Ibu Inggit. Foto itu mengantarkan langkahku ke tempat beristirahat Soekarno dengan Ibu Inggit.

Ibu Fatmawati beserta anak-anaknya saat menjenguk Ibu Inggit – dokumentasi pribadi

Kamar Tidur

pintu kamar – dokumentasi pribadi

Di ruangan yang cukup besar ini, aku seperti masuk ke dalam hati Garnasih. Di ruangan ini, diceritakan awal mula pertemuan Soekarno dengan Ibu Inggit sampai ia menikahi Ibu Inggit. Bagaimana Ibu Inggit mendukung Soekarno yang saat itu masih kuliah sampai berhasil menyelesaikannya. Bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun Ibu Inggit menyemangati Soekarno yang memiliki mimpi agung untuk memerdekakan Indonesia. Ibu Inggit setia menemani Soekarno, bahkan ketika Soekarno beberapa kali dijebloskan ke penjara oleh Belanda dan diasingkan ke Ende hingga ke Bengkulu.

di dalam kamar – dokumentasi pribadi

Di Bengkulu lah, Soekarno bertemu dengan Ibu Fatmawati—seorang gadis cantik yang dititipkan ke keluarga kecil Soekarno dan Ibu Inggit yang kemudian membuat Soekarno jatuh hati padanya. Disanalah Soekarno meminta izin kepada Ibu Inggit untuk menikahi Fatmawati dengan alasan ingin memiliki keturunan (dengan Ibu Inggit, Soekarno tidak memiliki keturunan) Ibu Inggit yang tidak mau dimadu, akhirnya meminta untuk diceraikan. Dua puluh tahun usia pernikahan mereka, Soekarno mengantarkan Ibu Inggit kembali ke Bandung. Cerita itu berhasil membuatku menangis saat itu juga. Cukup lama aku berada di ruangan itu, meresapi kehidupan Garnasih yang katanya cantik.

Ruang Pembuatan Bedak dan Jamu

ruang pembuatan bedak dan jamu – dokumentasi pribadi

alat untuk membuat jamu dan bedak – dokumentasi pribadi

Di ruangan inilah terdapat batu pipisan yang menjadi saksi bisu perjuangan Ibu Inggit sepanjang hidupnya bersama Soekarno. Ibu Inggit membuat jamu, bedak, menjahit kutang, dan berjualan tembakau untuk mendapatkan penghasilan. Hasil jualan tersebut, merupakan modal utama Inggit ketika memutuskan untuk mendampingi Soekarno hingga ke gerbang kemerdekaan Indonesia.

Nilai Kesejarahan Rumah Inggit Garnasih – Mengutip Brosur

Fakta yang cukup mengejutkan ketika berada di dalam Ruang Pembuatan Bedak dan Jamu. Aku mendapati brosur yang menumpuk—masih sangat banyak seperti tidak laku teronggok di atas kaca tempat batu pipisan berada. Entah memang stock-nya masih banyak atau memang sedikit sekali pengunjung yang datang. Padahal di dalam brosur itu terdapat informasi yang cukup lengkap tentang nilai kesejarahan Rumah Inggit Garnasih.

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih – dokumentasi pribadi

Mengacu pada catatan dan bukti sejarah, bahwa rumah mungil di Jalan Ciateul ini ditempati Inggit Garnasih dan Soekarno sejak tahun 1926 sampai dengan pertengahan 1934. Saat itu rumah masih berbentuk panggung. Sebelum Soekarno dan Inggit Garnasih dibuang ke Ende, Flores maupun Bengkulu, tanah dan rumah itu mempunyai andil besar mewarnai perjalanan perjuangan Soekarno sebagai Bapak bangsa dan sebagai tempat bertemunya Soekarno dengan kawan-kawan seperjuangannya berdiskusi untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Bahkan ketika Soekarno dimasukkan ke dalam penjaran Banceuy dan Sukamiskin, di rumah itu Inggit Garnasih berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan Soekarno di penjara dengan cara menjahit baju, menjual kutang, bedak, rokok dan menjadi agen sabun dan cangkul walaupun kecil-kecilan. Rumah mungil ini dulunya rumah panggung dan dibangun kembali dengan gaya Belanda dan Inggit menetap di sini sampai akhir hayatnya.

Begitulah akhir dari napak tilasku di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Semoga tulisan ini dapat membuat teman-teman yang membacanya tertarik untuk mengunjungi rumah mungil yang penuh akan sejarah itu. Karena sungguh, tenggelam dalam sejarah memiliki rasa sendiri yang tidak bisa digambarkan.