Keseruan Outing Perdana Audit Team

Setelah cukup lama tidak menulis tentang sebuah perjalanan, kini aku akan kembali membagikan cerita perjalananku bersama teman-teman satu timku. Bagi yang belum pernah membaca tulisan-tulisanku terdahulu, pastinya belum tahu apa profesi yang aku jalani saat ini. Aku bekerja sebagai auditor yang memeriksa sebuah laporan keuangan perusahaan. Bukan hanya satu atau dua, melainkan lebih dari itu. Tentu saja, teman-teman satu timku pun adalah seorang auditor.

Anggota tim kami berjumlah 10 orang dimana terdiri dari dua orang partner audit (seorang akuntan publik yang telah memiliki sertifikasi di sebuah Kantor Akuntan Publik, lebih mudahnya adalah seseorang yang memberikan opini di dalam laporan keuangan yang sudah diaudit), dua orang senior audit, dan enam orang associate audit.

Sejak jauh-jauh hari, kami sudah merencanakan sebuah outing yang akan dilaksanakan pada saat low season. Sekedar informasi, dalam audit laporan keuangan, kami memiliki dua masa: peak season dan low season. Peak season adalah masa dimana kami seakan-akan mencurahkan hidup kami hanya untuk pekerjaan. Ah, lain kali baiknya aku akan menulis tentang Audit. Bagaimana? Aku terdengar seperti sangat mencintai pekerjaanku, ya?

Sebenarnya outing ini diibaratkan sebuah “hadiah” dari hasil kerja keras kami pada saat peak season yang diberikan oleh dua orang partner kami—Mba Nadya dan Bang Rio, karena kami diizinkan cuti cukup lama dan tidak perlu membayar full untuk outing ini. Yeay! Sebenarnya tidak bisa dibilang outing juga, sih karena tidak ada campur tangan perusahaan sama sekali. Ini murni ide dari dua orang partner kami yang mana kami semua aminkan.

Mba Nadya dan Bang Rio yang sudah tahu betul kalau aku ini hobinya jalan-jalan, mereka pun mempercayaiku untuk menyusun semuanya. Mulai dari menentukan tempat, tanggal hingga itinerary, semuanya terserah Kartini. Hemm, kepercayaan itu bisa jadi suatu hal yang cukup memberatkan juga menyenangkan, ya secara tidak langsung semuanya memberikanku kebebasan untuk mendatangi tempat yang ingin aku datangi. Aku mengusulkan untuk pergi ke Malang dengan tujuan utama adalah Bromo. Mba Nadya dan Bang Rio pun setuju dengan usulku. Setelah menentukan dua opsi tanggal dan tempat-tempat yang akan didatangi, aku mengadakan meeting internal untuk membahas outing perdana ini.

Wisata Alam Batu, Clungup Mangrove Conservation, dan Bromo adalah tiga tempat yang aku lemparkan saat itu. Kenapa aku memilih ketiga tempat itu? Alasannya adalah agar kami menikmati ketiga jenis alam yang Tuhan ciptakan—bukit, lautan, dan pegunungan. Aku sadar, kami semua sangat butuh kembali ke alam alias back to nature. Namun sangat disayangkan, Bang Rio dan Bang Sapto tidak bisa ikut karena ada urusan keluarga.

Oh ya, sebelum meluncur ke keseruan kami selama di Malang, aku akan perkenalkan para anggota timku. Mba Nadya, seorang ibu partner yang memiliki wajah awet muda seperti bayi alias baby face. Beliau memiliki hati yang sangat lembut, tidak pernah membentak sehingga membuat kami begitu respect dengannya. Pemimpin itu bukannya untuk ditakuti, melainkan disegani, betul atau betul?

Bang Rio, bapak partner yang dulunya adalah senior aku langsung. Dari pertama kali terjun sebagai auditor eksternal, Bang Rio lah yang mengajariku. Sosok yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, dan sangat perfectionis dalam hal kerjaan.

Bang Rio dan Mba Nadya

Bang Sapto, laki-laki beristeri satu. Sangat pandai dalam hal membuat kertas kerja maupun laporan audit. Tampaknya semua akun di dalam laporan keuangan ia kuasai. Pintar? Bisa dibilang begitu. Cerdas? Tampaknya begitu. Tapi biar begitu, orangnya jenaka abis. Walau jenaka, kalau lagi kerja seriusnya minta diseriusin banget sih~ eh minta ampun.

Bang Sapto

Bang Nanda, laki-laki belum beristri. Semoga coming soon acara walimatul ‘ursy-nya. Do’ain aku juga ya, Bang biar soon juga. Kepada para pembaca juga, do’akan ya. Ih, curhat banget sih, Kar. Semakin banyak yang mengaminkan, semakin cepat terkabul harapannya. Aamiin. Ya, Bang Nanda itu adalah orang yang kocak, dia suka sekali bernyanyi dan mengeluarkan suara aneh dari mulutnya, tapi kalau lagi serius aku takut.

Bang Nanda

Puspa, ia adalah sahabatku sejak kuliah semester 1. Betapa bersyukurnya aku bisa satu tempat kerja dengan Puspa. Rasanya hari-hariku menjadi lebih berwarna. Kia, teman satu angkatanku di kantor. Felis, Andrew, dan Ruth mereka bergabung setelah aku satu tahun bekerja.

Puspa
Felisya
Kia
Ruth
Kartini
Andrew (center)

Walau belum pernah ke Malang sebelumnya, dengan kekuatan Mbah Google dan sebubuk intuisi jreng jreng jreng~ itinerary pun jadi dan kami siap berangkat tanggal 24 – 28 Agustus 2018.

24 Agustus 2018

(Stasiun Pasar Senen – sebuah tempat di Jawa Tengah sana)

Kami naik kereta Matarmaja dari Stasiun Pasar Senen. Aku, Puspa, dan Mba Nadya berangkat bareng menggunakan kereta pemberangkatan Bogor. Bang Nanda, Andrew, naik ojek online dari rumah masing-masing. Felis dan Ruth menggunakan moda transportasi lain. Sementara Kia berangkat dari rumahnya di Ciamis—Kia sudah ambil cuti sebelum Idul Adha.

Mba Nadya, Ruth, Puspa, dan Felis duduk di seat yang sama sementara aku duduk di seat yang sama dengan Bang Nanda dan Andrew. Aku, Bang Nanda, dan Andrew saling bercengkerama dan bercanda begitu seru di dalam kereta, salah satunya “perang” foto dan mengirim ke dalam grup Outing Perdana. Tampaknya kami bertiga “seru” sendiri.

25 Agustus 2018

(Sudah di Solo, Ponorogo oh Ponorogo, Blitar, Kesamben, Malang)

Setelah lelah, kami pun akhirnya ketiduran walaupun sangat sulit untuk tidur karena kondisi sandaran kursi yang begitu tegak. Namun rasa lelah dan kantuk akhirnya mengalahkan rasa tidak nyaman akibat sandaran kursi yang begitu tega. Kami semua sudah berada di alam tidur masing-masing. Namun aku begitu kesulitan untuk tidur, karena setiap kali nyenyak aku selalu jatuh sehingga membuat aku terbangun.  Beda halnya dengan Bang Nanda dan Andrew, tampaknya mereka begitu pulas. Bahkan, beberapa kali alarm Bang Nanda berbunyi di pukul 2 (kalau tidak salah) ia tidak dengar sehingga aku terpaksa untuk mematikannya dan ternyata snooze automatically, err.

Aku pun memutuskan untuk menikmati rasa sepi di tengah keramaian. Pandanganku terlempar ke arah penumpang yang lain hingga kereta berhenti di Stasiun Ponorogo. Jantungku berpacu dengan cepat, akhirnya aku berhenti di Stasiun yang aku mimpi-mimpikan sejak dua tahun lalu sampai beberapa bulan silam. Tiba-tiba aku galau, dan aku pun ngetweet lalu menscreenshot tweetanku dan share ke whatsapp story. Eh, tidak disangka-sangka ada orang Ponorogo yang hampir menjadi adikku (gimana ya) menanggapi story-ku.

Subuh, aku membangunkan Bang Nanda dan Puspa untuk solat subuh (Andrew, Mba Nadya, Felis, dan Ruth tidak solat karena mereka adalah seorang Advent). Tapi rasa-rasanya seperti ada yang tidak beres dengan perutku, benar saja aku kedatangan tamu bulanan. Dengan segera, aku meminum asam mefenamat untuk membunuh rasa sakit yang biasanya sangat mengganggu di hari pertama kedatangan tamu bulanan. Asam mefenamat itu membuatku menjadi sangat ngantuk sehingga aku tertidur dan terbangun ketika sudah berada di Blitar. Ternyata Blitar dingin! Kereta berhenti di Stasiun Blitar. Perutku yang sudah tidak terasa sakit, membuat kakiku pecicilan dan keliling gerbong. Aku ingin mengambil sunrise namun sangat sulit. Setidaknya aku merasakan udara sejuk Blitar sementara yang lain duduk di seat masing-masing.

Fajar di Blitar

Tidak lama, kereta pun melesat hingga tibalah kami di Stasiun Malang. Kia sudah tiba di Stasiun Malang satu jam lebih cepat dari kami. Setelah bertemu dengan Kia, aku ditemani Bang Nanda menemui pihak rental mobil untuk lepas kunci dan membayar pelunasan sewa mobil. Selama perjalanan kami di Malang, Bang Nanda-lah yang bertugas menjadi supir.

Kami bergegas ke GMAHK Dieng Malang – salah satu Gereja Advent di Malang untuk mengantar Mba Nadya, Felis, Ruth, dan Andrew beribadah. Selagi mereka beribadah, kami (aku, Bang Nanda, Puspa, dan Kia) main di daerah alun-alun sembari mencari sarapan dan menunggu waktu solat dzuhur. Kami sarapan pecel sayur dan harganya sangat mengejutkan, hanya Rp6.000,- sudah dengan bakwan dan rempeyek. Setelah kenyang, kami menuju Masjid Jami Agung Malang untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah solat dzuhur. Selagi Bang Nanda, Puspa dan Kia ke dalam untuk beribadah, aku di luar masjid duduk-duduk sampai ketiduran karena udaranya yang begitu sejuk didukung oleh lantai masjid yang dingin. Sampai saat ini aku masih tidak habis pikir kalau aku bisa-bisanya ketiduran di tengah-tengah orang banyak. Pules, lho. Aku terbangun setelah merasakan getaran dari handphoneku. Felis mengabari kalau mereka hampir selesai ibadah.

Kami kembali ke GMAHK Dieng Malang untuk menjemput mereka, setelah itu melesat lanjut ke Batu. Seperti pengalamanku sebelum-sebelumnya tiap kali berpergian, kami menggunakan GPS untuk menuju Batu. Disini, Andrew lah yang bertanggung jawab sebagai PIC GPS. Di daerah Dau, kami berhenti untuk makan siang di sebuah Resto yang dikelilingi pemandangan sawah. Namun karena aku, Puspa, dan Kia masih sangat kenyang akibat nasi pecel yang seabreg-abreg, kami pun berkeliling mencari spot foto selagi yang lain makan. Harga makanan di Malang memang sangat mengejutkan, semuanya murah. Bahkan rata-rata harga makanan di sebuah Resto yang kelihatannya “bakalan mahal”, pun per porsinya tidak sampai Rp20.000,-

Pemandangan dari atas Resto
Sebuah foto yang absurd di Resto

Batu Flower Garden

Tempat wisata yang kami datangi pertama kali adalah Batu Flower Garden. Namun karena kesorean, jadinya kami tidak sempat mengeksplor semua tempat disana. Namun biar begitu, keseruan tidaklah berkurang. Kami yang hobi foto-foto, difotoin lho sama orang disananya. Jadi, konsepnya memang difotoin gitu. Ah, gimana sih. Begitu deh. Ngerti, kan? LOL. Rasakan keseruannya lewat foto saja, ya!

Audit Team

Homestay Mahkota

Bersih, murah, besar, ada air hangatnya, mewah namun harga sangat merakyat. Itulah kesan pertamaku terhadap rumah berlantai dua yang kami tempati untuk bermalam di Batu, Malang. Inilah sekilas informasi mengenai homestay yang kami tempati:

Home Stay Bintang
Jalan Tvri rt 1 rw 2 Oro-oro ombo, Kecamatan Batu, Oro-Oro Ombo, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65316
0852-3464-9202

Google Maps

Kenapa Homestay Bintang? Jadi, si Bapake itu punya beberapa rumah yang beliau jadikan homestay. Untuk pemasaran, si Bapak menamai Homestay Mahkota, namun kami yang berdelapan orang ditempatkan di Homestay Bintang. Kalau ke Batu, silakan hubungi Homestay Mahkota, dijamin puas!! Tapi reserve minimal sebulan sebelum pemberangkatan, yaa! Aku, Puspa, dan Felis berada di satu kamar yang sama. Kia, Ruth, dan Mba Nadya berada di satu kamar yang sama. Bang Nanda satu kamar dengan Andrew.

Di homestay, kami bergantian bersih-bersih setelah dua hari tidak mandi dan ketika saat itu sedang meriahnya Asian Games, para wanita dan Andrew sangat sibuk menonton bulu tangkis sementara aku yang tidak mengikuti Asian Games hanya sibuk merekam mereka di instagram story kemudian tidur. Sebelumnya aku sudah mewanti-wanti agar jam 3 subuh sudah bangun karena esok hari akan berangkat ke Clungup Mangroove Conservation (CMC) dan membutuhkan waktu sekitar 4 jam dari Batu.

26 Agustus 2018

CMC

Jam 3 alarmku dengan dering JKT 48 berbunyi. Aku pun langsung bergegas keluar kamar untuk mandi. Saat aku keluar kamar, aku dikagetkan oleh Bang Nanda yang tidak disangka-sangka berdiri di tengah-tengah ruangan. Aku pun terkejut bukan main sehingga membangunkan Felis. Setelah merasa agak tenang, aku pun keluar lagi dan turun ke bawah untuk mandi. Selagi turun ke bawah, aku terus menggerutu ke Bang Nanda kenapa ia berdiri di tengah-tengah ruangan.

Kamar mandi ada dua sebenarnya. Namun yang ada air panasnya di kamar mandi atas. Karena yang lain masih tidur, aku pun mandi di bawah dan nekat merasakan air di Batu yang seperti air es. Kebetulan kamar mandi di bawah kuncinya sedikit bermasalah sehingga aku menyetel lagu JKT48 untuk menandai bahwa di dalam kamar mandi sedang ada orang. Ketika aku keluar dari kamar mandi, MasyaAllah…. Bang Nanda sedang solat tahajud dan aku menjadi tidak enak hati karena begitu ribut di kamar mandi dengan lagu JKT48 yang berjudul Baby, Baby, Baby!

Tepat pukul 7 kami berangkat, perjalanan akan sangat jauh dan panjang. Kami jalan menembus pegunungan untuk tiba ke CMC. Agar tetap menghidupkan suasana, aku menyetel lagu dan bernyanyi bak biduan di hajatan warga dibantu oleh Bang Nanda yang juga ada saja idenya untuk bernyanyi. Selain itu, kami bermain tebak-tebakan.

Jam setengah 11, kami tiba di CMC. Oh ya, untuk ke CMC, kita harus booking minimal dua minggu sebelum hari H ya dan membayar DP sebesar 50%. Harga pemandunya sebesar Rp100.000,- dan tiket masuk per orang adalah Rp10.000,-.

CP: +62 812-3333-9889

Berhubung CMC ini adalah pantai konservasi, jadi banyak sekali peraturannya, salah satunya yang paling ditekankan adalah perihal sampah. Jadi, sebelum masuk ke dalam kawasan, bawaan akan diperiksa terlebih dahulu (seperti penghitungan jumlah barang yang berpotensi menjadi sampah). Apabila saat keluar kawasan ditemukan jumlah sampah berkurang, pengunjung akan dibebankan denda sebesar Rp100.000,- per itemnya barang yang berkurang.

Peraturan di CMC

Kami dipandu oleh seorang Bapak, beberapa pantai yang kami kunjungi adalah Pantai Clungup, Pantai Watu Pecah, Pantai Tiga Warna, dan terakhir adalah Pantai Gatra. Selain tadabur alam, disana tidak lupa kami berfoto ria dan menikmati kelapa muda yang dagingnya sangat lemak.

Kuberlari ke pantai, berfotoku. Kuberlari ke hutan, videoku

Setelah puas bermain di pantai, kami pun kembali menuju homestay. Sebelumnya, kami mengisi perut dulu di tempat makan soto dan aku berinisiatif untuk membeli martabak telor serta terang bulan karena jam 12 dini hari akan dijemput oleh pihak travel untuk Tur Bromo. Kami tiba di homestay sekitar pukul 9 malam. Bang Nanda yang seharian nyetir, tertidur pulas di ruang TV sampai ngorok-ngorok. Sebelum tidur, aku memutuskan untuk mandi sehingga sebelum berangkat ke Bromo, aku tidak perlu mandi lagi. Aku berhasil tidur selama 1 jam itu pun tidak pulas karena aku harus terus berkoordinasi dengan pihak travel, juga dengan pemilik homestay karena kami akan check out.

27 Agustus 2018

Bromo

Travel yang aku pakai: CV Travel Malang Service bisa lepas kunci asalkan masih di kawasan Malang. Kebetulan, CV Travel Malang Service juga menyediakan jasa tur bromo. Jadi, aku mengatur agar pihak travel pick up mobil yang kami sewa sekaligus menjemput kami untuk Tur Bromo. Jam 12 pas, dua orang yang berbeda sudah tiba di homestay kami. Setelah memberikan kunci ke Mas yang menjemput mobil, kami semua masuk ke mobil lain yang akan mengantarkan kami ke Bromo. Sepanjang jalan, kami semua tidur hingga kami tiba di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Udara jauh lebih dingin dari Batu. Disana, ada sedikit miss komunikasi antara Bapak yang mengantar kami dengan orang-orang yang akan membawa kami ke puncak menggunakan jeep.

Sampai di batas pengantar dimana mobil selain jeep dilarang masuk, kami menunggu. Namun tidak ada jeep yang menjemput kami. Si Bapak pun berinisiatif untuk menelpon namun sayang sudah tidak ada sinyal. Kami semua kehilangan sinyal. Aku dan Bang Nanda keluar dari mobil. Hening, dan bulan purnama terasa begitu dekat. Aku yang tadinya biasa saja, langsung kebelet pipis setelah udara dingin menerpa jaket tebal dan tembus. Aku pun buru-buru masuk lagi ke dalam mobil. Hampir 15 menit menunggu namun tidak datang-datang, kami pun kembali turun dan menuju rumah warga yang ada di tengah-tengah pegunungan. Disana, kami buang air kecil dan bertemu dengan orang yang akan membawa kami menggunakan jeep.

Kami menggunakan private tour. Seharusnya di dalam mobil ada 5 orang, namun per mobil hanya 4 orang saja. Kami dibagi menjadi dua tim. Aku, Bang Nanda, Puspa, dan Felis berada dalam satu jeep. Kia, Mba Nadya, Andrew, dan Ruth berada dalam satu jeep. Aku duduk di depan dengan maksud untuk mengabdikan perjalanan. Namun entah bagaimana ceritanya, sepanjang perjalanan aku tertidur sampai terjeduk-jeduk dan tibalah kami di bawah Puncak Pananjakan. Ketika turun, kakiku langsung keram. Semuanya terasa ketarik saking dinginnya. Cukup lama aku merasakan ketidaknyamanan itu, namun setelahnya kakiku sudah bisa beradaptasi. Setelah menunggu Bang Nanda dan Puspa solat subuh, kami pun bergegas menaiki anak tangga untuk tiba di Puncak Pananjakan untuk menikmati sunrise.

Selain Puncak Pananjakan, kami ke tempat yang banyak kudanya (aku lupa namanya), pasir berbisik dan disana tubuhku pun berbisik (buang angin hahaha) ternyata suaranya jadi terdengar besar padahal sudah dikondisikan, dan bukit teletubies. Puas main di Bromo, kami pun kembali ke Stasiun diantar oleh Bapak yang menjemput kami dan kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh.

28 Agustus 2018

Stasiun Malang – Pasar Senen

Hitam, dekil, ga karuan. Itulah kami saat itu. Pulang pun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sandaran kursi yang sangat tegak ditambah dengan jendolan di dekat kepala. Lagi-lagi, ketika hampir pulas, aku terjatuh sehingga membuatku kembali terjaga. Kezel akutu! Kami pun berpisah di stasiun tujuan masing-masing.

Aku, Puspa, Felis, dan Kia turun di Stasiun Jatinegara. Sementara Ruth, Bang Nanda, dan Andrew turun di Stasiun Pasar Senen. Mba Nadya kemana? Ketinggalan? Engga, Mba Nadya pulang naik pesawat karena harus meeting di tanggal 28 Agustus. Luwar biasa memang.

Begitulah keseuran kami, Audit Team selama di Malang. Yuhuu!!

Realisasi Anggaran
Rundown (tidak semuanya tercapai)
Perlengkapan yang Harus Dibawa

Udah bisa nih, Kartini buka jasa travel agent

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

71 thoughts on “Keseruan Outing Perdana Audit Team

  1. Aku bingung mau komentar apa….. soalnya ceritanya detail dan seru bangeeeeeeettt………

    Owhhh jadi Puspa satu kantor, kok dulu waktu saya main ke TC gak lihat puspa?

  2. Aku bingung mau komentar apa….. soalnya ceritanya detail dan seru bangeeeeeeettt………

    Owhhh jadi Puspa satu kantor, kok dulu waktu saya main ke TC gak lihat puspa?

  3. Sesekali cobain ke Ijen mbak, dari Jakarta ke Surabaya naik kereta, lanjut dari Surabaya ke Ijen, Banyuwangi naik Elf.
    Biar ngerasain betapa lama perjalanan menuju tempat wisatanya., bisa lebih dari 20 jam….
    Kalau mendengar kata auditor pasti identik dengan lembur dan begadang. Terutama pas peak season hehehe…

    1. bukan terniat kak hehe. kan kita berangkatnya ga sendiri atau cuma berdua sm temen, tapi ramean jadi menurutku memang harus begitu biar ga chaos hihihi

  4. Malang dan Batu emang paling top buat dieksplor. Kata saya, amat sayang jika ke Batu tak menyempatkan untuk datang ke Jatim Park (bisa 1 atau 2). Jatim Park bagi saya tempat belajar sekaligus hiburan kelas dunia. Nuansa alam bisa juga kita nikmati di Jatim Park 1.

    1. hehehe iya mas, sengaja memang ga ke sana, karena targetnya ke bukit, pantai, dan pegunungan. mungkin nanti kalo kesana lagi sendiri bisa ke Jatim Park

  5. Sebelumnya saya,tertarik dengan gaya penuturan kak kartini di trip sejarah maupun cerpen yang sepertinya sesuatu. Ternyata diluar dua hal tersebut, tulisan catatan perjalanan ke Malang tetap seru… Walaupun saya sedikit kehilangan khas nya,kak kartini saat menulis tentang sejarah….

  6. Lengkap ceritanya, detail banget sampai biaya nya pun detail, pasti seru outing sama temen sekantor, tambah kompak y…

    1. Punya mbaa kalo lagi low season. Kalo lagi peakseason liburan, behh dipelototin kali sama temen satu tim haha. Gatau diri banget..
      CMC itu 4 jam dari Batu. Arah ke Balekambang jalannya. Pantai di selatan.
      Bromo, heemm no medicine deh mba 😁

  7. Seru banget, merinding bacanya. Kepingin sih ngerasain liburan bareng teman-teman dekat lagi. Tapi kayaknya udah susah.

    Anyway, dulu pernah tuh ke Bromo. Tapi pas lagi mendung. Jadi nggak bisa foto di depan pura dengan jelas.

  8. Memang gitu ya auditor.. Hidup berpindah, jam kerja bisa dibilang hampir tidak ada… Pengen deh dapat cerita kerjaan auditor tuh gimana in detail

  9. Seru banget Kar perjalanannya, diceritakan dengan sangat detail juga. Mantap!
    Btw, duh aku kaget deh baca yang Bang Nanda berdiri di tengah-tengah ruangan. Dia ngapain? Aku jadi ngebayangin makhluk astral di film horror pas baca ceritanya. Hahaha.

    1. Hehe iya mba yun. Mau bawa orang banyak harus gituuu kalo engga takut berantakan huhu.
      Iya auditor mah yaa gitu mba kl kumpul sama2 auditor ya edeng2 😀

  10. Wah mantaap sih ini ceritanya kaaak.. lengkap parah.. btw aku baru dengar CMC #kudet jadi dapat informasi baru dari cerita kakak.. kamu kuat sekali kak ke malang pakai kereta ekonomi.. hahah.. akutuh selalu berpikir 2x kalo mau ke malang naik kereta ekonomi.. jauh dan dudukannya bikin susah tidur #manja hiks

    1. CMC itu nama pengelolaannya menurutku.. Clungup Mangrove Conservation. Isinya pantai2.
      Hahaha iya kak kalo sendiri mah naik bisnis aja atau pesawat. Berhubung bareng2, jadi yg murmer aja ngepress budget hihihi

  11. paham bgt aku tuh sama tegaknya kursi matarmaja, bikin sakit pinggang laaa 17 jam di matarmaja. jd inget pertama kli ngebolang dulu k malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *