Teman

Jalan meliku, menurun. Pandangan di depan cukup berkabut, menambah rasa dingin yang angkuh, menyiratkan rasa yang kemarin bersarang di dalam diriku. Laju dua roda dengan kenalpot ramah lingkungan menajamkan penglihatanku, dia—kami. Aku merentangkan tanganku lebar-lebar, membiarkan pori-pori menyerap rasa sejuk yang cenderung dingin dari cuaca di puncak siang ini.

“Woy, Kin! Jangan goyang-goyang!” dia, yang sedang menyetir motor matic dengan kenalpot ramah lingkungan protes. Aku tidak memperdulikan perkataannya. Aku menggoyang-goyangkan badanku pelan, tanganku masih merentang, seperti sedang menonton konser. “Kin! Gak imbang nih.”

Aku menepuk-nepuk bahunya. “Jangan protes bae napa.”

Uuu baby I love your way.

I wanna tell you I love your way.

Aku mengeraskan volume lagu Baby, I Love Your Way – Big Montain yang tersetel dari gawaiku. Dia menepikan motor. “Kinan, bisa ga sih tenang sedikit?” ia menurunkan standar kemudian turun. Membiarkan aku nangkring sendiri di atas motor.

Ia melipat kedua tangannya. Mulutnya manyun. Ih lucu banget sih. “Lo ngambek?”

“Lo aja deh, Kin yang nyetir.”

“Ah, ngambek aja. Perasaan sewaktu pertama kali kenal kayaknya gak gini deh.”

Ada yang tertawa, pinggir matanya berkerut. “Kampret lo, Kin.”

“Ih, masa gue dikatain kampret.” Aku meledek laki-laki di depanku ini, temanku yang membuat hari-hariku akhir-akhir ini begitu hijau seperti pemandangan di sekitar kami.

“Biarin, emang lo kampret.”

“Bener-bener beda banget ya, sewaktu pertama ketemu tuh ngga gini.”

Ia kembali tertawa, dia mencekik leherku. “Jangan disamain sekarang sama waktu itu.”

Aku turun dari motor, melepas helm yang sedari tadi bertengger di atas leherku. Aku bisa mendengar suara alam yang begitu sibuk menghibur kami sedari tadi. Hamparan kebun teh menjadi lukisan alam yang kini terbentang di hadapan kami. Aku menghirup udara dalam-dalam, mencoba untuk bercumbu dengannya.

Ada alasan kami mendatangi tempat seperti ini, menghilangkan penat dari sibuknya Ibu Kota, juga menggugurkan perasaan-perasaan yang mengganggu beberapa bulan lalu. Kami, dua anak manusia yang baru saja lepas dari belenggu perasaan yang bisa dibilang menyedihkan karena seseorang.

Namun kami berdua kini bertemu, dalam keadaan masih sama-sama bertahan dari keterpurukan hingga kembali bangkit dalam sebuah keceriaan, yang bukan lagi pura-pura.

Aku merasakan berat, tangannya melingkar akrab di bahuku. “Jadi, gimana?” tanyanya.

“Apanya yang gimana?”

“Kita.”

“Oh..”

Aku menoleh ke arahnya. Ia tertawa kecil, malu-malu, tapi terlihat sangat percaya diri. “Ya, gue sih emang udah ngarep dari lama.”

“Kenapa gitu? Gampangan banget sih, lo.”

“Gak apa-apalah, gampangan juga. Sama lo ini.”

“Mau makan indomie, gak?”

Aku menggeleng. “Masih kenyang.”

“Tumben.”

“Nikmatin aja dulu pemandangan yang kayak gini.”

“Kan sering.”

Aku diam. Aku memindahkan tangannya yang melingkar di bahuku. Bak film-film layar lebar, aku menggenggam tangannya. “Iya sering, sewatku masih Kinan dan Rangga. Tapi ini baru pertama kali sejak officially kita.”

Ia menarik tangannya, kemudian mentoyor kepalaku. “Bisaan aja lo.” setelahnya mengusap-usap ubun-ubunku. Ia berjalan ke arah motor. Mataku mengikuti arahnya berjalan. Ia mengambil helmku, kemudian mendekat ke arahku. “Pake yaa, manis. Kita makan indomie, yuk. Aku lapar.”

Ah, aku tidak bisa menyembunyikan rasa panas yang membakar wajahku. Lama-lama mulutku tersungging tiada kontrol. Rangga yang aku kenal sebagai teman baik sejak pertama aku bertemu dengannya, kini sudah bukan temanku lagi. Ah, skenario Tuhan memang sangat menggemaskan.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Teman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *