Adik Perempuanku

Lima belas tahun lalu tepatnya tahun 2005 ketika usiaku 11 tahun. Saat itu tetangga depan rumahku sedang punya hajat. Tinggal di sebuah kampung di pinggir Kota Depok, warga lebih senang mengadakan hajatan di rumah ketimbang di gedung. Seharian suntuk pesta pernikahan akan digelar, belum lagi ditambah semalam jika nanggep dangdut.

Biasanya jika ada pesta pernikahan yang digelar, berbagai macam tukang dagangan yang lewat mangkal seharian. Berharap para tamu undangan membeli dagangan mereka. Apalagi jika ada dangdut atau layar tancep, dari tukang cucur sampai tukang bakso akan ada menemani.

Saat itu aku yang masih duduk di kelas 1 SMP bulak balik jajan apapun yang ada karena para tukang dagangan mangkal di sekitaran rumahku. Sampai malam hari, seperti tidak ada kenyangnya aku membeli mi ayam lengkap dengan saos dan sambal tidak peduli jika saos yang digunakan saos abal-abal.

Semangkuk mi ayam tandas dengan cepat, aku kembali membeli bakso. Kebetulan saat itu aku sedang punya banyak uang untuk jajan, tabungan dari angpau lebaran beberapa bulan lalu yang masih sisa. Sama halnya dengan mi ayam, semangkok bakso hangat itu lengkap dengan saos dan sambal tidak peduli jika saos yang digunakan adalah saos abal-abal.

Usai menghabiskan semangkuk bakso, aku sudah tidak ada selera untuk makan lagi karena perutku terasa begitu kenyang sampai jam 10 malam, perutku terasa sakit. Aku mengadu kepada Ibu dan Ayahku bahwa perutku terasa sakit.

Ibu merebuskan air hangat sementara Ayah menyiapkan minyak sayur dan koin untuk mengerik badanku karena mereka pikir aku kena masuk angin. Usai minum air hangat dan dikerik, aku pun merasa kantuk dan tertidur. Pagi dini hari sekitar jam 3 pagi, rasa sakit perutku semakin berasa. Aku pun berjalan menuju kamar mandi untuk buang air besar.

Herannya, aku agak kesulitan untuk berjalan dan ketika aku sudah berada di WC, tidak ada kotoran yang keluar namun rasa mulas tidak juga hilang. Hampir satu jam aku ada di WC, tapi hasilnya adalah nihil. Aku pun memutuskan untuk menyudahi dan ketika aku berdiri, rasa sakitnya semakin menjadi.

Aku berjalan tertatih dengan badan membungkuk berjalan menuju ruang depan. Aku menangis, Ibu dan Ayah mengira kalau aku terkena maag. Akhirnya subuh-subuh Ayah membawaku ke rumah sakit. Aku dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat dan aku didiagnosa maag oleh dokter yang kebagian jaga malam sampai pagi itu.

Sampai di rumah dan meminum obat, bukannya menghilang rasa sakit itu semakin menjadi. Aku sudah tidak bisa menelentangkan badanku karena ketika aku tidur telentang, napasku menjadi sangat sakit. Aku merintih kesakitan sampai siangnya Ayahku kembali membawaku ke rumah sakit yang lebih besar dari sebelumnya.

Aku sudah tidak bisa berjalan sendiri. Ayah menggendongku di punggungnya. Aku kembali masuk ke dalam Instalasi Gawat Darurat. Saat itu, aku sudah menjerit-jerit kesakitan. Setelah menanyai gejala yang aku alami, dokter memintaku untuk berbaring lalu memintaku mengangkat kaki kananku. Luar biasa sakitnya seperti ditusuk tombak. Aku tidak dapat mengangkat kaki kananku.

Untuk memastikan, dokter menekan perutku sebelah kanan bawah. Aku menjerit sejadi-jadinya. “Pak, ini usus buntu dan harus segera dioperasi.”

Aku melihat Ibu menangis mendengar keputusan dokter. Setelah menenangkan Ibu, Ayah pergi mengurus administrasi sementara Ibu menemaniku.

***

Aku sudah berada di dalam kamar operasi bersama dengan banyak dokter dan perawat. Setelah lampu bulat di atas kepalaku dinyalakan, seorang dokter berkata, “Dek, saya Chandra. Saya dokter anestasi. Kalo ngantuk, tidur aja yaa.” Ia mengarahkan masker oksigen ke hidungku. Aku pikir itu adalah oksigen, tapi ternyata aku sudah tidak ingat apa-apa kecuali aku muntah dan kembali mengantuk. Saat membuka mata, aku sudah berada di ruangan yang berbeda.

“Ini dimana?” tanyaku. Di sana sudah ada pamanku dari Ayah yang menjagaku. Aku tidak ingat kenapa aku ada di ruangan itu. Sepertinya pengaruh obat bius masih bersarang di dalam diriku. “Ayah sama Ibu mana, Mang?” aku tanya ke Pamanku.

“Ayah sama Ibu pulang dulu ambil baju, neng.” Jawab Pamanku.

Setelah itu, sanak keluarga bergantian menjaga dan menjengukku. Ayah dan Ibu, selain untuk membeli makan dan mengurus keperluan administrasi mereka tidak pernah meninggalkanku sedikit pun.

Prosedur operasi usus buntu mengharuskanku untuk berpuasa sebelum dan sesudah operasi, hal itu membuat lambungku menjadi sangat sakit. Belum lagi luka bekas operasi yang semakin lama semakin terasa sakit. Aku yang saat itu masih berusia 11 tahun pun sangat rewel. Aku menangis dan berkali-kali berkata, “Aku ngga kuat, Bu.” Setiap kali aku mengatakan kalimat itu, Ibu menangis. Saudara-saudaraku menguatkan Ibu.

***

Seminggu dirawat, aku pun diperbolehkan untuk pulang. Aku sudah sangat baik dari sebelumnya namun masih sangat ngeri dengan luka operasi yang ada di perutku. Dengan sangat telaten, Ibu dan Ayah bergantian mengurusku. Mulai dari makan dan mandi sampai ke pakaianku. Aku pun berangsur semakin baik.

Dua bulan kemudian, Ibu memanggilku. Ia sedang bercermin dan melihat perutnya yang membuncit. Trauma dengan usus buntu yang aku derita beberapa bulan lalu, Ibu pun menjadi sangat khawatir. “Bu, itu kayaknya adek.” Ujarku begitu saja. Entah apa yang mendorongku mengatakan hal itu.

Ibu tampak berpikir. Beberapa tahun terakhir, Ibu mengikuti program KB dan karenanya haid Ibu menjadi tidak lancar. Dalam satu tahun, bisa saja Ibu hanya 3 – 4 kali datang bulan sehingga Ibu tidak dapat memprediksi kehamilan.

“Bu, itu adek bu.” Kataku merengek. Aku sangat senang ketika membayangkan jika Ibu benar-benar hamil. Sejak dulu aku memang sangat mengharapkan kehadiran adik kecil di keluarga kami. Aku ingin menjadi seorang kakak.

Ibu menunggu Ayah pulang kerja lalu kami bertiga menggunakan motor bebek Ayah pergi ke bidan dekat rumah untuk memastikan apakah benar Ibu sedang menandung atau tidak.

Dengan tidak sabar, ketika Bu bidan sedang memeriksa perut Ibu aku mengguncang-guncangkan kaki. “Wah selamat ya, Bu. Ini prediksi saya sudah sekitar lima bulan usia kandungannya. Tapi untuk memastikan lagi, ke dokter kandungan yang di rumah sakit ya.”

Berita bahagia ini membuatku seperti orang menang lotre. Aku meminta Ayah untuk pelan-pelan membawa motor agar adik kecil yang ada di dalam perut Ibu tidak terguncang-guncang.

***

Empat bulan kemudian, seorang adik perempuan lahir. Ketika kami memikirkannya lagi, saat usia kandungan 5 bulan baru ketahuan, berarti selama aku dioperasi usus buntu adik kecilku sudah menemaniku. Ia telah membersamaiku ketika aku sedang berjuang melawan rasa sakit yang paling sakit selama aku hidup. Dek, kakak love you.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

3 thoughts on “Adik Perempuanku

  1. Woww….aku tiga kali trip bareng mama muda yang enggak sadar kalau mereka sedang hamil karena usia kandungan yang masih muda. Ini sampai lima bulan . Syukur ya semua selamat. Btw, entah kenapa mewek sama kalimat terakhir. Selalu akur ya kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.