BITTER LOVE – PROLOG

Selagi teman-temannya sibuk berpikir hari ini masak apa untuk suaminya, bagaimana cari uang tambahan untuk perlengkapan polok yang tidak murah, belum lagi kalau anak batuk pilek. Selagi banyak teman yang ingin kembali ke masa sebelum memiliki anak supaya bisa tidur cukup, Arun masih saja sibuk sendiri.

Umurnya sebentar lagi 26 tahun. Dari tahun ke tahun harapannya adalah menikah di tahun yang sedang berjalan, namun kenyataannya Tuhan belum mempertemukan jodohnya. Entah apa yang membuatnya begitu harus berusaha untuk bertemu dengan jodohnya. Sesekali Arun bercermin di toilet kantornya yang besar.

Ia menghela napas. Walau tidak secantik Suzy, tidak selangsing Yoona, dan tidak seseksi Shin Min Ah, ia memiliki wajah yang cukup manis, kulitnya putih seperti gadis-gadis Indonesia harapkan, juga ia memiliki karakter yang menyenangkan.

Lima tahun lalu ia memiliki seseorang yang sangat bucin dengannya selama dua tahun lalamnya. Tapi Arun harus menghakhiri hubungan dengan orang yang begitu mencintainya karena alasan yang sangat masuk akal. “Iya, masuk akal banget.” Gumamnya sembari bercermin.

Walau terkadang ia masih suka berpikir apakah keputusannya benar atau salah sehingga sampai saat ini ia belum juga menikah, namun yang terpentinga dalah dirinya sudah tidak mencintai laki-laki itu lagi. Benar-benar sudah move on.

Tiga tahun sudah Arun menjomblo. Rasanya begitu penuh perjuangan untuk bertemu dengan yang ia inginkan juga menginginkannya. Bukan laki-laki yang berparas seprti Ahn Hyo Seop yang ia inginkan, bukan laki-laki dengan tubuh sempurna seperti Hyunbin, atau bukan laki-laki yang memiliki suara manly seperti Lee Min Ho yang ia inginkan, hanya saja ia menginginkan laki-laki baik yang setia, dan yang terpenting adalah juga menyayangi keluarganya. Untuk urusan wajah, harapannya sih tetap enak dilihat karena menikah itu selamanya bukan sehari dua hari. Begitulah harapannya.

Dalam dua tahun, beberapa laki-laki diperkenalkan oleh temannya, kebanyakan mereka menaruh hati padanya. Namun selalu saja Arun tidak merasakan kecocokan.

“Kamu gimana ke aku, merasa cocok ngga?” Tanya laki-laki asing di hadapannya setelah bicara tiga jam lamanya untuk menanyakan satu dua hal satu sama lain. Ia adalah laki-laki pertama yang dikenalkan oleh temannya. Laki-laki itu tampan juga mapan, pemikirannya pun membuat Arun cukup terpukau. Namun ia tidak dapat memberikan keputusan secepat itu.

“Aku belum bisa kasih jawaban hari ini juga, Mas. Sejuah kita ngobrol barusan sih aku cocok sama Mas Robi. Tapi aku butuh pendapat orang tua aku juga, soalnya kan tujuan kita berdua sama. Untuk menikah. Gimana kalau akhir bulan ini kita sama-sama kasih jawaban? Tapi aku ini orang yang disiplin ya, jadi kalau kita sudah komit kasih jawaban akhir bulan harus akhir bulan dilakukan. Kecuali ada hal lain yang membuat kita harus mundurin tenggat waktu, tapi tetep harus kasih kabar.”

“Oke, aku setuju.”

Namun, dalam waktu yang sudah ditentukan, laki-laki itu tidak memenuhi komitmen yang sudah ditentukan. Laki-laki itu perlu ditanyai lebih dulu baru memberikan jawaban dengan berbagai alasan. Arun berpikir, laki-laki seperti itu tidak dapat dipegang janjinya sehingga ia pun memberikan jawaban tidak untuk laki-laki itu.

Dan di lain hari, di hari yang cerah di bawah atap saung sunda denga berbagai macam makanan di atas meja yang telah dipesan, sudah ada laki-laki geek yang bekerja sebagai seorang IT di perusahaan terkemuka di Jakarta.

Walau geek dan tampak malu-malu, untuk wajah cukup lumayan dan untuk financial tidak perlu diragukan. “Saya sudah punya rumah dua tingkat.” Ujarnya gugup.

Arun terkejut dengan statement pertama yang laki-laki asing ke dua di hidupnya itu katakan. Arun mengambil tahu goreng dan memakannya untuk menenangkan dirinya. “Wah, bagus.” Ujarnya setengah hati. “Terus, Mas mau punya istri yang kayak gimana?”

“Oh yang paling penting istri saya harus wanita karir.”

“Oh My God.” Batin Arun. Kalimat kedua yang begitu mengejutkan ia dengar. Arun mengambil udang tepung yang ada di depannya agar ia tidak kabur dari pertemuan perjodohan yang begitu membuatnya ingin segera pulang. “Kenapa tuh Mas harus kerja?”

“Iya harus, masa jadi ibu rumah tangga aja. Ga punya kerjaan, dong.”

Arun kini mengambil buku menu untuk mengipasi dirinya. “Mas tahu ga pekerjaan ibu saya apa?” laki-laki geek itu menggeleng. “Ibu rumah tangga. Dan Mas tau ga, di rumah saya yang gak punya karir siapa?” lagi-lagi laki-lagi geek itu menggeleng. “Ibu saya aja. Saya kerja, Ayah saya kerja, adik saya sekolah. Tapi Mas tahu ga yang kerjaannya ga selesai-selesai siapa?” untuk ketiga kalinya laki-lagi itu menggeleng. “Ibu saya.”

Kini laki-laki itu terlihat gugup, ia mengambil tempe tepung yang ada di hadapannya. “Pagi-pagi sebelum saya, Ayah saya dan adik saya bangun, ibu saya udah bangun buat nyiapin sarapan. Habis itu Ibu saya siap-siap antar adik saya ke sekolah. Habis antar adik saya sekolah, Ibu saya pergi ke warung sayur untuk belanja. Sampai rumah, Ibu saya masak. Ga lama, Ibu saya cuci pakaian kami habis itu jemur. Habis pakaian kering diapain, Mas?”

“Setrika.” Jawabnya takut-takut.

“Nah, pinter. Kami pulang dari kantor makan malam, Ibu nyiapin makan malam. Makan dimana, Mas?”

“Piring.” Ia semakin gugup.

“Piringnya dicuci, gak?” laki-laki itu mengangguk. “Ibu saya ga mengizinkan kami untuk cuci piring karena alasan takut kecapekan. Jadi siapa yang kerjaanya paling banyak?”

“Engg… Ibu kamu.”

“Pekerjaan Ibu saya apa?”

“Engg.. Ibu rumah tangga.”

“Oke, jadi jangan pernah sekali-sekali ke siapapun untuk bilang Ibu Rumah Tangga itu ga punya pekerjaan, ya! Bukannya tujuan saya menikah supaya engga kerja, toh saya juga berkarir sampai saat ini. Tapi jangan pernah sekali pun meremehkan pekerjaan Ibu Rumah Tangga yang ga ada habisnya itu. Setiap hari seperti itu! Terima kasih atas waktunya untuk hari ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya atau bertindak tidak sopan, saya mau memberi tahu sepertinya kita ga perlu lanjut pertanyaan ini.”

Dengan perasaan seperti terbakar, Arun pergi dari saung sunda dan meninggalkan laki-laki paling aneh pemikirannya yang pernah ia temui. Untuk apa memiliki penghasilan tinggi, memiliki rumah ataupun kendaraan, namun tidak menghargai wanita yang memilih untuk lebih mengurus rumah, suami, dan anak? Bukankah itu pekerjaan yang jauh lebih mulia dibandingkan karir apapun.

Sejak itu, Arun tidak lagi ingin mencoba diperkenalkan dengan laki-laki manapun. Ia ingin mengistirahatkan dirinya sambil meneruskan hobi yang sempat tertunda karena usaha pencarian jodoh akhir-akhir ini, yaitu menghayal dengan menonton drama korea, atau cuci mata melihat cowok-cowok ganteng di tempat umum.

Tetangga Lama

Akhir pekan ini, Arun bangun siang sekali. Masih dengan rambut aut-autan dan muka berminyak, Arun keluar kamar untuk menikmati udara segar dari balkon lantai dua kamarnya. Ia duduk di bangku kayu sambil memainkan handphonenya. Ia membuka instagram dan hendak membuat instagram story. Ia memotret rumah lantai dua di depan rumahnya lalu membuat caption, “Adakah pangeran keluar dari rumah itu?”

To be continued…

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.