Pemuda Menteng 31 dalam Peristiwa Rengasdengklok

Beberapa minggu lalu, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Gedung Joang 45 yang merupakan salah satu tempat yang menjadi saksi bisu dalam serentetan peristiwa kemerdekaan Indonesia. Gedung Joang 45 adalah salah satu titik awal gerakan kaum muda yang akhirnya memaksa Dwitunggal Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. “Pemoeda” identik dengan kumpulan kaum muda militan, tanpa harta apalagi ambisi pribadi dan hanya satu tujuan: hidup bermartabat atau paling tidak mati sebagai mannusia merdeka!

Gedung Joang 45 Menteng 31 awalnya merupakan sebuah Hotel Schomper I milik seorang perempuan Belanda. Bangunan megah dengan enam ruang utama itu, pada jaman penjajahan Jepang berfungsi sebagai Pusat Pendidikan Politik. Para pemuda seperti Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, AM Hanafi, dan yang lainnya menjadi penghuni Asrama Angkatan Baru Indonesia di Pusat Pendidikan Politik ini. asrama tempat para pemuda pejuang itu kini berlokasi di Jalan Menteng Raya nomor 31, Jakarta Pusat. Di sinilah para Pemuda Menteng 31 berguru kepada kedua proklamator.

Pemuda Menteng 31 yang begitu melekat dengan gedung yang aku datangi membawaku untuk mengetahui lebih lanjut tentang siapakah Pemuda Menteng 31 dan apa saja peranan mereka dalam kemerdekaan Indonesia?

Pemuda Menteng 31 & Dwitunggal

Menyerahnya Jepang Tanpa Syarat Kepada Sekutu

Pada tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pada 9 Agustus, Uni Soviet melancarkan penyerbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melanggar Pakta Netralitas Soviet–Jepang. Kaisar Hirohito campur tangan setelah terjadi dua peristiwa mengejutkan tersebut, dan memerintahkan Dewan Penasihat Militer untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan Sekutu dalam Deklarasi Potsdam. Setelah berlangsung perundingan di balik layar selama beberapa hari, dan kudeta yang gagal, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945. Dalam pidato radio yang disebut Gyokuon-h (Siaran Suara Kaisar), Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Berita tentang menyerahnya Jepang kepada sekutu diketahui oleh kalangan Pemuda Indonesia melalui siaran radio BBC London. Pada saat itu, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta baru saja kembali ke Indonesia setelah memenuhi panggilan Panglima Jepang untuk Asia Tenggara. Pada saat itu, terjadi pro dan kontra antara golongan muda dan golongan tua. Golongan muda ingin proklamasi agar segera dilaksanakan karena proklamasi merupakan hak Bangsa Indonesia tanpa bergantung dengan bangsa lain sementara Golongan Tua ingin melakukannya secara terorganisir, contohnya seperti pernyataan dari bangsa-bangsa lain dengan melampirkan tanda tangan dan sebagainya. Lalu siapakah golongan muda itu?

Golongan muda merupakan para anggota dari Kelompok Menteng 31. Kelompok Menteng 31 terbentuk dimulai dari perbedaan paham antara tokoh pemuda dalam Comite van Actif yang umumnya sudah berpengalaman politik dan pimpinan asrama Prapatan 10. Asrama Prapatan 10 ini adalah asrama mahasiswa kedokteran di Jalan Prapatan 10 yang penghuninya sebagaian besar mahasiswa dari luar Jakarta, mahasiswa pindahan dari sekolah dokter NIAS di Surabaya & mahasiswa yang diutus oleh pemerintah pendudukan Sumatera.

Menurut Adam Malik dalam bukunya “Mengabdi Republik”, yang tercatat sebagai anggota kelompok Menteng 31 adalah Sukarni, M. Nitihardjo, Adam Malik, Wikana, Chaerul Saleh, Pandu Wigana, Kusnaeni, Darwis, Johar Nur, Arminanto, dan A.M Hanafi.

Sukarni

Patung Sukarni

Seorang tokoh muda radikal yang selalu berjuang di bawah tanah dan pengagum Tan Malaka dan juga kader PARI Tan Malaka namun menerima Bung Karno sebagai “leader” karena Bung Karno dianggap Kode Revolusi dan sebagai pemersatu nasional. Di balik keradikalannya, Sukarni selalu minta pendapat dari Adam Malik dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu kawan seperjuangannya seperti AM Hanafi menilai Sukarni akan “plinat plinut” tanpa Adam Malik.

Pada saat pendirian Asrama Angkatan Baru Indonesia, ia dipilih menjadi ketua umum. Peranannya dalam proses proklamasi sangat besar. Beliaulah yang kemudian menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dengan penodongan senjata, karena sebalumnya kedua tokoh tersebut menolak untuk dibawa. Namun akhirnya rencana penyusunan proklamasi dipindahkan ke rumah Laksamana Muda Maeda dan tidak jadi dilaksanakan di Rengasdengklok. Bersama Chaerul Saleh dan pemuda lain ia menghadiri rapat di rumah Laksamana Maeda dan mengusulkan kalimat, “atas nama bangsa Indonesia” pada teks proklamasi yang kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta yang pada awalnya meminta seluruh yang hadir menandatangani teks tersebut. Kemudian setelah proklamasi, Sukarni dan kawan-kawan membentuk Komite van Aksi dan menjadi ketua umum dan menjalankan aksi-aksi penting dalam mempertahankan kemerdekaan.

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh, merupakan seorang pemuda intelektual, studen RH dan ketua PPPI. Bersama Sukarni dan AM Hanafi, Chaerul Saleh menjalankan Asrama Angkatan Muda Indonesia dan Komite van Aksi sebagai wakil ketua. Pada masa persiapan Proklamasi Kemerdekaan, Chaerul Saleh ikut serta memboyong Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok dan mengikuti rapat di rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan teks proklamasi.

AM Hanafi

A.M Hanafi & Ir. Soekarno

Gedung Menteng 31, tidak lepas dari kisah AM Hanafi. Pemuda Bengkulu ini disebut-sebut sebagai anak emas Soekarno. Setelah bertemu Soekarno pertama kalinya di Bengkulu saat beliau dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda, AM Hanafi dikirim ke Jakarta untuk merasakan air suci perjuangan dan kemudian aktif di Gerindo. Setelah pertemuan dengan Adam Malik, maka ia bersama dua kawan pemuda lainnya (Sukarni dan Chaerul Saleh) membuka Asrama Angkatan Muda Indonesia di Gedung Menteng 31 dan menjadi sekretaris umum.  AM Hanafi juga turut serta dalam rapat penjemputan Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok guna memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Adam Malik

Adam Malik

Seorang pemuda yang dijuluki Si Akoy karena tinggal dan kedekatannya dengan masyarakat di Buiten Tjigerstraat (Glodok) yang merupakan wilayah etnis Tionghoa. Pada masa perebutan kemerdekaan, Adam Malik mengepalai kantor Berita Antara. Adam Malik merupakan seorang diplomat ulung, konseptor handal dengan ide-ide yang cemerlang dan pandangan politik yang luas dan cerdas. Melalui Adam Malik lah akhirnya muncul Asrama Angkatan Baru Indonesia. Melalui rapat di kediamannya bersama tiga pemuda radikal, Sukarni, Chaerul Saleh, dan AM Hanafi akhirnya gedung Menteng 31 berhasil direbut dan dijadikan markas pergerakan pemuda. Beberapa ide Adam Malik, diantaranya penjemputan dan penculikan Soekarno – Hatta oleh Sukarni, Chaerul Saleh dan Jusuf Kuno ke Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok

Rumah di Rengasdengklok

Giau I Siong (kiri)

Pada subuh 16 Agustus 1945, Bung Karno, Bung Hatta, Ibu Fatmawati dan Guntur (bayi) diamankan oleh para pemuda, yang didukung pasukan PETA pimpinan Syodancho Singgih, menuju Rengasdengklok. Tujuannya untuk mendesak Dwitunggal menyelenggarakan proklamasi sekarang juga sekaligus mencegah penangkapan mereka oleh pihak Jepang. Selama di Rengasdengklok, rombongan yang diamankan ini menempati rumah Giau I Siong.

Kesan Penulis

Peristiwa Rengasdengklok bukanlah sesuatu yang awam bagiku. “Penculikan” Dwitunggal Soekarno – Hatta oleh Golongan Muda dalam upaya pengamanan dari pengaruh Jepang sudah berada di luar kepala karena beberapa kali dibahas dalam pelajaran sejarah ketika sekolah. Namun, setelah napak tilas ke Gedung Joang 45, aku baru benar-benar mengerti siapakah Golongan Muda itu. Saat sekolah dulu, hal tersebut merupakah hal yang biasa. Hanya sejarah yang perlu dihapal agar mendapat nilai bagus. Namun, kini aku benar-benar paham akan semangat dan perjuangan mereka. Mereka memang tidak bisa digantikan apalagi dibandingkan. Namun, saat ini kitalah para pemuda yang sedang mengisi indahnya Kemerdekaan Indonesia yang sudah berlangsung selama 73 tahun ini. Marilah kita menjadi pemuda yang memiliki kontribusi positif untuk Negeri kita tercinta ini.

 

Sejumput informasi:

Tepat satu hari lalu, aku kembali ke Gedung Joang 45, dan tidak disangka aku mendapatkan buku biografi salah satu tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia, Sang Elang Betawi – Mohammad Hoesni Thamrin. Tunggu ulasannya, ya!

Buku Biografi M.H Thamrin