Film Review – Aladdin (Prince of Ababwa and The Magic Lamp)

Bagi aku dan teman-teman yang kelahiran 90an, bahkan jauh di bawah itu tentunya sudah tahu tentang kisah Aladdin. Sebuah kisah seorang pemuda yang hidup dengan sahabatnya, Abu—seekor kera yang cerdas. Seorang pemuda yang telah jatuh cinta dengan seorang Putri di salah satu negeri di Timur Tengah bernama Agrabah. Kisah Aladdin yang telah dikartunkan pada tahun 1992 oleh Walt Disney kini dibuatkan versi live-action nya. Film ini disutradari oleh Guy Ritchie dan diproduseri oleh Walt Disney Pictures. Ketika tahu Aladdin versi live action akan segera tayang, aku sangatlah antusias dan tidak sabar menunggu. Seminggu setelah tayang di bioskop di Indonesia, aku pun berhasil merealisasikan hajat yang sudah dinanti-nantikan ini.

Film diawali dengan seorang Ayah yang sedang menceritakan kisah Aladdin kepada anak-anaknya saat mereka berada di tengah lautan. Latar cerita pun langsung berpindah ke sebuah pasar yang ramai dengan penduduk yang tengah melakukan aktifitas sehari-harinya. Seorang gadis cantik yang merupakan seorang Putri bernama Jasmine yang tengah menyamar menjadi penduduk biasa diperankan oleh Naomi Scott mengambil sebuah apel yang sedang dijajakan oleh seorang pedagang untuk diberikan ke anak kecil yang tengah kelaparan. Ia merupakan seorang Putri Kerajaan yang begitu peduli terhadap rakyatnya. Karena alasan tertentu, tidak satupun penduduk istana yang mengetahui rupanya.

Karena dikira mencuri apel, Putri Jasmine pun ditangkap oleh preman pasar yang sedang berjaga disana. Para preman itu mengambil gelang peninggalan almarhumah Ibunya sebagai tebusan, disitu Princess Jasmine tidak dapat membiarkan perbuatan para preman pasar itu namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Kejadian itu membuat seorang pemuda dengan monyetnya yang kebetulan lewat menghampiri dan menyelamatkan sang Putri. Ia meminta Putri Jasmine untuk merelakan gelangnya, dan tentunya Putri Jasmine tidak setuju namun pemuda itu meyakinkan Putri Jasmine untuk mengikuti rencananya.

Disitulah pemuda yang bernama Aladdin diperankan oleh Mena Massoud mengelabui para preman itu dan gelang peninggalan almarhumah ibu Putri Jasmine sudah pindah ke tangannya. Disitu Putri Jasmine sudah mulai tertarik dengan Aladdin, begitupun Aladdin. Tidak lama para preman itu sadar telah dikelabui oleh Aladdin, mereka pun mengejar Aladdin dan Putri Jasmine. Dengan lincah Aladdin membimbing Putri Jasmine kabur dari kejaran para preman pasar itu. Saat kejar-kejaran ini lah lagu One Jump Ahead yang diputar. Film ini memang berkonsep drama musical sehingga jangan heran kalau sedikit-sedikit nyanyi.

Aladdin membawa Putri Jasmine ke tempatnya tinggal, karena hanya tempat itulah yang aman dari kejaran para preman pasar tadi. Disini kita dapat melihat betapa cerdasnya Aladdin dalam bersembunyi karena untuk bisa sampai di tempatnya tinggal harus melalui jalan rahasianya sendiri.

Saat berkenalan, Putri Jasmine tidak memberitahukan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia mengaku sebagai pelayan sang Putri dan Aladdin pun percaya. Namun di saat Aladdin ingin mengembalikan gelang berharga milik Putri Jasmine, ia kehilangan gelangnya. Putri Jasmine pun kecewa kepada Aladdin dan kehilangan kepercayaannya terhadap Aladdin. Ia pun pergi meninggalkan Aladdin, dan pada saat yang sama Aladdin mendapati kalau Abu lah yang menyimpan gelang milik Putri Jasmine.

Pada suatu malam, Aladdin menyelinap ke dalam kerajaan untuk mengembalikan gelang milik Putri Jasmine. Ia mengelabui para penjaga dan berhasil masuk ke dalam kamar sang Putri. Di saat itu pula Aladdin mengetahui bahwa gadis yang ditemuinya di pasar yang mengaku sebagai pelayan sang Putri ternyata adalah sang Putri sendiri. Ia berjanji kepada Putri Jasmine kalau ia akan menemuinya lagi.

Namun semua rencananya harus terhalang ketika ia berpapasan dengan Jafar sang penasehat Raja yang juga merupakan seorang penyihir. Jafar sendiri diperankan oleh Marwan Kenzari. Jafar yang memiliki tujuan untuk menjadi orang yang memiliki kedudukan teratas di Agrabah telah mendengar tentang lampu ajaib yang dapat mengabulkan semua keinginan siapapun yang berhasil mengeluarkan jin (genie) di dalamnya. Jafar yang telah mendengar kecerdikan Aladdin pun menculiknya  untuk membantunya mengambil lampu ajaib yang tidak mudah didapatkan.

Setelah negosiasi panjang, Aladdin pun menyetujui untuk mengambilkan lampu ajaib. Setelah mengarungi gurun pasir yang tandus, tibalah Jafar serta burung beonya, Aladdin, dan para pengikut Jafar di depan gua misterius tempat lampu ajaib berada. Syarat agar dapat kembali keluar dari guua itu adalah tidak menyentuh apapun di dalamnya. Aladdin dan Abu masuk ke dalam gua. Aladdin memperingatkan Abu untuk tidak menyentuh apapun yang ada di dalam. Namun, emas-emas dan permata yang ada di dalam begitu menggoda siapapun untuk mengambilnya. Dua sahabat itu saling mengingatkan untuk tidak terpengaruh terhadap benda-benda berkilauan tersebut.

Di dalam sana, mereka bertemu dengan karpet ajaib yang terjepit bongkahan batu besar sehingga tidak dapat bergerak. Karena mereka mendapati karpet ajaib itu meronta seperti meminta tolong, Aladdin pun mendorong batu yang menjepitnya sehingga karpet ajaib itu pun bebas. Lampu ajaib berada di puncak tumpukan emas dan permata, Aladdin memanjat tumpukkan perhiasan untuk dapat meraih lampu ajaib. Namun naas, di saat ia telah mendapatkan lampu ajaib, Abu tergoda dengan bongkahan permata yang begitu berkilau. Ia menyentuhnya, menggenggamnya dan ingin memilikinya. “Abu!” teriak Aladdin. Abu pun sadar, namun semua terlambat. Seisi gua mulai bergetar dan terbelah.

Mereka lari namun seperti tidak ada harapan untuk selamat. Di saat genting seperti itu, karpet ajaib menolong mereka. Karpet ajaib membawa mereka ke luar gua dimana telah ada Jafar menunggu mereka. Jafar yang licik menghianati Aladdin, ia hanya mengambil lampu ajaib dan menginjak tangan Aladdin sehingga Aladdin terjerembab kembali ke dalam gua tanpa lampu ajaib. Namun, Jafar terkelabui oleh Abu yang lebih cerdik sehingga lampu ajaib kini berada di tangan Abu. Pintu keluar sudah tertutup, mereka terjebak di dalam gua. Di saat itulah Aladdin mulai menggosok lampu ajaib dan keluarlah Genie yang sudah beratus-ratus tahun terjebak di dalam lampu.

Genie yang diperankan oleh Will Smith keluar. Sosok jin yang sangat lucu, jin berwarna biru dengan rambut kuncir kuda khasnya. Genie pun memperkenalkan dirinya kepada Aladdin dan memberitahu Aladdin bahwa dirinya dapat mengabulkan tiga buah permintaan. Namun Aladdin tidak mengerti sehingga Genie perlu menjelaskan lebih rinci. Ketika Genie menjelaskan tugasnya, lagu ke dua berjudul Friends Like Me terputar. Di bagian ini sangat keren dan lucu. Aku ternganga dibuatnya.

Permintaan pertama pun dikeluarkan oleh Aladdin, yaitu keluar dari gua. Dalam sekejap mereka sudah berada di luar gua. Permintaan ke dua adalah Aladdin ingin menjadi seorang Raja karena untuk dapat menikah dengan Putri Jasmine, orang tersebut haruslah seorang Raja. Itulah peraturan yang tertulis di peraturan Kerajaan. Jin yang dapat mengabulkan permintaan apapun, menjadikannya Prince Ali dari negeri Ababwa.

Tanpa menunggu lama, Prince Ali dan Genie langsung datang ke Kerajaan dengan tujuan untuk meramal Putri Jasmine. Apakah Prince Ali berhasil mengambil hati sang Putri? Apakah Prince Ali dapat menikah dengan Putri Jasmine? Apa saja kendala yang harus ditemui oleh Prince Ali? Bagi yang sudah menonton kartun Aladdin, tentunya sudah tidak asing lagi dengan jalan ceritanya. Tapi jangan pesimis dulu, walau jalan ceritanya sama dengan versi kartun, kalian tetap akan terkesima dengan pengemasan film yang begitu apik. Pakaian, aksesoris dan dekorasi serta tempat yang berlatar di Yordania membuat film menjadi begitu terasa sensasi alaminya. Lagu-lagu yang tidak sedikit ada di kartun pun dire-make dengan menyesuaikan musik saat ini akan membuat kita terperangah dengan penyajiannya. Sebagai film versi live action, film ini sangatlah berhasil membuat penonton tidak kecewa. Aladdin dirilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 24 Mei 2019, dan telah meraup lebih dari $ 742 juta di seluruh dunia, menjadi film terlaris ketiga tertinggi di tahun 2019. Kebayang kan bagaimana bagusnya? Ayo buruan tonton, mumpung masih tayang di bioskop!

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Film Review – Aladdin (Prince of Ababwa and The Magic Lamp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.