Pasar Sudah Tutup

Dua tahun sudah jasad ini tidak bertemu dengan jasadnya. Begitu banyak fantasi yang berkeliaran di kepalaku akan bagaimana rupanya sekarang, apakah tubuhnya bertambah tinggi di usianya yang lebih dari 25, apakah kulitnya masih cokelat, apakah rambutnya masih tajam-tajam, apakah hidung mancungnya tidak terbentur benda keras sehingga membuatnya bengkok, apakah matanya sudah divermak oleh ahli kecantikan—baiklah aku rasa itu sudah berlebihan.

Lalu bagaimana dengan sifatnya? Sudahlah, aku tidak begitu mengenalnya, hanya saja aku pernah merasa nyaman ketika bersamanya—pada saat jasad kami saling berpisah dua tahun lamanya. Kebersamaan dalam jarak antara Depok dan Jakarta. Namun kali ini, di Pasar sore malioboro aku bertemu dengannya.

Ia menyapaku, tubuhnya segitu-segitu saja—175 cm, tidak bertambah tinggi karena ia hanya memakai sandal jepit, kulitnya masih cokelat namun terlihat lebih gelap, mungkin karena cuaca di Yogya begitu panas. Bibirnya? Kenapa aku tertuju ke bibirnya? Ya, karena bibirnya lebih biru dari sebelumnya, sudah berapa batang rokok yang ia jejalkan ke tubuhnya? Entahlah, aku tidak peduli. Tapi, itulah yang membuatnya terlihat kurus—mungkin, aku tidak bisa menyalahkan puntung-puntung rokok.

Suaranya? Suaranya masih lucu. Bukan lucu yang seperti anak kecil, tapi tetap lucu saja buatku. Aku bisa merasakan sensasi gejolak yang aneh ketika mendengar suaranya, apalagi bila ditambah sedikit rajukan. Aku jadi ingin memilikinya, walau bukan hal yang mudah. Aku menghela napas panjang—sepertinya lelah sekali, padahal sedang tidak berjalan kaki, apalagi lari. Hanya berdiri di hadapan dia dan baru saja menjawab sapaannya. “Hai.”

“Kamu lagi apa disini?” tanyanya.

“Aku? Lagi menghibur diriku.”

“Kamu lagi sedih?”

Aku menggeleng, kemudian tersenyum. “Kesepian.” Jawabku.

Ia tertawa, giginya panjang-panjang, gusinya tidak kalah biru dari bibirnya. Aku jadi ingin menyalahkan rokok dan kopi mahal dengan whipped cream yang bergengsi itu. Aku suka tidak mengerti mengapa orang-orang rela mengeluarkan uang begitu banyak untuk kopi internasional itu. Juga membeli tempat minum keluaran kopi itu yang harganya selangit.

Kritikku tentang orang-orang penikmat kopi mahal itu sirna setelah mendengar suara tawanya. “Terus kamu main ke pasar biar ga kesepian?”

“Iya, soalnya pasar kan ramai.”

“Kebetulan banget, aku juga lagi kesepian. Aku ke pasar juga supaya ramai.”

Aku tersenyum, sepertinya ini adalah khayalanku namun tampaknya bukan juga. Sebab saat ini aku sedang berada di pasar bersamanya. “Berhubung sekarang aku udah engga sendiri, kita keluar dari pasar yuk. Pasar sudah mau tutup sepertinya.”

Aku berjalan mengekor di belakangnya. Kakinya kecil, lingkar pinggangnya juga kecil, tidak beda jauh lah dariku. Aku meyakinkan diri untuk tidak menaruh hati padanya, namun apa daya melihatnya dari belakang saja sudah terasa begitu nyaman.

Cinta itu sepertinya memilih, kepada siapa kita akan membuka hati kepada siapa kita akan menutup diri bahkan ketika sampan belum mendayung, perahu sudah karam. Ah, terminologi itu tampaknya cocok sekali untuk diriku dengan pria di depanku ini.

Kami melewati penjual bunga tujuh rupa, wangi kombinasi menyerbak ke dalam hidung. Ia menghentikan langkahnya, tangannya menyambut lenganku kemudian turun ke pergelangan tanganku. Genggamannya begitu pas dengan pergelangan tanganku yang kurus. “Bau kuburan ya. Kamu ga takut, kan?”

Aku menggeleng, senang lho. “Aku ga taku, aku senang.”

“Kenapa kamu jujur?”

“Aku cuma ga bisa menahannya.”

“Apakah itu cinta?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Butuh waktu.”

“Akan?”

“Entahlah. Hanya saja aku senang sama kamu.”

“Sejak?”

“Belum lama.”

“Kok bisa?”

“Nyaman aja.”

“Hmm.”

Begitulah obrolan-obrolan kami di sekitar Pasar sore malioboro. Saat keluar pasar, hari sudah gelap. Tanganku masih digandengnya, aku masih merasa senang. Aku hanya akan bersiap-siap sedari sekarang, karena mungkin saja rasa senang ini akan berubah menjadi duka.

 

Previous Story: Di Belakang Punggungmu

Next Story: Titik Nol Kilometer, Sandal Yogya, dan Kemungkinannya

Tags: