Cucu Pertama Kong Anang

Cerita pendek ini aku dedikasikan untuk mengenang almarhum kakek tersayang yang sudah 17 tahun meninggalkan kami (anak, menantu, dan cucu), Engkong Kanang Iskandar bin Kadirja.

“Ga pake kacang sama sambel, ye.” Ujar seorang laki-laki paru baya dengan kumis tebal bertengger di atas bibir hitamnya.

Perutnya terasa sesak karena ikat pinggang yang terlalu kencang akibat perut buncitnya. Ia turunkan sedikit agar napasnya sedikit lega membuat kaos hitam abu-abu berpola strip agak keluar dari celana bahannya.

Pagi itu matahari sudah mulai tampak namun udara di Depok masih terasa sedikit dingin. Untuk menghangatkan dirinya, laki-laki paru baya itu menyalakan rokok kreteknya. Pipinya kembang kempis saat batang rokok telah menempel di bibir hitamnya. Ia begitu menikmati rasa hangat dari sebatang rokok merek Djarum Super.

“Pake sate ngga, Pak?” tukang bubur yang telah menjadi langganan membuyarkan kenikmatannya.

“Boleh, pakein aje sate usus. Jadi berape sama sate?” tanyanya dengan logat betawi yang sangat kental.

“Biasa, Pak. Enam ribu.”

Mereka saling bertukar kebutuhan. Laki-laki paru baya itu memberikan selembar uang lima ribuan dan koin seribu, sementara tukang bubur itu memberikan sebungkus bubur ayam lengkap dengan sate usus. Rokok tetap menyelip di antara dua bibirnya. “Makasi Pak.”

“Same-same.”

Dengan perasaan riang, laki-laki paru baya itu berjalan kaki untuk menemui cucu pertamanya yang mana setiap pagi sebelum berangkat sekolah ia selalu menonton kartun marsupilami. Setiap hari, tanpa jeda laki-laki paru baya itu selalu membawakan bubur ayam untuk sang cucu.

Setiap pagi cucunya selalu menanti-nanti kedatangan sang kakek yang ia sapa “Kong Anang” untuk sarapan dan digendong. Sejak kecil, ia menjadi cucu paling disayang oleh sang kakek. Maklum saja karena belum ada cucu lain lagi selainnya. Saking sayangnya, ia memanggilnya dengan sebutan “Yayang”.

Sejak Yayang kecil Kong Anang sering membawanya ke daerah Sunter, Jakarta Utara tempat tinggalnya dulu sebelum pindah ke Depok untuk bersilaturahim dengan keluarga besar atau mengajaknya ke Pasar Ikan di sana. Menggunakan Patas AC lah Yayang diboyong oleh Kong Anang.

“Kong, mau.” Pinta Yayang ketika melihat pedagang asongan yang menjajakan rokok, permen, dan dagangan kecil lainnya di sebuah tas. Yayang menunjuk permen mentos rasa anggur. Itu adalah permen kesukaannya.

Biarpun hargaya agak mahal, Kong Anang tetap membelikan permen mentos itu untuk cucu kesayangannya. Setelah keinginannya terpenuhi, Yayang pun selalu tertidur bersandar di dada Kong Anang sembari mengemut permen mentos di mulutnya. Itulah yang membuatnya sering sakit gigi.

Menjadi cucu pertama memang begitu spesial. Dimanapun berada selalu dibanggakan. Kong Anang membawa Yayang dan memamerkan cucu kecilnya ke setiap rumah di Sunter—rumah adik-adiknya, tetangganya dulu, bahkan ke penjual Bakmi Sikin—bakmi terenak se-Sunter raya.

“Cucu aye pinter tapi jahil. Uyutnye nih, kalo dateng pasti kerudungnya diumpetin.” Kong Anang bercerita ke tetangga-tetangganya dulu.

Yayang memiliki seorang Uyut perempuan, seorang wanita tua yang begitu cantik. Tubuhnya langsing, kulitnya putih, hidungnya mancung. Namun Yayang tidak menyerupai fisik Uyutnya sedikit pun. Ia memanggilnya Uyut Kemi sementara Uyut Kemi memanggilnya Cicih. Cicih? Itu panggilan sayang Uyut Kemi ke Yayang. Tidak ada artinya, tapi hanya Uyut Kemi satu-satunya manusia di muka bumi ini yang memanggilnya Cicih.

Setiap kali Uyut Kemi datang ke rumahnya, Yayang selalu menyembunyikan kerudung Uyut Kemi. Uyut Kemi juga selalu meminta Yayang untuk mencabut ubannya yang terasa gatal. Jahil, Yayang berpura-pura kalau ia menemukan kutu di rambut nenek buyutnya itu.

Kong Anang adalah anak Uyut Kemi yang paling dekat dengannya. Semasa hidup, Uyut Kemi selalu ikut dengan Kong Anang. Namun semakin lanjut usianya, Uyut Kemi menderita demensia. Ia tidak mengingat siapapun, bahkan Yayang cicit yang paling dekat dengannya.

Penyakit darah tinggi Kong Anang pun semakin parah, semakin tua ia pun menderita sakit ginjal yang membuatnya harus rutin cuci darah. Fisiknya yang juga sudah mulai melemah membuat Kong Kanang tidak dapat mengurusi Ibu tercintanya. Hal itu membuat Uyut Kemi dirawat oleh adik Kong Anang yang juga anak kedua Uyut Kemi, yaitu Kong Karim.

Awalnya, Yayang merasa begitu kehilangan karena Uyut Kemi yang hampir setiap hari menemuinya kini sudah tidak lagi karena rumah Kong Karim berada di Ciampea, Bogor. Namun lama-kelamaan sudah mulai terbiasa ditambah Kong Anang yang selalu menemaninya setiap hari sambil ngangon ayam.

Siang itu udara di Depok cukup panas. Sepulang sekolah Yayang sudah mendapati kakek kesayangannya berada di rumahnya. Betapa senangnya hati Yayang karena bisa ngangon ayam bersama Kong Anang. Ia bergegas mengganti seragam sekolahnya dengan kaos main.

Di teras rumah Yayang terdapat balai dari rotan. Di sana, Kong Anang sedang tertidur pulas dengan mulut menganga. Yayang yang sangat senang menjahili kakek dan juga uyut perempuannya mendapat akal untuk menjahili Kong Anang. Ia ambil Ayam Ras Bangkok yang diberikan Kong Anang dari kandang dan dilepasnya. Ayam ras Bangkok itu ia beri nama Entong. Entong adalah ayam jantan dengan perawakan yang sangat besar.

“Tong.. Tong..” Yayang memanggil ayam miliknya sembari mendekat ke Kong Anang yang sedang tidur.

“Hoh?” sahut Kong Anang yang mengira Yayang memanggilnya, “Kong~”

Yayang cekikikan mendengarnya. Ia terus melakukannya sampai Kong Anang terbangun lalu ia berpura-pura asik dengan si Entong.

Mendengar kabar dari Kong Karim bahwa kondisi Uyut Kemi yang semakin menurun, keluarga di Depok pun memutuskan untuk segera berkunjung ke Ciampea, Bogor.

Udara di sana sangat sejuk, mayoritas setiap rumah memiliki empang ikan sehingga udaranya tercium agak amis. Di rumah setengah bilik, Yayang mendapati Uyut yang dulu sangat dekat dengannya hanya duduk termenung dengan tatapan kosong. Uyut sudah lupa dengan Cicih karena penyakit demensia yang dideritanya. Tampak raut sedih di wajah Kong Anang karena sang Ibu sudah sangat renta.

Tidak lama setelah kepulangan kami dari Ciampea, kami mendapatkan kabar bahwa Uyut Kemi meninggal dunia. Semua keluarga merasa sangat sedih tentu saja dengan Kong Anang. Penyakit Kong Anang pun semakin serius, tubuhnya terkikis secara perlahan dan membuatnya menjadi kurus.

Sore hari saat sedang asyik bermain bersama sepupu-sepupunya di kidul, di rumah Kong Maih—kakek dari Ibu Yayang dipanggil oleh kakeknya itu. “Neng, ayo sama Engkong ke wetan.”

“Kenapa, Kong?”

“Kong Anang pulang.” Jawabnya.

Setahu Yayang, Kong Anang sedang melakukan cuci darah di rumah sakit. Usianya masih kecil saat itu, membuatnya tidak mengerti maksud dari “Kong Anang pulang.” Sambil dituntun Kong Maih, mereka berjalan kaki dari kidul ke wetan—ke rumah Kong Anang.

Sesampainya di rumah Kong Anang, banyak orang yang berkumpul. Yayang yang berusia 9 tahun sadar, bahwa kakek tersayangnya telah meninggal. Ia cari ke dalam rumah, tidak dapat menemukan jasad sang kakek. Tidak lama kemudian, terdengar sirine ambulan


ce yang menggaung di sekitar perkampungan.

Itu adalah Kong Anang yang sudah terbujur kaku. Ibu memeluk Yayang saat itu, ia tahu kalau Yayang pasti sangat sedih kehilangan kakek yang paling ia sayang. Kakek yang selalu mengajaknya ke Sunter naik Patas AC, kakek yang tidak pernah absen membawakannya bubur ayam setiap pagi, dan kakek yang paling sering menggendongnya.

Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nzulahu, wa wassi’ madkholahu, waghsilhu bil maai wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khotoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdilhu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wazawjan khoirom min zawihi, wa adkhikul jannata, wa a’idzhu min’adzabil qobri wa ‘adzabin naar.

Kong Anang (sebelah kiri) dan adik-adiknya
aku dan Kong Anang
cucu-cucu kong anang saat ini
para anak, cucu, dan menantu

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

3 thoughts on “Cucu Pertama Kong Anang

  1. Bagus sekali cerita masa kecilnya. Pastinya ini kenangan yg tak terlupakan. Btw aku sedikit kaget jg karena tulisannya menceritakan 4 generasi. Hehehehe. Mantap!

  2. Masa kecil yang indah. Pasti ngga bakal pernah lupa ya Kak sama momen-momen bersama kakeknya. Semoga beliau Husnul Khatimah. Allahummagfirlahu, warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu. Alfatihan. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.