Cara Mengenal Sang Idola

Suara siulan burung bersahut-sahutan nyaring di atas pepohonan. Suaranya terdengar sampai ke dalam masjid. Seorang santri sambil mengantuk-ngantuk menyelesaikan setoran hapalannya kepada gurunya. “Shadaqallahul adzim..” tutupnya setelah menyetorkan hapalan surat Ar Rahman.

“Maa syaa Allah, Arif. Jangan lupa dimurojaah terus ya, hapalannya.”

“Iya Ustadz Burhan.” Jawab Arif, santri berusia dua belas tahun.

Ustadz Burhan yang sudah berusia lanjut tersenyum pada anak muridnya. Arif termasuk salah satu santri yang berprestasi di pesantren. Arif juga merupakan salah satu santri yang tidak pernah melanggar peraturan pesantren. “Rif, pesan saya satu. Jaga hapalanmu karena menambah hapalan itu mudah tapi menjaganya itu tidaklah mudah. Gampang lupa. Makanya, kalo kamu lagi solat malam jangan pakai surat-surat yang pendek, ya. Pakai surat-surat panjang agar hapalannya ngelotok di kepala kamu.”

“Iya.”

Pagi ini udara di Bogor begitu sejuk. Santri-santri lain biasanya memanfaatkan waktu ini untuk berisitirahat sejenak sebelum memulai pelajaran. Namun beda dengan Arif, ia sangat senang menyetor hapalan maupun mengobrol dengan guru-guru di pesantren terutama bersama Ustadz Burhan. “Ustadz.” Ujar Arif.

Ustadz Burhan sangat senang dengan panggilan Arif kepadanya karena akan ada pertanyaan baru yang diajukan Arif kepadanya. Ustadz Burhan sudah hapal betul dengan kebiasaan salah satu santri kesayangannya itu. “Iya, Rif?”

“Ustadz, kemarin kan di kelas sedang ngobrol-ngobrol ringan Tadz sama Ustadz Amir. Nah, kita ngebahas tentang idola, Tadz.”

“Lalu?”

“Ustadz Amir nyebut Kanjeng Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ustadz Burhan tertawa kecil. “Lalu?”

“Saya kepingin mengidolakan Rasulullah juga, Tadz.”

“Kenapa tuh, Rif?”

“Pertama, beliau adalah Nabi kita. Kedua, beliau adalah kekasih Allah. Ketiga, dialah pembawa risalah agama kita. Keempat, semua sikap-sikap beliau dapat kita jadikan contoh. Masih banyak lagi Tadz. Kalo Arif sebutin bisa sampe dhuhr.”

Ustadz Burhan tertawa cukup keras. Ia sudah menduga kalau Arif akan sekritis itu. “Terus Arif mau tau apa?”

“Iya, Tadz. Kan kalau mengidolakan seseorang kita harus tahu betul bagaimana orang itu. Saya mau tahu lebih jauh tentang Rasulullah. Tapi saya ngga tahu gimana caranya untuk kepoin Rasulullah.”

Ustadz Burhan membenarkan posisi duduknya. Raut wajahnya menjadi agak serius. “Rif. Kalau kamu mau cari tahu tentang Rasulullah berarti kamu harus mempelajari Sirah Nabawiyah. Sirah Nabawiyah itu mudahnya adalah fakta-fakta sejarah kehidupan Kanjeng Rasul. Tapi Rif, kalau mau belajar Sirah Nabi, yang pertama harus dilakukan bukan dari Rasulullah lahir melainkan dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissallaam.”

“Kenapa kok begitu, Tadz?”

“Jelas begitu. Kalau kita tarik nasabnya kanjeng Rasul, itu tuh sampai ke Nabi Ibrahim. Sekarang Ustadz tanya ke Arif. Nabi Muhammad lahir di mana?”

“Mekah, Tadz.”

“Nah, Mekah ini juga punya sejarah. Sejarah kota Mekah ini tidak lain adalah dari Hajar istrinya Nabi Ibrahim, ibunya nabi Ismail ketika dulu Mekah masih sebuah padang tandus lalu Hajar bersama bayi Ismail sendirian di sana sampai datanglah suku Jurhum. Gimana, bingung?”

“Bingung, Tadz.”

“Emang harus bingung. Kalo ngga bingung, nanti ngga belajar. Jadi Arif belajar mulai dari Nabi Ibrahim sampai Rasulullah meninggal, ya.”

“Siap, Tadz.”

 

Baca Juga:

Shaybah bin Hashim

Sejarah Air Zamzam

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.