BITTER LOVE – Mantan Terindah

Di usia 21 tahun, Arun yang masih sangat muda bertemu dengan cinta pertamanya. Laki-laki itu bertubuh tinggi, berhidung mancung, dan memiliki suara berat. Sikapnya agak judes, membuatnya kelepek-kelepek tidak butuh lama. Laki-laki itu bernama Tegar. Seperti gayung bersambut, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya pun diam-diam menyukainya.

Beberapa bulan setelah saling mengenal, mereka pun saling menyatakan cinta dan menjalin hubungan tanpa masalah. Namun seperti tersambar petir di siang bolong, Tegar memutuskan cintanya. Saat itu Arun begitu sedih karena Tegar tidak memberikan alasan yang memuaskan kenapa hubungan mereka yang baik-baik saja harus kandas begitu saja.

Arun menjalani hari dengan sangat berat karena rasa sedih hingga ia kehilangan banyak bobot badan sampai suatu hari seorang laki-laki lain datang mendekatinya. Laki-laki itu bukan lain adalah teman Arun juga Tegar. Laki-laki itu memang tidak tidak bertubuh tinggi, hidungnya pun tidak semancung Tegar, suaranya pun tidak berat seperti Tegar. Namun, laki-laki itu selalu menghiburnya. Laki-laki itu bernama Putra.

“Run, gimana lo masih galau?” Tanya Putra suatu hari.

Arun menarik napas panjang lalu melepasnya. “Udah engga terlalu.” Jawabnya sembari tersenyum.

“Run.”

“Hm?”

“Lo mau ga kalo gue seriusin?”

“Bercanda aja lo.”

“Gue serius, Run. Kalo lo mau, tahun depan gue lamar.”

Arun yang tadinya berpikir Putra hanya bergurau kini mulai merasakan keseriusan di pembicaraan itu. Arun menatap Putra. “Kok bisa gitu?”

“Kenapa engga bisa? Kan gue sama lo sama-sama jomblo.”

Arun berpikir keras saat itu juga. Ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Putra. Namun ia bersyukur memiliki Putra di saat-saat keterpurukannya. “Coba deh.” Jawab Arun asal.

“Gini deh, Run. Gimana kalo lo kasih gue kesempatan 3 bulan sampe lo punya perasaan ke gue. Kalo 3 bulan belum berhasil juga, gue minta perpanjangan.”

Kata-kata Putra memang selalu menghibur dirinya. Ia menatap Putra, kesungguhan Putra membuatnya kembali percaya diri. “Oke Put, ayo kita coba. Tapi lo mau janji sama gue?”

“Apa?”

“Kalo ternyata di akhir kita engga bisa bareng-bareng, gue ga mau pertemanan kita jadi rusak, ya?”

“Siap.”

“Put. Tapi Tegar suka buatin gue puisi karena gue suka puisi.”

Putra mengeluh. “Yah, tapi gue ga bisa romantic kayak si Tegar.”

“Belajar dong, Put.”

“Ya udah deh, nanti kalo lo gue kasih puisi romantic lo pasti langsung jatuh cinta sama gue.”

Arun tersenyum. “Makasih, Putra.”

“Kelopak mata lo item banget, tuh. Galau mulu.”

Putra selalu ada untuk Arun. Arun bahagia karena keberadaan Putra di sisinya. Namun, perasaan cintanya yang masih begitu besar terhadap Tegar terkadang menutupi rasa bahagianya akan keberadaan Putra.

Kekecewaannya kepada Tegar terkadang membuat Arun agak meragukan ketulusan Putra hingga ia menanyakan hal itu kepada Rubi, teman satu kamar kos Putra. “Iya Run, Putra emang suka sama lo. Ya, terjadi begitu aja. Tapi pas lo masih sama Tegar, Putra engga ada perasaan kok sama lo.”

Arun merasa tenang mendengar jawaban dari Rubi.

Hingga suatu hari, Tegar kembali menghubunginya.

Senang dan takut, begitulah yang dirasakan oleh Arun melihat sedikit pesan singkat dari Tegar. Di saat itu, sedikit pun Arun tidak mengingat kebaikan ataupun ketulusan Putra.

Hari demi hari, Tegar terus mendekatinya dan pada akhirnya Tegar meminta Arun memberikan kesempatan kedua untuknya. Arun yang masih begitu mencintai Tegar pun menerimanya tanpa memikirkan perasaan Putra yang menunggu jawaban darinya.

Arun menemui Rubi. Ia menceritakan semuanya kepada Rubi. “Yah, Run. Kasihan banget si Putra.”

Begitu pun Arun merasakan hal yang sama. “Gimana dong, Bi? Gue merasa jahat banget sama Putra.”

“Gue juga bingung. Tegar temen baik gue, Putra temen baik gue, lo juga temen baik gue. Gue berharap kalian semua bahagia. Tapi masalahnya Arun cuman ada satu. Kalo Arun bahagia dengan Tegar, mungkin Putra harus lebih bersabar. Tapi lo yakin lo akan baik-baik aja sama Tegar? Kalian kan pernah kandas.”

Arun menghela napas. “Entahlah, Bi. Tapi gue harus kasih kesempatan untuk Tegar. Gue lihat dia tulus untuk ga akan ngelakuin hal yang sama untuk ke dua kalinya, yang mutusin gue tiba-tiba.”

“Ya udah kalo itu keputusan lo. Lo selesain juga dengan Putra, ya. Jangan sampai berlarut.”

“Iya, Bi.”

Dalam waktu yang tidak lama dari hari jadi kembali Arun dan Tegar, Putra mengajak Arun bertemu. Itu adalah hari yang paling ditakuti oleh Arun, namun Arun harus menghadapinya.

Putra memakai pakaian terbaiknya, selama Arun mengenalnya saat itulah Putra terlihat paling tampan. Arun memaksa bibirnya untuk tersenyum. Ia sangat tidak ingin membuat Putra sedih karena dirinya. “Run.”

“Put.” Jawab Arun canggung.

“Gue udah ada puisi romantis buat lo.” Ujar Putra sumringah.

Hal itu semakin membuat Arun sedih. Ia harus menguasai dirinya agar tidak menangis saat itu juga. “Coba, gue mau denger.” Suaranya sedikit bergetar, namun Putra tidak terlalu memikirkannya.

Bungaku

Aku berjalan di musim penghujan

Namun aku melihat setangkai bunga

Layu

Aku menghampirinya

Ternyata bunga itu sangat cantik

Aku memberinya naungan

“Put..” Arun memotong Putra. Putra sudah memiliki firasat yang sangat kuat kalau Arun dan Tegar sudah kembali bersama, namun ia hanya diam. Ia memberikan kesempatan kepada Arun untuk menjelaskannya. “Gue sama Tegar udah balikan.”

“Wah, tega lo Run sama gue.” Ujar Putra dengan nada gurauan.

“Sorry.”

“Ga bisa Run. Tega lo.”

Arun tertawa melihat gaya sengak Putra. “Sorry banget ya, Put.”

Putra memegang bahu Arun. “Ga apa-apa, Run. Yang penting lo bahagia. Jangan berantem-berantem lagi ya sama si Tegar.”

“Kita udah janji kan kalo pertemanan kita ga akan rusak?”

“Iya, kita udah janji, Run. Gue terlalu malu nih sama lo. Udah segala buat puisi, eh lo udah balikan. Gue pulang deh, ya.”

“Put..”

“Selow bae, Run. Salam ya, buat Tegar.”

“Put. Kalo lagunya Perahu Kertas gue bahagia lo udah terlahir di dunia.”

Putra tersenyum. “Gue emang pembawa bahagia untuk orang-orang, Run.”

Arun tertawa kecil. “Hati-hati ya, Put.”

Setelah melepaskan Putra dan memilih Tegar, Arun begitu bahagia menjalankan hari-hari bersama Tegar. Namun semuanya tidak bertahan lama. Arun mengetahui Tegar masih sangat peduli dengan wanita yang pernah dekat dengannya semasa mereka putus dulu.

Tegar memang tidak pernah menemui wanita itu, tapi ia masih sangat peduli dan sangat menjaga perasaan wanita itu. Saat Arun menanyainya, Tegar malah marah besar dan mendiamkannya selama dua bulan lamanya.

Arun tertawa kecil melihat  bagaimana hubungannya berjalan. Hubungannya dengan Tegar yang selalu bermasalah membuatnya sedikit menyesal karena telah melepas Putra.

“Bi, gue nyesel udah milih Tegar bukannya Putra.” Suatu hari yang cerah, di bawah tenda kafe kebun, Arun bercerita kepada Rubi.

“Udah berapa lama, Run?”

“Dua bulan gue dicuekin. Batin banget gue sama Tegar. Lama-lama gue udah ga begitu sesedih dulu kalo pun harus bener-bener putus.”

“Huss, jangan begitu Run. Putra udah ada yang punya, lho. Lo harus tetep sama-sama Tegar.”

Arun kaget mendengar fakta itu. Tapi ia tidak boleh serakah. “Wah, bagus deh. Gue selama ini ga enak sama dia. Akhirnya punya pacar juga.”

“Oh iya, Run dateng yaa.” Rubi memberikan undangan berwarna ungu pastel. Undangan pernikahannya. “Gue titip buat Tegar juga. Siapa tau bisa jadi alasan buat kalian baikan.”

Arun menghela napas. “Oke Bi, nanti gue sampein.”

Undangan pernikahan Rubi benar-benar bisa menjadi alasan untuknya berbaikan dengan Tegar. Saat itulah Arun menegaskan akan hubungan mereka. Arun yang semakin bertambah umur, ia meminta Tegar untuk menikahinya namun Tegar meminta waktu 3 tahun lamanya.

“Umurku 26 tahun kalau 3 tahun lagi.”

Dengan berbagai macam alasan, akhirnya Arun mengiyakan namun begitu mengganjal. Hingga suatu hari, Tegar kembali mendiamkannya tanpa alasan. Di saat itu pula, Arun menyerah. Ia mengakhiri hubungannya dengan Tegar.

Tidak seperti sebelumnya, Arun tidak merasakan kesedihan. Ya, walau merasakan kehilangan karena Tegar adalah satu-satunya yang pernah dia cintai dengan begitu teramat.

Hari-hari ia jalani dengan kesendirian, seorang bernama Putra kembali menemuinya. “Arun apa kabar?”

“Jomblo nih, Put.”

“Yah kok jomblo sih, Run.”

“Gitu deh Put, gue males bahasnya. Eh iya Put, gue masih punya kesempatan ga?”

“Kesempatan apa nih?” Tanya Putra meledek.

“Yang lalu itu, Put. Kalo lo kasih gue kesempatan, gue ga akan mengulangi kesalahan yang sama Put.”

“Kesalahan yang sama apa nih Run?”

“Memilih orang yang salah, Put. Kalo gue milih lo, tahun ini gue ada yang ngelamar.” Ujar Arun sambil tertawa tipis.

Putra memandang ke langit di atas taman di tengah ibu kota. “Begitulah hidup. Tahun ini gue emang melamar anak orang, Run. Terus nikah. Ini undangannya.” Putra memberikan undangan berwarna merah muda yang begitu manis.

Saat itu adalah saat yang begitu menyedihkan baginya. Lebih sedih dari saat Tegar memutuskannya dulu. Namun ini adalah pelajaran yang dapat dipetik olehnya. “Gue terima ya Put undangannya.”

“Dateng ya, Run.”

“Gue usahain.”

Satu tahun kemudian, di usia mendekati 26 Arun mendapat kabar dari adiknya Tegar bahwa Tegar menikah. Bukan berita besar, biasa saja. Namun 3 tahun lalu Tegar pernah menjanjikannya akan menikahinya. “Mungkin kalo dulu gue ga mutusin Tegar, gue udah nikah sama Tegar tahun ini. Ah, tapi untuk apa bertahan dengan hubungan seperti itu.” Arun pun sudah tidak memiliki perasaan untuk Tegar. Namun, ia masih menyesal tentang seseorang bernama Putra.

Tahun ini, Putra sudah menjadi seorang Ayah. “Selamat, Putra.” Arun mengetahui hal itu, namun ia tidak ingin memberinya selamat. “Selamat tinggal, mantan teman pria terindahku.”

JANGAN MEMBUAT BINGUNG

Satu tahun sudah Bayu berada di Jakarta. Ia dan Arun pun menjadi sahabat pada akhirnya. Namun lagi-lagi menjadi masalah untuk Arun.

To be continued..

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.