Perempuan Bercadar, oh Perempuan Bercadar…

Perempuan Bercadar oh Perempuan Bercadar..

Aku ingat sekali, pertama kali aku melihat perempuan yang menutup wajahnya hingga hanya kedua matanya saja yang terlihat ketika aku masih begitu jauh dari arti dewasa. Aku masih berseragam putih biru saat itu, sedang duduk di angkot yang sedang ngetem seenaknya jidat supir, melihat tiga orang perempuan dewasa mengenakan gamis hitam dengan kerudung terjuntai panjang hingga selutut, punggung tangan hingga jari-jari ditutup kaos tangan tipis, wajahnya tertutup, hanya matanya saja yang terlihat, itu pun pandangannya tertunduk sehingga aku tidak begitu jelas bagaimana rupa matanya.

Saat itu langit sedang terik-teriknya, jam pulang anak sekolah. Aku berpikir dalam hati dengan tidak sopannya, “Ih, emang gak gerah ya kayak begitu? Aneh deh. Udah kayak di Mesir aja. Tinggal pake kerudung yang nutup aja, gak usah berlebihan begitu.” Kemudian pandanganku terus mengikuti langkah mereka dengan tatapan aneh sampai angkot melaju karena sang supir sudah mendapatkan yang ia inginkan—penumpang.

Tahun-tahun berlalu. Sekian buku aku baca, sekian pendapat aku dengar, sekian pemikiran aku pelajari, sekian informasi aku terima. Betapa polosnya aku saat itu, ketika memakai seragam putih biru, berpikir tiga orang perempuan bercadar itu aneh. Padahal, mereka hanya ingin menjaga diri, dan berusaha taat kepada Sang Pemilik. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S Al Ahzab: 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Fenomena Hijabers di Indonesia. Apakah pantas disebut sebagai fenomena? Bila memang tidak, mungkin hanya aku yang merasa bahwa itu adalah sebuah fenomena. Katakanlah itu memang sebuah fenomena. Aku sangat berterima kasih kepada fenomena itu. Karena adanya fenomena itu, aku memantapkan diri untuk berhijab di akhir-akhir semester kuliah. Awalnya, senang melihat orang-orang pakai hijab dengan gaya seperti ini seperti itu, pakai hijab masih bisa gaul, mix and match dengan pakaian yang seperti ini seperti itu, wah seneng deh.

Perlahan, aku semakin sadar bahwasanya hijab bukanlah sebagai alat untuk mempercantik diri. Namun sebagai upaya bakti kita sebagai anak perempuan kepada Ayahnya. Sebagaimana hadits:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ingatlah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan ditanyai tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas berbicara tentang sebuah kepemimpinan. Di dalam sebuah keluarga, pemimpin tentu saja adalah Ayah kita sendiri. Allah telah berfirman dalam Q.S Al Ahzab: 59 seperti yang telah dituliskan di atas. Bila aku sendiri ngeyel tidak ingin menutup rambutku yang merupakan aurat perempuan, kepemimpinan Ayahku akan dipertanyakan. Aku tidak ingin menyusahkan Ayahku karena diriku.

Fenomena Hijrah. Lambat laun, fenomena hijabers naik level menjadi fenomena hijrah. Apakah pantas disebut fenomena? Bila tidak, maafkan aku yang tidak dapat memilih kata yang pantas. Namun, katakanlah memang fenomena hijrah. Tidak sedikit muda-mudi di Indonesia yang mengenakan pakaian sesuai dengan anjuran yang diperintahkan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Alhamdulillah. Dan, tidak sedikit juga gadis-gadis yang masih berusia belasan, puluhan, yang sudah memantapkan diri untuk memakai niqab atau kita lebih familiar dengan sebutan cadar.

Dulu, sewaktu aku masih mengenakan seragam putih biru, bertemu dengan perempuan-perempuan bercadar merupakan momen langka. Namun sekarang ini, hal itu bukanlah momen langka. Di pasar swalayan pun bisa dijumpai. Ditambah lagi, sekarang banyak sekali artis tanah air yang bergabung ke dalam pemuda hijrah, Qory muda “gaul” juga lucu seperti Ibrohim El Haq, sepertinya memiliki pengaruh penting dalam perjalanan hijrah kaum muslimin dan muslimat di Indonesia. Jelas, mereka itu kan memang public figur walau aku yakin, niat tetap Lillahita’ala bukan sekedar ikut-ikutan alias latah. Maasyaa Allah.. Ah, sejuk sekali melihatnya.

Lagi-lagi ada tapinya, sangat disayangkan masih banyak orang-orang di Indonesia yang sinis terhadap perempuan bercadar. Bukan hanya dari kalangan non muslim, bahkan sesama muslim pun. Dari mereka yang berpikiran seperti aku dulu yang masih polos, mereka yang berpikir bahwa perempuan bercadar dekat dengan aliran sesat, perempuan bercadar itu keras, fanatik, dan yang sedihnya identik dengan teroris sehingga jihad tidak jarang menjadi diperolok-olokkan. Ya Allah, fitnah apalagi?

Media, media memang kejam. Media kini sudah tidak ada lagi saringannya. Segala bentuk postingan bisa menjadi viral dalam sekejap. Satu buah kalimat di sebuah caption atau kolom komentar bisa menimbulkan keresahan dan menanamkan sebuah persepsi yang salah. “Jangan berteman dengan perempuan bercadar, jangan dekat-dekat dengan laki-laki berjenggot.” Apalagi kalau bukan dikaitkan dengan teroris? Aku mengalaminya. Namun Islam mengajarkanku untuk tetap bersikap adem ayem. Dengan hati yang dingin, aku mencoba menjelaskan. Islam bukan teroris. Mereka-mereka yang bercadar lalu melakukan bom bunuh diri, bukan Islam. “Rasulullah ketika perang, melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.” Pelaku bom bunuh diri tidak pilih-pilih dalam menelan korbannya, jelas itu sudah menyalahi aturan Islam. Apalagi bawa-bawa jihad.

Begini hadits sohihnya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, ia berkata :

“Aku mendapati seorang wanita yang terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah . Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan,”

(HR Bukhari [3015] dan Muslim [1744]).

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Rasulullah mengecam keras pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak,”

(HR Bukhari [3014] dan Muslim [1744]).

Dari Aswad bin Sari’, ia berkata :

Rasulullah  bersabda, “Jangan kalian membunuh anak-anak dalam peperangan”. Kemudian para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah mereka itu anak-anaknya orang musyrik ?”. Rasulullah  bersabda, “Bukankah sebaik-baik kamu itu (asalnya) adalah anak-anak orang musyrik (juga) ?”. [HR. Ahmad (15037)].

Kembali lagi kepada diriku. Aku adalah seorang anak perempuan yang jauh dari kata cadar, selain tidak berkeinginan sedikitpun, orangtuaku pun jelas pasti akan melarang bila aku berkeinginan untuk memakai cadar. Seperti yang Mbak Sonia Aristanti, istri dari Muzammil Hasballah katakan di instagram, “sedangkan muslimah yang bila ia bercadar malah menimbulkan keresahan dan ketidaknyamanan, diikuti dengan konflik yang menegangkan dengan lingkkungan, terutama orang tua, maka maslahat lebih baik baginya untuk tidak bercadar. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, bila memang orang di sekitar kita belum siap menerima. Coba timbang-timbang porsi kebaikan dan mudharat-nya. Pentingnya segala sesuatu diilmui dulu sebelum diamalkan.”

Tiga bulan terakhir ini, akhir pekanku dihiasi dan dikelilingi oleh tidak sedikit wanita bercadar. Rasanya, aku ingin mengajak teman-teman, orang-orang yang masih sinis dengan wanita bercadar untuk melihat mereka. Ya, aku mengikuti kursus Bahasa Arab di salah satu Lembaga Pendidikan Ilmu Agama Islam. Aku, yang ucluk-ucluk sendiri datang ke sana. Ngga punya teman, ngga punya dasar Bahasa Arab sedikit pun selain di TPA dulu, memberanikan diri untuk ikut. Sejak pertama daftar, aku sudah bertemu para salihah yang bercadar. Punggung tangannya tampak sangat bersih, sungguh terawat. Mereka tersenyum padaku, walau aku tidak dapat melihat bibir mereka yang merekah ikhlas. Kenapa aku tahu? Karena sedekah yang mereka berikan padaku, terpancar lewat mata mereka yang indah.

Hari pertama, aku bertemu dengan ustadzah dan teman-teman baru yang 50% bercadar. Di dalam kelas yang hanya akhwat saja, mereka yang bercadar diperbolehkan untuk membuka cadar mereka. Maasyaa Allah, cantik. Tapi mereka tidak ingin memaparkan wajah cantik mereka ke laki-laki yang bukan mahromnya. Apalah aku yang masih suka selfie pakai aplikasi guguk-gugukan, atau kucing-kucingan.

Ustadzah, sang perempuan bercadar, aku kagum denganmu. Hari pertama, ada siswi yang mengantuk sehingga tertidur di kelas dengan pulasnya. Selain wajahnya yang cantik, akhlaknya begitu cantik. Ia tidak menegur siswi itu atau mempermalukannya lewat bercandaan. Sambil terus menerangkan materi, ia mengusap-usap lembut punggung siswi yang tertidur hingga bangun dengan sendirinya.

Teman-teman lain yang bercadar itu pun, mereka lucu-lucu, riang, sebagaimana layaknya anak perempuan. Jauh dari kesan keras, menyeramkan, atau apalah itu yang ada di pemikiran orang-orang. Mereka cerdas, memiliki semangat yang sangat tinggi, sehingga aku pun begitu merasa positif bila sedang bersama mereka. Tidak jarang, aku pun merasa minder dengan mereka yang begitu memperhatikan cara mereka berpakaian.

Semoga Allah merahmati mereka semua. Aamiin.

Aku, bukan ingin menekankan bahwa wanita salihah adalah wanita bercadar. Toh, dalam Agama Islam pun tidak diwajibkan. Kalau ada yang berpikir wanita salihah adalah yang bercadar pun aku tidak setuju, bukan tidak setuju bahwa mereka salihah. Tapi, bukan hanya wanita bercadar saja yang salihah. Aku harap, tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Teman-teman, orang-orang yang membaca tulisanku ini, yang masih berpikir yang kurang enak didengar di telinga karena terpengaruh oleh media, semoga dapat mengubah pandangan kalian yaa.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *