Di Belakang Punggungmu

Kurus tinggi dibalut kaos putih sedikit dekil dan belel. Tulang belakangnya sedikit menonjol, tangannya ia selipkan di saku.

Sore itu di sebuah pasar, banyak lukisan-lukisan yang tidak aku mengerti, ada yang berdagang pakaian yang bisa aku beli untuk oleh-oleh juga. Tapi tidak aku beli, aku hanya diam-diam mengikutinya dari belakang.

Seperti ini, aku mulai menyukai punggungnya dulu. Sebelum akhirnya aku mulai terbiasa dengan obrolan-obrolannya yang ramah. Aku tidak mudah untuk merasa nyaman, entah mengapa dengannya aku merasakan serangga berkerumun di dalam perutku. Ingin aku guling-guling di atas kasur ketika mendapat pesan darinya. Ingin aku senyum-senyum setiap membayangkan wajahnya yang samar aku ingat.

Sore itu di sebuah pasar, aku diam-diam mengambil potret punggungnya. Aku menghela napas panjang, seperti bingung dengan perasaan sendiri. Ingin sekali aku melepaskan perasaan tertahan ini, namun aku malah kebingungan. Maksud hati agar tidak terjerembab dalam sebuah permainan, namun aku malah menyiasati diriku untuk menjadi begitu sedih.

Apa yang harus disedihi? Aku kembali memandangi punggungnya diam-diam, selama ia tidak menoleh, aku terus membayangkan rupanya yang semakin hari semakin samar. Namun aku ingat sudut matanya yang tajam, rambutnya yang lurus, dan bicaranya yang cukup tegas.

Saat itu bicara di depan umum, aku berdiri di arah jam 2 dari tempatnya berdiri. Kemudian ia memimpin sebuah do’a. Ada decakan kagum ketika mendengarnya bicara, sama sekali tidak terdengar gugup. Aku menunduk dan memejamkan mata, bersamaan dengan yang lainnya bermunajat kepada Tuhan agar melimpahkan Rahmat-Nya hari ini.

Selagi ia belum menoleh, aku hanya memandangi punggungnya di balik kaos putih yang sudah tipis itu. Tampaknya sudah berkali-kali dicuci dan dijemur di siang yang terik. Diperas oleh mesin cuci tukang laundry yang begitu kasar. Selagi ia masih memunggungiku, aku mengingat-ingat wajahnya lagi. Ia yang kala itu duduk di atas meja kerjanya, begitu fokus dengan layar memandangi kertas kerja yang buatku sangat menjemukan, entah bagaimana baginya.

Selagi ia belum menoleh, aku teringat saat ia berdiri aku melihatnya dari samping, dengan hidungnya yang tajam, sudut matanya yang tajam, dan dari samping ia memang sangat kurus. Kemeja kedombrongnya menutupi tubuh kurusnya, menutupi punggungnya yang aku pandangi saat ini.
Saat ini, aku merasakan perasaan yang cukup aneh. Aneh dan berlebihan. Aku terus saja berusaha untuk mengingat potretnya sampai aku kesal kenapa ia tidak juga menoleh. Lama-lama semakin kabur namun semakin nyata.

“Mas!” aku berteriak.

Seisi pasar menoleh ke arahku, termasuk dirinya. Aku sudah tidak dapat menahan apa yang mendidih di dalam diriku. Tampak depannya tidak kalah belel dari tampak belakang. Aku ingin berlari menghambur ke arahnya. Namun langkahku tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya diam membeku sembari melihat wajahnya.
Benar, sudut matanya memang tajam. Hidungnya runcing. Kulitnya cokelat. Rambutnya lurus, kini sedang dipotong pendek. Aku hampir saja lupa bagaimana rupanya, namun sedikit memori yang tersisa ternyata memiliki nilai seratus. Ingatanku cukup tajam.

Perlahan ia tersenyum. Ia mengeluarkan satu tangannya yang tadi terselip di saku celana. “Hai.” Sapanya.

Aku tersenyum, begitu merekah. Begitu saja tanpa aku komando. Seisi pasar masih menoleh ke arahku, aku menunduk malu. “Hai.” Sapanya kembali, kini aku melihat ujung kaki kurusnya yang beralas sandal jepit. Suaranya terdengar dekat.

 

Next Story: Pasar Sudah Tutup

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

3 thoughts on “Di Belakang Punggungmu

  1. Pingback: Pasar Sudah Tutup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *