Napak Tilas di Gedung Perundingan Linggarjati

Babak-belur Tergilas Spoor
Beda tafsir Perjanjian Lingarjati menyulut Agresi Militer I. TNI tidak siap.

LETNAN Jenderal Simon Spoor memandangi lembar-lembar klausul Perjanjian Linggarjati. Perhatiannya tertuju pada pasal 1: kerja sama militer antara Negeri Belanda dan Indonesia. Desember 1946, sebulan setelah kesepakatan tersebut diteken Sutan Sjahrir dan Wim Schemerhorn, perwira 44 tahun itu menyelesaikan cetak biru pertahanan di Hindia Belanda.

Belanda memimpin pembentikan polisi berkemampuan tempur alias gendarmerie di Negara Indonesia Serikat. “Pasukan Republik tidak memiliki kualitas tempur”, katanya seperti dikutip sejarawan universitas Leiden, J.A de Moor, dalam makalah “Jenderal Spoor dan Berkas yang Tiada”, yang diterjemahkan sejarawan militer Letnan Jenderal Purbo Suwondo dan Mayor Alwin Nurdin.

Indonesia menampik usul pembentukan gendarmerie, yang berarti menghapuskan Tentara Nasional Indonesia. Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri Belanda Eelco van Kleffens memperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengutuk Belanda jika menyerang Indonesia. Maka rencana serangan itu disamarkan sebagai aksi polisional bersandi Operatie Product untuk memberantas kekacauan di wilayahnya.  Padahal sejatinya operasi itu mengincar sumber ekonomi atau “product” berupa hasil perkebuna dan pertambangan di Jawa dan Sumatera. Belanda mesti mencari pemasukan baru untuk menyeimbangkan keuangan yang deficit pasca-Perang Dunia II.

Pada 20 Juli 1947, Perdana Menteri Louis Beel menyatakan Belanda tak lagi terikat gencatan senjata dengan dalih pasukan Indonesia sering mengganggu keamanan. Sehari kemudian, sekitar pukul 06:00, pesawat tempur P-51 Mustang mengumbar peluru di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Palembang, dan Padang. Serbuan si cocor merah—mengacu pada gambar mulut hiu berwarna merah kavaleri dan infanteri. “Orang-orang masuk parit perlindungan,” ujar Jenderal Abdul Haris Nasution, dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas. Nasution waktu itu menjabat Panglima Daerah Militer Siliwangi, Jawa Barat.

Melalui Radio Republik Indonesia, Panglima Besar Soedirman meminta seluruh rakyat Indonesia bersatu menyelamatkan Negara. Tiga kali dia mengatakan “Ibu Pertiwi Memanggi” sebagai sandi bagi TNI untuk melawan. Strateginya: membentuk wehrkreise, kantong perlawanan. – dikutip dari seri buku saku tempo: Tokoh Militer. SOEDIRMAN SEORANG PANGLIMA, SEORANG MARTIR.

dokumentasi pribadi

Perjuangan rakyat Indonesia belumlah selesai usai teks proklamasi diproklamirkan oleh Ir. Soekarno didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat pada 17 Agustus 1945. Setelah Indonesia dinyatakan merdeka, sang penjajah yang telah menjajah Negeri Pertiwi ini selama 3.5 abad lamanya, tampak tidak rela. Segala upaya dilakukan untuk kembali menegakkan kekuasaannya di Indonesia.

Bagian dari Seri Buku Saku Tempo yang membahas tentang Panglima Besar Soedirman—yang merupakan seorang tokoh yang aku kagumi—pada bagian Babak-belur Tergilas Spoor, menghantarkanku untuk mengunjungi Gedung Perundingan Linggarjati yang terletak di Linggarjati, Desa Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dengan tujuan untuk mengenang bagaimana jalannya perjanjian tersebut hingga pada akhirnya diingkari oleh Belanda.

Sebelum mulai menulis hasil dari napak tilas di Gedung Perundingan Linggarjati, aku akan sedikit menggambarkan latar belakang terjadinya Perundingan Linggarjati. Kita semua tahu bahwa pada tanggal 14 Agustus 1945, setelah peristiwa pengeboman oleh tentara sekutu yakni Kota Hirosima dan Nagasaki, Jepang menyerah kepada Sekutu dan secara hokum tidak lagi berkuasa di Indonesia. Pada tanggal 10 September 1945, Panglima Bala Tentara Kerajaan Jepang di Jawa mengumumkan bahwa pemerintahan akan diserahkan kepada Sekutu, tidak kepada pihak Indonesia. Pada mulanya, kedatangan Sekutu disambut dengan senang hati oleh Indonesia karena mereka mengumandangkan perdamaian. Pasukan Sekutu mendarat di Indonesia antara lain bertugas melucuti tentara Jepang. Tugas ini dilaksanakan Komando Pertahanan Sekutu di Asia Tenggara yang bernama South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Lord Louis Mountbatten yang berpusat di Singapura. Untuk melaksanakan tugas itu, Mountbatten membentuk suatu komando khusus yang diberi nama Allied Forces Netherland East Indies (AFNEI) di bawah Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Namun, setelah diketahui bahwa dalam pasukan sekutu tersebut terdapat serdadu Belanda dan aparat Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang secara terang-terangan ingin kembali meneggakkan pemerintahan Hindia Belanda, sikap bangsa Indonesia berubah menjadi curiga.

Masuknya AFNEI yang diboncengi NICA ke Indonesia karena Jepang menetapkan ‘status quo’ di Indonesia menyebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dengan Belanda, seperti contohnya peristiwa 10 November, selain itu pemerintah Inggris menjadi penanggung jawab untuk menyelesaikan konflik politik dan militer di Asia. Oleh sebab itu, Sir Archibald Clark Kerr, Diplomat Inggris, mengundang Indonesia dan Belanda untuk berunding di Hooge Veluwe, namun perundingan tersebut gagal karena Indonesia meminta Belanda mengakui kedaulatannya atas Jawa, Sumatera dan Pulau Madura, namun Belanda hanya mau mengakui Indonesia atas Jawa dan Madura saja.

__

Di sebuah desa di bawah kaki gunung Ciremai, jalanan beraspal dimana kanan dan kirinya adalah sawah, dengan udara yang sangat sejuk, disanalah gedung berwarna gading dengan kusen pintu dan jendela berwarna hijau berada. Gedung yang dari luar terlihat seperti sebuah rumah, yang dikelilingi pepohonan rimbun yang membuat suasana sekitar gedung begitu asri, namun penuh akan kenangan bersejarah puluhan tahun silam. Gedung yang menjadi saksi bisu bagaimana Sutan Sjahrir bersama Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. A. K. Gani, Mr. Mohammad Roem sebagai perwakilan dari Indonesia berupaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan jalur diplomasi.

Tiket masuk ke gedung bersejarah ini termasuk sangat terjangkau, kita hanya perlu megeluarkan uang sebesar Rp2.000,- saja. Di pintu masuk, kita akan disuguhi papan berwarna kuning yang berisikan 17 pasal dari hasil perundingan Linggarjati yang mana dari ke-17 pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa:

  1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.
  2. Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat 1 Januari 1949.
  3. Pihak Belanda dan Indoensia sepakat membentuk RIS.
  4. Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth/ Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepala uni.

Perundingan Linggarjati ini sendiri dilaksanakan pada 10 – 15 November 1946 dan ditandatangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1947. Delegasi dari Indonesia diwakilkan oleh Sutan Sjahrir (pada saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia), Mr. Soesanto Tirtoprodjo (pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman Indonesia ke-3), Dr. A. K. Gani (pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran Indonesia ke-3), dan Mr. Mohammad Roem (pada saat itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-4). Sementara itu, Delegasi dari Belanda diwakili oleh Prof. Mr. Schermerhorn, Dr. Van Mook, Mr. Van Pool, dan Dr. F. De Boer dengan saksi Dr. Leimena, Dr. Soedarsono, Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Ali Boediardjo dan dengan penengah yang merupakan seorang Diplomat Inggris, yaitu Lord Killearn.

diorama perundingan linggarjati

Masuk ke dalam gedung, kita akan disuguhkan beberapa frame yang berisikan informasi-informasi mengenai sejarah gedung linggarjati sendiri, jalannya perundingan, foto-foto para delegasi Indonesia dan Belanda lengkap dengan formasi berjalannya perundingan. Selain itu, terdapat sebuah diorama yang menggambarkan jalannya perundingan.

suasana perundingan

Dijelaskan bahwa pada awalnya, gedung ini merupakan gubuk milik Ibu Jasitem pada tahun 1918 dan pada tahun 1921, oleh seorang Bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi semi permanen. Pada tahun 1930, dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Ok. Pada tahun 1935, dikonstruksi oleh Theo Huitker dan dijadikan Hotel bernama RUSTOORD. Pada tahun 1942, Jepang menjajah bangsa Indonesia dan hotel ini diganti namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Pada tahun 1945 setelah proklamasi Kemerdekaan RI maka hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Dipilihnya gedung ini sebagai tempat perundingan pun dikarenakan tidak memungkinkannya perjanjian dilakukan di Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di Linggarjati, Kuningan. Pada hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di Cirebon. Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggajati.

formasi pada saat perundingan

Satu hal yang paling membekas dalam benakku hingga sekarang. Seseorang pernah berkata padaku, “Lihat deh, foto ini.” ia menunjukkan sebuah foto dimana terdapat Sutan Sjahrir dengan seorang Dr. Van Mook. “Kenapa?” tanyaku.

Sutan Sjahrir dan Dr. Van Mook

“Tinggi Sutan Sjahrir engga seberapa. Sementara Dr. Van Mook—ya bisa dilihat sendiri dan kebetulan beliau kebangsaan Belanda.” Dapat dilihat bahwa dari segi fisik, Sutan Sjahrir jauh lebih rendah dari Dr. Van Mook. “Walau begitu, lihat deh mana yang berdirinya lebih tegak, mana yang berdirinya agak membungkuk, juga gaya tubuh siapa yang memberikan sikap hormat.” Aku masih belum mengerti alur pembicaraannya. “Tampaknya wibawa serta kecerdasan yang dimiliki Sutan Sjahrir yang membuat Dr. Van Mook terlihat seperti itu.” Terangnya sehingga aku mengerti.

Dulunya merupakan sebuah hotel. Tentunya gedung tersebut terdapat beberapa kamar yang dijadikan tempat beristirahat para delegasi baik dari Belanda maupun dari Indonesia. Di dalam kamar para delegasi pun terdapat beberapa foto yang tidak hanya menjelaskan jalannya perundingan Linggarjati, melainkan peristiwa sejarah lainnya yang terjadi di masa yang sama. Di sebuah lorong di antara kamar-kamar pada delegasi, terdapat figura besar seorang wanita yang tidak lain merupakan Ibu. MR. Maria Ulfah Santoso (Menteri Sosial RI pertama). Di figura tersebut dijelaskan bahwa menurut keterangan Soebadio Sastrosatomo dan Ali Boediardjo bahwa yang mengusukan tempat perundingan di Linggarjati kepada Sutan Sjahrir adalah beliau—Ibu Maria Ulfah. Beliau memilih Linggarjati karena Ayahnya adalah mantan Bupati Kuningan.

kamar delegasi

ibu mariah ulfa

Berjalan ke arah belakang gedung, kita akan bertemu dengan ruang pertemuan antara Presiden Soekarno dan Lord Killearn. Di ruangan tersebut pun, terdapat sebuah poster yang sangat fenomenal, yakni sebuah poster yang berisikan himbauan pencegahan konflik akibat pro kontra masyarakat Indonesia terhadap hasil perundingan karena memang hasil dari perundingan tersebut menimbulkan pro dan kontra, sebagai contoh beberapa partai sepeti Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata menyatakan bahwa hasil dari perjanjian Linggarjati merupakan bukti lemahnya pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia.

ruang diskusi Presiden Soeharto dan Lord                                            Killearn

 

poster seruan agar tidak terjadi konflik

Namun, penjajah tetaplah penjajah. Pelaksanaan hasil dari perundingan ini tidak berjalan mulus. Pada tanggal 20 Juli 1947,  Gubernur Jendral H.J. van Mook akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian ini, dan pada tanggal 21 Juli 1947, meletuslah Agresi Militer Belanda I. Hal ini merupakan akibat dari perbedaan penafsiran antara Indonesia dan Belanda. Hal itulah, yang membuat Panglima Besar Soedirman memilih untuk Jalan Gerilya ketimbang Jalan Diplomasi.

Napak tilas diakhiri dengan suguhan pemandangan yang sangat rimbun dan menyegarkan mata. Di belakang gedung, pepohonan tinggi-tinggi dan hijau terawat dengan baik. Selain itu, gemercik dari air di kolam ikan membuat terapi tersendiri untuk kita.