Kisah Cinta Ngkus Dan Inggit

sumber foto: wikipedia

Tidak banyak yang tahu kalau sebelum dengan Ibu Fatmawati, Ir. Soekarno sudah menikah dengan Ibu Inggit Garnasih. Padahal, usia pernikahan mereka cukup lama, yaitu 20 tahun. Inggit Garnasih lahir di tatar Sunda bumi parahyangan tepatnya di Desa Kamasan Banjaran kabupaten Bandung pada 17 Februari 1888 dari pasangan Bapak Ardjipan dan Ibu Amsi. Nama Ibu Inggit sebenarnya hanyalah Garnasih. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang tegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.

Baca Juga: Napak Tilas Di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Harapan itu menjadi kenyataan, menginjak dewasa Garnasih menjadi seorang remaja putri yang cantik dan menarik, sehingga kemanapun ia pergi selalu menjadi perhatian masyarakat sekitar terutama para pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit” (pada saat itu satu ringgit sama dengan 2½  Gulden Belanda dan nilainya masih sangat tinggi) sehingga agar menjadi lebih manis namanya menjadi Inggit Garnasih.

Pada umur 12 tahun, Inggit dijodohkan dengan seorang pegawai di Karesidenan Priangan bernama Nata Atmadja. Inggit bersedia menikahi Nata karena ia mendengar desas-desus bahwa kekasihnya akan dijodohkan dengan wanita lain oleh orangtuanya. Pernikahan tersebut pun berlangsung tanpa ikatan cinta antara keduanya. Tak lama kemudian, pernikahan itu pun pupus di tengah jalan.

Setelah bercerai dengan Nata Atmadja, Inggit kembali pada cinta masa lalunya, H. Sanoesi dan menikah pada tahun 1916. Sanoesi merupakan seorang saudagar kaya yang memiliki beberapa perusahaan. Selain itu, ia juga seorang aktivis Serikat Islam (SI) yang pada saat itu dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto. Sebagai istri, Inggit juga ikut peran serta dalam aktivitas politik suaminya tersebut sebagai anggota SI bersama wanita-wanita lain di Bandung.

Bagi Inggit, perkawinan keduanya ini merupakan awal kehidupan memasuki dunia politik dan pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Pada waktu dilaksanakannya Kongres Sarekat Islam (1916), Ingit dipercaya untuk memimpin dapur umum, mengatur dan merima undangan bagi seluruh peserta kongres yang datang dari seluruh tanah air.

Pada tahun 1921, Sanoesi dan Inggit mendapat sebuah surat dari H.O.S Tjokroaminoto yang akan menitipkan menantunya, Soekarno, untuk bersekolah di Technische Hoogeschool (sekarang ITB) Bandung. Untuk keperluan itu, Sanoesi dan Inggit memberikan kamar depan di rumah mereka untuk ditinggali Soekarno karena tidak menemukan tempat lain yang layak bagi menantu pimpinan Sarikat Islam tersebut. Kala itu, Soekarno juga mengajak Oetari, istrinya yang merupakan putri Tjokroaminoto, untuk tinggal di Bandung.

Selama berada di rumah, Soekarno sering berdiskusi dengan Inggit, karena Sanoesi lebih sering berada di luar rumah. Intensitas itulah yang menimbulkan ikatan cinta antara Soekarno dan Inggit. Soekarno meminta izin kepada H. Sanoesi untuk melamar Inggit. Dengan dilandasi pengertian yang luhur dan keikhlasan yang suci, H. Sanoesi dengan segala keikhlasan hatinya menceraikan Inggit yang dikasihinya demi tujuan luhur untuk mendampingi Soekarno yang diyakininya kelak akan memimpin dan memerdekakan Bangsa Indonesia. Soekarno menceraikan Oetari dan dikembalikan secara baik-baik pada H.O.S Tjokroaminoto. Selesai masa iddah, Soekarno menikahi Inggit, sempat berpindah-pindah rumah hingga akhirnya menempati sebuah rumah di Jalan Ciateul No. 8. Saat itu usia Soekarno 22 tahun sedangkan Inggit berusia 35 tahun. Selain itu, mereka juga mengangkat anak yang beri nama Ratna Djuami. Ia adalah anak dari kakak Inggit, Murtasih. Semula anak itu bernama Arawati, oleh Soekarno karena sering sakit dan rewel namanya diganti menjadi Ratna Juami yang kemudian akrab dipanggil Omi.

Inggit mendampingi Soekarno, baik dalam menyelesaikan sekolahnya maupun pada saat berpidato di depan publik. Inggit ikut kemana pun Soekarno pergi dan menjadi penerjemah saat suaminya memberikan kursus politik pada masyarakat Sunda di pinggiran Kota Bandung.

Rumah mereka sering dikunjungi dan dijadikan tempat berdiskusi kawan seperjuangan Soekarno. Bahkan Inggit menjadi saksi terbentuknya Algemenee Studiecllub yang memprakarsai terbentuknya Partai Nasional Indonesia. Inggit juga menyaksikan rapat para pemuda yang akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda 1928 dan pergerakan lainnya yang dibuat Soekarno.

Ngkus, itulah panggilan sayang Inggit kepada Soekarno. Baginya, Soekarno adalah suami, guru, mitra perjuangan sekaligus kekasih, begitupun sebaliknya. Kondisi inilah yang menjadi jiwa Soekarno tetap kokoh dan semagnat menjalani suka duka dalam perjuangan.

Ketika mereka sedang berada di Yogyakarta, Soekarno ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung. Dengan setia, Inggit mengirimkan makanan dan menyeludupkan buku-buku ke dalam penjara. Hasil jerih payahnya itu membuat Soekarno dapat menuliskan pembelaan yang dibacakan di depan hakim di Gedung Landraad (sekarang Gedung Indonesia Menggugat), berjudul “Indonesia Menggugat”. Pembelaan ini membuat Soekarno divonis hukuman 4 tahun di Penjara Sukamiskin, Bandung.

Pada tanggal 1 Agustus 1933, tepat 2 tahun setelah Soekarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin (1929-1931), dia kembali ditangkap polisi Belanda dengan tuduhan melakukan tindakan subversive, karena menulis risalah yang berjudul “Mentjapai Indonesia Merdeka”. Kali ini pemerintah mengambil tindakan dengan menginternirnya ke Ende, Flores. Pada pertengahan Februari 1934, Soekarno dan keluarga tiba di Ende. Waktu di Ende, Inggit dan Soekarno dapat musibah yang mengakibatkan duka yang panjang, ibu tercintanya meninggal dunia bulan Oktober 1935. Ketika Soekarno menderita sakit malaria dan atas desakan Husni Thamrin, akhirnya pada tahun 1938 Pemerintah Belanda memindahkan Soekarno dan keluarganya ke Bengkulu.

Di pengasingan Bengkulu, rumah mereka kedatangan seorang gadis cantik bernama Fatma. Berawal dari kunjungan Hassan Din bersama istri dan anaknya Fatma inilah yang membuat jiwa Soekarno kembali jatuh cinta pada seorang perempuan. Kedatangan keluarga Hassan Din dan keluarga ke rumah Soekarno selain bersilaturahmi juga bertujuan meminta Soekarno agar dapat membantu untuk menjadi pengajar muhammadiyah sekaligus dapat memberikan dorongan kepada anaknya untuk dapat melanjutkan sekolah ke yang lebih baik seperti Omi yang bersekolah di R.K. Vakschool. Sejak itu Fatma bergabung dengan keluarga Soekarno untuk didaftarkan ke sekolah bersama Omi.

Fatma oleh Inggit diterima dengan senang hati dan dianggap anak serta diperlakukan dengan rasa kasih sayang seorang ibu. Dari sinilah awal prahara rumah tangga Inggit dan Soekarno mulai goyah, Soekarno tertarik pada Fatma yang akhirnya Soekarno menyampaikan pada Inggit keinginannya menikahi Fatma dengan alasan menginginkan keturunan. Pada waktu itu sebenarnya tidak terbesit dalam pikiran Soekarno untuk menceraikan Inggit yang setia mendampinginya dalam perjuangan selama 20 tahun baik suka maupun duka, akan tetapi Inggit tidak mau dimadu. Inggit yang berpegang pada prinsipnya, “ari kudu dicandung mah, cadu!” yang artinya, “Oh, dimadu? Kalau mesti dimadu, pantang!” memilih untuk diceraikan dan kembali ke Bandung. Dengan disaksikan kawan-kawan mereka, Inggit bercerai dengan Soekarno, dengan syarat Soekarno akan tetap memberikan nafkah kepada Inggit dan membangunkan sebuah rumah, Inggit kembali ke Bandung pada tahun 1943 dan untuk sementara tinggal di rumah Haji Anda, di Jalan Lengkong Besar.

Sejak itu selesailah tugas Inggit menghantar soekarno sebagai pemimpin dan Bapak bangsa menuju gerbang kemerdekaan Indonesia. Perjalanan hidup Inggit selanjutnya berlangsung dalam kesendirian dan berusaha menghidupkan dirinya dengan membuat Bedak dan Jamu.

Di usia senjanya, Inggit Garnasih hidup dengan tenang, beliau banyak dijadikan tempat bertanya dari berbagai kalangan. Inggit selalu memberikan nasehat kepada para tamunya, bahwa dalam menjalani kehidupan hendaknya selalu membela rakyat dan harus selalu menjaga harkat dan harga diri sebagai bangsa yang besar.

Ibu Inggit pada masa tua – sumber:                                dokumentasi pribadi

Di masa menjadi Presiden RI, Soekarno pernah mengunjungi Inggit Garnasih di rumahnya setelah berpisah kurang lebih 20 tahun, Soekarno meminta maaf kepada Inggit atas semua kesalahannya yang telah menyakiti hatinya. Pada waktu itu, Inggit menjawab, “Tidak usah diminta, Ngkus. Ngkus pimpinlah Negara dan rakyat dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu”.

Pada tanggal 21 Juni 1970, Inggit mendapat kabar wafatnya Soekarno. Inggit segera berangkat dari Bandung ke Jakarta dengan diantar Omi. Dengan kondisi tubuh yang sudah renta dan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tetapi Inggit Garnasih menunjukkan keteguhan dan bertekad untuk menjenguknya karena yang meninggal itu bukan saja mantan suaminya atau bekas kawan seperjuangan selama 20 tahun di dalam suka dan duka, melainkan karena seorang pemimpin dan proklamator Bangsa Indonesia. Ketika melihat jenazah Soekarno terbaring di dalam peti, terdengar suara lembutnya dan sayu sambil mengucapkan “Ngkus, geuning Ngkus the miheulaan, ku Nggit didoakeun” yang artinya “Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Nggit mendoakan”.

 

Di saat menjelang akhir hidupnya karena usia lanjut, Inggit Garnasih menunjukkan dirinya seorang wanita yang berbudi luhur dan berjiwa besar. Ia ingin bertemu dengan Fatmawati. Atas prakarsa Ali Sadikin, keinginan Inggit terpenuhi, pada tanggal 7 Februari 1980 terjadilah pertemuan antara seorang ibu dengan seorang yang pernah diakui sebagai anak. Pertemuan itu sangat mengharukan, keduanya saling berpelukan, dengan menangis Fatmawati meminta maaf, dengan ketulusan dan kebesaran jiwanya, Inggit Garnasih memaafkan. Tiga bulan kemudian, inggit berpulang di usia 96 tahun.

Jalan yang ditempuh Inggit Garnasih adalah jalan yang tak bertabur bunga…

 

Informasi kisah dari: Rumah Bersejarah Inggit Garnasih