Dia Menemukan Hadiahnya

Aku akan bercerita tentang kisah seorang teman. Aku sangat ingat saat temanku bercerita kala itu. Wajahnya berseri-seri, bibirnya tidak berhenti tersenyum. Saat itu aku bertanya padanya. “Kamu kok kelihatan senang banget?”

“Iya.” Jawabnya saat itu seperti kehabisan kata-kata namun matanya begitu berbinar.

Alasanku ingin menceritakan kisahnya karena aku ingin berbagi pengalaman bahwa rencana Tuhan itu memang sangat indah. Tuhan adalah Sang Penyembuh.

Sekitar lima tahun lalu temanku ini bertemu dengan seorang laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Ternyata laki-laki itu pun menyukainya sehingga mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Karena umur mereka yang sudah sama-sama dewasa, mereka pun menjalani kehidupan percintaan dengan sangat dewasa. Tidak ada pertengkaran untuk hal-hal sepele.

Namun ternyata hal tersebut tidak bertahan lama, suatu ketika pacar temanku ini tiba-tiba saja berubah sikapnya. Pacarnya yang selalu hangat tiba-tiba saja menjadi dingin. Pacarnya yang selalu perhatian tiba-tiba saja menjadi cuek. Temanku sangat mengenal pacarnya itu sehingga perilaku yang mulai berubah tentu sangat disadarinya.

Hampir satu bulan lamanya, perubahan drastis itu berjalan. Temanku yang tadinya tidak pernah bawel pun akhirnya jadi bawel karena memiliki firasat yang buruk akan hubungannya dengan kekasihnya. Setelah selama itu temanku didiamkan oleh pacarnya, akhirnya pacarnya mengiriminya pesan.

“Aku mau kita break up.”

Kata-kata itu memang sudah diduga oleh temanku. Tapi yang ia tidak duga kenapa hubungannya yang baik-baik saja menjadi sangat kacau. Temanku mendesak pacarnya untuk menjelaskan alasan kenapa ia diputuskan. Awalnya tidak mengaku, namun akhirnya sebuah fakta terungkap.

Ibu dari pacarnya temanku tidak setuju karena alasan beda suku. Mendengar penjelasannya terdengar sangat stereotip padahal belum pernah bertemu secara langsung. Akhirnya mereka pun putus begitu saja.

Entah bagaimana sakit hatinya, temanku ini menjadi insecure. “Aku trauma. Aku takut kalo ketemu cowok lagi nanti ditolak sama Ibunya lagi.”

Berkali-kali aku menasihatinya kalau tidak semua orangtua akan seperti itu terhadap pilihan anaknya. Namun aku tidak mengalaminya secara langsung sehingga aku tidak dapat menilai apa yang ditakutinya.

Temanku ini selalu sendiri hampir tiga tahun lamanya sampai ia bertemu dengan seorang laki-laki yang membuatnya tersenyum dan begitu berbinar-binar saat ini. Ia bertemu laki-laki yang memiliki seorang Ibu. Ibunya cantik, tentu saja berbeda suku dengan temanku. Kebetulan laki-laki ini sama suku dengan mantannya. Tapi yang membuatnya berbeda, Ibu laki-laki ini tidak mempermasalahkan perbedaan suku. Selama masih dalam satu akidah dan akhlak perempuan yang dipikih anaknya baik, ia akan menyambutnya dengan kasih sayang.

“Bagi aku, Ibunya adalah hadiah untuk aku. Ibunya yang sayang denganku adalah perantara dari Allah untuk menjadi penyembuh rasa takut dan insecure-ku.” Katanya sambil berbinar-binar dan wajah penuh syukur.

Akhirnya, dia menemukan hadiahnya

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Dia Menemukan Hadiahnya

Leave a Reply to Deny Oey Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.