Aku Memanggilnya Indie

Aku memanggilnya Indie, kini, bukan kemarin-kemarin. Sebelumnya tidak ada yang istimewa dari gadis di sebelahku ini. Mata yang besar dan teduh, rambut bergelombang sebahu, dan kulit sawo matangnya, kini aku sadari kalau semua yang ada di dirinya adalah keindahan. Gadis penyuka senja tapi tidak meminum kopi, ketahuilah aku pun tidak minum kopi. Bukankah sudah jelas kalau kita ditakdirkan untuk menjadi sepasang sejoli?

Rambutnya tertiup angin sore. Langit sudah mulai menampakkan warna jingganya. Mata teduhnya berbinar menanti kembalinya sang mentari ke peraduan, senyumnya merekah. “Bahagia?” tanyaku, ia mengangguk. Bahagianya begitu sederhana, melihat senja. Ayu Anjani Prameswari. Wajahnya memang sangat ayu, aku terpikat di waktu yang begitu singkat.

“Indie.” Ia menoleh.

Tanganya memegang tanganku, ia bangkit dan membawa diriku pergi dari momen yang disukainya. “Mau kemana?” tanyaku bingung.

“Keliling kota di malam hari. Masih ada waktu.”

Aku menunjuk langit yang sedang merah-merahnya namun langkahnya semakin pasti. Ketika melihat tangannya menggenggam tanganku dengan erat, aku pun ingin mengusir rasa bingungku. Senyum tersungging dari mulutku tanpa terkendali. Aku membalas erat genggamannya. Saat itu lah langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap wajahku.

Perlahan ia melepas tangannya dari genggamanku. Saat genggaman kami terlepas, aku menangkapnya kembali. Ia masih menatapku dan sedikit mendongak, karena tinggi kami cukup jauh. “Aku ingin menikmati segala kemungkinan perindieanmu.” Aku kini mengerti kenapa ia ingin dipanggil Indie. Hai gadis manis melankolis nan romantis, izinkan aku membersamai keindieanmu.

Ia masih tertegun, mungkin dia terkejut aku secepat itu memahami dirinya. Aku sedikit menunduk menyejajarkan pandangan. “Kalau kamu engga keberatan, aku mau anggap hari ini adalah kencan pertama kita. Boleh?”

Wajahnya memerah, entah karena malu atau pantulan senja di belakang kami. Ia melepas tanganku dan berlari kecil. “Anjani!” panggilku.

Kami berlarian kecil sembari tangan masih terus menggenggam setelah aku menangkap tangannya kembali yang terlepas. Ah, hari ini begitu membahagiakan. Terkadang aku bergantian memeluk bahunya sehingga kepalanya sedikit bersandar di pundakku. Ah betapa imutnya gadis ini.

Bus kota sudah di depan mata, kami masuk dan memilih dua kursi paling belakang. Ia menceritakan setiap tempat yang bus kami lewati dengan penuh pemahaman sampai ia terlihat lelah sendiri. Matanya mulai terlihat sayu, suaranya pun mulai terdengar serak.

“Capek?” tanyaku.

“Haus.”

Ah ternyata ia belum lelah, hanya haus. Lucu sekali. Namun tiba-tiba ia menguap, begitu besar. Tangannya menutup mulutnya, seolah-olah ada serangga yang hendak masuk ke dalamnya. Aku memberikan minum punyaku, ia pun meneguknya sampai habis. Benar-benar haus, dan mengantuk. “Panggil aku Windu.”

“Windu?”

“Terdengar indie.” Jawabku. Ia tertawa memperlihatkan giginya yang tersusun rapih.

“Kalau aku panggil kamu Windu, aku dapat apa?”

“Kamu dapat bantalan.”

“Bantalan?”

Aku merentangkan tanganku, ia cukup paham dengan gerakan ini. “Kalau aku ga panggil kamu Windu, aku ga dapet itu?” tanyanya sembari menunjuk bahuku.

Aku menggeleng. “Hanya saja, kamu sudah terlanjur mendapatkan hatiku.”

Ah gombal sekali aku ini. Aku rasanya ingin bergidik sendiri mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutku. Ia tertawa, terbahak-bahak. Namun ia tetap mencoba untuk mengontrol suaranya. “Ngakak aku.”

“Aku serius. Memangnya kamu engga?”

“Juga sih..”

“Sejak kapan?”

“Sejak hari ini kamu manggil aku. Tapi kalau dilihat-lihat kamu emang ganteng dari pertama ketemu sih.”

“Ganteng permanen, ya?”

“Iyuh.” Matanya memutar, lucu sekali.

“Iya apa engga?”

“Baiklah, aku berpikir demikian juga.”

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.