Antara Wahana dengan Jodoh

Beberapa minggu lalu aku pergi ke Transtudio Bandung bersama teman-teman kantorku. Seperti yang kita semua tahu, layaknya Dunia Fantasi atau Dufan yang ada di Jakarta Utara, di sana adalah tempatnya wahana-wahana mulai dari yang “cemen” sampai yang ekstrim berada. Boleh dibilang pakaianku gamis dan kerudung panjang, tapi jiwaku jiwa metal alias aku berani menjajali semua wahana ekstrim sehingga aku selalu begitu excited kalau pergi ke taman bermain yang berisikan wahana-wahana.

Namun sayangnya tidak semua wahana yang aku taiki juga temanku taiki karena alasan takut. Lho, kenapa mereka takut sementara aku tidak takut? Alasannya sangat sederhana. Baik di Dufan maupun di Transtudio Bandung, aku sangat mempercayai para teknisi di sana sehingga selagi semua wahana itu aman, aku tidak takut walau sensasi ser-seran tetap ada.

Betul. Semua adalah tentang sebuah kepercayaan.

Wahai para teknisi wahana-wahana ekstrim seperti roller coaster, giant swing, kicir-kicir, vertigo, hysteria, dan wahana-wahana ekstrim lainnya, aku sangat percaya dengan kalian sehingga aku ingin berterima kasih kepada kalian. Dengan adanya kalian, aku berkesempatan untuk mencoba semua wahana-wahana itu.

Lalu bagaimana dengan… jodoh?

Di usia seperempat abad ini, obrolan memang tidak jauh-jauh dari jodoh. Selain faktor-faktor pendukung seperti tiap bulan pasti ada saja undangan pernikahan yang bikin kepengen, teman-teman dekat yang sudah menikah bahkan mempunyai anak, pertanyaan-pertanyaan “kapan” dan “mana” dari keluarga besar, faktor utama adalah keinginan dan kesiapan yang dirasa sudah cukup namun jodohnya belum terlihat hilalnya.

Usia semakin bertambah besarnya, namun berkurang masanya. Lalu mulai muncul perasaan takut, takut tidak kebagian jatah jodoh di dunia. Berusaha untuk tegar, tapi lama-lama kok mbrebes mili juga ya kalau semakin dipikir, “Ya Allah, kapan aku bertemu dengan jodohku?” hiks hiks hiks.

Ingin rasanya galau abis-abisan di media sosial, tapi kalau ingat umur malu juga.

Ingin rasanya curhat ke teman dekat, tapi kalau dipikir-pikir teman dekat sudah sibuk dengan keluarga kecilnya.

Ingin rasanya curhat ke orangtua, tapi nanti orangtua malah sedih. Yah, sedihnya dobel.

Ya wis, pura-pura tegar aja deh padahal reyot.

Detik demi detik, hari demi hari, pura-pura tegar pun menjadi benar-benar tegar walau sesekali suka murung juga. Suasana hati menjadi mudah berubah, lihat video kucing kurus saja sedihnya minta ampun, padahal bukan kucing kurusnya yang paling bikin sedih tapi dari belum lihat video itu sampe lihat video itu, status belum berubah juga.

Kemudian muncul sebuah pemikiran, apakah aku kembali seperti pada saat masih di zaman jahil dulu? “Udahlah kalau ada yang ngajak pacaran, terima aja. Daripada kesepian. Siapa tau nanti abis diajak pacaran, diajak nikah.” Tidak lama angin neraka berhembus dan berbisik, “Woy, mau jumpa?” kemudian pikiran itu pun buru-buru diurungkan.

Sudahlah, kawan..

Sudahlah, aku..

Percayalah kepada Allah sebagaimana kita percaya kita tetap akan selamat walaupun menaiki wahana-wanaha ekstrim karena ada teknisi yang menjamin keselamatan kita.

Percayalah kepada Allah bahwa Allah telah menjamin jodoh kita jauh sebelum kita memiliki keinginan untuk menikah, jauh sebelum kita mengenal apa itu cinta, jauh sebelum kita lahir ke bumi ini.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri istri dan keturunan”. (QS Ar Rad : 38).

 Tugas kita saat ini adalah terus memantaskan diri, sebagaimana janji Allah:

“Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26)

Belajarlah untuk selalu berkhusnudzan terhadap Allah dan manusia. Bagi yang sudah memiliki seseorang yang didamba, percayalah kalau kamu tidak berjodoh dengannya, berarti dia bukanlah yang terbaik untuk kamu melainkan terbaik untuk siapapun yang menjadi pasangannya kelak. Begitu pula kamu.

Tetap semangat dan terus berikhtiar serta berdoa wahai aku, dan teman-teman yang masih bergerilya!!

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.