Dilematis seorang PKD di Gerbong Wanita

Bagi seseorang yang setia menggunakan moda transportasi KRL Commuterline pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah PKD yang merupakan akronim dari Petugas Keamanan Dalam. Benar, seorang yang mengenakan seragam berwarna biru dongker lengkap dengan helm berwarna putih bertuliskan PKD dan senantiasa memegang Handy Talky (HT) untuk kebutuhan koordinasi, itulah mereka.

Menurut keterangan dari Direktur Operasi PT Kereta Commuter Jabodetabek yang telah dituliskan oleh Amad Sudarsih dalam artikelnya di Kompasiana yang berjudul Ini Lho Tugas PKD di Stasiun KRL Commuter Line yang diunggah pada 2 Oktober 2015, berikut adalah Standard Operational Procedure tugas PKD dari PT KJC:

  1. Melakukan fungsi pengamanan serta pelayanan kepada seluruh pengguna jasa KRL.
  2. Menyelesaikan permasalahan dengan benar, tegas dan santun.
  3. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait apabila terjadi kecelakaan, kriminalitas atau kejadian yang mengganggu keamanan dan keselamatan Prasarana, Sarana KRL maupun pengguna jasa KRL.
  4. Membuat Berita Acara apabila terjadi kecelakaan, kriminalitas atau kejadian yang mengganggu keamanan dan keselamatan Prasarana, Sarana KRL maupun pengguna jasa KRL.
  5. Siap melaksanakan tugas khusus menyangkut keamanan, ketertiban dan keselamatan.
  6. Mengetahui jadwal KA, relasi perjalanan KA dan harga tiket.

Dari keenam poin di atas, mari kita berfokus pada poin 1 dan poin 6. Dua poin tersebut memiliki kesamaan fungsi, yaitu bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan pengguna jasa KRL. Salah satu tugas PKD yang paling sering terlihat adalah membantu mencarikan kursi untuk para penumpang prioritas (wanita hamil, berpergian membawa balita, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas) yang mana mengharuskan PKD mencari dan mengantarkan penumpang prioritas sampai mendapatkan kursi. Walaupun pada dasarnya sesama penumpang bisa saling membantu, namun pada faktanya tidak sedikit yang tidak memberikan kursi penumpang untuk yang lebih membutuhkan sehingga PKD harus turun tangan mencarikan tempat duduk untuk penumpang tersebut.

Namun ada beberapa cerita lucu tentang PKD yang disalahkan dan PKD yang baper. Keduanya terjadi di gerbong wanita.

PKD yang disalahkan

Pernah beberapa waktu aku menemui seorang PKD yang tengah bertugas di gerbong wanita saat jam pulang kerja. Ia berdiri di dekat pintu penyambung rangkaian dengan sikap siap siaga. Kereta di jam pergi dan pulang kerja sudah terkenal dengan ‘keganasan’ para penumpangnya. Namun, gerbong wanita jauh lebih terkenal dengan predikat tersebut. Menjalankan tugasnya sebagai seorang PKD, ia pun longok-longok ke arah pintu memantau. Ketika kondisi sudah sangat tidak kondusif, ia pun berjalan agak ke tengah untuk mencegah penumpang yang terus memaksa masuk demi keselamatan dan membantu penumpang yang sudah terlanjur masuk namun kondisinya sangat menegangkan (hampir terdorong kembali ke luar). Ketika pintu sudah tertutup rapat, PKD itu pun terjebak di antara Ibu-ibu dan Mbak-mbak.

Kereta mulai menancapkan gasnya. Kondisi berdiri penumpang yang belum stabil pun membuat orang-orang di gerbong wanita saat itu terlihat seperti ombak, hampir semua orang terlempar ke belakang. Begitu pun aku yang berdiri hampir belakang menjadi tergencet. Tiba-tiba seorang Mbak masih cukup muda berteriak, “Mas, pindah dong ah risih banget nih ada situ.” Sontak semua penumpang di gerbong itu yang mendengar pun langsung melihat ke arah datangnya suara. Wajah si Mbak sangat masam, terlihat raut risih begitu jelas di wajahnya. Lalu pandanganku beralih ke Mas PKD. Biasanya kalau ada laki-laki yang membuat wanita risih, aku sangat kesal. Tapi berbeda kali ini, aku malah kasihan melihat Mas PKD. Bukankah ia sedang menjalankan tugas? Bukan keinginannya pula berada di sana.

Tampaknya Mas PKD tidak mau ambil pusing. Ia hanya lebih memojok dan berusaha sebisa mungkin tidak mengenai si Mbak namun tampaknya memang mustahil. Beberapa stasiun terlewati, penumpang semakin banyak saja. Rupanya si Mbak masih memendam perasaan kesal sedari tadi. “Mas! Daritadi nih ya saya perhatiin nyuri-nyuri kesempatan aja.”

“Mba saya engga begitu, kereta lagi penuh. Saya harus dimana? Kan memang saya harusnya disini.”

“Sana-sana pindah!” si Mbak menunjuk sudut di dekat penyambung rangkaian.

Beberapa penumpang lain sepertinya berpikir hal sama denganku. Mereka iba terhadap si Mas namun tidak juga bisa menyalahkan si Mbak karena kita tidak benar-benar tahu apa yang dirasakan si Mbak. “Udah Mas, pindah aja ke sana Mas. Ga apa-apa. Ngalah aja.” Celetukan menenangkan pun terlontar ke Mas PKD. Dengan susah payah Mas PKD pun melipir ke tempat semula ia berdiri. Di antara penyambung rangkaian gerbong wanita dan gerbong campur. Ternyata drama belum selesai. Di stasiun pemberhentian selanjutnya, seorang wanita hamil masuk bersama beberapa penumpang lainnya. “Ada yang lagi ngga hamil?” begitu ujar wanita hamil yang baru masuk.

Seperti sudah diduga, kursi prioritas sudah penuh. Kursi lainnya sudah terisi, namun tidak ada yang berdiri memberikan kursi. Mas PKD sudah gelisah, ia seperti ingin membantu namun ia tidak bergerak. Wanita lain yang baru masuk membantu Ibu hamil dengan bertanya, “PKD nya mana? Tolong bantu nih Mas, ada yang lagi hamil.” Mas PKD yang sudah terlanjur baper pun malah berucap, “Ntar saya ke sana diusir lagi. Disalah-salahin lagi.” Sontak yang mendengar pun malah jadi tertawa. Aku pun berpikir yah Mas nya baper.”

PKD yang “baper duluan”

Ternyata drama antara PKD dengan penumpang wanita bukan hanya sekali aku temui. Lagi-lagi terjadi ketika jam pulang kerja. Seorang PKD sedang berdiri di pojok, di pintu yang tidak akan terbuka ketika berhenti. Ia menghadap ke arah luar. Sambil sebentar-sebentar melongok ke belakang melihat keadaan.

Tidak perlu aku jelaskan dan jabarkan panjang lebar bagaimana kondisi gerbong saat jam pulang kerja, tentu saja dan tidak lain penuh sesak serta ricuh. Saat itu ada Ibu hamil yang naik. Seperti biasa pula, kursi prioritas sudah penuh dan di kursi lain tidak ada yang mau bangun untuk bergantian. “Mba tolongin Ibu hamil itu, dibangunin aja yang tidur. Saya dari pertama udah disini posisinya. Nanti saya ke sana diusir. Disalah-salahin.”

Penumpang lain pun membantu Mas PKD dengan membangunkan penumpang lain yang sedang terlelap. Kemudian aku mendengar seorang Ibu mengajaknya mengobrol, “suka disalahin ya Mas?”

“Iya Bu, kadang tuh katanya saya nempel-nempel. Lah kan penuh ya gerbongnya, gimana engga nempel. Saya jadi bingung.”

Solusi: Perlukah seorang PKD wanita khusus di gerbong wanita?

Dua pengalaman yang saya sematkan di tulisan ini hanya beberapa dari beberapa pengalaman lainnya yang sejenis. Wanita mana sih yang tidak risih bila bersentuhan dengan laki-laki lain yang tidak dikenalnya? Tapi bukan maksud para petugas itu pula untuk mencari-cari kesempatan. Aku yakin mereka tahu betul tugas mereka seperti apa, karena aku pun sering melihat mereka apel pagi dan sore. Hanya saja kondisi gerbong yang begitu terbatas dengan penumpang yang berjubal membuat kami tidak memiliki jarak sehingga terjadilah sentuhan-sentuhan yang tidak disengajai.

Jadi bagaimana menyikapi mbak-mbak atau Ibu-ibu yang merasa risih ketika sedang berada di dalam kondisi tersebut? Apakah perlu diadakan seorang wanita ditugaskan menjadi seorang PKD khusus di gerbong wanita? Apakah dulu pernah ada lalu ditiadakan? Sepertinya aku kurang update mengenai hal ini. Seandainya pun diadakan, melihat ‘defensif’ nya para penumpang wanita di gerbong wanita apakah PKD wanita merupakan solusi? Atau malah menjadi problem baru. Apalagi kalau bertumpu pada, “women always right.”

Ataukah kita hanya perlu bersikap profesional dan dapat bekerja sama?

  • PKD bertugas sebagaimana mestinya
  • Para penumpang wanita sebaiknya percaya saja dengan para petugas bahwa mereka memang sedang benar-benar melaksanakan tugas. Ini pun melatih kita untuk senantiasa ber-khusnudzan kepada sesama. Waspada boleh, namun jangan sampai membuat kita menjadi soudzon.
  • Untuk penumpang yang tidak sedang ‘diprioritaskan’, sebaiknya segera memberikan kursi kepada penumpang yang membutuhkan sehingga meminimalisir bolak baliknya petugas apalagi kalau kondisi gerbong sedang sangat padat.

Ataukah ada solusi lain dari para pembaca?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

2 thoughts on “Dilematis seorang PKD di Gerbong Wanita

  1. kurangnya kesadaran diri memang, kadang banyak yg pura-pura nggak denger atau emang beneran gak denger ya. hmmm.. gerbong wanita sungguh luar biasa. PKD bekerja ekstra…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.