Pohon Beringin Kembali Rindang

Saat itu aku hilang dari pandangannya, saat itu aku hilang dari pikirannya—mungkin selama ini memang tidak pernah dipikirkan. Ya, malam itu aku menghilangkan diri dari pandangannya, tenggelam dalam lautan manusia yang wara wiri dari selatan ke utara, dari utara ke selatan. Aku berbelok ke barat, kemudian kembali ke arah utara. Aku lihat dirinya masih duduk di bangku taman, tidak menoleh sedikitpun mencari keberadaanku. Ah, sungguh menyebalkan.

Lima meter di belakang bangku taman yang ia duduki, ada bangku taman yang masih kosong. Aku memanfaatkannya untuk melihat dirinya diam-diam, sama seperti di pasar sore tadi. Ia yang tadinya duduk tegak, kini terlihat lebih rilek. Ia bersandar, lehernya bergerak-gerak mengikuti arah matanya yang jelalatan melihat orang-orang yang begitu banyak malam ini.

Tidak lama kemudian, tubuhnya kembali tegak. Jantungku terasa seperti mau copot. Kaget sekali, aku tidak siap kalau ia memutar tubuhnya dan memergokiku. Aku sudah terlanjur secara eksplisit memberitahukan apa yang aku rasakan, aku sudah terlanjur membuatnya seperti tidak perlu dipikirkan, namun aku masih melihatnya secara diam-diam. Wah, aku adalah orang yang paling tidak konsisten terhadap diri sendiri. Aku tidak bangga dengan diriku.

Aneh memang, kenapa bisa seperti ini. Aku bermain dengan perasaanku sendiri, membuatnya campur aduk sendiri, seperti bermain dengan skenario yang dibuat sendiri.

Beruntungnya aku, ia tidak berbalik arah. Ia berjalan lurus ke depan menuju utara. Berjalan semakin dekat ke petunjuk arah kemudian menyeberang melewati garis putih dekil di atas aspal abu-abu. Ia berjalan semakin ke utara, aku pun mengikuti. Ah, rasanya lebih baik seperti ini. Aku terus mengikutinya, sembari memandangi punggungnya yang kurus di balik kaos putih belel nan tipis dan celana pendeknya yang memperlihatkan kaki kecilnya yang jenjang.

Tiba-tiba ia menoleh ke belakang namun kembali berjalan lurus ke depan—sepertinya nggak engeh akan keberadaanku yang membuntutinya. Pak polisi sedang mengatur jalan karena malam ini sedang ada funwalk – tidak gendut, badannya bagus dan masih muda. Wah mataku genit sekali bisa-bisanya engeh ada laki-laki berseragam yang tampan. Pandanganku teralihkan. Namun itu tidak berlangsung lama, aku kembali melihat ke arah laki-laki kurus tinggi yang sekarang hilang dari pandanganku.

Langkahku terhenti, aku berputar di tempat—mencari-cari keberadaannya. Aku tidak dapat melihat keberadaannya, aku malah melihat Pak polisi tampan yang sedang mengatur kekondusifan jalan. “Dia pasti terus ke arah utara.” Pikirku. Langkahku selaras dengan apa yang kupikirkan, aku terus berjalan ke arah utara hingga terlihat lapangan yang cukup luas dengan dua pohon beringin kembar di tengahnya.

Aku kehilangan jejaknya. Aku sangat sedih dibuatnya. Seperti kehilangan harapan yang baru saja aku bangun kembali, yang ingin aku usahakan walau tampaknya akan sulit. Sudah hampir sampai di tempat yang kupikir akan ada dirinya. Aku teruskan saja sampai tiba di beringin kembar. Di titik nol kilometer, orang-orang begitu banyak. Di jalanan, orang-orang begitu ramai. Namun, disini—di depan Keraton Yogyakarta yang penuh dengan kearifan lokal hanya ada beberapa bocah nanggung sedang bermain dengan mitos.

Satu, dua, tiga, empat, lima……. Enam. Tampaknya bocah nanggung ke enam itu bukan bocah nanggung. Namun laki-laki dewasa, dan aku seperti mengenalnya. Kakiku lemas, seperti baru saja kehilangan emas. “Tadi aku berhasil memutari pohon beringin ini sambil memejamkan mata. Mitosnya, segala permintaanku akan terkabul dan aku meminta aku segera bertemu dengan orang yang kelak akan aku cintai di masa depan.” Ujarnya tanpa melirik ke arahku sedikitpun.

Aku hanya diam, tidak tahu harus menanggapi apa. “Belum selesai capeknya, ada kamu.” Tambahnya.

Aku melihat ke arah pohon beringin yang dari kejauhan terlihat layu, ternyata ia kembali rindang.

 

Previous Story: Titik Nol Kilometer, Sandal Yogya, dan Kemungkinannya

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Pohon Beringin Kembali Rindang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *