Gaun Hijau – Part of Buruan Resign

Teruntuk Wahyu, Erika, Nala, Mas Yoga, Mas Dede, Edo, Yuli, Handi, Ibnu, Wayan, Meli, dan Tiwi

“Jadi, tadi setan apa yang lu liat Ndi?” tanya Wayan. Ia begitu tertarik dengan pengalaman yang dialami Handi.

“Mending lu ke lantai 10 aja Yan.”

Wayan bergidik. “Ogah.”

“Kayaknya mah setan keder.” sahut Yuli. “Gue sama si Handi kucrut dibuat keder.”

“Kederisasi.”

“Gak lucu Wayan!”

“Yauda sih pee siapa yang ngelucu jugaa..”

“Pa pe pa pe, emangnya gue tempe!” Yuli marah-marah.

Handphone Erika bergetar. Edo Permana. “Eh Edo telepon. Pada diem! Edo nelpon nih!”

“Erika. Gue di bawah. Jemput dong..”

“Lo bukannya kumpul sama temen-temen lo ya?”

“Temen gue pada ngeclub Ka. Gue ga bisa ngeclub.”

“Oke Do. Nanti gue suruh yang cowok-cowoknya jemput lo.”

“Gua ga mau.” ujar Handi walau belum ditanya. “Pokoknya sebelum matahari terbit, gua ga bakalan mau keluar!” tambahnya.

Erika menghiraukannya. “Yu, lo mau ga jemput si Edo?”

“Yaudah. Tapi jangan sendirian juga. Ga, Yan, temenin gua.”

“Ah pe, gitu aja lu takut sih.” cibir Wayan.

“Iya takut gua. Lu berani sendiri?”

“Pake ditanya.” Wayan beranjak dari duduknya menuju pintu keluar. “Lah pada ngejedog aja. Sini lu pada temenin gua.”

Orang-orang dibuat tertawa oleh sikap Wayan. Yoga dan Wahyu pun menghampirinya.

Mereka berjalan menuju lift. Selagi menunggu beberapa detik hingga lift terbuka, lampu koridor yang terang tiba-tiba mati nyala mati nyala bak film-film horor. Wahyu dan Wayan merapat ke tubuh Yoga yang lebih tinggi dari mereka. Tiba-tiba, dari ujung koridor terdengar suara geretakan gigi yang membuat siapa saja ngilu mendengarnya.

Samar-samar, dikala lampu mati sosok perempuan berdiri seperti tengah memandang mereka namun seketika hilang ketika lampu kembali menyala. Yoga menekan-nekan tombol lift agar cepat terbuka. Tiada satu pun dari mereka yang bersuara. Liur mereka tercekat di tenggorokan. Kaki lemas dan jantung berdebar-debar.

Pintu lift terbuka. Mereka berebutan masuk. Dengan sigap, Wayan menekan tombol tutup kemudian tombol Ground. “Pe, ini apartemen emang horor. Terus orang-orang pada kemana ya? Perasaan tadi rame deh. Ini kenapa jadi kita-kita doang?”

Yoga merogoh saku jeansnya. Ia berdecak kesal. “Apartemen ini emang engga beres bro. Gua ga bawa hape. Ada yang bawa?”

Wahyu dan Wayan menggeleng. “Harusnya kita keluar aja dari apartemen ini. Tapi, mereka masih disana.”

Lift terbuka. Lobby apartemen begitu sepi, seperti tidak ada kehidupan. Aneh. Beberapa jam lalu, ketika langit masih terang banyak orang berlalu lalang di lobby. Kebanyakan anak muda yang memiliki tujuan sama dengan mereka, merayakan malam tahun baru karena kehabisan vila murah di puncak.

Di dekat vas bunga, laki-laki tinggi mengenakan kemeja kotak-kotak dan jeans berdiri sembari mengutak-atik handphonenya. “Edo!!”

Sang empunya nama menoleh. Ia tersenyum lalu menghampiri teman-teman yang memanggilnya. “Sepi banget ya apartemennya.”

“Apartemennya berhantu Do..” bisik Wayan.

Mata Edo membulat. Wajahnya menjadi tegang seketika. “Masa sih?”

“Sebelumnya si Handi sama Yuli dikerjain. Terus tadi pas mau ke lift pas mau jemput lu, kita ngeliat penampakan.” Wayan menjelaskan dengan berapi-api.

“Do, pinjem hape lu.” pinta Yoga.

Edo memberikan handphonenya. “Ngehang. Tiba-tiba ngehang setelah ngehubungin Erika.”

“Lu sih hubunginnya Erika.”

“Bro Wayan, masih aja lu di saat-saat seperti ini.” Wahyu cekikikan.

“Tapi anehnya, pas gue jalan kesini juga engga ada siapa-siapa. Awalnya gue ga curiga, mungkin mereka pada keluar. Ini kan apartemen bukan hotel. Tapi, sama sekali ga ada orang. Aneh kan.”

Atmosfer sekitar mereka menjadi aneh. Mencekam, menakutkan, dan mengganggu. Udara menjadi dingin. “Kita harus apa?” tanya Wayan.

“Kita ga mungkin ninggalin temen-temen kita di atas. Kita ke atas aja dulu. Kayaknya di atas aman.” jawab Yoga.

“Aman apanya? Tadi kan lu sendiri liat Ga..”

Yoga menghela napas. Berpikir keras. “Kalian mau ke atas? Gue mau cari bantuan di luar nanti gue balik lagi.”

“Lu ga apa-apa bro, sendiri?” tanya Wahyu khawatir.

“InsyaAllah ga apa-apa.”

Yoga berjalan keluar dan dengan cepat menghilang setelah berbelok melewati pintu. Wahyu, Wayan, dan Edo mulai melangkah menuju lift. Terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar semakin mendekat ke arah mereka. “Lari! Lari!” teriak Yoga.

Spontan, mereka bertiga menuruti perintah Yoga. Wayan menoleh ke belakang. Pemandangan yang sangat tidak mengenakan didapatinya. Seorang Wanita berhagaun hijau, wajah pucat berjalan seperti kuda dengan kepala mirig dan giginya yang hitam bergemeretak.

Panik, Wahyu buru-buru menekan tombol lift. Pintu lift terbuka. Wahyu menekan tombol angka 10 setelah menekan tombol tutup. “Kok 10?!!” Yoga langsung menekan tombol 9 tanpa menunggu jawaban Wahyu.

“Sumpah, baru kali ini gua liat ada tombol angka 10.”

Rasanya lift naik sangat lama. Tombol angka 2 tiba-tiba menyala. Mereka berempat merapat ke belakang. Pintu lift perlahan terbuka. Gelap gulita. Tidak terlihat apapun di luar sana. Waktu seakan berhenti. Mereka semua beku ketakutan. Yoga memberanikan diri melangkah maju untuk menutup pintu lift. Saat tangannya meraih tombol tutup, tanpa peringatan tangan pucat kotor yang datang dari kegelapan menarik pergelangan tangannya yang kurus. “Aaakkk!!” Yoga teriak histeris diikuti Wahyu, Wayan, dan Edo.

Wahyu membantu Yoga melepaskan tangan kotor itu. Pintu lift perlahan menutup dan tangan kotor itu terlepas. Ruang depan lift yang tadi gelap nyala tiba-tiba dibarengi penampakan sosok wanita bergaun hijau yang mereka lihat di lobby. Ia tertawa sembari menggeretakkan giginya.

“Sumpah ini ga main-main.” Yoga memandangi pergelangan tangannya yang baru saja bersentuhan dengan makhluk gaib.

“Ngeri banget Ga. Seumur-umur gua ga pernah bercita-cita ketemu setan.”

“Sama Way, gua bercita-cita ketemu jodoh gua Way..” sahut Yoga.

Tiba-tiba terdengar suara aneh dekat kaki mereka. “Wayan!!” teriak Edo panik. Mata Wayan terlihat putihnya saja.

“Gua ga kesurupan..”

“Yang bilang lo kesurupan siapa?”

“Kirain Yu..” jawab Wayan terdengar lemah.

“Bangun lu.”

“Ga bisa.. Gua lemas. Kaki gua kayak ga bertulang.”

Tibalah mereka di lantai 9. Dengan sigap Wayan keluar dari lift dan lari tunggang langgang menuju apartemen yang telah disewanya. “Sial tuh anak. Kita malah ditinggal.” protes Yoga.

Pintu lift hampir tertutup kembali sementara mereka masih berada di dalam. Wahyu menahan pintu lift dan mereka keluar berlari tunggang langgang mengikuti jejak Wayan.

“Mas Yoga~” suara lirih memanggil dari ujung koridor.

“Way, setannya tau nama guaaa~”

“Lari aja Ga!”

“Ini gua lagi lari.”

“Mas Yoga~~”

Tanpa menoleh ke belakang, mereka terus berlari hingga tiba di ruang yang mereka sewa. Semua orang telah menunggu mereka. Dalam waktu singkat Wayan sudah menceritakan apa yang dialaminya.

“Setannya kenal gua.”

“Kenalan tadi?” tanya Dede.

“Bukan kenalan. Tapi kenal gua De..”

 

Previous Story: Malam Pergantian Tahun Handi dan Yuliana

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *