Gara-Gara Tontonan

Hi, aku Kartini. Sebagai anak dari seorang pemimpin tertinggi, hidupku tidak begitu bebas. Setiap gerak-gerik aku selalu diawasi oleh Ayahku. Bahkan di saat usiaku sudah pantas untuk melakukan sebuah kencan, Ayah seperti tidak membiarkanku. Aku sering kali mengadu kepada Ibuku, namun Ibu tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa mendukung Ayahku.

Awalnya aku pikir menjadi anak seorang yang menjadi nomor 1 menyenangkan, ternyata tidak sama sekali. Dua orang suruhan Ayahku selalu mengikuti kemanapun aku pergi, bahkan di saat hari kencanku. Mereka selalu membuat masalah yang menyebabkan aku selalu gagal dalam hal kencan. Aku berusaha berpikir, ah saat aku dewasa nanti aku akan memaklumi apa yang Ayahku perbuat.

Tapi tampaknya tidak begitu…

Hingga suatu hari saat aku ingin kabur dari pantauan dua orang pesuruh Ayah, seorang laki-laki tampan menyelamatkanku. Ya, dia memang orang asing. Tapi entah bagaimana kami bisa sampai berpergian bersama sampai ke Jogjakarta berdua—tentu saja untuk menghindari kejaran dua orang suruhan Ayah.

Saat berpergian bersama, tentu saja aku jatuh cinta padanya. Wajahnya manis, matanya besar, dan senyumnya sangat menawan.

Begitulah sekiranya khayalanku setelah menonton Chasing Liberty untuk pertama kalinya saat kelas 2 SMP (2 tahun setelah film rilis). Film bergenre komedi romantis itu menjadi film favoriteku hingga sekarang.

Anna Foster (Mandy Moore) adalah seorang anak gadis dari James Foster (Mark Harmon) yang merupakan orang nomor satu di Amerika. Kehidupan remaja Anna sedikit terganggu karena Ayahnya yang super protektif terhadap dirinya bahkan sampai mengganggu kehidupan kencannya. Hidupnya selalu dikelilingi oleh pengawal Ayahnya. Itulah yang membuat orang-orang di sekitar Anna menjadi tidak nyaman, tidak terkecuali laki-laki yang berkencan dengannya. Hal tersebut membuat Anna selalu gagal dalam hal percintaan karena laki-laki yang berkencan dengannya akan mundur perlahan.

Anna selalu komplain atas semua perbuatan Ayahnya, namun tidak ada yang bisa dilakukan Ayahnya selain mengirim pengawal untuk melindungi Anna. Sebagai putri Presiden Amerika, bisa saja Anna berada di dalam keadaan bahaya.

Suatu hari, Anna ikut Ayah dan Ibunya (Caroline Goodall) untuk melakukan kunjungan diplomatic ke Praha. Di Praha, Anna bertemu dengan Gabrielle (Beatrice Rosen) Putri duta besar Perancis. Setelah bertemu, mereka berencana pergi ke Berlin untuk menonton sebuah parade. Anna meminta Ayahnya untuk memberikan kelonggaran untuknya bersenang-senang. Ayahnya pun menurutinya dengan mengirim dua orang agen untuk selalu mengikuti Anna yaitu Alan (Jeremy Piven) dan Cynthia Aannabelle Sciorra).

Saat berada di sebuah kelab malam bersama Gabrielle, Anna mendapati agen yang dikirim oleh Ayahnya tidak hanya Alan dan Cynthia. Ia pun kecewa dan kabur dari agen-agen suruhan Ayahnya. Saat ia sedang melarikan diri dari kejaran agen-agen suruhan Ayahnya, Anna bertemu dengan photographer bertubuh tinggi dan tampan yang mengendarai sebuah vespa bernama Ben Calder (Matthew Goode).

Ben memberikan tumpangan untuk Anna agar bisa kabur dari para pengawal utusan Ayahnya. Saat itu juga ketika bersama Ben, Anna merasakan kebebasan yang ia cari sedari dulu. Dari situ, petualangan Anna dan Ben saat bekejar-kejaran dengan para pengawal utusan Ayahnya dimulai.

Selama film berjalan, berbagai konflik terjadi, mulai dari Anna dan Ben salah naik kereta yang seharusnya ke Berlin malah ke Venice sampai saat Anna dan Ben tidak dapat membayar harga makan malamnya karena dompet mereka dicuri oleh seseorang yang mereka temui di kereta menuju Venice.

Puncak klimaks terjadi saat Anna mulai jatuh cinta pada Ben namun Ben tidak dapat membalas cintanya karena suatu hal. Namun lama kelamaan Ben tidak dapat membendung ketertarikan dirinya terhadap Anna sehingga Ben pun tidak lagi menahan perasaannya.

Saat sampai di Berlin dan tiba di parade yang sudah Anna rencanakan bersama Gabrielle, Anna mendapati bahwa Ben sebenarnya adalah salah satu agen rahasia suruhan Ayahnya. Di sini Anna salah paham kepada Ben. Ia percaya bahwa Ben tidak balas mencintainya namun hanya sekedar memata-matainya. Walau kenyatannya, selama perjalanan yang mereka lakukan bersama Ben pun telah jatuh cinta padanya.

Kisah cinta mereka tidak berhenti sampai situ. Setelah bertemu dengan James Foster sang Ayah, ternyata sang Ayah sudah mengizinkan Anna untuk melakukan apa yang ia inginkan. Anna yang sadar apa yang diinginkannya, ia pun menemui Ben sehingga kisah cinta mereka pun berlanjut dan berakhir bahagia.


Selain menjadi film favorit karena memunculkan kesan thriller tanpa ada pembunuhan serta selipan humor di romantisnya jalan cerita, film ini juga yang menjadi inspirasi menulisku untuk pertama kalinya. Melihat kehidupan Anna Foster yang tidak biasa, ia yang selalu gagal dalam hal percintaan namun pada akhirnya berakhir bahagia dengan laki-laki yang dicintainya, serta sosok Ben Calder—pujaan hati Anna Foster yang memiliki visual yang sempurna serta karakter yang sangat keren, membuatku ingin memiliki kehidupan seperti Anna Foster.

Dimulai dari kelas 2 SMP, saat aku pertama kali menonton film tersebut. Setelah selesai menontonnya, aku mulai membuat sebuah cerita dengan tokoh utama diriku sendiri di sebuah buku tulis dengan alur yang sama seperti Chasing Liberty. Dapat aku katakan bahwa film Chasing Liberty adalah film yang membuatku menemukan hal yang aku sukai, yaitu menulis.

Jika sebuah pengalaman yang dialami kemarin dapat mengubah hidup seseorang di hari esok, jika pengalaman yang diceritakan orang lain dapat memberi seseorang sebuah ide, jika membaca buku dapat memunculkan sebuah inspirasi, maka apabila ditarik benang merahnya, gara-gara nonton film Chasing Liberty aku jadi ikut tantangan 30 Hari Menulis Bersama KUBBU BPJ. Relate?

Tanggal Rilis: 9 Januari 2004 (Amerika)
Sutradara: Andy Cadiff

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

8 thoughts on “Gara-Gara Tontonan

    1. Iyaa udah lama hihi. Bukan terinspirasi sih kak hehe. Karena nonton film ini, aku jadi mulai nulis. Ya karena suka nulis, aku masuk KUBBU lalu kubbu punya program 30 HMC hehe

  1. Tulisan kakak selalu mencerahkan. Apapun temanya. Oh ya kak, pernah ndak ngalamin kejadian serupa dari satu tontonan lainnya. Terus kakak seperti merasa de javu gitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.