Bitterlove – Jangan Membuat Bingung (EPILOG)

Satu tahun sudah Bayu berada di Jakarta. Ia dan Arun pun menjadi sahabat pada akhirnya. Namun lagi-lagi menjadi masalah untuk Arun.

Langit masih agak gelap walau matahari sudah mulai malu-malu tampak. Bapak-bapak baru saja pulang dari masjid lepas solat subuh. Sayup-sayup terdengar suara yang begitu dikenalnya dari luar rumah. Dengan sigap dan perasaan senang, Arun membuka pintu kamarnya.

Dari balkon, ia melihat Bayu memanggilnya dari balkon kamarnya. “Kak, udah siap belum?” teriak Bayu dari seberang.

“Lima menit lagi, Bay!”

Arun buru-buru masuk ke dalam kamar. Ia bercermin di meja riasnya. Bedak tipis, pelembab bibir dan body mist cukup banyak. Setelah puas dengan penampilannya, Arun turun. Ia melihat Ibunya sedang menyiapkan bekal roti dan susu untuk dua orang. “Duh, si kakak seneng banget nih kayaknya mau jalan sama Bayu.”

Arun menyenggol tubuh Ibunya. “Bu, Arun sama Bayu kan temenan. Lagian Bayu kan udah punya calon. Calonnya mau nikah muda.”

“Kamu ga mau nikah muda juga emang?”

Arun cemberut. “Belum ketemu sama yang mau nikahin, Bu.”

“Lha itu yang ngajak kondangan?”

“Ah si Ibu. Jangan ngarep! Arun berangkat dulu ya, Bu. Ayah masih di masjid ya? Tolong bilangin ya, Arun pulang sore ini.”

Setelah mencium pipi Ibunya, Arun keluar dan memakai sneaker nya. Bayu sudah menunggu di depan rumahnya, bersandar di mobil milik orangtuanya. Bayu cukup terkesima dengan tampilan Arun. Kebaya berwarna hijau pastel dibalut kain batik namun ia memakai sneaker putih. Arun selalu terlihat cantik memakai apapun. Sementara Bayu hanya memakai jeans dan kemeja putih dengan lengan digulung.

“Yuk!”

Mereka masuk ke dalam mobil. “Udah sarapan?” Tanya Arun.

“Belum. Mana sempet.”

“Lagian lo lebay banget, sih. Kondangan ke Bandung aja jalan abis subuh gini. Bandung kan deket.”

“Tapi kan kita ga tau jalan kayak gimana. Gue gamau ketinggalan acara akad sahabat gue.”

“Iya boosss. Siaap deh. Eh iya, Ibu gue bekelin roti sama susu.”

“Suapin, dong.”

“Ogah.”

Bayu melipirkan mobilnya ke pinggir jalan. Ia mengambil roti di tempat makan milik Arun. Tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan. Bayu memperhatikan wajah Arun yang memerah. Arun buru-buru membuang pandangan ke arah lain sembari menyeruput susu yang dibekalkan Ibunya.

Di hadapannya, ada seorang wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya. Namun waktu berlalu begitu lama sehingga ia bertemu dengan wanita lain yang tidak kalah dicintainya. Namun saat ia kembali, ia bertemu dengan cinta pertamanya. Wanita yang sudah tidak begitu muda, tempramennya cukup tinggi namun memiliki sisi lembut mengisi hari-harinya satu tahun terakhir.

Seorang wanita yang selalu memberikan nasihat percintaan, nasihat keuangan, juga nasihat-nasihat yang tidak dapat diandalkan. “Kak.”

“Apa?” Tanya Arun tanpa melihat wajah Bayu.

Just in case, gue sama cewek gue putus. Lo mau ga sama gue?”

Seperti ada serangga hinggap di pita suaranya, Arun terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Bayu. “M-mau gimana nih maksudnya?” Arun gelagapan.

“Jadi pacar gue.”

“Ngaco.” Arun tertawa kecil.

“Ga mau?”

“Engga, lah. Kalo nanti lo balikan sama cewek lo gimana? So risky at this age.”

“Oke deh kalo begitu.”

Begitulah perbincangan mereka, tidak berlanjut sampai tiba di Bandung. Keduanya saling berperang batin. Arun tidak dapat memungkiri kalau ia sudah jatuh cinta pada Bayu, begitu saja. Mungkin di hari-harinya yang sepi, Bayu meramaikan. Itulah yang membuatnya secara tidak sadar mulai berharap.

Bandung kota pagi hari masih cukup bila dibandingkan dengan Jakarta. Namun jalanan sudah mulai macet, sepertinya orang-orang Jakarta sudah mulai menumpuk di Bandung. Walau begitu, Bayu tidak kesulitan untuk tiba tepat waktu. Acara pernikahan diadakan di rumah mempelai laki-laki, sahabat Bayu sendiri. kebetulan, mempelai wanita pun sahabat Bayu.

Sahabat Bayu bukan main-main. Pekarangan rumahnya sangat luas. Konsep pernikahannya adalah pesta kebun. Saat melihat dekorasi pernikahan yang begitu asri, Arun terinspirasi mengenai pernikahannya kelak. Tiba-tiba ia melihat punggung Bayu yang berjalan lebih dulu darinya.

Tiba-tiba, dari kejauhan seorang gadis dengan kulit sangat putih mengenakan dress dengan bahan yang mirip-mirip dengan beberapa orang yang hadir menghampiri Bayu dengan senyum sumringah. Arun tersenyum melihat gadis itu, tidak dapat dielakkan gadis itu sangat cantik dan menawan hari ini.

Namun senyuman itu sirna saat ia melihat gadis itu merangkul lengan Bayu. Langkah Arun tiba-tiba terhenti, menatap pandangan itu dengan nanar. Ia merasa begitu bodoh mau saja diajak ke pernikahan sahabat Bayu. Sudah pasti kekasih Bayu pun datang di pernikahan ini. Bayu menoleh ke belakang, melihat Arun yang tertinggal di belakangnya.

“Kak, sini!”

Saat itu juga, Arun ingin sekali pergi dari tempat ini. Namun ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Arun menunjukkan senyum palsunya lalu menghampiri Bayu. Arun dan kekasih Bayu pun akhirnya berkenalan. “Arun.”

“Sita.” Sita memberi senyuman pada Arun.

“Aku kenal Kak Arun udah berbelas-belas tahun tapi dia ga kenal aku.” Ujar Bayu ke Sita agak canggung.

“Ini kakak yang mau kamu ken—“

“Sstt.” Bayu menaruh telunjuknya di bibir Sita. Melihat itu, napas Arun seakan terhenti.

Pembawa acara sudah mulai bersuara memberitahu tamu undangan bahwa akad akan segera dilaksanakan. Bayu, Sita, dan Arun pun berjalan menuju kursi tamu undangan yang sudah disediakan. “Bay, gue duduk di belakang aja ya. Soalnya gue gerah.”

“Oh yauda, Kak.”

Arun memilih duduk di kursi paling belakang agar tidak terus melihat Bayu dan Sita. Ia sangat menyesali keputusannya menerima ajakan Bayu untuk datang ke pernikahan temannya. Sekarang ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba seorang laki-laki duduk di sebelahnya. “Sorry.” Ujarnya.

Arun menoleh ke laki-laki itu. Ia tidak sangka seorang laki-laki tampan menghampirinya. Dulu saat melihat laki-laki tampan di tempat umum, ia selalu menghayal hidup bersama laki-laki tersebut. Namun kini ketika laki-laki tampan ada di hadapannya, suasana hati Arun tidak juga membaik. “Iya.”

“Temennya Bayu?”

“Iya.”

“Kenalin, aku Rama temennya Bayu.”

“Oh iya. Arun.” Arun bingung dengan laki-laki yang terlalu gentle ini.

Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ia mendapat pesan dari Bayu.

Kak, itu temen gue namanya Rama. Gue ajak lo ke Bandung karena mau kenalin ke Rama. Dia lagi cari istri. Good luck!

Membaca pesan singkat dari Bayu membuat Arun menjadi sangat marah. Cara Bayu sangat tidak beretika dan juga ia sedang tidak ingin berkenalan dengan orang baru. Lelah apabila akhirnya seperti dua laki-laki yang pernah dijodohkan temannya beberapa tahun lalu.

Sayup-sayup terdengar suara dua orang berkata SAH dengan tegas. Akad nikah sudah selesai. “Rama, mau ga temenin aku jalan-jalan keliling halaman rumah ini? Kayak kebun raya, luas banget.”

“Oh iya, boleh banget.”

Mereka berdua pergi dari titik keramaian dan bekeliling di kebun rumah yang sangat luas lalu berhenti di depan kolam ikan yang begitu jernih airnya. “Ram, aku mau to the point aja. Mungkin cara ini engga sopan. Tapi rasanya aku perlu kasih tau kamu.”

“Apa tuh?”

“Kita baru kenal sekitar setengah jam yang lalu. Setengah jam yang lalu pun Bayu ngechat aku, dia bilang kalo kita mau dijodoh-jodohin gitu.”

Rama tertawa kecil. “Begitu deh. Jadi gimana?”

“Mungkin Bayu udah pernah kirim fotoku ke kamu. Entah apa menurut kamu aku kayak di foto atau lebih jelek dari di foto. Tapi aku mau meluruskan aja, kayaknya aku gamau dikenalin untuk lebih dari sekedar kenalan. Soalnya Bayu engga kasih tau aku dari sebelum sampai Bandung, menurutku cara ini engga sopan.”

Rama terlihat bingung.

Arun memegang lengan Rama. “Rama, sorry banget. Aku sukanya sama Bayu. Tadi pas lihat pacarnya Bayu, rasanya aku udah kepingin pergi. Tapi, aku ga mungkin mempermalukan diri aku di depan pacarnya Bayu. Ketauan banget aku cemburunya.”

Air mata terlihat seperti ingin keluar dari mata Arun. Wajah Arun sudah sangat merah. “Mau pulang?” Tanya Rama.

Arun mengangguk. “Ya udah, yuk aku anter mumpung engga ada Bayu. Tapi aku cuma bisa anter sampe stasiun soalnya aku harus ada pas resepsi Anwar dan Icha.”

“Gak Ram, aku naik taksi aja. Makasih banget ya, Ram. Nanti tolong bilangin Bayu, aku pulang duluan. Tapi aku mohon ngomongnya jangan di depan pacarnya Bayu.”

Arun meninggalkan Rama. Namun ia kaget bukan kepalang saat melihat Bayu dan Sita berada tidak jauh darinya. Sejak kapan mereka ada di sana? Arun tidak ingin menunjukkan wajahnya di depan Bayu dan Sita. Ia berlari meninggalkan semuanya. Melihat Arun berlari, Bayu hendak menyusulnya namun Sita menahannya. Rama yang baru saja melihat drama kehidupan, hanya melewati mereka berdua dengan menepuk bahu Bayu sebelumnya.

“Dari awal aku ketemu kakak itu, aku udah tau kalo dia selalu berusaha buat dapetin kamu.”

Bayu begitu kaget mendengarnya. “Hah?”

“Aku mau akhir tahun ini kita nikah, Bay.”

“Kamu mau ikut aku ke Jakarta?”

“Engga. Ga akan pernah. Kamu yang kembali ke Jogja. Itu udah mutlak.”

Bayu menghela napas. Ia memegang tangan Sita, sementara pikirannya melayang jauh ke Arun. “Sita, aku ga mungkin ninggalin Jakarta. Mama aku ga setuju dan banyak yang akan aku lepas kalo aku ninggalin Jakarta.”

“Siapa? Kakak itu? Kamu ga bisa lepas kakak itu?”

Pembicaraan siapa yang akan ikut siapa selalu membuatnya bertengkar dengan Sita, baik saat mereka sedang berjauhan bahkan saat bertemu.

“Bay, lo harus bisa yakinin pacar lo. Pelan-pelan, cewek maunya dimengerti. Tapi pelan-pelan, nanti juga nurut.”

“Mungkin khawatir kalo tinggal sama mertua, takut digalakin. Lo kasih pengertian.”

“Kayak mama lo ga bisa lepas lo, begitu orang tua pacar lo mungkin. Sabar aja. Kalo lo cinta, pertahanin!”

Tiba-tiba nasihat-nasihat Arun terngiang di telinganya. Bayu melepas tangan Sita. “Sekali lagi aku tanya ke kamu. Ga bisa kalo kamu yang ikut aku ke Jakarta?”

“Engga, Bay! Kenapa sih? Kamu mau selalu deket dengan kakak itu? Dasar perawan tua tukang godain cowok orang!”

Mendengar umpatan Sita, Bayu menjadi begitu marah. “Ta, kalo kamu ga bisa ikut aku ke Jakarta kita udahin aja karena ga akan ada titik temu. Satu lagi, Kak Arun lah satu-satunya orang yang bikin aku bertahan sama kamu. Jadi jaga ucapan kamu tentang Kak Arun. Seharusnya kamu terima kasih sama dia. Udah ya, Ta. Kita cukup sampai sini.”

Bayu pergi meninggalkan Sita. Sita yang begitu marah dengan Bayu hanya bisa berdiam dan menangis.

Bayu berlari untuk mengejar Arun. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Rama memberikan pesan ke Bayu.

Dia ke stasiun, Bay. Good luck. Sita biar gue yang urus.

Bayu melakukan panggilan ke Rama. Tidak butuh waktu lama, ia sudah terhubung dengan Rama. “Ram, gue udah putus sama Sita. Tolong bilangin Anwar sama Icha gue pulang duluan.”

***

Memang tidak sulit menemui Arun. Arun bukanlah gadis yang rumit. Ia adalah gadis yang sangat sederhana. Ia hanya duduk di kursi tunggu sembari memegangi handphonenya. Bayu pikir ia akan mendapati Arun menangis. Namun nyatanya, Arun hanya diam sesekali menghela napas. Mungkin rasa kecewa hari ini tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang pernah ia lalui dahulu.

Arun tampak begitu gelisah. Diam-diam, Bayu duduk di sampingnya namun Arun tidak menyadarinya. Bayu menyadarkan kepalanya di pundak Arun membuat Arun kaget. Setelah sadar kalau yang bersandar di pundaknya adalah Bayu, Arun terdiam. “Kak, jangan gerak-gerak. Aku habis putus nih.”

“K-kenapa putus? Gara-gara gue?”

“Engga, Kak. Kan emang dari kemaren-kemaren udah kepikiran mau putus. Tapi lo selalu ngelarang gue. Padahal lo suka sama gue.”

Arun hanya diam. Ia tidak berkata apa-apa.

Bayu mengangkat kepalanya, ia memegang tangan Arun. Arun hanya terdiam sambil menatapnya bingung. “Kak. Gue mau ngulang pertanyaan gue tadi pagi. Ini bukan just in case lagi tapi udah kejadian. Gue udah putus sama Sita. Lo mau nikah sama gue?”

“Engg—.. Apa?”

“Lo mau jadi istri gue?”

Waktu seakan berhenti. Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar di penjuru stasiun. Ramai suara calon penumpang tidak kalah memenuhi stasiun. Angin dari blower yang menempel di tembok stasiun terkadang menembak rambut siapa saja yang tidak diikat.

***

EPILOG

Seperti kebanyakan pasangan lainnya, Arun dan Bayu memilih untuk berbulan madu ke Bali. Pagi ini, mereka bangun cukup siang. Suara deru ombak sudah terdengar sejak tadi, sinar matahari menerobos masuk dari gorden jendela yang lebar.  Arun memandangi wajah Bayu. Laki-laki yang menjadikannya sebagai cinta pertama.

Semua akan indah pada waktunya, bukan hanya sekedar kutipan di belakang papan truk antar kota.

“Gemes, ya?” tiba-tiba Bayu bersuara.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.