Ada yang Tidak Suka

Suara langkah kaki terdengar mengikuti Risa terus menerus di lorong kampus sore itu. Risa merupakan orang terakhir yang berada di sana setelah mata kuliah terakhirnya hari itu selesai. Risa mempercepat langkahnya namun semakin cepat pula suara langkah kaki yang mengikutinya terdengar.

Risa meremas tali ranselnya, ia ingin buru-buru tiba di ujung lorong agar bisa menuruni tangga. Ujung loroang semakin terlihat dan suara langkah kaki yang mengikutinya, tiba-tiba tidak lagi terdengar dari belakang melainkan dari anak tangga yang akan ia lewati.

“Aaa!!!” Risa berteriak sekeras-kerasnya ketika ia mendapati Ardan—teman sekelasnya tiba-tiba muncul dari anak tangga. Suara langkah kaki yang ia dengar dari anak tangga ternyata suara Ardan.

“Lo kenapa, Ris? Kok kaget banget gitu?”

Risa ingin sekali menceritakan apa yang ia dengar barusan, namun menceritakan semuanya ke Ardan bukanlah ide bagus menurutnya karena Ardan hanya akan menganggapnya mengada-ngada.

“Oh.. Engga, Dan. Gue kaget aja tiba-tiba lo muncul. Soalnya kan udh jam kelas terakhir gitu. Lo mau ngapain?”

“Oh, ada yang ketinggalan di kelas Ris. Kelas belum dikunci, kan?”

Risa menggeleng. “Belum, Dan. Yauda lo hati-hati, ya. Udah mau maghrib. Gue duluan, ya.”

“Oke Ris.”

Risa buru-buru menuruni anak tangga sampai tibalah dia di lantai satu. Di lantai satu, masih banyak mahasiswa yang wara-wiri sehingga ia tidak lagi merasa takut. Namun suara langkah kaki yang tadi dia dengar terasa begitu nyata, tidak mungkin suara itu muncul karena keparnoannya saja.

Perjalanan dari ujung lorong ke anak tangga tadi terasa sangat jauh, membuat Risa sangat tertekan. Risa bergegas ke toilet yang ada di lantai satu.

Di dalam toilet hanya ada satu orang di dalam bilik, entah siapa. Risa membuka keran wastafel dan mulai membasuh wajahnya. Saat itu ia menyadari ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. “Aaah, kenapa sih kok tiba-tiba ada jerawat gede.” Ia menemukan dua jerawat di wajahnya. Jerawat itu berwarna putih, cukup besar. “Perasaan tadi pagi engga ada.”

Risa mengeluarkan salep jerawat dari pouch make upnya. Ia olesi jerawat di wajahnya dengan salep itu. “Besok kempas, ya.” Ujarnya kepada dua jerawat yang tumbuh di wajahnya.

Selesai mengolesi jerawatnya, Risa memasukkan kembali salep jerawat miliknya ke dalam pouch make up. Saat itu ia menghadap ke kaca di depannya dan ia mendapat sebuah tangan di atas pintu. Tangan pucat yang menggantung.

Sangat tidak mungkin jika orang di dalam toilet itu menggantungkan tangannya ke atas pintu. Jantung Risa kembali berdebar. Perlahan ia berbalik badan dan melihat ke arah pintu. Tidak ada apapun di sana. Tiba-tiba pintu di dalam bilik toilet terbuka. “Aaa!!” Risa berteriak. Seseorang di dalam bilik ikut teriak mendengar teriakan Risa.

Apa yang ia lihat bukanlah sesuatu yang menyeramkan melainkan salah seorang mahasiswi lainnya yang ia tidak kenal. “Maaf.” Risa buru-buru meminta maaf, khawatir mahasiswi itu tersinggung akan teriakannya.

“Eh iya, ga apa-apa. Ngomong-ngomong, pipi kamu berdarah.” Ujar mahasiswi itu.

Risa buru-buru berbalik ke arah cermin wastafel. Jerawat yang ia tadi olesi salep pecah dan mengeluarkan darah. “Hah? Kok berdarah?” tanyanya kepada diri sendiri.

Risa membasuh darah jerawatnya dengan air.  Ia melihat bekas jerawatnya seperti ketika ia memencet jerawatnya menggunakan tangan. Tengahnya agak bolong. “Eh, makasih ya.” Katanya kepada mahasiswi.

Risa buru-buru pulang ke kosannya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Ia masih kepikiran akan langkah kaki dan penampakan tangan di toilet kampus. Sampainya di kosan, adzan maghrib berkumandang. Risa buru-buru mandi dan segara melakukan ibadah solat maghrib.

Saat ia memakai mukena, ia merasa wajahnya begitu panas dan gatal. Risa menggosok-gosokkan wajahnya dengan mukena perlahan dengan harapan rasa gatal dan panasnya sedikit berkurang.

Namun selama ia solat, ia menjadi tidak khusyuk akibat rasa gatal dan panas di wajahnya. Usai solat maghrib, Risa mencium bau amis darah. Ia mengendus-endus darimana bau itu berasal. Risa mulai menyadari kalau bau amis darah itu berasal dari mukenanya yang berwarna maroon.

Sontak Risa langsung melepas mukena dan melihat ke cermin. Ia mendapati banyaknya jerawat yang sudah pecah memenuhi wajahnya. Risa berteriak histeris melihat apa yang terjadi pada dirinya.

Risa buru-buru menelpon Kemala, teman kosnya di kamar sebelah. Namun tiba-tiba lampu mati. Risa melihat bayangan besar di dekat pintu kosnya, terkena pantulan cahaya dari luar.

Risa melompat ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya. “Mal. Lo dimana?” tanya Risa kepada Kemala setelah teleponnya dijawab.

“Di kamar, Ris. Ada apa?”

“Mal. Tolong lo dateng ke kamar gue. Gue takut gelap banget.”

“Hah gelap? Lo belom bayar token listrik?”

“Udah, Mal. Mal, buruan Mal gue takut.”

Tidak lama kemudian, Risa mendengar pintu kamarnya diketuk. Dari luar terdengar suara Kemala memanggil namanya. “Ga dikunci, Mal.”

Kemala membuka pintu kamar Risa dan ia mencium bau bangkai yang sangat menusuk hidung. “Ris, ada bangke tikus ya? Bau banget.”

“Mal, tolongin gue.” Suara isak tangis mulai terdengar dari mulut Risa.

“Lo kenapa, Ris?” Kemala mencoba untuk mendekat namun semakin mendekat bau bangkai semakin menyengat seakan-akan baunya berasal dari tubuh Risa. “Ris, tunggu sebentar ya. Gue panggil ibu kost dulu. Kayaknya ada masalah sama listrik lo dan ini ada tikus mati kayaknya.”

Risa kembali sendiri. Ia memberanikan diri untuk menurunkan selimutnya. Namun ia kembali melihat bayangan besar di kegelapan itu, di balik pintu kamarnya, terkena pantulan cahaya dari luar. Risa kembali menutup wajahnya dengan selimut.

“Astagfirullahaladzim!” terdengar suara Ibu Marni beristighfar. Bau busuk benar-benar sudah memenuhi isi ruangan. Ibu Marni tidak paham dengan apa yang terjadi.

“Neng Risa, keluar dulu yuk Neng. Bau banget di sini.” Ujar Ibu Marni.

Risa sebenarnya tidak mengerti kenapa Kemala dan Ibu Marni terus-terusan membahas bau busuk dari kamarnya padahal dia tidak mencium apapun. Dengan adanya keberadaan Kemala dan Ibu Marni di kamarnya, Risa pun tidak mau membuang-buang kesempatan itu.

Ia menurunkan selimutnya, dan tiba-tiba lampu kamar menyala. “ASTAGFIRULLAH!!!” Ibu Marni dan Kemala berteriak. Pak Aden, suami Ibu Marni datang setelah mendengar suara ribut dari kamar Risa.

Risa tampak kebingungan. Ibu Marni dan Kemala semakin menjauh ketika Risa mendekati mereka. “Kalian kenapa?” tanya Risa.

“Astagfirullah! Bau apa ini? Astagfirullaah! Itu Neng Risa, Bu?” Pak Deden tidak kalah kagetnya ketika melihat Risa. Wajah Risa terlihat sangat menjijikan. Wajahnya penuh dengan jerawat berisi nanah. Sisanya sudah pecah dan mengeluarkan darah yang bercampur dengan nanah.

“Ris, lo kenapa?” tanya Kemala. “Bu, tadi pagi dia ga gitu.” Kemala ganti bicara pada Ibu kosnya.

“Neng Risa, ada Al-Qur’an?” tanya Pak Deden.

“Kenapa, Pak saya bingung.”

Kemala mengambil Al-Qur’an yang ada di lemari Risa. Ia sudah tahu seluk beluk isi kamar Risa karena sering kali menginap. “Buat apa pak, Al-Qur’an?”

“Suruh dia pegang dan baca, surat Al-Baqarah.”

*To be Continued*

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Ada yang Tidak Suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.