BURUAN RESIGN

BAB I

SI ANAK BARU



Sepi. Kubikal-kubikal kantor masih sepi. Hanya beberapa meja saja yang sudah dihuni oleh sang empunya. Suara langkah kaki di lantai karpet pun terdengar saking sepinya. Lagu Rolling In The Deep – Adelle yang sengaja diputar pelan dari salah satu laptop karyawan pun terdengar di sebagian ruangan divisi internal audit.

Tidak lama kemudian satu per satu karyawan telah memenuhi ruangan bersekat-sekat itu, menduduki kursi masing-masing. Suara opening windows mulai terdengar. Setelah menyambung ke office communicator, ada yang bersenda gurau, ada yang sarapan, bahkan ada yang langsung bekerja karena dikejar-kejar deadline.

Cukup memakan waktu hampir sejam hingga mereka semua benar-benar fokus bekerja. Perhatian mereka terpecahkan ketika laki-laki berjanggut dan mengenakan jaket polo bersama laki-laki yang jauh lebih muda berjalan melewati para auditor internal yang tengah bekerja. “Eh, eh anak baru.” Bisik seorang wanita bertubuh bongsor, rambutnya dicat merah, make up-nya cukup tebal dengan alis tegas nan kerang dibuatnya, sangat kekinian.

‘Anak baru’ itu berjalan memasuki kubikal wanita bertubuh bongsor itu dan menyalaminya. “Teman-teman, kenalin, ini Edo regular audit.” Laki-laki berjaket polo yang sudah jelas adalah seorang atasan itu membuka perkenalan ‘anak baru’ yang menjadi bawahannya itu.

“Edo.” Si anak baru itu menyalami orang-orang yang lebih senior darinya.

“Yoga.” Seorang laki-laki berkulit hitam manis, berkacamata cukup tebal, dengan rambut lurus berbelah pinggir satu-satunya yang mengeluaran suara untuk balik memperkenalkan nama.

Edo tersenyum dan Yoga membalas dengan senyuman sekilas.

Usai menyalami kubikal yang dikiranya kubikal terakhir untuk divisi audit internal, atasannya menyuruhnya untuk cepat-cepat. Tampaknya sedang sangat sibuk. “Do, do, sini ayo. Kamu duduk disini ya.” Laki-laki berjanggut itu menunjuk kursi kosong di kubikal sebelah. “Teman-teman, ini Edo regular audit.” Ia bersuara cukup kencang. “Kamu langsung aja ya duduk disana, saya tinggal. Nanti selebihnya kamu sama Mba Rina ya.”

“Iya Pak.”

Edo berjalan ke kursi yang ditunjuk atasannya. Setelah menaruh ranselnya, seperti di kubikal-kubikal sebelumnya, ia menyalami orang-orang yang lebih senior darinya. “Hei, halo~” gadis berkerudung hijau daun dan berbaju hijau stabilo dengan senyum begitu sumringah menyambut salaman Edo. “Gue Erika.” Ujarnya bersemangat.

“Eh lemper, berisik lu!” tiba-tiba seseorang menyeletuk. Gadis bernama Erika itu menoleh ke sumber suara. Laki-laki berkacamata, ujung hidung runcing, berkulit gelap, terlihat seperti orang India sambil menaik-naiki alis kirinya melemparkan senyum meledek.

“Sialan lo Mir!” Entah kesal atau tidak, kalimatnya berupa umpatan namun Erika malah tertawa geli. Bahunya naik turun mengikuti gelak tawanya. Pakaian serba hijaunya yang melekat di tubuhnya yang agak berisi itu pun ikut bergerak. “Eh sorry ya, jangan didengerin yang itu.” Erika menunjuk laki-laki yang baru saja mengatainya. “Dia emang agak sableng.”

Edo hanya tertawa saja, padahal ia tidak mengerti maksud candaannya. “Emang apa sih Ka, maksud si Mirna?” Gadis lain yang berkerudung, bertubuh kurus, dengan senyum lebar dan mata centil menanyainya—penasaran.

“Ini loh Nal.” Erika menunjuk baju dan kerudung yang dipakainya. “Ijo, gue dikatain lemper.”

Edo yang dicueki menyimak obrolan mereka ikut tertawa, kini benar-benar tertawa karena merasa lucu. “Eh gue diketawain sama si Edo Nal.”

“Eh iya, jadi dicuekin. Gue Nala~” Nala mengantarkan tangannya dan Edo pun menyambut dengan hangat.

“Edo.”

“Nanti main sama kita-kita aja.” Tawar Nala.

Edo tersenyum. “Iya.”

“Nala jangan modus.” Celetuk laki-laki berwajah lonjong, mengenakan kacamata baca seperti milik Harry Potter.

Nala terkekeh kecil. “Ah Ibnu, diem aja sih kan gue lagi usaha.”

“Ibnu.” Ibnu menyambut salam Edo.

***

Jam 12 belum genap, tapi beberapa sudah ada berkumpul membentuk lingkaran di salah satu meja bagi mereka yang membuka bekal. Biasanya yang sudah berkeluarga, dibekali oleh istri-istri mereka. Beberapa ada yang sudah turun ke bawah untuk membeli makanan yang kemudian dibawa ke ruangan dan empat orang dari kubikal paling ujung menghampiri dua kubikal paling ujung sisi lainnya.

“Edo, ayo ke bawah!” laki-laki bertubuh tidak tinggi dan paling rendah dibandingkan dengan teman-teman pria lainnya. Edo mengangguk, berjalan ke arahnya. Ia terlihat semakin rendah dibanding tubuh Edo yang menjulang tinggi.

“Payung, makan yuk~” Yoga melipat tangannya di ujung sekat tepat menghadap Erika. Erika mendongak lalu tersenyum disusul gelak tawa. Erika sangat mudah untuk tertawa.

“Eh Yoga. Ayuk Yoga, tunggu sebentar yaa sleep laptop dulu.”

Yoga tersenyum. “Iya Payung, apa sih yang engga buat kamu.”

“Ih Yoga, geli tau.”

“Ah Payung, belom diapa-apain aja udah geli.” Kalimat yang paling sering diucapkan oleh Yoga ketika Erika berkata ‘geli’.

“Woy buruan loe berdua malah maen gombal-gombalan.” Gerutu Yuli—gadis kecil berkacamata sambil lalu. Tubuhnya begitu mungil namun terlihat serintilan, gesit, walau kakinya memijak heels 10 cm.

Edo mencolek-colek Handi—pria berdarah Padang yang tadi memanggilnya itu. “Itu si Erika kenapa dipanggil Payung?”

“Sipayung, marganya.”

“Oo~” Edo mengangguk paham.

“Siapa bro nama loe?”

“Edo.”

“Gue Wayan, tapi jangan kaget kalo gue dipanggil Mirna. Loe tau kenapa?” Edo yang pembawaannya begitu lembut hanya tertawa kecil dan menggeleng. “Loe tau kasus kopi Vietnam?”

“Ohh!!” Edo tertawa ngakak.

“Begitulah.”

Mereka berjalan ke kantin di gedung seberang. Memang agak jauh dan harus melewati kolong fly over terlebih dahulu untuk mencapai kantin itu. Namun bagi mereka cukup worth it karena menu yang disuguhkan jauh lebih banyak dan untuk urusan rasa cukup memuaskan dibanding dengan makanan di basement gedung kantor mereka dengan harga yang fluktuatif alias suka-suka yang jual lebih ke arah tidak konsisten, harga berubah-ubah. Entah apa lagi yang bisa diibaratkan untuk harga makan di basement gedung kantor mereka.

Satu meja tidak cukup untuk menampung mereka. Mereka pun duduk di meja yang berbeda namun berdekatan.

“Eh lo temennya Handi ya?” Tanya gadis berwajah manis, bermata besar, dan sangat Sumatera. Logat bicaranya pun terdengar jelas seperti orang Sumatera Utara.

“Iya.”

“Lo ngapain sih Han, ngajakin temen lo kesini? Jahat lo Handi.”

“Ehh sst Meli! Jangan gitu, baru hari pertama ini.” Tegur laki-laki beralis naik, matanya sipit, logatnya seperti orang Sunda.

“Eh iya Mas Wahyu, untung lo ingetin. Engga Do, ga usah didengerin gue tadi bercanda aja.”

Edo yang tidak banyak bicara hanya tertawa saja.

“Eh Do, lo ketawa aja lo dari tadi. Inget ga kita siapa namanya?” celetuk Wayan, terkesan seperti senior yang sedang mengospek anak baru.

“Eh iya-iya siapa? Ayo saya siapa Do?” laki-laki yang duduk di ujung, bertubuh bongsor, berkaca mata. Suaranya tidak kalah lembut dari Wahyu.

Edo tampak berpikir, mengingat-ingat. “Mas Dedi ya?”

Semuanya tertawa. “Aduh Do, nama saya Dede Do.”

“Namanya Dede Bahtiar, bisa disingkat Debah.” Tambah Wayan.

“Kalo yang ini Wayan. Wahyu, Meli, Yuli. Kalo yang di meja itu Erika~”

“Si lemper gausah diinget dia mah.”

“Eh Mirna! Gue denger!”

Wayan tertawa. “Eh denger.”

“Terus Do, terus.” Ujar Meli.

“Sebelahnya Erika Yoga.”

“Kalo Erika ngaku-ngaku pacarnya Yoga, jangan percaya.”

“Wayan, lo sialan banget sih!!!” lagi-lagi Erika kesal, tapi ia tertawa.

Orang-orang di dua meja itu tertawa sangat keras. Mengalahkan suara osengan dari spatula dan wajan yang bertabrakan.

“Tenang Yung, nanti Aa Yoga belain.”

“Lo juga Ga, najis tau ga.”

“Udah stop lu berdua berisik mending masak sono!” omel Wayan.

Edo terkekeh melihat ulah teman-teman barunya. “Itu Tiwi.” Ia menunjuk gadis cantik berparas ayu, sederhana, dan berkacamata. Ia sendiri yang datang ke kantin namun membawa bekal. “Satu lagi Nala. Sebelahnya Nala namanya Ibnu.”

BAB II

INTEGRITAS

Pagi ini terasa begitu cerah walau kereta pagi hari begitu desak. Langit pagi ini cerah membiru, pohon-pohon tampak begitu hijau walau sudah terselimuti debu dari asap kendaraan. Seorang gadis dengan jilbab berwarna khaki, dengan pakaian formal layaknya orang-orang kantoran berjalan begitu semangat. Tanpa ia sadari, bibirnya tersenyum bahkan ketika menyeberang.

Kakinya melangkah begitu mantap memasuki gedung yang akan menjadi kantor barunya. “Gue harus sampai jadi senior disini.” Tekadnya dalam hati.

Ia masuk ke dalam lift untuk mencapai ruang kantor barunya. Sesampainya di atas, jarum jam masih jauh dari jam masuk kerja. Ia masih harus menunggu kurang lebih satu jam.

“Mas, saya Kartini divisi audit. Hari ini hari pertama saya kerja, kalau di email saya bertemu dengan Bapak Ariel.”

“Baik Mba, silahkan tunggu sebentar disana ya.” Security yang sedang bertugas memperislahkan Kartini untuk duduk di kursi tunggu lobby lantai 16.

Untuk membunuh waktu, Kartini membuka beberapa akun media sosialnya. Sambil menerka-nerka pekerjaan macam apa yang akan dijalaninya. Kurang lebih ia tahu secara teori, namun secara praktik ia benar-benar tidak tahu.

Ia menghela napas, bukan kesal namun tidak sabar ingin segera bergabung dengan divisi internal audit. Pekerjaan yang diidam-idamkannya selagi masih duduk di bangku kuliah.

Satu jam lebih ia menunggu hingga akhirnya laki-laki bertubuh kurus, warna bibir gelap dan tampak dengan jelas bekas puntung rokok di tengah bibirnya. Ia perokok berat. “Kartini?”

“Iya Pak.” Kartini tidak asing lagi dengan wajah laki-laki itu. Seorang user yang mewawancarainya.

“Ayo ikut saya.” Ujarnya sambil tersenyum.

Kartini mengekor di belakang laki-laki bernama Pak Ariel itu. Ruangan yang sama ketika ia melaksanakan tahapan technical test. Ruangan bersekat-sekat yang cukup luas didominasi warna khaki dan cokelat muda.

Pak Ariel berhenti di depan sebuah ruangan. Ruang Kepala Divisi. Laki-laki Arab dengan senyum ramah menyambutnya. “Pak, ini anak baru regular audit di area saya.”

Kartini menyalami bos besarnya itu. “Kartini.” Ujarnya ramah sambil menunjukkan senyum terbaiknya.

“Indra.”

Kartini membaca papan nama berbentuk bangun segitiga yang terpampang di meja Pak Indra—Indra Al-Katiri.

Usai berkenalan dengan bos besar, Pak Ariel dan Kartini masuk ke dalam ruangan Pak Ariel. Pak Ariel memberikan beberapa wejangan kepada Kartini.

“Kartini, seperti yang saya tanyakan sebelumnya kamu belum pernah ada pengalaman sebagai auditor ya?”

Kartini duduk dengan tegap, menunjukkan kalau ia semangat bekerja, bersikap sopan terhadap atasan. Ia ingin memberikan kesan pertama yang baik. “Belum Pak.”

“Disini tidak ada training, berarti kamu nanti bisa dengan cara learning by doing ya.”

“Baik Pak.” Jawabnya semangat. Padahal ia berharap ada training terlebih dahulu. Namun ia menyembunyikan sedikit rasa kecewanya.

“Ada yang mau ditanyain?”

Kartini terdiam, ia tidak tahu harus bertanya apa. Wong apa yang akan dikerjakannya saja masih mengawang. “Belum ada Pak, nanti kalau ada saya langsung tanya ke Bapak.”

“Oke kalau begitu saya jelasin beberapa hal ke kamu ya.” Kartini mengangguk. Pak Ariel melanjutkan. “Disini jam masuk jam setengah 9, toleransi telat 15 menit saja. Usahakan setelah tiba di kantor kamu langsung kerja ya Kartini. Kan waktu yang terpakai untuk hal-hal yang kurang penting bisa kamu pakai untuk menyicil pekerjaan.”

“Siap Pak siap!”

“Terus Kartini, kamu tahu tentang kode etik audit internal kan?”

Kartini terdiam, tentu saja tahu. “Ini gue diinterview lagi?” batinnya. “Tau Pak.”

“Nah, saya akan kasih tahu kamu kemana kamu akan pergi nanti. Kamu akan pergi ke Pekanbaru sama Nisa, nanti saya kenalin orangnya. Kamu berangkat tanggal 3 ya, berarti lusa. Nah, sampai tanggal 3 itu kamu jangan sembarangan bicara kalo kamu pergi tanggal segitu ya. Kalau ada yang tanya lebih baik jangan dijawab, karena kalau bocor nanti auditee sudah siap-siap.”

Kartini mengangguk. Ia merasa materi kode etik yang dipelajarinya sewaktu kuliah benar-benar sedang dijalaninya. Ia seperti mendapat pencerahan, dan hatinya begitu gembira. Sangat menantang. Pikirnya.

“Baik Pak!”

“Kalau begitu, ayo kita kenalan ke teman-teman audit dulu yaa.”

Kartini menyalami satu-satu orang-orang yang akan menjadi partner kerjanya. Namun ia bukan pengingat yang baik. Tidak ada satu pun orang yang ia ingat. Tidak ada yang berkesan hingga ia tiba di bangkunya. Ia berhadapan dengan laki-laki tinggi, hidungnya agak bulat, wajahnya kecil. “Edo.” Ujarnya.

“Kartini.”

Tidak ada satu pun yang dikenalnya. Ia tidak memiliki teman. Ia melihat sekeliling, mempelajari karakter orang-orang yang berada di dekatnya. “Udah berapa lama disini?”

“Baru 2 minggu.” Jawab Edo.

“Oh baru juga yaa.”

“Iya.”

Edo tidak banyak bicara, kurang asik bagi Kartini. Ia pun sebenarnya tidak banyak bicara pada orang baru, hanya saja ia ingin menjalin pertemanan. Ia butuh teman, butuh seseorang untuk menggali informasi tentang lingkungan yang akan ditempatinya ini.

Ada seseorang yang menarik perhatiannya. Gadis bertubuh agak berisi, ia banyak tertawa, sangat riang. Orang-orang memanggilnya ‘Yung’. Tangannya sibuk mengetik laptop tapi perhatiannya kemana-mana. Orang-orang tampak menyukainya. Siapa yang tidak menyukai orang yang periang seperti itu?

“Kartini..” sapa seseorang di sebelah Yung.

“Iya Mba?”

“Nanti siang makan apa?”

“Oh, aku bawa bekel Mba.”

“Nanti makan bareng kita aja, nanti aku ke bawah tapi makan disini kok.”

“Oh iya Mba, nanti bareng yaa.”

***

Jam istirahat tiba, Mba yang mengajak Kartini makan siang bareng sudah ke bawah. Namun Yung tetap diam di tempatnya. “Mba Yung, Mba Yung~”

Ia menoleh. “Eh, iyaa?”

“Mba Yung bawa bekel?”

“Eh iyaa, aku bawa bekel. Eh nama aku Erika. Panggil aja Erika.”

Kartini bingung. “Oh Erika yaa, maaf. Tadi dengernya Yung Yung itu.”

Erika tertawa. “Iya, emang dipanggilnya suka gitu sama anak-anak. Tapi panggil aku Erika aja.”

Kartini mengangguk. “Eh Payung! Selamat ulang tahun ya.” Laki-laki bertubuh tinggi, berwajah cukup tampan untuk seusianya, kulit putih dengan gigi gingsul yang membuatnya menjadi manis menyalami Erika.

“Eh iya Pak, makasi ya Pak..”

“Erika ulang tahun? Selamat ya Erika..”

Erika tertawa. “Iya, makasih yaa.”

“Eh kamu Kartini ya?” tanyanya. Dari logat bicaranya, tampak sekali laki-laki itu ceplas-ceplos.

Kartini mengangguk. “Iya Pak.” Kartini ingat ia telah berkenalan dengan laki-laki itu namun ia tidak tahu nama dan jabatannya apa.

“Udah tau pergi kemana?”

“Tau Pak.”

“Kemana?”

“Tau Pak.”

Kartini teringat akan kata-kata Pak Ariel. Bahwa ia tidak boleh sembarangan memberitahu kemana ia akan pergi mengaudit. Bapak itu tampak agak geram. “Iya tau saya kalo kamu tau. Tapi kemana?”

“Tau Pak.”

“Wah bener-bener. Tanggal berapa tau?”

“Iya Pak tau saya Pak.”

“Berapa?”

Kartini bingung, apakah yang ia lakukan sudah benar atau tidak. “Tau pokoknya Pak.”

“Kamu tau saya siapa?”

“Bapak emang siapa?” kalimat itu terlontar begitu saja.

“Masa dia ga tau siapa gue. Dia gamau kasih tau gue kemana dia pergi.” Ia berbicara pada orang-orang di kubikal sebelah.

“Itu Pak Eros, bos kamu.” Erika memberi tahu.

“Integrity itu integrity.” Celetuk perempuan bertubuh bongsor, wajah bermake up cukup tebal dan alis kerang, tegas kekinian.

Pak Eros pun berlalu. Ia geleng-geleng sambil tertawa kecil. Mulutnya tidak berhenti mendumal karena ia tidak mendapat jawaban dari Kartini. “Erika, salah ya aku jawab gitu?”

Erika tertawa. “Engga sih, dia juga udah tahu kok kamu jalan kemana. Kan dia yang buat jadwal.”

“Kamu jalan kemana Ka?”

“Oh, kalo aku ke Bali. Kalo Nala, yang tadi itu dia ke Probolinggo. Kamu kemana?”

Kartini menoleh ke sekitar. Ia berbisik. “Pekanbaru.”

Erika tertawa lagi. “Kamu ga perlu sampe segitunya baget kok. Kita kan sama-sama auditor disini.

“Begitu yaa.”

BAB III

LELAH

Meja berbentuk persegi panjang perlahan dipenuhi oleh orang-orang yang akan membahas evaluasi kerja. Beberapa sibuk dengan laptopnya, pekerjaan yang tiada habisnya menuntut mereka terus mencari-cari kesempatan untuk dapat bekerja.

Suara ketukan terdengar dari luar, perlahan pintu terbuka dan muncullah si anak baru—Kartini. Dengan wajah polos yang berubah menjadi tidak enak hati karena melihat sudah banyak orang berkumpul ia masuk. “Maaf telat.”

Ia segera menduduki kursi yang masih kosong. Beberapa sudah dikenalnya. Pak Eros dan Nisa. Pak Eros duduk tepat di hadapannya. “Kartini, kamu sebelumnya sudah bekerja?”

“Sudah Pak.”

“Dimana tuh?”

“Di konsultan Pak, sebagai service accountant.”

Pak Eros mengangguk seakan mengerti. “Berhubungan dengan klien?”

“Iya Pak, buat laporan keuangan klien Pak.”

“Berarti udah biasa berhubungan sama orang baru dong ya?”

“Iya Pak.”

“Bisa dong nanti ngaudit?”

Kartini tersenyum. Ia belum tahu bagaimana nanti, namun tidak ada pilihan—ia memang harus bisa. “Insya Allah Pak.”

Tidak lama kemudian, kembali terdengar ketukan pintu dari luar dibarengi masuknya dua orang laki-laki. Yang satu berwajah manis dan bertubuh tinggi tegap mengenakan kemeja kotak-kotak warna hijau berlengan pendek—Yoga. Satunya lagi bertubuh lebih rendah, sebelah alisnya naik, matanya agak sipit tampak seperti orang Jepang—Wahyu.

Hmm, sok iya banget itu yaa. Pasti udah nikah.” Batin Kartini melihat Yoga. Sudah telat, bukannya langsung duduk, Yoga malah berdiri.

Pintu kembali terketuk untuk ke sekian kalinya dan muncullah Pak Ariel yang ditunggu-tunggu. Rapat evaluasi pun dimulai setelah Pak Ariel datang.

***

Wayan menghela napas melihat layar laptopnya. Laporan yang dibuatnya banyak sekali komentar dari atasannya. Sudah review ke-5 namun laporan tidak kunjung oke dari atasan. Ia menutup laporannya, sengaja mengabaikannya lalu bersandar. Matanya terpejam, pikirannya mengawang. “Begini terus, kapan gue hidup. Hidup gue untuk kerja, kerja, kerja, dan kerja. Kasian eneng di rumah. Waktu abang kurang buat si eneng.” Mata Wayan kembali terbuka dan kembali menatap layar laptopnya. “Gue harus mencari pekerjaan yang ga nyiksa kayak gini.” Tangannya mencabut kabel jaringan yang terhubung ke laptopnya lalu menyambung tathering handphonenya. Ia membuaka browser dan mengirim aplikasi lamaran ke aplikasi lamaran kerja. Banyak, begitu banyak lamaran yang ia sebar ke beberapa perusahaan yang tengah membutuhkan tenaga professional.

“Ckckckckck.”

Mendengar suara decakan, jantung Wayan sudah mau copot. Ia buru-buru menutup laptopnya. “Lu ngapain Yan?”

Wayan menoleh, Handi didapatinya. Wajahnya kesal setelah tahu kalau yang barusan berdecak adalah Handi. “Ah kupret! Gue pikir Pak Munir.”

“Lagian lo serius banget, lo apply kemana aja? Gua juga ah, mau apply.” Ujarnya dengan intonasi yang sangat datar, tidak berirama. Kedua tangannya masuk ke saku celana, lehernya goyang-goyang bak orang India.

“Banyak. Udah sono lu!” Wayan mendorong Handi agar menjauh darinya.

Handi kembali ke tempat duduknya. Ia ikut membuka kabel jaringan yang terhubung ke laptopnya kemudian membuka browser dan mencari lowongan pekerjaan. “Wah, ada lowongan nih, tapi di Bandung.”

Handi berpikir sejenak, tangannya terdiam di atas mouse. “Gua disini merantau, kerja di Jakarta pun cuma dua mingguan di Jakarta selebihnya di luar kota begitu terus sampe mampus. Kalo gua apply yang di Bandung ini ga ngaruh lah. Ah coba aja deh.” Ujarnya pada diri sendiri.

Ckckckckck.”

Handi buru-buru menutup laptopnya setelah mendengar suara decakan tepat di telinganya. Ia menoleh ke sumber suara, ia benar-benar bertatap muka dengan Wayan yang membungkuk. “Kampret lu, gua pikir Pak Daniel.”

Wayan tertawa puas. “Muka lu kayak kenalpot deborah tau ga.”

“Kenapa begitu?”

“Ngeselin.”

Handi terkekeh geli, sekali lagi ditegaskan ekspresinya tetap datar. “Lu mau tau ga muka lu kayak apa?”

“Apaan?”

“Aspal basah.”

“Kenapa begitu?” Tanya Wayan. Namun tidak ada jawaban. Handi hanya tertawa dan tawanya semakin geli. “Ah, gua tau. Kok lu kayak primata sih?”

“Monyet?”

“Iya.”

Mereka berdua tertawa tidak sudah-sudah. “Emang apaan tadi aspal basah?”

“Item kan?”

“Lu pinter Yan. Kok kerja disini sih?”

“Ga tau gua juga.”

Hawa dingin tiba-tiba menyeruak sekeliling mereka. Perasaan tidak enak menyelubungi mereka. “Wayan, kok laporan ga dijawab-jawab sih?” Pak Munir komplit dengan kumisnya menegur Wayan.

“Mampus.” Celetuk Handi.

“Iya Pak, tinggal saya kirim kok.”

“Bener kamu?”

“Iya Pak.”

“Engga, saya perhatiin dari tadi kamu ngedeketin Handi terus. Emangnya Handi belum ngasih jawaban ke kamu?”

Wayan tidak paham dengan omongan Pak Munir. “Ha? Ah, iya Pak iya saya kirim nih ya.” Tidak mau panjang urusan, Wayan cepat-cepat kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan pekerjaannya. Pak Munir masih berdiri di dekat meja Handi yang hanya berjarak 2 meter dari kursinya.

“Ngapain kamu ngelirik-ngelirik ke saya?” Tanya Pak Munir.

“Engga Pak.”

Handi puas sekali mendengarnya, ia tertawa, terhibur di tengah-tengah rasa jenuh yang melandanya. “Handi, kok kabel jaringannya dicopot? Lagi apply-apply ya?” celetuk Pak Munir.

Kini giliran Wayan yang tertawa. Tidak hanya Wayan, beberapa teman kerja yang lain pun ikut menertawai Handi.

Handi hanya bisa ikut tertawa dan memasang kembali kabel jaringannya. “Tadi kesenggol Pak, lepas.” Kilahnya.

***

Rapat evaluasi selesai, Yoga dan Wahyu buru-buru keluar dari ruangan. “Gue udah males nih disini, Ga.”

“Lah, kenapa Way?”

“Ya, udah males aja. Kerjaan yang satu belum kelar, udah ada lagi. Sebentar lagi udah berangkat lagi. Laporan menggulung. Stress ga lu.”

Yoga mengangguk. “Lo udah ada emang rencana kemana gitu?”

“Belum ada sih, tapi gue udah apply ke beberapa tempat. Ya tapi gitu, belum ada yang nyangkut. Belum ada yang manggil gue.”

“Sabar aja bro.”

Wahyu tersenyum. “Iya. Lu ga ada niatan untuk keluar dari sini?”

Yoga tidak menjawab, ia hanya nyengir kemudian menekan tombol lift. Tidak lama pintu lift terbuka, mereka pun masuk ke dalamnya. “Anak baru yang tadi, disaat kita-kita udah pada capek dia baru masuk dan keliatannya semangat banget.”

“Engga ah, pendiem anaknya bro.”

Wahyu terkekeh. “Bukan gitu maksud gue, Ga.”

“Ooh iya iya gua paham. Ya, biarin aja nanti juga dia sadar sendiri. Tapi kalo dia bertahan lama ya berarti dia strong.”

to be continued..

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *