Titik Nol Kilometer, Sandal Yogya, dan Kemungkinannya

Tanganku masih digandengnya, namun rasanya tidak sehangat Yogya pada malam hari. Kanan kiri begitu ramai dengan pedagang kaki lima di depan gerbang Museum Benteng Vredeburg. Ada sandal Yogya lima belas ribuan berserakan rapi menanti untuk ditukar dengan selembar uang sepuluh ribuan dan selembar uang lima ribuan. Atau uang dua puluh ribu dengan kembalian lima ribuan. Tapi, bisa juga uang lima puluh ribu dengan kembalian dua puluh ribu selembar, sepuluh ribu selembar, dan lima ribuan selembar. Lalu bagaimana kalau lima ribuan habis? Ah, terlalu banyak kemungkinan. Seperti malam ini.

Ia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah papan penunjuk arah dimana tulisan titik nol kilometer berada. Namun kami tidak sampai sana. Bangku-bangku taman berjejer rapih di pinggir, masih ada sisa satu bangku sehingga menghantarkan langkahnya ke sana dan membawaku serta. Tangan kami mulai berpisah. Dari kejauhan, terdengar suara nyanyian dari musisi jalanan bercampur dengan riuhnya wisatawan yang memadati titik nol kilometer atau bahkan warga lokal yang sedang mencari keramaian karena begitu sepi di rumah.

Kaos putih belel yang dikenakannya tampak begitu tipis dilihat dari dekat. Tubuhnya benar-benar kurus, seperti tidak makan satu bulan. Mulutnya terlihat manyun bila sedang diam begitu, ah lucu sekali. Perhatiannya tidak fokus, sebentar-sebentar melihat ke lalu lalang orang-orang yang lewat, sebentar-sebentar melihat ke arah laki-laki dengan papan besar bertuliskan Malioboro—di depannya turis lokal berfoto dengan gaya maksimal. Sebentar-sebentar melihat ke ujung jempol kakinya.

Aku menunduk, berkaca diri pada pijakan yang tidak memantulkan refleksiku. Aku tidak pernah terbayang akan bertemu dengannya di tempat ini setelah dua tahun lamanya tidak bertemu. Aku melihat ke arah cahaya yang datang dari tiang lampu taman, yang mengantarkan pandanganku ke tempat penjaja sandal Yogya lima belas ribuan dengan segala kemungkinan itu. Seperti nasibku hari ini, dengan suasana yang begitu asing, begitu dingin, dan bisa dibilang begitu kaku. Ia terlihat tidak nyaman, atau hanya aku yang menduga-duga.

Segala macam kemungkinan bisa saja terjadi. Pertemuan pertama kami setelah dua tahun berlalu, mungkin akan menjadi pertemuan terakhir. “Tempat menginapmu dimana? Biar kuantar.” Kini ia membuka suara, dan menatapku.

Aku sangat kecewa dengan tawarannya, aku seperti sedang terusir—terusir dari hadapan dan hatinya. “Dekat sini, tidak jauh.” Jawabku sekenanya.

“Mau kembali ke hotel sekarang?”

Aku menggeleng. “Di hotel sangat sepi. Sepertinya aku akan disini sampai tengah malam.” Jawabku.

“Gak baik, lho. Kamu kan perempuan.”

Perhatian sekali, tapi aku tidak merasa senang. Aku merasa seperti sedang mengganggu saja. Apakah aku yang terlalu perasan? Ah, sepertinya tidak. Memang begitu adanya. “Kamu duluan aja, senang ketemu kamu.” Ujarku, lirih, dengan senyum.

Ia tampak tidak nyaman dengan perkataanku. “Di titik nol kilometer ini, aku akan memulai kembali.” Tambahku.

“Kembali kemana?”

“Ke masa ketika aku belum mengenalmu.”

Ia mendenguskan napasnya, seperti semakin tidak nyaman. “Aku ga bermaksud—”

Aku memberikannya senyuman tulusku, sepertinya sejak awal aku tidak perlu membuntutinya. Sejak awal aku tidak perlu memanggilnya. Bahkan sejak awal yang lalu itu, aku tidak perlu membahas mengenai ternak ikan dengannya. Awal obrolan kami adalah tentang ternak ikan, ikan yang diimpor dari Negeri Gingseng. Memang sangat random, namun ikan lah yang menjadi prahara di perasaanku. Yang bahkan aku sendiri tidak mengerti. Mungkin aku hanya terlalu kesepian.

“Mas, kalau kamu gak mau duluan, baiklah biar aku saja yang duluan. Selamat berlibur, do’akan aku, ya. Aku do’akan kamu pun bahagia, tidak perlu bersedih lagi.”

Aku berdiri dari dudukku, setelah memberikan lambaian tangan dan senyum terbaik, aku mengikuti langkah-langkah orang tak berwajah dan tenggelam di dalam keramaian yang begitu hening. Ia tidak dapat mendeteksi keberadaanku. Aku melewati lagi jajaan sandal Yogya lima belas ribuan dengan segala kemungkinannya. Seorang turis mancanegara membeli sandal Yogya itu dengan uang pas dan menjawab salah satu kemungkinan.

 

Previous Story: Pasar Sudah Tutup

Next Story: Pohon Beringin Kembali Rindang

Tags: