Malam Pergantian Tahun Handi dan Yuliana – Part of Buruan Resign

Teruntuk Wahyu, Erika, Nala, Mas Yoga, Mas Dede, Edo, Yuli, Handi, Ibnu, Wayan, Meli, dan Tiwi

2017 sebentar lagi tiba. Bau masakan ala Italia terendus dari sudut dapur apartemen tingkat 10. Kartini sibuk menghidangkan spagethi pesanan teman-temannya, Nala dan Erika membantu Kartini sementara Meli dan Dede sibuk menyiapkan makanan yang dibakar ala kadarnya. “Mel awas nanti kebakaran ya.” ujar Wayan mencomot paha ayam bakar montok yang sudah disisihkan Meli. “Mas Wayan.. Buat nanti kali!!”

Sementara itu, Tiwi sibuk menyiapkan minuman. Ibnu hanya wara wiri menghampiri Nala dan Tiwi. “Nala, kamu itu udah cantik pinter masak pulak.”

“Najis lo Nu.”

Sementara itu, Wahyu sibuk menyiapkan petasan teko dan kembang api di balkon apartemen untuk dinyalakan tepat pergantian tahun nanti. Di sofa yang nyaman, Yoga sedang asyik memantau berita dari koran elektroniknya-Republika Online.

“Eh Yoga! Yoga! Bantuin kali!” teriak Erika.

“Ga usah Erika.. Kita udah bertiga nanti sempit dapurnya.”

“Ih Kartini.. Biarin aja biar lagaknya engga kayak boss.”

“Mas Yoga!”

“Iya Kartini?”

“Giliran Kartini disautin.” protes Erika.

“Mas, kamu wa Handi sama Yuli kasih tau nomor apartemennya.”

“Oke Bos Kartini.”

Yoga pun menginfokan Handi dan Yuli mengenai nomor apartemen yang mereka sewa sehari semalam.

***

“Yul, liatin ini ada wa.” Handi merogoh hanphone yang ia selipkan di saku jeansnya. Karena sedang menyetir beat pop nya, Handi pun meminta Yuli untuk membacakan pesannya.

“Eh dari si Yoga nih. Gue buka ya?”

“Buka. Apa katanya?”

“Oh ini nomor apartemennya Ndi. 1007.”

“Okee.”

Dengan semangat, Handi melajukan motornya lebih cepat hingga tibalah mereka di apartemen yang dituju.

Handi menekan tombol lift dan lift pun terbuka setelah menunggu beberapa detik. “Eh, perasaan gue kok ga enak ya.”

“Dienakin aja Yul.” jawab Handi santai sembari menekan angka 10 dan tombol tutup. Lift tertutup rapat kemudian terangkat.

“Si Yoga bener kan ya ngasih tau nomor kamarnya? Kok ini apartemen sepi amat. Padahal malem tahun baru kan.”

“Coba gue telepon lagi si Yoga ya Yul. Lu tenang aja, ada abang Handi.”

“Jijik lu.”

“Halo Yoga.”

“Ha..”

“Woy kok keresek-keresek. Sinyal provider lu jelek ya?”

“Ha a.. Ap..”

Telepon terputus. “Ah si Yoga cemen. Ga ada sinyak dia kayaknya.”

“Justru elu yang ga ada sinyal kucrut. Kita kan lagi di dalem lift.”

“Oh iya ya. Ya udah lah udah pasti bener. Yuk jalan.”

***

“Way!” Teriak Yoga.

“Oy?”

Yoga menghampiri Wahyu yang sedari tadi tidak kelar-kelar ngurus kembang api dan petasan teko. “Ini kita di lantai berapa sih?”

“Lantai 9. Ruang 907.”

“Ah masa sih? Bukannya lantai 10?”

“Iya bro. Cek gih ke depan pintu. Lagian ini apartemen kan cuman ada sampe lantai 9 doang.”

“Pendek amat?”

“Ya mana gua tau Ga..”

Yoga kembali ke sofa kemudian duduk sila. Dagunya terlihat menyatu dengan leher.

Bro, ruang 907 bukan 1007. G ada lantai 10 sory bro.

Pesan whatsapp yang dikirim ke Handi hanya ceklis satu. Yoga pun mengirimi sms.

***

Tibalah Handi dan Yuli di lantai 10. Bunyi dentingan lift terdengar. Perlahan pintu lift terbuka. Gelap? Tidak. Terang benderang. Namun atmosfernya terasa aneh. Dingin dan berangin. Tepat di depan lift ada kamar 1001.

“Eh Handi, perasaan gue bener-bener ga enak deh. Coba telepon lagi si Yoga.”

“Ga ada sinyal Yul. Udah ayo kita cari aja ruangannya.”

Mereka melangkah ragu. Koridor yang tadinya terang, kini mulai meredup cahayanya seperti kompor yang kehabisan minyak.

Yuli mencubit lengan baju Handi. Mata Handi dan Yuli jelalatan mencari-cari ruangan yang diarahkan Yoga.

“Ah!! Ketemu juga Yul.”

Perasaan tenang mengampiri mereka. Namun perasaan itu hanya berlangsung sebentar kala Handi membuka pintu dan tidak ada siapapun. “Eh kok ga ada siapa-siapa?”

“April mop kali Yul.”

“Ini kan malem tahun baru bodoh.”

Mereka masuk dan pintu apartemen pun tertutup. “Wahyu.. Gue bawa gobah nih dua bungkus. Keluar lu.”

“Gobah apa sih?”

“Anak kecil ga boleh tau.”

“Ah pada main petak umpet nih ngga seru. Capek gue.” Yuli kesal. Ia pun berjalan menuju sofa dan melemparkan tubuhnya yang imut ke sofa berwarna krem. Sementara Handi mencari-cari keberadaan teman-temannya, Yuli memejamkan mata. Terasa seseorang duduk di sampingnya.

“Ah malesin banget ya kalo pada ngumpet begini.”

Tidak ada sahutan. Tiba-tiba terasa hawa dingin menyelimuti. Hawa dingin yang mencekam. Yuli membuka matanya. Tidak ada siapa-siapa. Padahal jelas ia merasa seseorang duduk di sampingnya.

Yuli bangun dari duduknya. “Handi.. Lu dimana?”

Tidak ada jawaban. Yuli berjalan ke arah kamar untuk mencari keberadaan Handi. Handi muncul tiba-tiba dengan wajah pucat ketakutan. “Yul, gua dapet sms dari Yoga. Katanya ruang 907. Terus ga ada lantai 10.”

“Ahh jangan becanda lu. Ini kita kan di lantai 10.”

“Serius gua ini baca sms si Yoga.”

“Ya udah ayo kita keluar, kita turun.”

“Iya.”

Mereka keluar dan berjalan menuju lift. Handi menekan tombol 9. Tidak butuh waktu lama, pintu lift kembali terbuka. Kamar 1001.

“Yul?”

“Aduh Handi. Ini kenapa liftnya? Tutup lagi coba lagi.”

Handi mencoba ulang, ia perhatikan baik-baik. Lift berhenti di lantai 9. Jelas di lantai 9 tidak salah lagi.

Pintu lift terbuka. Namun tetap nomor 1001 yang terpampang. “Yul. Lu liat kan kalo lifnya turun.”

“Liat. Turun tangga darurat aja deh yuk.”

“Takut gua Yul.”

“Sama gue juga. Cuma gimana, ini naik lift ga sampe-sampe.”

Mereka keluar dari lift. Kaki mereka serasa tidak menapak saking takutnya. Mereka menelusuri koridor terang yang mencekam mencari-cari pintu tangga darurat.

“Yul. Ini.”

“Lu yakin Ndi?”

“Tadikan lu yang ngajakin.”

“Yauda deh ayo.”

Mereka membuka pintu darurat. Udara yang tadinya dingin menjadi panas. Telepon Handi berdering. “Halo, Wayan! Kita dikerjain, setan!!”

“Lu ngatain gue setan?”

Bukan. Ini gua sama si Yuli dikerjain sama setan.”

“Yoga?”

“Setaaaaan.”

“Bro lu dikatain si Handi kucrut.” terdengar suara Wayan berbicara dengan Yoga di balik telepon. “Halo Handi? Lo sama Yuli dimana?” kini suara Yoga terdengar.

“Gua sama si Yuli dikerjain setan nih. Kita di lantai 10. Pas mau turun lift ke lantai 9, balik lagi balik lagi ke lantai 10.”

“Sekarang kalian dimana?”

“Tangga darurat.”

“Oke ini semua gara-gara gua. Sebagai wujud rasa tanggung jawab, gua bakalan nyelamein lu. Gua tunggu depan pintu darurat lantai 9.”

Handi kesal. Dia langsung memutuskan panggilan. “Dasar tidak berguna!”

“Ndi ini ga sampe-sampe?” Yuli mulai menangis.

Mereka tidak sadar ternyata sejak tadi mereka turun terus namun tidak kunjung tiba di lantai 9. “Gimana ini Ndi? Gue capek.”

“Tenang Yul, ada gua. Sekarang kita berdoa dulu.”

Mereka berdua berdoa. Setelah melafalkan Ayat Kursi, pintu darurat lantai 9 pun terbuka. Yoga sudah menanti dengan yang lainnya. Yuli menangis tersedu-sedu sembari memeluk lengan Yoga. “Handi ga guna..” keluhnya.

“Yoga, gua takut..” Handi ikut memeluk lengan Yoga.

“Lo emang enak buat bersandar bro.” ujar Wayan.

“Guys ayo! 5 menit lagi tahun 2017!!” teriak Wahyu bersemangat sambil memegang kembang api.

 

Next Story: Gaun Hijau

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Malam Pergantian Tahun Handi dan Yuliana – Part of Buruan Resign

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *