Kebun Teh

Langkah kaki itu terus berjalan di pinggir kebun teh. Uap putih keluar mantap dari setiap deru napas yang keluar. Jalan semakin menanjak, semakin dingin. Panas, namun dingin. Semakin berkeringat, semakin kedinginan.

“Ayo ayo! Lama deh!” gadis itu menoleh ke belakang. Laki-laki bertubuh tinggi kurus dan berambut cepak tampak terengah-engah sembari memegang lututnya. Ia menelan ludah, tidak tahan lagi untuk bisa menyejajarkan langkahnya dengan gadis yang sudah 10 meter di depannya.

Ia kini berdiri tegak, kemudian berkacak pinggang. Ia mengibaskan tangan seperti mengusir. “Udah jalan aja duluan.” Ia kemudian terduduk.

Gadis itu mencibir. “Gitu aja gak kuat.” Ia terpaksa turun lagi, menghampiri laki-laki itu yang kini sedang terududuk bebas di jalanan. Untung saja jalanan sedang tidak ada kendaraan yang hilir mudik. Gadis itu berjongkok. “Ini.” Ia menyodorkan botol minumnya.

Tanpa ba bi bu, laki-laki itu menerimanya dan menyeruput air perlahan. “Kita tuh udah jalan jauh banget, tau. Kamu mau kemana sih?”

Gadis itu berdiri kemudian memberikan tangannya. Ia tersenyum. “Ayo.” Laki-laki itu mendongak, sebentar melihat wajah gadis di hadapannya, sebentar melihat ke tangannya. “Pelan-pelan aja ya jalannya, aku capek tauk.” Akhirnya ia menyerah, ia menurut ke gadis keras kepala di hadapannya. Gadis itu mengangguk, tangannya disambut oleh laki-laki itu.

Mereka kembali menelusuri jalan menanjak. Kabut tipis mulai menebal. “Masih jauh?” Tanya laki-laki itu.

“Sebentar lagi sampe, kok.” Jawabnya.

Mereka berjalan menanjak kira-kira 100 meter lagi kemudian gadis itu membawa laki-laki itu melipir ke jalan setapak memasuki kebun teh.

Suara krak terdengar ketika mereka tidak sengaja menginjak ranting pohon teh kering yang terjatuh ke tanah. “Aku mau lihat sesuatu yang paling aku suka bareng kamu.” Ujar gadis itu.

“Yang kamu suka itu, aku kan?” ledek laki-laki itu. Gadis itu memutar badannya tiba-tiba. Kini mereka berhadapan. Ia memicingkan matanya sambil melipat tanganya.

“GE ER!”

Ia kembali memutar badannya dan melangkah dengan cepat. Laki-laki itu mengejarnya, menahan lengannya. “Iya bercanda, jalannya pelan-pelan aja, ya.” Gadis itu manut. Ia tersenyum sembunyi-sembunyi.

Ia menunjuk kea rah barat. Ada tanah kosong yang lebarnya tidak lebih dari jalan setapak yang mereka lewati. Laki-laki itu masihmengikuti langkah gadis di depannya sampai mereka tiba di atas tanah kosong yang gadis itu maksud. “Apa yang kamu mau kasih lihat ke aku?” Ia melihat sekitar. Hanya kebun teh, jalanan menikung, dan langit kosong.

“Jam berapa sekarang?” Tanya gadis itu.

“Jam 5.”

“Yauda tunggu sebentar lagi. Kamu kalo capek duduk aja.”

Laki-laki itu duduk. Ia melihat gadis di sebelahnya terlihat gusar. Kemudian ia menarik tangan gadis itu hingga ia terduduk. “Kamu mau ngasih tau apa sih?”

“Detik-detik waktu berlalu. Manusia bermunajat kepada Tuhan. Berharap bahagia kekal dalam hidup mereka. waktu ini, waktu yang tepat karena langit mulai menguning.” Gadis itu mengoceh sendiri, merangkali kalimat yang sulit dicerna.

Laki-laki itu memegang dahi gadis di sebelahnya. “Jasmani kamu tampak sehat dan bugar. Tapi aku gak yakin apakah rohani kamu demikian?”

“Ish! Nyebelin banget sih?” gadis itu menyingkirkan tangan laki-laki di sebelahnya. “Itu!” ia menunjuk langit yang perlahan warnanya menguning. Ia tersenyum.

Laki-laki itu mengikuti arahan yang ditunjuk gadis di sebelahnya. Ia mendapati langit tampak begitu jingga, di bawahnya terdapat pohon teh yang seakan membeku namun perpaduan warna jingga dengan hijau tampak begitu memukau.

“Kamu mau kasih lihat aku ini?” Tanya laki-laki itu.

Gadis itu menunduk. “Sudah lama aku tidak melihat senja….”

“Bukankah setiap petang kamu melihatnya?”

“Ya, tapi…”

Laki-laki itu menahan diri untuk tidak tersenyum dan tertawa, ia merasa kasihan dengan gadis di sebelahnya yang sudah begitu malu. “Mau lihat foto selfie aku gak?”

Laki-laki itu merasakan cubitan yang memelintir pinggangnya, panas dan pedas. Ia meringis sejadi-jadinya. “Aww, sakit!!”

“Makanya jangan nyebelin.”

Ia mengelus-elus pinggangnya, kemudian melihat kembali ke arah senja yang begitu memukau. “Aku lagi baik, nih.”

Gadis itu menoleh. Tidak mengerti apa yang dimaksud oleh laki-laki di sebelahnya. Namun ia mendapati sesuatu yang lebih menarik daripada senja di hadapannya. Mata yang panjang, hidung yang runcing, juga rambut cepak yang tumbuh di kepalanya.

“Aku takut keluar laser dari mata kamu.”

Gadis itu menghela napas. “Bisa gak sih, kamu gak ngeledek aku terus?”

“Bisa, asalkan kamu memberdayakan bahu aku.”

“Maksudnya?”

Gantian, kini laki-laki itu yang menghela napas. Ia membelokkan tubuhnya ke hadapan gadis itu. Kemudian ia memegangi wajah bundar gadis di hadapannya. “Hai gadis manis dengan mata yang besar yang saat ini sedang melihat senja bersama laki-laki tampan berkulit hitam manis pujaan wanita, laki-laki itu mau gadis manis bersandar di bahunya.”

Gadis itu tersenyum. “Boleh?”

Laki-laki itu mengangguk. “Boleh.”