Beginilah Seharusnya Mendidik Anak…

Di hari Minggu yang cerah cenderung panas ini aku mendatangi walimah sahabat sejak di bangku SMA. Baru sekitar 6 bulan lalu ia bilang baru saja dikenali oleh seorang teman, tiba-tiba ia bilang sudah mau dilamar dan eksekusinya adalah hari ini. Memang di usia quarter ini sudah tidak zaman lagi punya pacar, tapi punya suami. Tapi aku belum bersuami pula hingga saat ini. Hehe, tenang saja. Don’t lost hope, Allah is working things out for you right now. Tinggal kitanya saja lebih banyak sabar dan khusnudzan serta tidak lupa ikhtiar. Perkara menjemput jodoh itu seperti menjemput rezeki. Tidak akan datang gajian tiap akhir bulan kalau yang kita lakukan hanya sekedar berdo’a saja tanpa usaha. Teman-teman yang sedang menanti jodoh, jangan lupa ikhtiarnya juga dikencengin, yha!

Namun kali ini aku tidak sedang akan menulis tentang menikah seperti tulisanku sebelumnya Sebuah Nasihat, Teruntuk Kamu yang Ingin Menikah, melainkan tentang cara mendidik anak. Lho, Kar menikah saja belum sudah menulis tentang cara mendidik anak saja. Jadi begini lho, saking aku khusnudzan dengan Allah aku yakin suatu saat nanti dengan izin Allah tentunya aku akan dititipkan seorang anak oleh-Nya. Pepatah “sedia payung sebelum hujan” ini sepertinya cukup pantas menjadi salah satu alasan aku mengambil tema tentang cara mendidik anak.

Hari ini memang hari baper se-kecamatan. Sudahlah sahabat menikah, sahabat lainnya sebentar lagi lahiran sementara aku masih menerka-nerka siapakah partner hidupku kelak? Apakah dia? Hehehe. Melihat perutnya semakin buncit saja karena ada dedek utun bersemayam di dalamnya, aku pun tergerak untuk mencari tahu bagaimana mendidik anak yang baik menurut agama kita, Islam. Lagi-lagi, kajian Ustadz Khalid Basalamah menjadi rujukan. Seperti biasa, metode kajian Ustad Khalid Basalamah yang aku tahu adalah kajian kitab dan referensi yang ia pakai adalah kitab (buku) Al-Maghribi bin as Sa’id al-Maghribi dengan judul Begini Seharusnya Mendidik Anak (Panduan Mendidik Anak Sejak Masa Kandungan hingga Dewasa Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada beberapa sub bab yang dibahas dalam kitab itu, namun yang saat ini akan aku tuliskan di sini adalah tentang Pemaaf dan Tenang.

“Wahai para pendidik, bila kita ingin berhasil dalam mendidik anak, maka baiknya kita mendidik diri kita sendiri dengan komitmen terhadap ajaran Islam yang berkaitan dengan pendidikan dan Sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau adalah teladan terbaik dan utama bagi orang tua, dan dalam mendidik seluruh kaum muslimin.” Begitulah potongan kutipan yang ditukil oleh Ustad Khalid dalam buku tersebut sebagai pembuka kajian.

Pemaaf dan Tenang

Bagi para pembaca yang sudah menjadi orang tua, ketika anak kalian melakukan kesalahan apa yang kalian lakukan? Silakan jawab sendiri, yaa.

Bagi para pembaca yang akan menjadi orang tua, ketika anak kalian nanti lahir dan melakukan kesalahan apa yang akan kalian lakukan? Silakan renungi sendiri, yaa.

Wahai penulis yang jomblo, ketika nanti aku sudah menikah dan memiliki anak kemudian anak aku melakukan kesalahan apa yang akan aku lakukan? “Duh, kalo kebangetan sih, aku mau omelin!” waduh, waduh, waduh.. sudah jomblo, memiliki sifat tergesa yaa ternyata. Wahai penulis yang jomblo, coba buka surah Ali Imran ayat 134, disana diterangkan tentang ciri mukmin yang ideal:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Terjemah Arti: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Bingung? Oke sama. Mari kita lihat ayat sebelumnya:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Terjemah Arti: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Masih bingung? Oke kali ini tidak sama, karena aku sudah mendengar kajian dari Ustad Khalid. Let me tell you what I already knew.

Di surah Ali Imran ayat 133, kita ketahui bahwasanya ahli surga adalah orang-orang yang bertakwa. Salah satu ciri-cirinya disebutkan di surah Ali Imran ayat 134 (yaitu) adalah orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Di dalam hadits Nabi juga disebutkan bahwa “siapa yang menahan dirinya pada saat dia emosi dan dia mampu lampiaskan, Allah akan pilihkan dia bidadari di Padang Mahsyar sesuai yang dia inginkan.” (HR Ahmad).

Kita dapat melihat bahwa Allah menjaminkan surga bagi orang-orang yang dapat menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Jaminannya adalah surga, bukan main-main, loh. Bahkan Allah akan menghadiahi bidadari sesuai yang diinginkan.

Ada kisah Rasulullah dengan ‘Aisyah. Saat itu, ‘Aisyah radiallahu anha sedang ngambek dengan Rasulullah, lalu Rasulullah berkata, “wahai ummu Abdillah (julukan kalau suatu saat nanti ‘Aisyah memiliki anak), tenanglah. Bernegosiasi dan berbicara baik lebih baik daripada bertengkar. Maka bila kau tidak terima, maka aku akan mendatangkan penengah.”

Lalu ‘Aisyah menjawab. “Baiklah, datangkanlah penengah.”

“Kalau aku mendatangkan Umar apakah kau ridho?”

“Tidak.” Jawab ‘Aisyah.

“Bagaimana kalau Utsman?”

“Tidak.”

“Ali?”

“Tidak.”

“Baiklah. Bagaimana kalau Abu Bakar (Bapakmu)?”

“Baiklah. Datangkanlah ia sebagai penengah.”

Lalu datanglah Abu Bakar, sahabat sekaligus mertua Nabi kemudian berkata “Ada apa yaa Rasulullah?”

Kemudian ‘Aisyah berkata. “Yaa Rasulullah, ucapkan yang benar.”

Abu Bakar pun marah mendengar anaknya berkata demikian kepada Rasul. “Bagaimana kau bisa berkata seperti itu sementara Rasulullah adalah orang yang paling jujur.” Saat itu juga Abu Bakar hendak menampar ‘Aisyah. ‘Aisyah pun segera bersembunyi di balik punggung Nabi.

Kemudian Rasulullah berkata, “Sudahlah Abu Bakar, kalau kau tidak bisa menjadi penengah kami, maka biarkan kami menyelesaikan masalah kami.”

Abu Bakar pun keluar namun ‘Aisyah masih ngambek kepada Rasulullah. Saat Rasulullah menyuruhnya untuk mendekat ke dirinya, ‘Aisyah menolak. Rasulullah berkata, “Subhaanallah, sesungguhnya tadi kau menjadikan punggungku sebagai tempat perlindungan sekarang kau tidak mau lagi.” Seru Rasulullah.

Komentar penulis: Maa syaa Allah, kalau punya suami seperti ini aku pun bakalan melting dan engga jadi ngambek. ‘Aisyah pun meminta maaf kepada Rasulullah. “Maha Suci Allah yang mampu membolak balikkan keadaan.” Katanya.

Tidak lama kemudian Abu Bakar datang kembali ke rumah Rasulullah dan mendapati Rasulullah dan ‘Aisyah sedang makan dan suap-suapan.

Komentar penulis: ini sih lebih so sweet dari daram Korea. Jauuh~

“Kenapa aku tidak dipanggil untuk makan seperti saat aku dipanggil pada saat ada pertikaian?” ujar Abu Bakar sembari bercanda.

Rasulullah dan ‘Aisyah pun berkata, “Selamat datang, silakan makan wahai orang terbaik dari umat ini.”

Dari kisah itu, kita dapat mengambil pesan yang sangat dalam bahwasanya degan ketenangan, masalah pun akan selesai tanpa harus ada amarah di dalamnya. Seperti Rasulullah saat menghadapi istrinya yang sedang marah, ia tidak menimpalinya dengan kemarahan juga. Beliau pun memaafkan ‘Aisyah ketika ‘Aisyah meminta maaf padanya.

“Sifat ini adalah sifat paling mulia yang harus dimiliki pendidik teladan karena sifat ini merupakan kebaikan di atas kebaikan, dan kedua sifat ini sangat dicintai Ar-Rahman sebab seorang pendidik harus menjadi pemaaf dan murah hati terhadap apapun yang dilakukan oleh seorang anak. Jadilah seorang pemaaf dan jangan menjadi pemberi sanksi ke adak dalam keadaan marah. Pergauli anak dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Terimalah apa adanya. Tidak menuntut yang paling ideal. Luruskan tingkah laku dengan etika yang baik.”

Jadi dapat disimpulkan apabila suatu saat nanti kita memiliki anak, kemudian anak kita sangat sulit untuk diajarkan kebaikan, maka perlakukanlah dengan kesabaran dan ketenangan. Janganlah memasukkan amarah dalam mendidik anak, karena secuil apapun tingkah laku kita yang kita lakukan ke anak akan menjadi contoh.

Semisal kita sedang mengajarkan anak mengenal huruf hijaiyah namun anak kita tidak mencerna dengan cepat, latihlah dengan sabar dan bertahap. Jangan marah.

Apabila kita sedang menyuruh anak untuk solat namun anak tidak mau, jelaskan tentang perintah solat dengan tenang. Jangan marah.

Apabila anak kita melakukan kesalahan, maafkanlah dan jangan marah. Namun jangan lupa untuk dinasihati secara baik-baik dan tenang. Contohlah apa yang dilakukan Rasul. Beliau yang seorang Nabi, yang seorang Raja, yang memiliki kuasa yang besar saja tidak marah dan menggunakan wewenangnya (padahal sangat bisa) masa kita yang hanya manusia biasa tidak mau berusaha untuk mencontoh.

Tapi…. Sedikit saja supaya tidak kurang penyampaian. Beda hal ya, dalam urusan Agama.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya:

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَأْثَمْ فَإِذَا كَانَ الْإِثْمُ كَانَ أَبْعَدَهُمَا مِنْهُ وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّه

 

Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata, “Nabi Saw. memilih perkara yang ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, maka Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan (kepentingan) pribadi, tapi jika ajaran-ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillahi ta’ala).”

Kalau urusan agama kita dihina atau dinistakan, kita wajib untuk marah. Jangan terlalu terbuai toleransi sehingga kita adem ayem saja. Jangan terbalik yaa, urusan pribadi dengan pribadi marahnya sampai ngotot-ngototan. Urusan agama mau marah malah dikatain lebay.

Demikianlah tulisan yang dapat aku bagikan. Mohon maaf apabila terdapat banyaka curahan hati, semata-mata untuk menghibur para pembaca yang memiliki status yang sama dengan penulis, semoga kita disegerakan menyempurnakan separuh dien. Apabila ada kesalahan mohon sekiranya untuk menasihatiku. Tapi, japri aja ya nasihatinnya. Sebab seperti kata Imam Syafi’i, “Nasihati aku di saat sendiri, jangan nasihati di khalayak ramai.. Karena nasihat di khalayak ramai bagai hinaan yang melukai hati.”

 

Video source: Beginilah Seharusnya Mendidik Anak – Kriteria Pendidik yang Teladan

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.