Tokoh Asing yang Memihak Rakyat Indonesia Pada Masa Penjajahan

Sejatinya, setiap manusia memiliki hati nurani. Namun, terkadang keserakahan dan kesempatan, menyebabkan banyaknya manusia yang haus akan kekuasaan tanpa memikirkan bagaimana menderitanya orang lain yang dikuasainya. 350 tahun lamanya Indonesia dijajah oleh Bangsa Belanda serta 3 tahun oleh Bangsa Jepang. Penderitaan, cacian, dan hinaan terjadi dimana-mana dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia di tanahnya sendiri. Walau perbandingan lamanya masa penjajahan Belanda dan Jepang sangatlah jauh, namun penderitaan yang dirasakan akibat kekejaman para penjajah tidaklah berbeda. Walaupun demikian, di antara para penjajah yang layaknya srigala yang haus akan darah, ada beberapa di antara mereka yang memiliki rasa keprimanusiaan yang dengan sadar bahwa penjajah terlalu kelewatan dalam mengeksploitasi tanah jajahannya—melalui tulisan, melalui karya, bahkan melalui pemikiran mereka berani memihak Indonesia. Lalu, siapa sajakah tokoh-tokoh tersebut?

Kaum Liberal Belanda Yang Menentang Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

Kebijakan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanamani ni akan dijual kepada pemerintah colonial, dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah colonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang dianggap semacam pajak.

Namun pada praktiknya, peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman yang laku di pasaran ekspor dan hasilnya diserahkan kepada Pemerintah Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelsesl pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam disbanding sistem monoppoli VOC, karena ada sasaran pemasukan penerimaan Negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani pada zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu kepada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan menjualnya dengan harga yang ditetapkan oleh dan kepada pemerintah. Hasil sistem tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda.

Pada awal abad 19, Pemerintah Belanda mengalami dan menghadapi krisis ekonomi luar biasa akibat terlibat perang-perang di Eropa dan perang-perang menentang kekuasaan penjajahan Belanda di berbagai daerah Nusantara, antara lain Perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Untuk menyehatkan keuangan negeri Belanda, maka Raja mengirimkan Johannes van dem Bosch untuk menduduki jabatan Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1830 – 1833). Johannes van den Bosch inilah pencipta Sistem Tanam Paksa.

Sistem Tanam Paksa didasarkan atas hukum adat yang sudah lama berlaku di Nusantara. Seorang Raja yang berkuasa di suatu daerah menguasai tanah dan sekaligus penduduk yang mendiami tanah itu. Tanah itu dihuni dan dimanfaatkan oleh penduduk. Sebagai imbalan, penduduk yang menggunakan tanah itu untuk tempat tinggal, kebun atau sawah, harus mempersembahkan sebagian hasil tanah yang dipakainya itu kepada Raja. Selain itu, jika Raja membutuhkan tenaga mereka, maka rakyat yang mendiami tanah itu harus bekerja beberapa hari lamanya secara sukarela tanpa menerima upah atau imbalan apapun juga untuk kepentingan Raja. Pada waktu Raja-Raja itu sudah dikalahkan dan kerajaannya menjadi jajahan Belanda, maka hak dan kekuasaan raja-raja itu dianggap beralih kepada Pemerintah Belanda.

Sistem tanam paksa mulai diberlakukan pada tahun 1930 terutama di Pulau Jawa. Rakyat diharuskan menanami sebagian tanah yakni 1/5 dari tanahnya dengan tanaman yang laku dijual di pasaran Eropa, misalnya kopi, kapas, the, gula, tarum dan lain-lain. Hasilnya harus diserahkan ke Pemerintah Belanda.

Dengan diberlakukannya sistem tanam paksa, Pemerintah Hindia Belanda dengan sangat mudah dan murah memperoleh hasil bumi yang diinginkan untuk dijual di pasaran dunia. Penduduk yang tidak mempunyai tanah harus bekerja rodi selama enam puluh hari dalam setahun. Sering rakyat yang harus menanami tidak hanya 1/5 dari tanahnya, akan tetapi 1/3 bahkan sampai ½ dari tanahnya dengan tanaman yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Sistem Tanam Paksa yang kejam ini, setelah mendapat protes keras dari berbagai kalangan di Belanda, akhirnya dihapus pada tahun 1870, meskipun untuk tanaman kopi di luar Jawa masih terus berlangsung sampai 1915. Tokoh-tokoh liberalis Belanda mencela dan menetang Sistem Tanam Paksa ciptaan van den Bosch, diantaranya:

  1. Eduard Douwes Dekker
Eduard Dowes Dekker – sumber: wikipedia

Nama samarannya adalah Multatuli, yang berarti saya banyak menderita. Karya Eduard Douwes Dekker yang terkenal adalah buku yang berjudul Max Havelaar atau De koffie veilingen der Nederlandsche Handelsmaatschppij (Pelelangan kopi yang dilakukan oleh Nederlandsche Handelsmaatschppij). Douwes Dekker adalah bekas Asisten Residen Residen Belanda di daerah Lebak (Banten). Beliau minta berhenti dari jabatannya sebagai Asisten Residen karena menentang peraturan-peraturan pelaksanaan Sistem Tanam Paksa.

  1. Baron van Hoevell
Baron van Houvell – sumber: wikipedia

Baron van Hoevell adalah mantan pendeta yang menyaksikan sendiri penderitaan rakyat akibat tanam paksa. Baron van Hoevell membela rakyat Indonesia melalui pidato-pidatonya di DPR Nederland. Van  Hoevell pun merupakan teman dan koresponden Eduard Douwes Dekker dimana Dekker merupakan salah satu pelanggan utama dari jurnal Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (Jurnal Untuk Hindia Belanda) yang mana dibuat oleh van Hoevell.

Selain dua tokoh di atas, ada beberapa Tokoh Belanda lain yang memiliki kesadaran perikemanusiaan yang tinggi. Orang-orang Belanda ini dikenal sebagai kelompok yang berhaluan etis. Dan orang-orang dari golongan inilah yang mempelopori apa yang kemudian dienal dengan nama Ethische Politiek (Politik Etis). Tokoh-tokoh tersebut diantaranya; Mr. J.H. Abendanon, Prof. H. Kern, Ir. H. Van Kol, Pastoor Van Lith, Mr. Van Vollenhoven, dan tokoh politik etis yang palign terkenal adalah Mr. Conrad Theodore va Deventer. Pada tahun 1899, Mr. Van Deventer membuat tulisan berjudul Eenn Eereschuld (hutang budi) yang dimuat dalam majalah De Gids. Van Deventer dalam tulisannya mengingatkan bahwa ketika rakyat dan Negeri Belanda dalam keadaan krisis ekonomi yang parah, mereka memperoleh keuntungan berjuta-juta gulden dari jerih payah rakyat Hindia Belanda dan dari kekayaan alam Nusantara.

Anggota Tiga Serangkai Berdarah Belanda

Anggota Tiga Serangkai (kiri ke kanan: Suwardi, E.E.F Doues Dekker, Cipto) – sumber: istimewa

Berawal dari rencana Pemerintah Hindia Belanda tanggal 1 November 1913, akan dilakukan perayaan secara besar-besaran untuk memperingati seabad bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Rakyat di tanah jajahan ikut dikerahkan untuk memeriahkan pesta para tuannya. Didirikanlah komite-komite setempat yang akan memungut sumbangan. Hal itu membangkitkan dr. Cipto Mangunkusuomo dan R.M Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) untuk membentuk apa yang dinamakan Komite Bumiputera. Panitia ini akan mengumpulkan dana untuk mengirim kawat ucapan selamat bagi Ratu Belanda, sekaligus memprotes dan mendesak agar kepada anak negeri diberikan kebebasan politik dan lembaga perwakilan. Dr. Cipto menulis dalam De Express dengan judul “Semua buat satu, satu buat semua”. Sedangkan tulisan Suwardi berjudul Als ik Nederlander Was yang diterjemahkan Abdul Muis dalam bahasa Indnesia menjadi “Andaikan saya seorang Belanda”. Akibatnya, CIpto dan Suwardi ditangkap pada tanggal 30 Juli 1913. Pada tanggal 6 September, Cipto dan Suwardi meninggalkan Tanah Air menuju Negeri Belanda dengan sebuah kapal Jerman. Di kapal ini, mereka bertemu dengan E.F.E Douwes Dekker yang lebih dikenal dengan dr. Danudirjo Setiabudhi.

E.E.F Douwes Dekker – sumber: istimewa

Ernest Eugene Francois Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 28 Oktober 1870. Ia seorang Indo, tetapi tidak mau menyebut dirinya orang Indo. Setelah menamatkan HBS ia bekerja di perkebunan kopi di daerah Malang. Namun, karena merasa tidak nyaman melihat perlakuan orang Belanda terhadap buruh di perkebunan kopi, ia berganti pekerjaan menjadi guru kimia. Sesudah itu, beberapa tahun lamanya ia mengembara ke luar negeri. Sebagai sukarelawan, ia turut dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan. Ia ditawan oleh Inggris dan dipenjarakan di Sri Lanka. Setelah bebas, ia kembali ke Indonesia, lalu memimpin harian De Express yang banyak memuat karangan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Douwes Dekker yakin bahwa penjajahan dapat ditumbangkan dengan adanya aksi bersama di antara semua golongan dalam masyarakat. Golongan Indo dianjurkan agar bersatu dengan penduduk Indonesia dan menganggap Indonesia sebagai tumpah darah mereka.

Tokoh Militer Tinggi Jepang

Tadashi Maeda – sumber: wikipedia

Awal mula ekspansi Jepang ke Indonesia didasari oleh kebutuhan Jepang akan minyak bumi untuk keperluan perang. Menipisnya persediaan minyak bumi yang dimiliki oleh Jepang untuk keperluan perang ditambah pula tekanan dari pihak Amerika yang melarang ekspor minyak bumi ke Jepang. Sikap Jepang pada awal kedatangannya semakin menarik simpati rakyat Indonesia. Dan kemenangan Jepang atas perang Pasifik digembor-gemborkan sebagai kemenangan bersama, yaitu kemenangan bangsa Asia.

Saat tentara Jepang hendak mendarat di Indonesia, Pemerintah Jepang mengeluarkan slogan-slogan : ”India untuk orang India, Birma untuk orang Birma, Siam untuk orang Siam, Indonesia untuk orang Indonesia.” Jepang juga memberikan janji kemerdekaan “Indonesia shorai dokuritsu”, dan membiarkan bendera Indonesia dikibarkan. Bahkan sebelum Jepang mendarat di Pulau Jawa, siaran Tokyo sering menyiarkan lagu kebangsaan Indonesia. Tindakan lain yang dilakukan oleh Jepang adalah melakukan pelarangan terhadap penggunaan bahasa Belanda. Sejak itulah bahasa Indonesia ikut berkembang dengan pesat. Namun penjajah tetaplah penjajah. Dalam kenyataannya, Jepang sama halnya dengan serigala yang haus akan darah, perlakuan pasukan Jepang lebih kejam sehingga bangsa Indonesia mengalami kesengsaraan.

Kedudukan Jepang di Indonesia harus berakhir ketika Jepang mengalami kekalahan dan akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Saat itu, para pejuang dan rakyat Indonesia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk segera memerdekakan Negaranya. Dalam serentetan peristiwa menuju kemerdekaan, terdapat peran penting Tadashi Maeda yang merupakan satu-satunya tokoh Jepang yang berani mengambil risiko mendukung kemerdekaan Indonesia. Laksamana Muda Tadashi Maeda lahir di Kagoshima Jepang pada tahun 1898, selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, beliau menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat tentara Kekaisaran Jepang. Pada tanggal 16 – 17 Agustus 1945 beliau mengizinkan Bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia untuk mempergunakan rumah dinasnya di Jalan Imam Bonjol no. 1 sebagai tempat perumusan naskah proklamasi.

 

Sumber:

Sepak Terjang Perjuangan Politik M.H Thamrin u.p Museum Joang BAB I & BAB II

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

24 thoughts on “Tokoh Asing yang Memihak Rakyat Indonesia Pada Masa Penjajahan

  1. Paling suka baca artikel sejarah.. Seolah-olah sedang main puzle.. Sambung-menyambung..
    Apakah dr. Danudirjo Setiabudhi adalah putra dari Edward Douwes Dekker..?

  2. Sayangnya, setelah Belanda dan Jepang angkat kaki di Indonesia, sistem ‘tanam paksa’ masih terus berlanjut dalam bentuk penanaman padi jenis “R” something-something. 😉

    Revolusi agraria masih menjadi PR yang panjang bagi negeri ini.

  3. Keren sih kar tulisan lu, as always! duuuhh, tuh kan gua jadi muji, tuh kan idung lu jadi kembang kempis kesenengan, tuh kan lu jadi cengar cengir. yaaaaahhh

  4. Tulisan tentang sejarah memang selalu mengingatkan masa lalu, mengingatkan juga akan perjuangan para pahlawan. Jadi sedih ya inget mereka-mereka. Perjuangannya sungguh luar biasa.

  5. Tokoh-tokoh ini memang enggak asing karena sering muncul di buku sejarah zaman sekolah. Thank you Kar, sudah mengingatkan lagi peran penting dari tokoh asing yang memihak Indonesia pada masa penjajahan.

  6. With all my respect untuk orang asing / keturunan yang turut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, atas nama kemanusiaan dan hak asasi manusia. Dan super salut untuk kakak yang mengingatkan lagi melalui tulisan bagaimana berartinya peran mereka untuk kita, pun sampai saat ini. Terimakasih ya

  7. Douwes Dekker permah dituding gila dan dibenci orang-orang Belanda karena kecintaanya pada Indonesia. Sekarang koq jadi ironis ketika sesama anak bangsa saling hujat karena beda pilihan, beda sikap politik. Mungkon artikel seperti ini harus serimh ditulis dan disebarkan supaya rasa cinta tanah air, cinta sejarah bangsa ada di generasi milenial. Jas merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah

  8. artikelnya menarik. Biarpun bangsanya menjajah, tapi ada orang-orang yang masih memiliki hati nurani dan melihat dari sisi kemanusiaan. Terimakasih sudah berbagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *