Agar Anak Tidak Menjadi Sandwich Generation

Hari ini aku tepat berusia 27 tahun 5 bulan. Di usia ini, memang belum banyak pencapaian yang aku dapat. Namun di usia ini, aku sudah cukup banyak melihat kehidupan. Salah satu yang aku pelajari selama hidup adalah mengenai kemandirian finansial dari kedua orangtuaku.

Aku memang tidak lahir dari keluarga kaya raya. Aku yang merupakan anak pertama, pernah merasakan ikut orangtuaku menumpang dengan kakek nenekku selama 3,5 tahun. Saat aku berusia 3 tahun, kedua orangtuaku sudah mulai mencicil bangun pondasi rumah hingga atap.

Aku masih ingat jelas saat rumah baru kami belum berlantai, namun sangat cukup untuk melindungi kami dari terik matahari dan dinginnya malam. Perlahan tapi pasti, rumah kecil kami mulai dipoles hingga memiliki gerbang sehingga adikku yang usianya lebih muda 12 tahun dariku, sudah tinggal merasakan “hidup enak”.

Di keluarga kami, yang bekerja memenuhi kebutuhan hidup hanyalah Ayahku sampai aku mendapatkan pekerjaan tentunya. Ibuku hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Ayahku pun hanyalah karyawan biasa yang gajinya tidak terlalu besar. Namun kedua orangtuaku berhasil menyekolahkan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa kekurangan pun, memiliki rumah dan juga kendaraan.

Sampai aku bekerja, mereka tidak pernah menuntutku untuk memberi uang ke mereka karena aku sudah memiliki penghasilan. Bukan mengajarkan untuk tidak berbakti kepada orangtua, tapi mereka memiliki prinsip bahwa anak bukanlah investasi. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka untuk memiliki masa depan dan memiliki hidup yang jauh lebih baik dari mereka. Sekali lagi ditekankan, bukan untuk investasi.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar istilah sandwich generation dari para influencer maupun seliweran postingan tentang financial di eksplor Instagram. Bagi yang belum memahami apa itu sandwich generation, sandwich generation adalah seseorang yang membiayai keperluan orangtua namun juga perllu memikirkan untuk menghidupkan keluarga sendiri.

Sandwich Generation adalah generasi yang berada pada rentang usia 30 sampai dengan 40 tahun berada pada rentang usia produktif dan telah memiliki tanggungan yakni telah menikah dan memiliki anak yang tentunya masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan, sekaligus menanggung biaya hidup orang tuanya yang sudah sepuh dan tidak berpenghasilan lagi (Suryo, 2020).

Sederhananya, seperti roti sandwich. Kita adalah lapisan di tengah-tengah, dan kita harus membiayai kebutuhan orangtua kita sementara kita memang harus membiayai kebutuhan kita dan keluarga kita sendiri.

Setelah mengetahui istilah itu, aku mulai menyadari bahwasanya yang dilakukan orangtuaku selama ini adalah upaya mereka agar anak-anak mereka tidak menjadi sandwich generation. Membesarkan anak dan menyekolahkannya memang sudah tanggung jawab yang harus diemban oleh orangtua ketika mereka memutuskan untuk memiliki anak sehingga bukan berarti saat anak-anak sudah dewasa, anak-anak harus memberikan imbalan atas kewajiban yang sudah dikeluarkan oleh orangtua.

Lalu seperti apakah cara kedua orangtuaku agar anak-anak mereka tidak menjadi sandwich generation?

Tidak Boros

Source: Jenius

Ini adalah satu hal yang paling aku salut dari kedua orangtuaku. Mereka sangat tahu kebutuhan hidup mereka dan anak-anak mereka. Aku sebagai anak mereka tidak pernah merasa kekurangan apapun sedikitpun. Tapi aku sangat menyadari bahwa hal-hal yang mereka anggap tidak perlu, maka tidak akan mereka beli.

Menabung

Source: Pinterest

Ini adalah keahlian ibuku yang sangat aku kagumi. Ibuku sangat pintar mempos-pos segala macam kebutuhan keluarganya sehingga setiap uang bulanan yang diterima dari Ayahku selalu disisihkan untuk menabung. Sampai saat ini, Ibuku sudah memiliki deposito yang tidak dapat diutak atik untuk sekolah adikku sampai lulus sarjana nanti.

Mencari Perusahaan yang Bonafit

Source: Xendit

Memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Perusahaan yang bonafit. Tapi selagi masih muda, carilah Perusahaan yang memikirkan kesejahteraan karyawannya. Perusahaan yang bonafit itu yang seperti apa, sih? Pertama, ada kenaikan gaji setiap tahunnya. Kedua, ada bonus tahunan. Ketiga, ada jaminan kesehatan yang disediakan oleh Perusahaan. Yang paling penting, adanya kesempatan untuk menaikkan jenjang karir. Selagi masih muda, carilah Perusahaan yang seperti itu.

Rutin Bersedekah

Source: Dreamstime.com

Orangtuaku selalu mengajarkan kepadaku bahwa di dalam rezeki kita terdapat rezeki makhluk lain. Oleh karena itu, orangtuaku selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk senantiasa berbagi. Tidak hanya kepada sesama manusia, melainkan ke hewan dan juga tumbuhan. Bersedekah pun merupakan wujud syukur, dengan bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat kita.

Itu adalah beberapa hal yang dilakukan oleh orangtuaku. Tapi, dewasa ini ada banyak hal-hal lain yang dapat dilakukan agar kita kelak keturunan kita tidak menjadi sandwich generation. Dewasa ini, berbagai macam investasi dapat ditemukan dan dipelajari seperti emas dan saham contohnya. Investasi seperti itu tentunya dapat menjadi salah satu penghasilan tambahan untuk di hari tua kelak.

Namun, kebiasaan-kebiasaan seperti tidak boros dan gemar menabung menurutku itu adalah kebiasaan penting yang harus kita lakukan semasa muda. Satu hal tambahan yang dapat kita lakukan selagi kita masih muda yaitu melakukan pola hidup yang sehat. Karena jika tubuh yang sehat adalah investasi yang tidak ternilai untuk masa tua nanti.

Prinsip anak bukanlah investasi masa tua juga harus ditanam dalam diri kita. Hal itu tentunya bukan untuk mengajarkan anak-anak kita untuk tidak berbakti atau pelit kepada orangtua, ya. Tapi untuk mengajarkan diri kita sendiri agar tidak menggantungkan hidup tua kita kepada anak karena anak memiliki masa depan sendiri yang akan mereka jalani.

Sekali lagi aku tekankan. Ini hanyalah sebuah sharing agar kelak kita tidak menjadikan anak-anak kita sandwich generation. Namun jika saat ini, kita sendiri ada di dalam posisi yang harus menanggung kebutuhan orang tua dan keluarga kecil kita sendiri, lakukanlah.

Karena di dalam Islam pun, menanggung beban keluarga disebut dengan bersedekah kepada kerabat dan memiliki keutaamaan yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu diganjar dengan pahala bersedekah sekaligus menyambung silaturrahim (hubungan kekerabatan), hubungan kekerabatan yang dimaksud di sini adalah orang tua, istri, dan anak dalam tanggungannya, sebagaimana hadist dari Salman bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.” (HR. An-Nasai No. 2583, Tirmidzi No. 658, Ibnu Majah No. 1844).

Tidak mungkin juga kan, kita membiarkan orangtua kita terluntang lantung sementara kita sendiri hidup dengan cukup dan masih bisa membantu memenuhi kebutuhan orangtua dan juga keluarga kecil kita.

Itulah beberapa hal yang dapat aku bagikan. Adakah menurut kalian hal-hal lain yang dapat kita lakukan agar anak-anak kita kelak tidak menjadi sandwich generation?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

30 thoughts on “Agar Anak Tidak Menjadi Sandwich Generation

  1. Gw suka tulisan ini, karena capturing fenomena yg lagi hip saat ini 🙂
    Menurut gw pribadi, generasi milenial skrg lebih beruntung krn lbh mudah menjangkau berbagai macam informasi, termasuk informasi tentang kecerdasan finansial..
    Buat yg kebetulan terlahir di situasi ‘sandwich generation’, sepertinya hrs agak memaklumi ya krn dulu kemudahan informasi belum spt skrg..
    Jd bnyk ortu yg menjadikan anaknya ‘sandwich generation’..
    Tapi di satu sisi, generasi sekarang punya tantangannya sendiri, yaitu tantangan hrs bs kontrol diri dari godaan budaya konsumtif..
    Apalagi dg adanya sosial media yg bisa menjadi wadah buat ‘tampil’..
    Jadi kl istilahnya ngga bisa ‘ngerem’, justru malah jatuhnya lbh parah dari generasi dulu yg mereka lbh sulit buat dapat informasi ttg cara mengelola keuangan..
    Beberapa kali gw lihat fenomena yg sering dsb dg istilah budaya hedon ini, seliweran di bahas di beberapa kanal youtube..
    Dimana milenial skrg hampir jarang yg punya tabungan / dana darurat..

    Hal lainnya spy anak tdk jadi generasi sandwich?..
    Menurut gw, ortu muda hrs berani belajar bnyk instrumen investasi spy bisa taruh asetnya di beberapa jenis investasi.
    Dan kl bisa dr sekarang ada budget khusus per bln dr penghasilan buat pos belajar.
    Khususnya buat belajar investasiin uang ke beberapa jenis investasi..
    Supaya aset jd beranak pinak..hehehe..

    Nice post! 🙂

  2. emang selalu menarik ketika bahas tentang sandwich generation. Soalnya tidak hanya membicarakan tentang masalah keuangan, tapi juga secara personal dan emosional. Setiap hubungan, apalagi dengan keluarga juga akan menciptakan perasaan emosi seseorang. bahkan hal ini bisa jadi latar belakang seseorang jadi sandwich generation.

    Sangat setuju dengan poin-poin yang ditulis mbak kartini. Aku juga nambahi untuk investasi. Bisa dalam bentuk apapun, apalagi sekarang bentuk investasi banyak macamnya. Bahkan ilmu dan keahlian bisa masuk dalam sebuah investasi. Invesatasi ini juga bisa membantu untuk menyiapakan masa tua dan menghindarkan anak-anak mereka menjadi sandwich generation.

  3. Kalau saya lihat, orang tua tidak punya maksud untuk menjadikan anaknya sebuah investasi. Yang terjadi adalah “kecelakaan”. Mereka mau hemat, sudah diirit2 sampai makan juga diirit, niatnya ingin menabung, eh ongkos sekolah naik, jadi yang mau ditabung beralih ke bayaran sekolaj. Mereka mau cari perusahaan bonafit (siapa yg tdk mau?) eh kesempatannya tidak ada. Bahkan mau rutin bersedekah juga terimpit kebutuhan anak… Gimana tuh?

    Menurut saya, orang tua tidak sekali2 bermaksud menjadikan anaknya investasi, tapi bahwa mereka jadi terbatas di usia pensiunnya, itu kecelakaan. Kecelakaan karena saking cintanya sama anak. Anaknya, tanpa diminta, ya perlu untuk sadar.

    1. itu karena keadaan ya mas. sebelumnya mau diluruskan kalau tulisan ini didedikasikan untuk diri saya sendiri dan juga teman-teman yang masih muda yang sudah jadi orangtua atau akan menjadi orangtua. selagi kita masih muda, insyaAllah kita masih bisa berusaha lagi untuk menjadi lebih baik. atau setidaknya kita dapat mendidik anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang mandiri bahkan sampai mereka tua nanti dan menjadi orangtua. pasti mau kan anak-anak kita begitu? jadi selagi kita masih muda, kita maksimalkan usaha kita dan terus berdoa. kalo sedekah kan ga harus mengeluarkan uang mas, misal kita memberi makan kucing dari sisa makanan kita, atau hal kecil seperti memberi air ke tumbuhan itu sudah termasuk sedekah. insyaAllah kalo kita yakin balasan sedekah jauh lebih banyak, insyaAllah diganti lebih banyak.

      iya setuju dong sama mas iqbal. di tulisan saya juga sudah dijelaskan di 5 paragraf terakhir. Jangan sekali2 kita pelit sama orangtua hehe.

  4. Salut sama orang tua Kak Kartini yg berprinsip bahwa anak bukanlah investasi. Sayangnya di negara +62 ini anak adalah aset investasi untuk masa tua.

    Sedari kecil, tanpa disadari anak sudah dipaksa untuk “balas budi” pada orang tua. Belum lagi bila orang tua mengungkit “pengorbanan” mereka untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Dan yg lebih menyedihkan, banyak juga orang tua yang tidak “berinvestasi” pada anaknya, tapi malah mengharapkan “return of investment” (ROI).

    Semoga generasi sekarang paham bahwa anak bukanlah investasi dan membesarkannya dengan kasih sayang dan pendidikan memang tanggung jawab orang tua.

    1. iya Mas Deny aku pun bersyukur banget memiliki orangtua seperti mereka. bukan masalah “ga pernah susah” tapi bagaimana cara mereka mempersiapkan diri mereka agar di hari tua nanti dapat mandiri dan anak-anak mereka bisa fokus untuk mandiri juga dan mempersiapkan masa depan mereka.
      itulah, Mas. kalau prinsip kebanyakan orangtua seperti itu mengharapkan “ROI”, kan kasihan ya anak-anak mereka. beda hal kalo keadaan yang memaksa orangtua harus bergantung hidup dengan anak ya (misal kena musibah, harus membayar hutang, dll). tapi sekali lagi, harusnya bisa diminimalisir keadaan yang seperti itu kalau sedari muda sudah dipersiapkan. semoga kita menjadi orangtua yang mandiri kelak.

  5. aku relate banget nih kak sama ceritanya kamu, aku pun pernah nulis beberapa cerita-cerita tentang didikan orang tua dan usaha orang tua buat menyekolahkan anak-anaknya, mengajarkan kemandirian finansial juga. Merasa beruntung meskipun berasal dari keluarga sederhana, insya allah saat ini bisa terbebas ya dari embel-embel sandwhich generations. Cara didik orang tua sampai ngebentuk anak-anaknya mandiri dan bertanggung jawab emang penting ya dan harus dimulai sejak dini

    1. iya, Kak. bener banget. cara didik orangtua sampai ngebentuk anak-anaknya mandiri dan bertanggung jawab itu sangat penting dan harus dimulai sejak dini. apalagi dengan kita memberikan contoh selama merawat mereka. insyaAllah, ke generasi-generasi berikutnya pun akan menjadi generasi yang mandiri secara finansial (khususnya).

  6. Buat mereka yang memang tidak dalam posisi ini memang cukup beruntung, cukup memikirkan diri sendiri dan masa depan, tapi bagi mereka yang sedang dalam posisi ini, itu tentu sangat tidak mudah.

    1. Di sini kita tidak sedang fokus ke orangtua melainkan ke diri kita sendiri yang bakal (jika Tuhan menghendaki) akan menjadi orangtua. Kita sebagai anak muda dengan kemudahan informasi untuk mendapatkan kiat2 atau kemauan kita sendiri, bisa berusaha agar anak2 kita kelak tidak menjadi sandwich generation.

  7. Dari semua poin di atas berasa ketampol sama kalimat “Mencari Perusahaan yang Bonafit” OMG keluar dari zona nyaman itu susah banget ya kar. Pengen move on mumpung masih muda tapi malah jalan di tempat aja huhu

    1. iya, Tin. kadang kita terlalu asik dengan suasana dan lingkungan yang ada padahal tempat itu ga begitu banyak memberikan kita manfaat (untuk nanti) atau masih banyak kesempatan untuk kita mengeksplor tempat lain untuk kebaikan kita juga. semoga kita-kita yang terjabak di zona nyaman bisa segera memantapkan diri untuk meraih peluang yang lebih besar ya, Tin

  8. Ulasan yang menarik, Kak
    Aku dan suami sejak menikah sudah berangan-angan untuk tidak menjadikan anak-anak kami sandwich generation. Banyak hal sudah kami siapkan sejak dini, agar nanti di masa tua tidak membebani mereka.
    Kebetulan, ortu dan mertuaku guru jadi punya uang pensiun. Jadi untuk kebutuhan sehari-hari masih tertangani. Meski, tetap saja secara rutin anak-anaknya yang lapang, mengirimkan uang untuk pegangan.
    Hanya saja ada saudara kandung suami yang “bersandar” pada ortunya…Jadi ya gitu deh, sering Ibu mertua minta ke suami padahal untuk dikasih ke saudara ini. Semacam sandwich generation tapi secara enggak langsung

    1. Alhamdulillah kalau suami dan istri memiliki visi yang sama ya, Mba. Dan memang sudah seharusnya memiliki visi yang sama sehingga enak ketika menjalaninya.
      Iya, kita sebagai anak memang bisa banget untuk memberi kepada orangtua kita ya, Mba.. bukan berarti karena orangtua kita mandiri di hari tuanya kita pun lupa untuk sekedar memberikan kesempatan kepada mereka atas apa yang sudah kita capai.
      Yah, ternyata ada faktor lain ya Mba yang secara ga langsung jadi seperti sandwich generation. Semoga kelak, baik orangtua maupun anak-anaknya semua bisa mandiri ya..

  9. Artikel yang menarik bangeeet, Kar! Aku juga suka baca-baca tentang Sandwich Generation ini. Miris sih dengan pemikiran anak adalah investasi. Padahal balik lagi, banyak anak merasa mereka tidak memilih untuk dilahirkan.

    Aku mungkin beruntung karena orang tua mandiri secara finansial. Meski sudah pensiun, mereka masih ada passive income, seenggaknya bisa buat makan sama bayar listrik katanya.

    Btw, kalaupun enggak bisa kerja di perusahaan bonafit, zaman sekarang bisa cari penghasilan tambahan lain ya. Contohnya jadi Blogger seperti teman-teman Kubbu (haha!). Dan instrumen investasi enggak hanya deposito atau saham, ada juga obligasi. Seperti obligasi negara yang hype baru-baru ini. Hehe.

  10. Yang saya suka dari tulisan Kakak ini adalah “anak bukan investasi” hehe… Tapi saya sebagai anak sih pengen banget “balas budi” ke orang tua sebagai salah satu cara berbakti. Dan yaaahh sebenernya generasi yang sedang fenomenal ini masuk ke era yang gampang banget ya, karena semuanya serba bisa dan serba “instan”.

  11. “Mencari perusahaan bonafit”. Bener banget sih nih, tapi tekanannya juga plus banget pastinya. Soal sedekah, jadi inget ada yg selalu bilang “taro harta itu di tangan, jangan dihati. Banyakin sedekah supaya berkah”. Semoga sehat-sehat terus untuk kartini sekeluarga yaa.

  12. Menurutku pribadi, adanya sandwich generation tidak lepas dari peran orang tua di dalamnya. Ntah orang tua yang kurang mampu juga orang tua yang memiliki pemikiran bahwa anak harus membiayai kehidupan orang tuanya. Wajib membiayai loh ya, bukan sukarela dari anak tersebut.

  13. Sandwich Generation memang jadi problem yang lagi dialami oleh pasangan di Indonesia. Dilema banget satu sisi harus menghidupi keluarganya tapi disisi lain harus berbakti kpd ortu. Ya semua punya pertimbangan masing-masing. Bersyukurnya aku punya ortu yang mandiri dan secara gak langsung juga membentuk karakter biar nantinya gak jd pencipta sandwich generation ke depannya. Semoga makin banyak edukasi tentang financial planning biar fenomena ini bisa ditekan pertumbuhannya.

  14. Kak tulisannya menarik banget, sekarang banyak influencer-influencer yang suka angkat issue sandwich generation ini. Jadinya kita yang muda, yang punya kemudahan akses berbagai informasi jadi bisa nyiapin diri. Ga jadi anak durhaka sama orang tua, tapi juga bisa nyiapin diri biar kelak jangan jadi orang tua yang nyusahin anak cucu. Lagi belajar nabung banget, selama ini nabungnya berhasil, tapi bukan nabung buat masa tua, yang ada nabung buat jalan-jalan. Hahaha… And lupa bahwa kita tuh perlu nyiapin dana darurat, biar kelak jangan jadi beban anak cucu. Thank you buat tulisannya kak.

  15. Ya ampooonn tertohok syekaliihhh akooh, sebagai single parent gue kadang sempat terlintas “njiirr kapan gue bisa “menikmati” hasil jerih payah mengurus anak anak”

    Sakiitt baca tulisan ini beb hahahahaha

    Terima kasih sudah mencerahkan yaaaa, banyak hal yang perlu di perbaiki nih sepertinya di dalam hati dan kepala gue

  16. Tulisan yang bagus, mba. Generasi sandwhich di indo itu banyak sekali ternyata. Dari cerita teman-teman sampai aku sendiri yang mengalami. Alhamdulillahnya aku masih diberi rezeki lebih jadi ya betul seperti kata mba kar, bersedekahkepada keluarga dahulu diutamakan.

    Aku pernah dapat cerita dari teman yg pernah kuliah dan tinggal di UK. Waktu dia tinggal di rumah kosan, ibu pemilik kosannya sudah berumur, dan dia masih kerja karena memang masih sehat dan dia mau, tidak mau merepotkan dan bergantung pada anaknya. dan rata-rata orang tua di sana banyak yang tidak malu untuk bekerja walau pendidikannya pun tinggi. bekerja apa saja, kerja di mini market, laundry, kantor pajak dll dan di jepang pun sama, pernah dapat cerita dari teman juga yg tinggal di sana.

    beda negara beda culture ya. apalagi di negara maju. orang indo, pensiun (50-60th), selesai sudah, padahal badan banyak yg masih sehat. tapi karena tidak ada aktifitas malah pada sakit karena dulu terbiasa bekerja. aku melihat fenomena ini dari orang-orang disekitarku.

    makannya orang tua yang usianya belum terlalu tua pada sakit-sakitan, dan di luar negeri masih seger-seger. di singapura juga gitu, mereka masih sehat-sehat.

    bisa jadi buat pelajaran buat aku jida sudah berkeluarga nanti. twalau sudah menjadi ortu ttp tidak ingin bergantung pada anak di tua nanti.

  17. Memang happening banget sih kata “sandwich generation” ini. Ada yang menyikapinya dengan senang hati (dengan memegang ilmu berbakti kepada orang tua & penghasilan yang lumayan lebih), ada juga yang menyikapinya dengan “kurang ikhlas” karena mereka melihat kehidupan teman-teman lainnya yang tidak harus “menanggung biaya hidup ortu”.
    Cara mengajarkan agar keturunan berikutnya tidak menjadi SG ya dengan contoh tindakan, Misal dari cerita pribadi saya, turun temurun dari dari buyut, Mbah Uti, dan Mama itu selalu mengajarkan dengan tindakan “setua apapun kita nanti jangan merepotkan anak. Kalau bisa kita terus yang kasih tapi juga mengajarkan kepada anak-anak untuk harus mandiri sampai mereka tua dan tidak merepotkan generasi selanjutnya”.
    .
    Oh yah satu lagi sih ini untuk pelajaran kita semua kedepannya. Jangan memberikan warisan atau memindah tangankan semua properti kita secara legal sebelum kita meninggal. Di khawatirkan, saat masih hidup dan semua properti diberikan ke anak, anak bisa semena-mena ke kita. Cukup bagikan melalui pengacara atau cukup diberi penjelasn pembagiannya untuk siapa-siapanya, supaya saat waktunya tiba mereka tau bagiannya dan baru bisa urus.

  18. Terlepas dari ‘sandwich generation’ menjadi hot issue belakangan ini. Saya cenderung melihatnya dari , bagaimana kita memaknai hubungan orang tua dan anak : sebagai ‘investasi’ , ‘beban’ , ‘tanggung jawab’ ataupun sederet makna lainnya. Dengan demikian, dalam konteks personal, keluarga maupun tatanan sosial
    Jawaban atau analisa dari sudut manapun mempunyai alasan pembenaran. Salut untuk ulasan kakak yang sungguh open mind. Terimakasih kak

  19. Seru nih ngomongin soal sandwich generation. Aku pun juga termasuk sandwich generation kelak. Karena ayahku masih kerja. Jadi tanggung jawab buat bantu ortu belum dikasih ke aku. Aku bersyukur banget punya ibu yg udah menanamkan sifat hemat dan menabung sejak aku kecil. Jadi pas pertama kali dapat gaji aku tahu aku hrs nabung tiap bulan. Aku juga bersyukur banget karena ayahku masih kerja sampai sekarang.

  20. setuju banget sama semua ini. supaya tetep berkecukupan harus dipikirin point2 ini. tapi bicara sandwich generation, bisa jadi sebagai budaya karena gimanapun juga menghidupi orang tua menjadi hal yang wajib sebagai simbol taat dan peduli meskipun misalnya di antara mereka punya pensiunan ya. mungkin tambahan sedikit aja. memikitkan investasi dan kerja cerdas itu juga perlu. supaya kita gak berada dalam keuangan yang terbatas

  21. Wah Subhanallah Alhamdulilah beruntungnya kakak memiliki orangtua seperti mereka. Menurut aku mereka adalah gambaran atau cerminan dari orangtua yang visioner, dewasa juga bijak. Keren dan laur biasa sekali. Kakak tentu sangat bahagia dan juga bersyukur ya kak memiliki orangtua seperti mereka. Selain bisa banyak belajar tentang banyak hal juga tidak merasa ‘dituntut’ atau diintimidasi. Ahhh senang sekali mengetahui hal ini rasanya, aku jadi mau dan tambah semangat belajarnya. Terimakasih atas tulisan yang menginspirasinya ya kak Kartini💗🌸💗⭐⭐⭐

  22. Wah generasi sandwich, kemarin pernah bahas di live podcast di JOOX bareng Teh Tuty. Teh Tuty udah komen belum yaa? hahaha.

    Semoga kita semua bisa hidup dengan berkecukupan dan anak2 kita kelak bisa hidup tentram aman tanpa harus mikirin biaya adik2nya. aamiin

  23. Anak diajarkan mengatur uang sejak dini. Jika anak sudah remaja, mungkin bisa diajarkan financial planning sedikit demi sedikit sehingga ketika dewasa nanti mereka paham bagaimana mengatur uang dengan lebih komperhensif untuk masa depannya.

Leave a Reply to Mrs.kingdom17 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.