Cinta Pada Pandangan Pertama Lima Tahun Lalu

Aku tersenyum ketika melihat notifikasi muncul dari gawaiku. Sudah lima tahun aku mengenal orang ini. Tapi aku tidak yakin apakah aku pernah bicara langsung dengannya. Ia masih menarik, sama seperti lima tahun lalu.

Jeans belel, kemeja kebesaran, dan sepatu converse warna hijau army yang tidak kalah belelnya, suatu kebanggaan. Sambil menenteng-nenteng sebuah proposal acara, aku menggandeng anak perempuan bertubuh mungil dan rambut bergelombang yang dikuncir aut-autan. Pakaiannya tidak kalah belel dariku. Siapapun yang melihat kami, pasti sudah menebak kalau kami adalah mahasiswa yang mencurahkan tenaga serta pikiran untuk organisasi—tanpa dibayar, terbuai dengan doktrin menambah pengalaman yang berujung keasyikan.

Langkah kami berjalan pasti menuju ruang kemahasiswaan, ingin mengkonfirmasi sesuatu sebelum menyerahkan proposal acara ke ruang Wakil Dekan. Belum sampai tangan mendorong handle pintu ruang kemahasiswaan, masih butuh sekitar sepuluh langkah untuk merealisasikannya—di depan ruangan tersebut terdapat kursi panjang. Ada sekitar lima orang anak laki-laki berkumpul di sana. Langkahku tersentak, membuat Dika—gadis mungil yang bersamaku pun ikutan menghentikan langkahnya. “Kenapa, kak?” tanyanya.

Aku tidak buru-buru menjawab pertanyaan Dika. Dari lima anak laki-laki yang duduk dan berdiri di depan ruang kemahasiswaan, hanya satu yang bersinar. Dia yang paling putih, paling tinggi, paling… ganteng. “Dik. Dik.” Aku menepuk bahu Dika tanpa melepas pandangan sedikit pun.

“Apa sih, Kak? Kenapa? Kenapa?”

“Cakep, Dik. Yang pake baju cokelat.”

Tidak butuh lama untuk Dika mengerti siapa yang aku maksud. Ternyata Dika kenal, teman seangkatan katanya. Karenanya, tidak sulit bagiku untuk mengetahui siapa namanya dan apakah dia lajang atau tidak. Ah, ternyata tidak sulit untuk jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lajang, hidupnya terlalu bersih dari isu dekat dengan anak perempuan. Itulah yang aku tahu. “Kak, lu mau kontak BBMnya gak?” tawar Dika—saat itu BBM messenger sedang mendewa.

“Serius, Dik? Mau lah. Eh tapi, nanti diterima apa engga? Kan gak kenal.”

“Udeh, coba aja, kak. Ga diterima juga ga ngaruh, kan gak kenal.”

Benar juga Dika. Memang tidak salah aku merekrutnya menjadi Ketua Pelaksana Acara Seminar Motivasi, cara berpikirnya sangat logis. Tanpa tedeng aling, aku pun langsung meng-invite kontak BBMnya. Tanpa perlu uring-uringan, undanganku diterimanya.

Namun kesibukanku di organisasi, skripsi, magang, kantor baru, membuatku melupakan cinta pada pandangan pertamaku di lima tahun lalu itu. Benar-benar lupa sampai akhirnya aku gembira karena kelulusanku. Namun aku diingatkan kembali ketika ia mengirimiku pesan di BBM. It was the first time kita berkomunikasi.

Aku adalah fresh graduate dan dia adalah mahasiswa tingkat akhir. Aku satu tingkat lebih dulu dalam hal pengalaman bekerja. Dia pun bertanya-tanya mengenai dunia pekerjaan, kebetulan kami satu jurusan yang memungkinkan dunia kerja kita akan sama. Namun setelah itu, tidak ada lagi komunikasi yang terjadi di antara kami.

Aku ingat beberapa notifikasi yang muncul karena ia menambahkan aku sebagai temannya di path dan instagram. Namun karena sudah tidak lagi ada kesan, segala bentuk postingannya hanya seperti angin lalu. Aku mungkin memberikan reaksi di postingannya namun tidak pakai hati. Aku pun pindah kerja, namun dia masih berjuang dengan skripsinya. Bagaimana aku tahu? Karena aku belum melihat postingan kelulusan darinya di saat teman-teman seangkatannya memposting foto dirinya mengenakan setelan hitam putih—sehabis sidang skripsi.

Di tempat baruku, aku bertemu dengan kekasihku. Orang yang begitu penting bagiku, hingga aku tidak lagi memikirkan siapapun kecuali dirinya. Apalagi dia—cinta pada pandangan pertamaku lima tahun lalu. Sama sekali tidak terpikirkan. Namun orang yang dulunya penting, kini sudah tidak lagi penting. Aku menikmati kesendirianku sudah setahun. Bukannya belum move on, aku sangat marah bila orang-orang berpikir demikian. Hanya saja, aku sedang memperbaiki diri dari apa yang telah rusak sebelumnya.

Akhir-akhir ini, tanpa sadar hariku tampaknya tidak jarang diisi olehnya—cinta pada pandangan pertama lima tahun lalu. Aku mulai memikirkannya ketika beberapa kejadian berhubungan dengannya. Walau tidak langsung. Beberapa waktu lalu, seniorku di kampus menghubungiku kalau ia bertemu dengan junior yang mengenalku yang tidak lain adalah dia. “Lo sama dia aja, dia tampaknya anak baik.”

Aku hanya membalas dengan balasan pasrah, karena memang bukan aku yang menentukan, melainkan Tuhan alam semesta. Tidak lama, dia menghubungiku dan memberitahuku kalau dia bertemu dengan temanku.

Belum lama lagi, aku saling kirim pesan dengan juniorku dulu di kampus yang tidak lain adalah teman satu genknya. “Dia juga kerja di sektor yang sama, loh.” Kataku kepada junior yang benar-benar seperti adik sendiri.

“Kok tau sih, kak?”

“Kan suka balas DM instagram.” Jawabku tanpa memikirkan hal lain.

Ternyata hal itu sangat menarik bagi juniorku. Alasannya, karena akhirnya ia berhasil menemukan celah bahwa dia dekat dengan cewek! Ah yang benar saja, sejak lima tahun lalu aku mengenalnya, masih saja tidak ada gosip atau isu-isu hangat tentang kedekatannya dengan seorang wanita. Bahkan, teman dekatnya sendiri pun tidak tahu. “Gue ledekin dia boleh, kak?”

Aku pun terang melarang, karena aku tidak sampai kepikiran akan menjadi suatu yang besar. Lagipula, balasan kami bukan obrolan yang spesial. Dan, aku pun tidak memiliki perasaan senang atau semacamnya. “Gue gak bilang-bilang deh, kalo itu lu.” Juniorku masih terus meminta.

Namun akhirnya, kami setuju untuk tidak sampai hal tersebut terjadi.

Hal itu cukup menggangguku akhir-akhir ini. Membuatku teringat kejadian lima tahun lalu di depan ruang kemahasiswaan. Laki-laki gateng, aku yakin banyak teman perempuan seangkatannya yang mau jadi pacarnya tau bahkan hanya sekedar gebetan. Tapi ia sangat berhati-hati sehingga tidak ada gossip satu pun tentang kedekatannya dengan wanita.

Aku sedang meng-archive beberapa postinganku di instagram karena alasan tertentu. Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya. Selama lima tahun ini, ternyata dia cukup aktif mengomentari setiap postinganku. Aku tidak pernah sadar akan hal itu. Mengenai hal itu, cukup membuat malam ini berwarna..

Dear cinta pada pandangan pertama lima tahun lalu, tampaknya kita harus mengobrol langsung untuk pertama kalinya?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *