BITTER LOVE – Tetangga Lama

Akhir pekan ini, Arun bangun siang sekali. Masih dengan rambut aut-autan dan muka berminyak, Arun keluar kamar untuk menikmati udara segar dari balkon lantai dua kamarnya. Ia duduk di bangku kayu sambil memainkan handphonenya. Ia membuka instagram dan hendak membuat instagram story. Ia memotret rumah lantai dua di depan rumahnya lalu membuat caption, “Adakah pangeran keluar dari rumah itu?”

Saat ia ingin membagikan story di instagramnya, Arun mendapati seseorang di rumah tersebut. Sepengetahuannya, tidak ada yang menempati rumah tersebut setelah bertahun-tahun. Arun melihat ke rumah tersebut dan tidak ada siapa-siapa. Arun pun merasa merinding seketika. Ia kembali melihat ke layar handphonenya. “Eh, beneran ada orang.”

Arun buru-buru masuk ke kamarnya lalu ke toilet untuk sekedar cuci muka dan merapihkan kunciran rambutnya lalu turun ke bawah. Masih mengenakan celana panjang dan sweater tebal, Arun keluar dari rumah.

Banyak orang bulak balik di rumah kosong di depan rumahnya. “Ah, ternyata ada yang pindahan.” Gumam Arun lega. Arun pun berbalik untuk kembali ke rumahnya.

“Kak Arun!”

Mendengar namanya dipanggil, Arun pun menoleh ke sumber suara. Ia mendapati seseorang yang mirip di handphonenya. “Eh, ini…” Ia memeriksa foto seseorang yang sebelumnya tidak sengaja terpotret. “Kok kenal saya?”

“Kak Arun kan ketua OSIS di SMA, kan?”

“Iya. Kok tahu? Kita satu sekolah? Ga mungkin, ah. Saya kenal semua murid di sekolah karena seorang ketua OSIS harus mengenal…” Arun terbawa suasana masa lalu saat ia sedang menjabat sebagai ketua OSIS terbaik selama 5 tahun terakhir. “Anak baru?”

Laki-laki yang tampak lebih muda dari Arun, memiliki tubuh tinggi dan berkulit cokelat serta memiliki senyum manis itu menggelengkan kepalanya. “Gue dari SMP, Kak. Pas Kak Arun kelas 2 dan menjabat sebagai ketua OSIS, gue kelas 1 SMP.”

Arun menggaruk punggung lehernya, ia merasa sangat tua. “Fresh graduate?” ia menunjukkan wajah sengak, entah mengapa ia melakukan hal itu.

“Iya. Baru kerja di BUMN.”

“Wah, mantep juga. Ngomong-ngomong, kok bisa kenal gue? Siapa nama lo?”

“Bayu.” Laki-laki manis itu tersenyum lebar membuat Arun salah tingkah tanpa alasan. Reflek, ia menyingkap rambut depannya dan menaruhnya di telinga. “Dulu Kak Arun cinta pertama gue.”

Arun menganga. “Hee?” tiba-tiba saja ia merasa sangat panas. “Duh, gue belom mandi. Baru bangun, gerah banget. Gue mandi dulu, ya!”

“Kak!” Bayu menahan Arun saat Arun hendak berbalik. “Dulu juga gue tinggal di sini. Lo ga inget?”

Arun tahu bertahun-tahun lalu ada yang tinggal di depan rumahnya. “Iya, tapi gue ga inget lo.”

“Wajar sih. Soalnya gue tinggal satu tahun aja di sini karena Mas gue dapet kuliah di Jogja. Jadi kita tinggal di rumah di Jogja. Sekarang Mas gue udah nikah dan dapet kerja di Jakarta jadi kita pindah ke sini lagi.”

Pembicaraan menjadi cukup panjang padahal Arun tidak menanyakan hal tersebut. Namun demi kesopanan, Arun masih menunggu Bayu selesai bicara sampai sesuatu berdering dari kantong celana Bayu. “Iya Ta? Iya, ini aku lagi beres-beres rumah. Aku kan baru pindahan. Nanti aku video call ya, kalo udah kelar. Hmm. Iya, love you too.”

Arun melipat tangannya karena harus mendengar percakapan tidak penting. Aslinya, Arun merasa cukup iri dengan Bayu karena orang yang jauh lebih muda darinya malah memiliki pasangan. “Gue masuk, ya. Lo mending buruan beresin rumah terus ga usah video call mending langsung samperin aja ke rumahnya.” Terdengar nada sinis dari nada bicara Arun.

Bayu tertawa kecil. “Rumahnya di Jogja, Kak. Per hari ini kita LDR.”

“Oke.” Kini Arun benar-benar meninggalkan Bayu. Ia masuk ke dalam rumah dan bergegas ke kamarnya untuk mandi. Selagi memilih pakaian dalam dan baju yang akan dia kenakan setelah mandi, Arun menggerutu. “Bisa-bisanya dia bilang kalo gue cinta pertamanya padahal dia punya pacar. Dasar bocah bau kencur.”

Arun mengurungkan niatnya untuk mandi untuk sesaat. Ia mengambil handphonenya untuk menghubungi dua orang sahabatnya, Lita dan Riri.

“Guys!!”

Dari layar handphonenya terlihat wajah Riri dan Lita yang agak buram. Beginilah koneksi internet pada umumnya, kurang bagus untuk video call. “Astaga Arun, jomblo banget lo belum mandi ya.” Ledek Riri sementara Lita hanya tertawa saja sembari pakai bedak.

“Iya, nih. Eh Lita lo mau kemana? Udah bedakan aja.”

“Mau jalan sama Bima, Run.”

“Ck. Kalian ya, kenapa sih udah punya pacar aja. Gue aja masih jomblo udah tiga tahun.”

“Sabar, Run. Nanti sebentar lagi juga lo dilamar sama cowok di depan rumah lo.” Ujar Lita sembarang.

“Ngeledek aja lo Lit. Rumah di depan rumahnya si Arun kan kosong.” Riri tertawa terbahak-bahak.

“Eh, eh. Tunggu sebentar. Lit, lo itu cenayang ya? Kok tau kalo depan rumah gue udah keisi?”

“Gue asal doang, Run.”

“Ih… Lo tau ga sih alasan gue video call kalian? Jadi, hari ini ada yang pindahan ke depan. Ternyata itu yang tinggal di sana 12 tahun lalu. Terus ada cowok sekitar 4 tahun di bawah kita. Dia tadi nyamperin gue. Terus dia bilang katanya gue cinta pertamanya pas dia kelas 1 SMP. Gila kali gue aja ga inget dia. Tapi yang bikin kesel, ternyata dia punya pacar di Jogja.”

“Lo tau darimana, Run?” Tanya Riri.

“Dia tadi ditelepon sama pacarnya di depan gue. Ih sebel banget, deh.”

“Udah ga usah kesel. Kan lo cinta pertamanya 12 tahun lalu. Ya itu mah udah expired dari kapan tau. Jadi lo ga usah kayak cacing kepanasan gitu.”

“Hmm, lo bener sih Ri. Ya udah deh, gue mau mandi. Thanks, guys!”

Arun mengakhiri panggilan video callnya. Apa yang dikatakan Riri ada benarnya. Dia tidak perlu kesal dengan Bayu dan bisa bertetangga dengan baik.

***

Malam ke dua di rumah lama, keluarga Bayu mengadakan selametan. Sebenarnya hal itu sudah keluarganya lakukan 12 tahun lalu, namun rumahnya sudah terlalu lama kosong ditambah keluarganya ingin mengenal tetangga-tetangga baru yang belum mengenalnya.

Hampir semua tetangga yang diundang di komplek perumahannya datang tidak terkecuali keluarga Arun. Arun membawa kue ketan buatan Ibunya. “Assalamu’alaykum… Mba Teti lama sekali ga ketemu, ya.” Ibu Arun menyapa orangtua Bayu seperti kawan lama.

“Ya ampun Mba Sita iya, nih. Keenakan tinggal di Jogja.”

“Oh iya, ini saya bawa ketan. Ketan buatan saya itu banyak yang bilang enak. Run, tolong kasih Tante Teti, ya.”

“Aduh repot-repot, Mba. Makasih banyak, ya.”

“Sama-sama, Mba.”

“Bayu.” Tante Teti memanggil anaknya. Tidak lama Bayu datang menghampiri. Ia menyalami Ibu Arun. Ayah Arun sudah asyik mengobrol dengan Om Brata, Papanya Bayu. Sekilas Arun mendengar Ayahnya menyebut nama Papanya Bayu. “Arun masih ingat Bayu, ngga?”

Arun cengengesan. “Engga inget, Tante. Tapi kemarin siang kita udah saling sapa.”

“Iya, Ma. Kemarin Bayu udah nyapa Kak Arun.”

“Arun, Bayu ini dulu yang nangis kejer pas mau pindahan gara-gara katanya nanti ga bisa ngeliat Kak Arun lagi.”

Ibu Arun tertawa mendengarnya. “Wah, bisa nih kita jodohin anak kita.” Ibu Arun sangat menginginkan anak pertamanya ini menikah segera.

Tante Teti ikut tertawa. “Gimana Bayu sama sama Arun, mau ngga?”

Mereka berdua menjadi canggung. “Wah ini Ibu-ibu reuni udah main jodoh-jodohan aja.” Ayah Arun dan Om Brata menghampiri mereka menyelamati situasi canggung ini.

“Bayu, taro dulu ketannya ke meja makan. Tolong gantiin Mba Lastri, dia kan lagi hamil biar istirahat aja.” Perintah Om Brata.

“Siap, Pa.” jawab Bayu cekatan lalu pergi ke belakang.

“Lastri menantu?” Tanya Ibu Arun.

“Iya, lagi hamil anak kedua. Yang pertama lagi tidur siang.” Jawab Tante Teti.

“Eh iya, ayuk kita ngobrolnya di ruang tengah aja. Biar sekalian ngobrol sama tetangga yang lain.” Ujar Om Brata.

Arun mengikuti para orangtua itu namun Tante Teti menahannya. “Arun, mau tolongin tante bantuin Bayu?”

“Engg..” Ibu Arun memberikan kode untuk tidak menolak. “Siap, Tante.”

Arun pun pergi ke belakang. Ia mendapati Bayu sedang menaruh ketan buatan Ibunya ke piring. “Bay, orangtua lo ga tau kalo lo punya pacar?”

“Ya tau.”

“Lah, terus?”

“Semenjak pindah ke Jakarta, orangtua gue jadi insecure.

“Alasannya?”

“Cewek gue mau nikah muda.”

“Terus? Lo kan udah kerja, kalo udah nikah bisa ajak ke sini.”

“Itu, orangtua cewek gue gamau jauh-jauh dari anaknya karena dia anak satu-satunya. Otomatis, gue harus ke Jogja dan melepas pekerjaan gue ini. Semenjak itu, orangtua gue terutama mama jadi sangat mempertimbangkan hubungan gue.”

Arun menghela napas. Ia ingin bersimpati pada Bayu namun masalahnya di umur 26 tahun yang belum kunjung mendapatkan jodoh jauh lebih rumit. “Sulit.”

“Kakak kenapa kok belum nikah?”

Pertanyaan Bayu mengingatkannya pada momen-momen tidak menyenangkan tiga tahun silam. Hal-hal yang membuatnya terkadang bertanya, apakah keputusannya saat itu adalah yang terbaik. Walaupun kini sudah sama sekali tidak menginginkan hubungan peliknya dulu, pertanyaan itu masih suka muncul.

Mantan Terindah

Di usia 21 tahun, Arun yang masih sangat muda bertemu dengan cinta pertamanya. Laki-laki itu bertubuh tinggi, berhidung mancung, dan memiliki suara berat. Sikapnya agak judes, membuatnya kelepek-kelepek tidak butuh lama. Seperti gayung bersambut, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya pun diam-diam menyukainya.

To be continued..

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.