Donor Asi Dalam Islam

Di usia seperempat abad ini, teman-teman di dunia nyata maupun di dunia maya kebanyakan sudah menikah dan memiliki anak. Hampir setiap hari yang berseliweran di dunia maya kalau tidak tentang khitbah, resepsi, honey moon, dan bayi-bayi imut hasil dari buah cinta teman-teman daring dengan pasangannya.

Kali ini aku akan memfokuskan kebahagiaan ibu-ibu muda yang sedang meng-ASI-hi. Memberikan ASI kepada anak memang merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi para Ibu yang sedang memiliki anak. Saat memberikan ASI, perikatan batin antara anak dan Ibu menjadi semakin erat.

Islam memang agama yang sempurna, dalam Al-Qur’an sudah dibahas mengenai persusuan ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban bagi ayah untuk memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Tidaklah satu jiwa dibebani kecuali sekadar kemampuannya. Janganlah seorang ibu mengalami kemudlaratan karena anaknya, demikian pula seorang ayah. Dan pewaris anak itu pun memiliki kewajiban yang sama. Apabila keduanya (ayah dan ibu) ingin menyapih si anak sebelum dua tahun dengan kerelaan keduanya dan dengan musyawarah, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kalian ingin anak-anak kalian disusukan oleh orang (wanita) lain maka tidak ada dosa bagi kalian apabila kalian memberikan pembayaran dengan cara yang ma’ruf. Bertakwalah kalian kepada Allah, ketahuilah bahwasanya Allah Maha Melihat terhadap apa yang kalian kerjakan.” (al-Baqarah: 233).

Tidak sedikit dari para ibu yang dianugerahi ASI yang berlimpah sehingga jiwa-jiwa dermawan mereka pun tergerak untuk mendonorkan “kelebihan” ASI mereka kepada anak-anak yang ASI bundanya tidak semelimpah mereka.

Tawaran-tawaran “siapa yang membutuhkan ASI, saya ingin mendonorkan ASI saya” pun berseliweran di media sosial bahkan sudah dibuatkan biodata dari si calon pendonor. Kondisi kesehatan si Ibu, agama si Ibu, jenis kelamin anak si Ibu, serta alamat si Ibu.

Sebenarnya itu hanya ruang lingkup kecil yang aku jadikan contoh saja. Faktanya, banyak juga ibu-ibu yang sedang menyusui mendonorkan ASI mereka di puskesmas-puskesmas atau tempat penampungan untuk donor ASI untuk kemudian didistribusikan ke bayi-bayi yang membutuhkan.

Lalu apa hukum mendonorkan ASI dalam Islam? Hukumnya adalah boleh. Merujuk pada sepenggal tafsir surah al-Baqarah: 233, “Dan jika kalian ingin anak-anak kalian disusukan oleh orang (wanita) lain maka tidak ada dosa bagi kalian apabila kalian memberikan pembayaran dengan cara yang ma’ruf.”

Apabila kita melihat sejarah Islam pun, masalah Ibu persusuan ini merupakan hal yang lumrah bagi bangsa Arab. Bahkan, Rasulullah memiliki Ibu susu bernama Halimah  as Sa’diyyah. Anak Rasulullah yang bernama Ibrahim pun disusui oleh wanita lain. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Tadi malam lahir putraku, maka aku namakan dengan nama ayahku, Ibrahim.” Kemudian beliau menyerahkan Ibrahim, putranya, kepada Ummu Saif, istri Abu Saif seorang pandai besi. (HR. al-Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315).

Tapi, saat pertama kali melihat banyaknya ibu-ibu dermawan yang ingin mendonorkan ASInya, satu pertanyaan sederhana muncul di benakku. “Eh, kalau si anak yang nerima donor ASI nanti pas udah gede ketemu sama si anak Ibu pendonor ASI yang lagi minum ASInya si Ibu, dan kebetulan mereka berbeda kelamin mereka ga bisa nikah dong? Kan mereka saudara sepersusuan”. Alias terjadinya hubungan mahram.

Mahram itu apa, sih? Pastinya hal ini sudah tidak asing lagi didengar oleh teman-teman. Tapi tidak ada salahnya kita review apa itu mahram. Mahram adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki.  Mahram sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu mahram muabbad (tidak boleh dinikahi selamanya), dan mahram muaqqot (tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal).

Karena kita sedang membahas tentang donor ASI, maka aku akan sedikit menjelaskan mengenai mahram muabbad. Hubungan mahram muabbad bisa terjadi karena tiga sebab: hubungan nasab, penyusuan (rodho’ah), dan karena pernikahan (mushoharoh).

Lalu siapa sajakah mahram muabbad yang terjadi karena persusuan?

  1. Wanita yang menyusui dan ibunya;
  2. Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan);
  3. Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan);
  4. Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan);
  5. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui;
  6. Saudara perempuan dari suami dari wanita yang menyusui;
  7. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan);
  8. Istri lain dari suami dari wanita yang menyusui.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Diharamkan bagi kalian untuk menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, amah-amah (saudara perempuan ayah) kalian, khalah-khalah (saudara perempuan ibu) kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki dan dari saudara perempuan (keponakan), ibu-ibu yang menyusui kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan….” (an-Nisa: 23)

Adakah syarat terjadinya kemahraman karena persusuan?

Syarat kemahraman melalui persusuan:

ASI masuk ke dalam perut bayi dan harus sampai kenyang

Sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Perhatikanlah saudara-saudara laki-laki kalian sepersusuan. Karena penyusuan yang teranggap adalah ketika air susu mencukupi dari rasa lapar.” (HR Al-Bukhari No. 5102 dan Muslim no. 1455)

Menyusui sebanyak 5x sampai kenyang.

Dalam hal ini, terdapat perpedaan pendapat dari para ulama.

Pendapat pertama:

Penyusuan sedikit ataupun banyak itu terjadi akan menyabkan terjalinnya kemahraman dengan syarat air susu tersebut sampai ke dalam perut. Demikian pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf.

Dihikayatkan pendapat ini oleh Ibnul Mundzir dari ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, ‘Atha, Thawus, Ibnul Musayyab, ‘Urwah ibnuz Zubair, al-Hasan, Mak-hul, az-Zuhri, Qatadah, al-Hakam, Hammad, Malik, al-Auza’I, ats-Tsauri, dan Abu Hanifah.

Mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan ibu-ibu yang menyusui kalian…” (an-Nisa:23)

Dalam ayat ini tidak disebutkan jumlah penyusuan yang menyebabkan anak susu haram menikahi ibu susunya.

Demikian pula hadits:

Karena penyusuan yang teranggap adalah ketika air susu mencukup dari rasa lapar.” (HR Al-Bukhari No. 5102 dan Muslim no. 1455)

Pendapat kedua:

Minimal tiga kali penyusuan, sebagaimana pendapat yang lain dari al-Imam Ahmad, pendapat ahlu dzahir kecuali Ibnu Hazm, pendapat Sulaiman bin Yasar, Sa’id bin Jubair, Ishaq, Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid, Ibnul Mundzir, dan Abu Sulaiman, berdalil dengan apa yang dipahami dari hadits,

Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa datang seorang Arab Badui menemui Rasulullah ketika itu beliau berada di rumahku. Badui itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku dahulunya punya seorang istri, kemudian aku menikah lagi. Istri pertamaku mengaku telah menyusui istriku yang baru degan satu atau dua isapan.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

Tidak mengharamkan (karena susuan) satu isapan dan dua isapan.” (HR Muslim no. 1450)

Pendapat ketiga:

Hukum yang diakibatkan penyusan tidak bisa diakibatkan penyusuan tidak bisa ditetapkan bila kurang dari lima susuan, berdalil dengan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan dihapus hukum penyusuan yang sepuluh menjadi lima.

Dahulu al-Qur’an turun menyebutkan sepuluh kali penyusuan yang dimaklumi dapat mengharamkan kemudian dihapus ketentuan tersebut dengan lima kali penyusuan.”

Al Imam As Syafii rahimahullah berkata, “Penyusuan tidaklah menyebabkan keharaman kecuali lima kali susuan yang terpisah.

Usia si bayi adalah maksimal 2 tahun hijriyah.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini merupakan bimbingan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada para ibu agar mereka menyusui anak-anak mereka dengan penyusuan yang sempurna yaitu selama dua tahun sehingga setelah lewat dua tahun tidaklah teranggap, karena itulah Allah menyatakan, ‘Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuan’.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 1/290)

Karena setelah usia dua tahun, ASI bukan lagi sumber makanan bagi si anak namun ia telah berpindah kepada makanan yang lain. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Apabila seorang anak yang menyusu telah sempurna usianya dua tahun maka berarti telah sempurna penyusuannya. Setelah itu jadilah air susu kedudukannya seperti makanan yang lainnya sehingga penyusuan setelah dua tahun tidak teranggap dalam masalah kemahraman.”(Tafsir al-Karimir Rahman, hlm. 104)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Bila seorang bayi menyusu pada seorang wanita dengan lima susuan dalam usia (belum lewat) dua tahun, sebelum disapih, maka bayi itu menjadi anaknya dengan kesepakatan para imam. Suami dari wanita itu (yang menjadi sebab keluarnya air susu tersebut dengan melahirkan anak si suami) menjadi ayah bagi anak susu tersebut, demikian menurut kesepakatan para imam yang masyhur.”

Lalu bagaimana solusinya agar tidak terjadi pernikahan antara mahram karena persusuan

Pendoor ASI harus memiliki biodata penerima ASI dengan lengkap karena pada saat pendonor mendonorkan ASInya yang diberikan ke anak seseorang maka anak si penerima donor ASI akan menjadi mahromnya si pendonor atau jadi mahram anak-anaknya si pendonor, jia ia susukan. Karena apabila sudah besar nanti mereka berdua bertemu dan saling suka lalu menikah, maka batal lah pernikahannya.

Ada sebuah kisah pada zaman Rasulullah. Ada seorang pemuda pemudi saling suka lalu mereka menikah dan sudah berhubungan biologis. Datanglah seorang nenek tua dan berkata, “Ya Rasulullah, dua orang ini pernah saya susui.” Rasululullah pun memanggil mereka. “Ini adalah Ibu susu kalian.” Lalu mereka pun diceraikan. Wallahu a’lam.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.